NovelToon NovelToon
Gadis Imut Itu Milik Tuan Reyhan

Gadis Imut Itu Milik Tuan Reyhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fuji Lisa

Jessica yang masih umurnya 21 tahun terpaksa menikah karena sebuah perjodohan dengan seorang CEO tampan kaya raya, laki-laki itu bernama Reyhan Dhalvin Wijaya.
Bagaimana jadinya jika di umur 21 tahun Jessica sudah menjadi seorang istri. mampukah ia melewati semua hal yang terjadi dalam hidupnya? Dan rahasia apakah yang Jessica sembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fuji Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Jessica melangkah lebar memasuki area Universitas Lentera Bangsa. Pagi ini gadis berusia 21 tahun itu terlambat bangun, sehingga mengharuskannya berlari untuk mengejar waktu yang terus berjalan. Untung saja hari ini Jessica diantarkan oleh Bara, teman Rio, kakak laki-lakinya. Untungnya lagi, Bara bersedia menunggu Jessica yang masih molor di atas kasur. Sementara itu, Rio sedang menghadiri meeting dadakan di kantor.

“Bara, cepetan dong! Gue nggak mau telat masuk kelas!” seru Jessica sambil berlari kecil menghampiri mobil.

“Ya ampun, Jes! Lo yang bangun kesiangan, gue yang disuruh buru-buru,” keluh Bara.

“Hehehe, ya udah, ayo jalan! Nanti gue traktir lo es teh.”

“Cuma es teh?”

“Kalau nggak mau, ya udah. Gue traktir angin aja.”

Bara menggelengkan kepala, lalu kembali menjalankan mobilnya.

Setibanya di kampus, Jessica buru-buru turun dan mengucapkan terima kasih kepada Bara sebelum berlari menuju gedung fakultasnya. Namun, di tengah perjalanan, gadis itu tidak menyadari ada seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.

Brukk!

Jessica menabrak tubuh seseorang yang cukup kokoh hingga dirinya terduduk di lantai.

“Aduh! Jalan pakai mata dong, kalau jalan!”Jessica berseru kesal sambil mengusap bagian tubuhnya yang terasa sakit.

Gadis itu hendak memaki orang yang menabraknya. Namun, niatnya langsung terurungkan begitu mengetahui siapa orang yang berdiri di hadapannya.

“Om, ngapain di sini?” tanya Jessica sambil bangkit dan merapikan pakaiannya.

“Bukan urusan kamu,” jawab Reyhan singkat, lalu melenggang begitu saja meninggalkan gadis itu.

Raut wajah Reyhan terlihat keruh dan tidak bersahabat. Bahkan, pria itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi seperti biasanya ketika berhadapan dengan Jessica.

Jessica memandang punggung Reyhan dengan tatapan heran.

Tumben banget si Om juteknya kebangetan. Biasanya juga kalau ketemu gue pasti ada aja yang dikomentarin. Jangan-jangan Om lagi kesambet? batin Jessica.

Beberapa saat kemudian, Jessica tersadar bahwa dirinya masih harus mengikuti perkuliahan pagi.

“Astaga! Gue malah bengong! Bisa-bisa dosen gue ngamuk kalau gue telat!”

Jessica kembali berlari sekencang-kencangnya menuju ruang kelasnya. Sesampainya di depan kelas, gadis itu mendapati pintu sudah tertutup. Sepertinya dosen yang mengajar telah masuk terlebih dahulu.

Dengan napas tersengal-sengal, Jessica mengetuk pintu beberapa kali sebelum membukanya perlahan.

“Permisi, Pak. Maaf, saya terlambat,” ucap Jessica sopan sambil menundukkan kepala.

“Tolong tatap lawan bicara Anda. Apakah lantai lebih menarik daripada wajah saya?”

Jessica langsung mengenali suara tersebut. Gadis itu buru-buru mengangkat kepalanya.

Dan lagi-lagi, matanya membulat sempurna ketika mendapati Reyhan Dhaval Anderson berdiri di depan kelas sambil memegang beberapa lembar materi perkuliahan.

“Lah, Om?!”

Reyhan mengangkat sebelah alisnya.

“Di kampus, panggil saya Pak Reyhan. Dan satu lagi, silakan keluar dari kelas saya.”

