Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Ego yang Tersisa
Malam yang seharusnya menjadi puncak kejayaan Saka berubah menjadi panggung pelarian yang memuaskan rasa penasaran publik. Tanpa memedulikan tatapan menghakimi dari para relasi bisnisnya yang tersisa, Saka melangkah lebar meninggalkan ballroom hotel berbintang itu. Panggilan histeris Valerie yang memecah aula dan jeritan panik dari arah ibunya yang pingsan diabaikan Saka begitu saja.
Saka melajukan mobil sport-nya membelah hujan lebat yang mengguyur Jakarta malam itu dengan kecepatan tinggi. Cengkeraman tangannya pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya kacau balau. Ada rasa takut yang sangat besar, yang mendadak merayap di dadanya, rasa takut kehilangan Arunika.
"Tidak, ini bukan karena aku mencintainya," gumam Saka parau, menepis pikiran gila yang tiba-tiba melintas.
Pria itu menggelengkan kepala dengan keras, mencoba meyakinkan egonya yang terluka. "Aku hanya mencintai Valerie. Pernikahan dengan Valerie adalah impianku sejak lama. Aku takut kehilangan Arunika hanya karena... karena wasiat Papa dan dia memegang kunci warisan Papa. Ya, hanya karena urusan wasiat dan warisan itu." Saka terus merapal kebohongan itu di dalam hatinya, berusaha membentengi harga dirinya sebagai seorang CEO muda yang gila hormat.
Namun, jauh di lubuk hatinya, denyut ketakutan itu terlalu nyata untuk sekadar urusan materi. Kepergian Arunika yang begitu tiba-tiba, taktis, dan senyap malam ini menyentak kesadarannya bahwa wanita itu telah memotong seluruh tali kendalinya. Arunika bukan lagi pajangan tak bersuara di rumahnya.
Mobil Saka berdecit tajam saat berbelok memasuki halaman rumah mewah di kawasan elit jantung kota Jakarta. Tanpa menggunakan payung, Saka keluar dan berlari menembus hujan, membiarkan tuksedo mahalnya basah kuyup.
Saka membuka pintu depan dengan kasar, membuat beberapa asisten rumah tangga yang sedang berkumpul di ruang tengah tersentak kaget.
"Di mana Arunika?!" bentak Saka dengan napas memburu.
Para pelayan saling berpandangan dengan wajah cemas, sebelum salah satu pelayan senior maju dengan kepala tertunduk. "Nyonya... Nyonya Arunika sudah pergi sejak sore tadi, Tuan. Beliau membawa sebuah koper sedang."
Saka tidak mendengarkan kelanjutannya. Dia langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamar di ujung lorong lantai dua—kamar yang selama empat tahun ini ditempati Arunika dalam kesunyian. Ditendangnya pintu kamar itu hingga terbuka lebar. Sunyi. Kamar itu begitu rapi dan dingin. Kehadiran Arunika yang biasanya menenangkan kini telah lenyap tak bersisa.
Saka berjalan cepat menuju ruangan khusus yang ada di kamar itu untuk menyimpan pakaian dan semua barang-barang milik Arunika. Dia berharap jawaban dari pelayan senior itu adalah sebuah kebohongan. Arunika tidak pergi. Arunika tidak mungkin meninggalkannya. Istrinya itu sangat mencintainya. Selain itu Arunika tidak punya siapa-siapa, dia yatim piatu. Dan Arunika tidak mungkin meninggalkan kemewahan yang dia berikan selama ini.
Namun penyangkalan demi penyangkalan itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada di depan matanya saat ini. Lemari khusus yang memajang pakaian mahal Arunika kosong. Saka teringat saat dia mendapati Arunika menyimpan pakaian-pakaian miliknya itu ke dalam plastik besar.
Saka sempat bertanya, "Kenapa kamu simpan pakaian itu di dalam kantong besar?" Dan istrinya itu menjawab, "Pakaian ini pakaian lama yang sudah tidak terpakai, aku ingin menyumbangkannya."
Saat itu Saka tidak bertanya lebih banyak lagi. Dia berpikir pakaian yang dia belikan untuk Arunika adalah hak istrinya untuk disumbangkan. Tanpa Saka sadari, Arunika hanya tidak ingin ada jejak miliknya yang tersisa di rumah itu. Arunika membagi-bagikan pakaian mahalnya itu ke teman-teman kuliahnya.
Saka beralih ke lemari kaca yang biasanya digunakan Arunika untuk memajang tas-tas mahal pemberiannya. Kosong. Tidak ada satu pun tas mahal yang tersisa. Saka tidak tahu sejak kapan rak-rak kaca itu kosong, karena dia hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di kamar itu. Tapi satu yang pasti, Arunika telah menyiapkan kepergiannya dengan sangat rapi dan baik.
