NovelToon NovelToon
Kekasihku Seorang Intel Dan COO

Kekasihku Seorang Intel Dan COO

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wisye Titiheru

Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Gio

Sudah satu minggu ini, Gio mengirim makan terus kepada Lusi. Dan perhatian Gio ini menjadi bahan pembicaraan Niko dan Agus tiga sahabatnya waktu mereka bermain padel.

"Kenapa Lusi ngak di ajak."

"Dia jaga malam jam tujuh baru gantian dengan dokter lain. Jadi sejak pagi tadi dia sudah bertugas di IGD rumah sakit."

"Tumben perhatian." Gio pura - pura tidak tahu dan tidak mau pusing dengan tingkah dua sahabatnya.

"Desy juga main. Kenapa harus ada Lydia."

"Mereka temanan bro."

"Oke."

Ternyata saat ini mereka bertiga bermain padel berlima. Dan Gio selalu menghindar dari Lydia.

"Kamu seperti takut kepada saya beb."

"Takut?? Ngak lah. Aku hanya jaga jarak aman saja."

"Kamu seperti anak kecil." Lydia karena kesal langsung marah. Gio hanya menatap tajam ke arahnya. Niko langsung mengusap punggung sahabatnya. Baru dua set bermain. Gio sudah pergi meninggalkan kedua sahabatnya. Dia langsung mampir membeli kopi dan kue untuk dia bawakan kepada Lusi, perempuan yang sedang menjadi urutan pertama di hatinya.

Sampai di IGD rumah sakit Bhayangkari Gio masuk dan melihat di meja pelayanan ada seorang perempuan yang lagi malas - malasan namun seluruh mukanya terlihat jelas sangat pucat dan berkeringat. Gio mendekat dan mencoba meraba suhu tubuh perempuan itu.

"Ari kenapa tangan kamu kasar sih." Gio yang dikatai tangan kasar sedikit kaget.

"Eee .... Komandan. Dokter Lusi lemas dari tadi. Sayangnya dokter Elsa belum ada buat periksa dokter. Gio langsung menghubungi Agus untuk segera ke IGD ada pasien yang butuh pertolonganmu.

"Sayang, aku ke IGD dulu. Ada pasienku."

"Gio kenapa Gus. Aku ikut ya."

"Des, aku dengar Niko sebut nama Gio. Jangan sampai dia yang sakit makanya Agus buru - buru kw IGD bersama Niko."

Akhirnya Desy dan Lydia pun mengikuti mobil Agus ke rumah sakit. Agus sudah sampai bersama Niko. Betapa kagetnya dia ternyata yang sakit Lusi yang sedang tugas piket jaga di IGD.

"HBnya rendah. Pantas dia pucat." Agus langsung menulis resep obat - obat apa saja yang akan diberikan kepada Lusi dokter residennya.

"Dokter Lusi butuh donor darah."

"Darah apa Gus."

"Golongan darah A."

"Aku saja Gus, dua kantong pun tidak mengapa."

 Ari langsung mempersilahkan Gio Abraham untuk berbaring di tempat tidur dan prosedur pengambilan darah untuk donor pun dilakukan oleh ners yang bertugas. Satu kantong darah AKP Gio Abraham masuk kedalam tubuh Lusia Irene. Ternyata Lusi terkena sakit demam berdarah, ini sudah dirasakan beberapa hari yang lalu, namun dia berusaha untuk menahan sakitnya agar bisa mengikuti ujian praktek tiga hari bedah tumor di ruang operasi tiga bersama dokter Agustinus Wiratma spesialis onkologi.

Gio sendiri mendonorkan dua kantong darah kepada Lusi. Sekarang Lusi sudah ditempatkan di ruang rawat. Lydia begitu terkejut ternyata Gio menelepon karena Lusi yang sakit.

"Masa dokter sakit sih."

"Ly, dokter juga manusia. Saya perna sakit. Kamu juga kan."

Niko mengurus komandannya. Dia memberi susu kepada Gio. Meskipun Niko tahu, tubuh Gio kuat. Tubuh itu sudah di latih menghadapi kesulitan apapun. Meskipun dua kantong darah dia berikan buat Lusi, namun kondisinya tetap stabil.

"Lusi di ruangan mana."

"Kelas satu kamar Krakatau satu. Nanti aku minta Ari yang menjaganya. Dia dan Lusi sama - sama sedikit lagi selesai tugas jaga."

"Ngak aku saja yang jaga perempuan bandel itu."

Agus hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini. Desy juga tersenyum namun Lydia mukanya cemberut.

"Berkorban banget. Waktu sama gue ngak segitunya peduli."

"Kan waktu itu kamu sehat."

"Iya ya. Aku kan sehat. Masa dokter ngak bisa jaga kesehatan." Desy langsung membawa keluar Lydia dari lorong depan ruangan dokter Lusia Irene dirawat sebelum Gio melihat atau mendengar omelan Lydia mantan pacarnya yang cemburu.

"Lu itu sahabat gue atau bukan."