Jessica langsung melongo.“Lho, kok gitu, Om? Eh, Pak Reyhan, maksud saya. Saya kan cuma telat sedikit.”

“Silakan tunggu di luar kelas sampai jam perkuliahan saya selesai.”

“Tapi, Pak—”

“Saya tidak menerima alasan apa pun untuk keterlambatan. Anda sudah mahasiswa, Jessica. Seharusnya Anda bisa mengatur waktu sendiri.”

Jessica mengerucutkan bibirnya. Ingin sekali rasanya ia membantah ucapan pria itu, tetapi tatapan Reyhan yang tajam membuatnya mengurungkan niat.

“Iya, Pak,” jawabnya pasrah.

Jessica pun keluar dari kelas sambil menggerutu pelan.

Dasar Om galak! Mentang-mentang calon suami, seenaknya aja nyuruh-nyuruh gue. Awas aja kalau nanti udah nikah. Gue bakal balas dendam!

Panas matahari pagi semakin menyengat ketika Jessica duduk di bangku dekat taman kampus. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pukul 10.30 bel tanda pergantian jam perkuliahan berbunyi.

Jessica menghela napas lega. Setidaknya, ia bisa beristirahat sejenak sebelum mengikuti kelas berikutnya.

“Buat lo!”

Tiba-tiba, seseorang muncul di hadapannya sambil menyodorkan sebotol air mineral.

Jessica refleks mengelus dadanya.

“Ya ampun, Gas! Ngagetin aja lo! Jantung gue hampir copot!”

Bagas terkekeh melihat ekspresi Jessica.

“Lebay banget, sih. Nih, minum. Muka lo udah kayak orang habis lari maraton.”

Jessica menerima botol air mineral itu dengan senang hati.

“Makasih, ya, Gas. Lo emang baik banget.”

“Sama-sama.”

Jessica langsung meneguk air tersebut hingga setengah botol. Tenggorokannya memang terasa kering setelah berlari dan duduk cukup lama di bawah cuaca panas.

“Mau ke kantin bareng gue?” tawar Bagas.

Sejak tadi, pria itu juga belum sempat makan karena buru-buru mencari Jessica untuk memberikan air mineral.

Jessica hendak menjawab iya, tetapi pandangannya mendadak bertemu dengan Anggun, Viola, dan Amel yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.

Ketiga sahabatnya itu memberi kode agar Jessica menolak ajakan Bagas.

Sebenarnya Jessica merasa tidak enak hati kepada Bagas. Namun, ia juga merasa canggung jika harus pergi ke kantin berdua dengan pria tersebut.

“Ehm, Gas, maaf, ya. Lo duluan aja. Gue mau ke toilet sebentar,” ucap Jessica mencari alasan.

“Oh, ya udah. Kalau gitu gue duluan, ya.”

Jessica mengangguk sambil tersenyum manis.

Setelah Bagas pergi, Anggun, Viola, dan Amel segera menghampiri Jessica.

“Yuk, kita ke kantin!” ajak Anggun.

“Iya, nih! Sekalian lo utang cerita tentang kejadian kemarin. Kenapa bisa-bisanya lo dipanggil sayang sama Pak Reyhan?” sahut Amel dengan wajah penuh rasa penasaran.

Jessica menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Kayaknya udah saatnya gue kasih tahu mereka. Lagian, gue mau undang mereka ke pernikahan gue. Masa gue nikah nggak ngundang sahabat sendiri? Jahat banget gue kalau begitu.

“Iya, iya. Nanti gue ceritain semuanya. Eh, tapi gue mau nanya dulu. Kenapa dosen geografi yang katanya mau ngajar kita hari ini malah diganti sama Pak Reyhan?”

“Katanya Bu Desi lagi cuti sampai melahirkan. Nanti setelah melahirkan, baru beliau kembali mengajar,” jawab Anggun.

“Oh, iya! Terus tadi gue dengar kabar kalau Pak Reyhan ternyata anaknya Pak Hugo, pemilik yayasan kampus ini,” tambah Amel.

Mata Jessica langsung membulat.“Yang bener lo, Mel?”

“Iya! Makanya gue seneng banget kalau Pak Reyhan sering ngajar di kelas kita. Lumayan, bisa cuci mata setiap hari.”