Tidak ada jawaban yang bisa Saka dapatkan dari ruangan itu. Saka berjalan keluar. Saat kakinya sudah berdiri di dekat tempat tidur, di meja rias, Saka melihat amplop cokelat tebal dengan cincin pernikahan mereka yang Arunika letakkan di atasnya. Saka menyambar amplop itu, merobeknya dan mengeluarkan isinya dengan tangan gemetar.
SALINAN GUGATAN CERAI.
"Brengsek!" umpat Saka. Emosinya meledak. Dia menghancurkan kertas-kertas itu dengan merobeknya menjadi serpihan kecil, lalu melemparkannya ke lantai dengan frustrasi.
Tawa getir keluar dari mulut Saka yang kering. Arunika benar-benar pergi. Dia menunggu waktu yang tepat, di hari pernikahannya bersama Valerie. Apa yang Arunika lakukan, memberikan tamparan paling mematikan bagi harga dirinya.
Namun, Saka belum menyadari bahwa kertas yang dia hancurkan hanyalah salinan. Gugatan asli yang sesungguhnya sudah melaju aman di pengadilan lewat pengacara Arunika.
Sementara itu, kembali ke ballroom hotel mewah tempat berlangsungnya pesta pernikahan Saka dan Valerie, tempat itu kini berubah menjadi ajang penghinaan massal bagi Valerie. Pesta pernikahan impian yang sudah dia pamerkan di media sosial selama beberapa bulan terakhir ini, kini berubah menjadi bahan tertawaan banyak orang. Bukan hanya mereka yang hadir saja, tapi semua orang yang berada di luar sana.
Di sisi pelaminan, kedua orang tua Valerie berdiri mematung. Wajah mereka merah padam karena malu. Mereka benar-benar malu dengan kenyataan ini. Valerie yang mereka banggakan, telah berbuat terlalu jauh demi ambisinya untuk menjadi Nyonya keluarga Daniswara. Menjadi selingkuhan adalah aib besar bagi keluarga mereka yang dikenal selalu menjaga keharmonisan.
Valerie berdiri di tengah pelaminan dengan dekorasi mawar putih yang kini terasa mencekik. Air matanya merusak seluruh riasan wajahnya yang mahal. Gaun pengantin bertabur kristal, tidak lagi memancarkan kemewahan. Bahkan terasa seperti pakaian yang paling memalukan yang pernah dia kenakan. Dia bisa mendengar dengan jelas bisikan-bisikan sinis para sosialita di bawah panggung sambil melangkah keluar satu persatu tanpa pamit, menyisakan bisik-bisik sinis yang menusuk telinga.
"Kena karma instan. Membohongi banyak orang, berbangga diri merebut suami orang, sekarang malah ditinggal kabur di pelaminan."
"Memalukan sekali, ternyata selama ini jadi selingkuhan."
Tangan Valerie mengepal kuat, hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Kebencian membakar dadanya.
Valerie tidak terima pernikahan impiannya dihancurkan berkeping-keping oleh anak kemarin sore yang miskin , yang selama ini selalu dia remehkan. Dan yang menyakitkan bagi Valerie, Saka, pria yang baru saja berstatus suaminya, yang mengatakan hanya mencintainya dan menjadikannya satu-satunya ratu, justru memilih mengejar Arunika yang memilih pergi, meninggalkan dirinya menanggung aib sendirian di depan ratusan pasang mata.
"Arunika..." desis Valerie, suaranya bergetar hebat karena amarah yang memuncak. "Kamu pikir kamu sudah menang setelah mempermalukan aku seperti ini? Aku akan pastikan kamu mendapatkan pembalasan ku Aku tidak akan melepaskanmu!"
Malam itu, di dua tempat berbeda. Di tempat tinggalnya, Saka terduduk di lantai kamar yang kosong. Pandangannya tertuju pada serpihan kertas yang baru saja dia robek. Sementara hati dan pikirannya didera ketakutan yang enggan dia akui. Di ballroom hotel, Valerie mengikrarkan dendam yang membara atas hancurnya nama baik dan pesta pernikahannya.
Mereka berdua tidak tahu, langkah sunyi Arunika malam itu, telah menutup rapat pintu masa lalu, dan membuka gerbang kehancuran yang sesungguhnya bagi orang-orang yang sudah menyakitinya.
yang pastinya mau balikan agar bisa jadi orang kaya lagi 🤣🤣🤣🤣
d kira gmpng gt buat ktmu sm nika.....🙄🙄🙄
stlh mnyesal krna udh mnykti arunika,sbntr lg bkln d ksih kjutan yg lain dr istri trcnta.....🙄🙄🙄
senengnya kalo arunika tetap di kelilingi org2 baik ,,
gx perlu km ketemu lgi dg saka ,, biar laa dy hdup yg telah di pilih ny ,,
slain kluarga,ada jg mas mahen yg diam2 prhtian....mnimal yg onoh ga bkln brani ngusik lg....
Lanjut thor👍👍