"Menurut lu." Lydia langsung terdiam mendengar jawaban balik dari Desy sahabatnya.

"Kalau kamu sayang sama aku, ngak buat aku sedih seperti ini kan."

"Ly, Gio itu sudah tidak sayang kamu. Kalian berdua itu sudah putus."

"Tapi aku masih sayang dia." Desy langsung memeluk sahabatnya itu. Dia tahu bahwa hubungan Gio dan Lydia putus karena ulah dari Lydia sendiri yang jelas - jelas mempunyai hubungan dengan Zero teman mereka.

"Perasaan seseorang itu tidak bisa di paksakan. Kalau kamu dan Gio berjodoh pasti akan bersatu. Berdoa dan membenahi dirimu say."

Lydia sadar setelah apa yang di katakan untuk membenahi dirinya. Dia tahu bahwa dialah penyebab keretakan hubungan mereka dan berakhir berpisah. Dia akui, meskipun mereka sudah berpisah, dan setiap kali Lydia melihat Gio dengan cewek lain, dia selalu berulah, namun Gio tidak perna kasar kepada dirinya. sesungguhnya sikapnya sangat menyebalkan.

Lusi sudah mulai membaik setelah dua kantong darah masuk ke dalam tubuhnya. HBnya mulai normal. Semalam sampai pagi hari, Gio yang menemani Lusi di rumah sakit, padahal sesungguhnya mamanya dokter Hany Julia dan kakaknya Rahel Abraham mengundang dia makan malam di hari jumat malam bersama, namun Gio menolak dengan alasan ada tugas kantor. Padahal Gio menjaga perempuan yang sedang dia suka diam - diam.

"Sudah bangun."

"Komandan kenapa disini??"

"Komandan??"

"Mas Gio kenapa disini."

"Aku disini sebagai malaikat buat seorang dokter kepala batu."

"Malaikat baik apa jahat."

"Waktu kamu lemas aku jadi malaikat baik, namun sekarang akan jadi malaikat jahat."

"iiii seram amat. Takut."

"Bagus biar nurut. Kamu tahu ngak, sadar ngak kalau darahku dua kantong sudah ada di tubuh kamu yang mungil ini."

"Masa." Gio mendekat keranjang Lusi. Dan langsung menunjukan vidio dia sedang mendonorkan darah dan kantong pertama langsung di berikan dan dialirkan kedalam tubuh Lusi.

"Kalau ngak darah aku. Kamu akan lemas."

"Terima kasih mas."

"Good. Anak pintar. Sekarang kamu harus sarapan." Lusi mau turun dari tempat tidur, namun dia masih pusing dan hampir saja dia jatuh namun dengan cepat Gio memeluknya.

"Mau kemana sih."

"Sikat gigi, kan mau sarapan."

"Oke aku bantu. Kamu bisa jalan atau mas gendong." Lusi belum menjawab, Gio sudah mengendongnya dan dan tangan satunya memegang infus Lusi. Selesai membersihkan muka dan sikat gigi, Gio kembali mengendong Lusi ke tempat tidurnya dan langsung memberinya sarapan.

"Mas aku bisa sendiri."

"Jangan sok jagoan, masih lemah kok sombong. Kamu itu masih butuh saya. Jadi jangan banyak bicara."

Lusi begitu heran, karena baju gantinya sudah ada di kamar rumah sakit serta sabun bahkan bodycarenya juga.

"Selamat pagi dokter residenku yang cantik."

"Selamat pagi mentorku."

"Bagaimana keadaanmu setelah dijaga semalaman sama laki - laki posesif ini."

"Biasa aja dokter."

"Kamu harusnya bersyukur Lus, kalau ngak sumbangan darah Gio, aku ngak tahu nasib kamu. HB kamu sampai bisa turun sekali. Kamu terlalu lelah dan kamu menahan sakit kamu."

"Maaf dokter."

"Kamu tahu, Gio yang ke apartemenmu, dia yang membawa baju serta perlengkapannya."

"Baju dalamanku."

"Aku juga yang mencari." Wajah Lusi sudah memerah. Ini pertama kali, ada orang lain yang bisa melakukan itu selain mamanya.

"Hanya Gio yang tahu apartemenmu. Dan apartemen punya kamu itu property Adiguna Grup punya keluarga Abraham."

"Sungguh dokter. Dokter tidak berbohong kan."

"Tidak, dokter Lusi itu fakta."

Akhirnya Lusi tahu bahwa Komandan Gio Abraham adalah anak orang kaya. Karena dia tahu bagaimana sepak terjang perusahaan Adiguna Grup ini. Dalam daftar nama perusahaan di Asia berada di urutan nomor dua. Kesehatan Lusia Irene sudah mulai membaik. Setelah dirawat satu hari. Hari minggu siang dia sudah di ijinkan pulang oleh dokter Agus. Dan sekarang yang mengantarnya pulang lagi - lagi Gio.

1
r111
lanjut
Ceisye: ok. terima kasih sudah membaca karyaku. kritik dan sarannya silahkan🙏🙏🙏
total 1 replies
serana
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!