Pletak!

Jessica menjitak pelan kening sahabatnya itu.“Dasar lo! Calon suami orang malah dijadiin bahan cuci mata!”

Amel mengusap keningnya sambil nyengir.“Ya ampun, Jes! Gue kan belum tahu kalau dia calon suami lo!”

“Udah, ah! Ayo ke kantin. Perut gue udah keroncongan!”

Jessica, Anggun, Viola, dan Amel pun berjalan beriringan menuju kantin kampus.

Jessica dan ketiga sahabatnya kini duduk di meja paling pojok, tepat di dekat tembok. Entah sejak kapan kebiasaan itu dimulai, tetapi mereka selalu memilih tempat duduk yang menempel di dinding.

Bahkan, kalau pergi ke kafe atau restoran, mereka pasti mencari meja yang paling pojok.

Alasannya sederhana: mereka suka menyandarkan punggung dan merasa lebih nyaman duduk di tempat tersebut.

Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Bu kantin mengantarkan empat porsi makanan ke meja mereka.

“Nah, makanannya udah datang. Sekarang saatnya lo cerita sama kita, Jes!” ujar Amel penuh semangat.

“Makan dulu, kali, Mel. Kalau udah selesai, baru deh cerita,” sahut Anggun sambil menikmati bakso pedas pesanannya.

“Tapi gue udah kepo banget, sumpah!”

“Udah, jangan mulai, deh. Iya, Mel, kita makan dulu. Gue juga udah laper banget,” timpal Jessica.

“Ya udah, deh.”

Jessica dan ketiga sahabatnya pun melanjutkan makan hingga hidangan mereka habis.

Begitu selesai, Amel langsung menggeser kursinya mendekati Jessica.

“Nah, sekarang semuanya udah habis. Ayo, Jes! Cerita! Jangan bikin gue penasaran!”

Jessica baru saja hendak membuka mulut ketika Amel tiba-tiba melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.

“EH, INI CINCIN APAAN?! BAGUS BANGET!”Amel langsung meraih tangan Jessica dan mengamati cincin tersebut dengan mata berbinar.

“Anjir, Jes! Ini berlian asli, kan?!”

“Eh, jangan tarik tangan gue, kali! Sakit, tahu!”Jessica buru-buru menarik tangannya kembali.

Anggun dan Viola ikut memperhatikan cincin itu. Tatapan mereka berubah penuh kecurigaan.

“Pokoknya lo harus jelasin semuanya ke kita,” ujar Amel sambil menoleh kepada kedua sahabatnya. “Iya, kan, Guys?”

“Iya! Cepetan, Jes!” desak Anggun.

Jessica menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.

“Oke, gue bakal jelasin semuanya. Tapi, please, kalian jangan ribut dan jangan teriak waktu gue cerita nanti. Gue takut orang lain dengar.”

“Iya, iya! Kita janji nggak bakal heboh,” jawab Amel cepat.

Jessica menatap mereka satu per satu, memastikan ketiganya benar-benar mendengarkan.

“Jadi, sebenarnya gue udah tunangan.”

“WHAA—!”

Belum sempat Amel menyelesaikan teriakannya, Jessica langsung membekap mulut sahabatnya itu.

Seketika, beberapa mahasiswa yang sedang makan di kantin menoleh ke arah meja mereka.

“Lo jangan teriak, setan! Malas gue lanjutin ceritanya kalau kalian malah bikin keributan!” bisik Jessica kesal.

Amel mengangguk cepat. Jessica pun melepaskan tangannya dari mulut sahabatnya.“Hehe, sorry, sorry. Lanjut, Jes!”

“Lo serius udah tunangan?” tanya Anggun, masih tidak percaya.

“Sama siapa, Jes?” Viola ikut bertanya.

Jessica menghela napas sebelum menjawab.“Jadi, sejak minggu lalu, nyokap sama bokap gue ngejodohin gue sama seseorang.”

“Wah, sumpah, lo jahat banget sama kita! Kenapa baru cerita sekarang?” protes Amel.

“Makanya gue cerita sekarang. Gue mau kalian datang ke pernikahan gue.”

Viola langsung mencondongkan tubuhnya ke depan.

“Terus, siapa calon suami lo, Jes?”

Jessica menunduk sebentar, lalu menjawab dengan suara pelan.“Pak Reyhan.”

Hening.

Anggun, Viola, dan Amel saling pandang selama beberapa detik, seolah otak mereka sedang berusaha memproses informasi yang baru saja mereka dengar.

Lalu—

“WHATTT?!”

Ketiganya hampir berteriak bersamaan.

“EH, KALIAN BISA DIAM NGGAK, SIH?!” tegur seorang mahasiswi dari meja sebelah. “Ganggu orang makan aja!”

Anggun langsung tersenyum kikuk.“Hehe, maaf, ya. Silakan lanjut makan.”

Setelah mahasiswi itu kembali ke makanannya, Amel buru-buru mendekatkan wajahnya ke Jessica.

“Jes, lo serius? Calon suami lo itu Pak Reyhan yang dosen kita?!”

Jessica mengangguk.“Iya, gue serius. Makanya, jangan kasih tahu siapa-siapa. Untuk sekarang, cuma kalian bertiga yang tahu.”

“Oke, oke. Tapi gue masih nggak percaya!” bisik Viola.

Amel tiba-tiba menepuk meja pelan.

“Berarti kita punya sahabat yang bakal jadi istrinya konglomerat, dong, Guys!”

“Bener banget!” sahut Anggun.

“Cieee, sebentar lagi jadi Nyonya Anderson!”

“Cieee, yang bakal jadi istri orang kaya!” Viola ikut menggoda.

Jessica langsung menutupi wajahnya yang memerah.

“Apaan, sih, kalian! Berisik banget!”

Amel tertawa melihat tingkah Jessica.“Eh, tapi Jes, setelah nikah nanti lo masih kuliah, kan? Masa iya lo berhenti kuliah gara-gara nikah?”

Jessica segera menurunkan tangannya.“Lah, siapa bilang gue bakal berhenti? Gue tetap kuliah, dong! Gue baru semester satu, masih panjang perjalanan gue. Lagian, yang punya yayasan kampus ini kan papanya Pak Reyhan, Pak Hugo. Jadi, urusan kuliah gue tetap bisa dibicarakan baik-baik sama keluarga.”

“Syukurlah! Gue kira lo bakal langsung jadi ibu rumah tangga dan menghilang dari peredaran,” kata Amel dramatis.

“Enak aja! Gue masih pengin lulus, punya gelar, dan bikin duit sendiri!” balas Jessica mantap.

“Wih, calon Nyonya Anderson mandiri banget!” goda Anggun.

“Udah, ah! Kalau kalian masih godain gue, gue tinggalin di kantin, ya!”

Ketiganya justru tertawa semakin keras.

Tring! Tring! Tring!

Bel tanda perkuliahan berikutnya berbunyi, membuat para mahasiswa mulai beranjak dari tempat duduk masing-masing.

“Nah, ayo! Kelas berikutnya sebentar lagi mulai,” ujar Anggun sambil merapikan tasnya.

Jessica ikut berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan meja, ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari seseorang yang namanya membuat Jessica spontan mendengus.

Reyhan Dhaval Anderson

Jangan terlambat lagi di kelas berikutnya, Jessica.

Jessica memutar bola matanya.

“Ya ampun, baru juga selesai makan, udah ada pesan dari Om galak.”

“Apa? Pak Reyhan?” Amel langsung mengintip layar ponsel Jessica.

“WOI, JANGAN KEP—”

Jessica buru-buru mematikan layar ponselnya sebelum sahabatnya sempat membaca lebih banyak.

“Udah, ayo masuk kelas! Kalau sampai gue telat lagi, bisa-bisa calon suami gue sendiri yang mengusir gue dari kampus!”

Anggun, Viola, dan Amel langsung tertawa, sementara Jessica berjalan paling depan dengan wajah cemberut.

Di tempat lain, Reyhan yang sedang duduk di ruang dosen menatap layar ponselnya. Sudut bibir pria itu terangkat tipis setelah membaca balasan Jessica yang hanya berupa stiker kucing cemberut.

“Dasar anak kecil,” gumamnya pelan.

Anehnya, meski pagi tadi suasana hatinya sedang buruk, membaca tingkah calon istrinya itu sedikit banyak berhasil membuat harinya terasa lebih baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!