Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ijin tinggal
"Hiks... Hannan"
"Telus bellali Hisyam, kita tidak boleh melanggal pelintah nenek itu"
Keduanya terus berlari tanpa memperdulikan luka di kaki mereka, hingga saat mereka tiba di sebuah gubuk, tiga orang anak kecil langsung menarik tangan mereka, melompat ke depan sebuah pohon besar yang langsung membawa mereka ke lahan perkebunan Wihardja.
"Tutup mata kalian!" ucap mereka
Bruk.. Bruk.
"Aawsss!" pekik Hisyam memegangi tangannya karena tubuhnya membentur semak berduri.
"Ka.. kalian siapa?" tanya Hannan menatap tiga anak kecil yang punya tinggi sama dengannya bahkan salah satunya adalah perempuan.
"Kami cucunya nenek Ratri, tadi nenek meminta kami menjaga kalian" jawab seorang anak dengan mata yang terus berdarah dan tangannya tidak memiliki jari.
"Nama kalian siapa? kenapa mata kalian beldalah semua?" tanya Hannan tidak takut tapi Hisyam sudah menangis dengan mata tertutup karena ketakutan melihat wajah ketiganya yakni begitu menyeramkan.
"Aku Rian, ini Reza dan perempuan ini Rissa adik kami" jawabnya
"Lian, Leza dan Lissa, telima kasih sudah menolong kami, aku tahu jalan pulang dali sini dan aku akan membawa adikku pulang" ucap Hannan
Ketiganya menunduk, mereka sudah tidak bisa lagi kembali ke alam gaib karena mereka sudah membawa manusia yang di jebak nyonya meneer keluar dan bisa bebas, bahkan mereka yakin kalau nenek mereka Ratri sudah mati di alam gaib itu.
"Kami tidak bisa pulang, kami sudah melanggar perjanjian di dunia gaib" ucap Rian
"Peljanjian? aku tidak mengelti, tapi kalau itu membuat kalian tidak punya lumah lagi, ikutlah dengan kami, kalian bisa tinggal di lumah kami" ucap Hannan semakin membuat Hisyam menangis.
"Hiks... jangan menangis, kami tahu kami menakutkan, tapi saat siang kami akan berubah jadi cantik dan tampan, kami berubah ketika hari sudah masuk pukul tiga sore" ucap Rissa mengusap rambut Hisyam.
"Hiks... Huaaaa takut!" rengek Hisyam
"Tidak apa apa Hisyam, ada aku, meleka sudah tidak punya kelualga lagi sekalang, jadi kita adalah kelualga meleka sekalang" bujuk Hannan memeluk Hisyam
Flashback off.
"Innalilahi nak apa yang kamu lakukan, mereka mungkin berbahaya" ucap Hatta ketika mendengar penjelasan Hannan.
"Itu adalah saat anak anak hilang selama dua hari di perkebunan, Dirga dan Dimas saat itu yang membantu bapak mencari mereka" ungkap Karta juga terkejut.
Saat itu kedua anak Hatta memang hilang selama dua hari, Karta bahkan sudah mengumpulkan beberapa warga membawa alat alat masak yang berbunyi nyaring karena mengira keduanya di culik oleh kolong Wewe yang sering menculik anak anak kecil di kampung itu.
"Sahara yang menemukan mereka, tapi saat itu tiga anak yang di sebutkan Hannan sama sekali tidak ada, kami menemukan Hannan dan Hisyam dalam keadaan terluka di dekat perkebunan karet" bisik Dimas
"Apa yang harus Hatta lakukan kak, Hatta bingung" gumam Hatta
Hatta sekarang kebingungan, di satu sisi dia khawatir pada anak anaknya dan di sisi lain dia juga berhutang budi pada ketiga sosok itu dan juga neneknya yang sudah menyelamatkan Hannan dan Hisyam.
"Hannan, bisa minta mereka ke sini?" tanya Dimas mengajak kedua putra Hatta untuk ke tempat yang lebih aman.
"Tapi kalau malam mereka tidak ada di sini, mereka hanya meminta kami untuk tetap di rumah saat malam hali, mereka katanya ada di sekitar perkebunan Wihardja" jawab Hannan
"Tidak apa apa, panggil mereka" ucap Dimas dan Hannan mengangguk.
"Ruan, Reza dan Rissa" panggil Hannan
Tidak ada yang muncul karena mungkin tiga sosok itu ketakutan di usir oleh Dimas dan Sahara yang ikut bersamanya, dan karena ketiganya tidak kunjung muncul, Dimas meminta Argadana dan Anggadana untuk mencari ketiga sosok itu di sekeliling perkebunan Wihardja.
"Dimas, sebenarnya apa yang terjadi? apa Husna akan terluka?" tanya Karta
"Tidak apa apa Om, ini adalah karena Husna melihat salah satu dari mereka, kita akan cari tahu mereka berbahaya atau tidak" jawab Dimas
Dimas lalu berbicara dengan Hatta tentang rencananya untuk membuka mata batin Karta yang sempat tertutup karena ajiannya yang sudah hilang, awalnya Hatta tidak setuju karena khawatir ayahnya kembali terjerumus ke dalam ilmu hitam, tapi karena Dimas sudah menjamin itu tidak akan terjadi, jadi Hatta setuju untuk membuka mata batin Karta.
"Bapak akan menjaga anak anak dengan lebih hati hati lagi" ungkap Karta setelah Dimas membuka mata batinnya.
"Dimas, mereka sudah kembali" ucap Sahara melambaikan tangannya pada Karta.
Karta benar benar Shok karena ternyata tak hanya Dimas yang punya pelindung jin, anaknya Hatta juga punya dan Karta tidak menyangka selama ini dia hidup bersama banyak makhluk di sekelilingnya.
"Jangan takut pak, ini Urfa, Urfa sudah ada sejak Hatta di kandung oleh ibu, dan Urfa yang jadi jin pelindung Hatta karena ajian bapak itu berhubungan dengan mahluk Buto ijo ini" ucap Hatta
"Jadi yang selama ini aku lihat di sekeliling rumah adalah dia?" tanya Karta dan Hatta mengangguk.
"Assalamu'alaikum Karta" sapa Urfa
"Wa.. Wa'alaikumussalam" jawab Karta gemetar karena suara Urfa begitu menggelegar.
"Papa! Ini mereka" ucap Argadana yang mengikat ketiga jin kecil itu dengan tali penyerap energi.
"Mereka bersembunyi di dalam sebuah pohon pa" adu Anggadana
"Terima kasih nak, sekarang kalian kembalilah sebelum kalian di lihat yang lain" ucap Dimas dan keduanya kembali masuk ke tubuh Dimas.
"Kak..." panggil Hatta heran karena Dimas memegang tali itu dan berbicara pada sesuatu yang tidak bisa di lihat Hatta juga yang lain kecuali Sahara.
"Tidak apa apa, aku tadi sedang memikirkan apa yang akan kita lakukan pada tiga jin kecil ini" jawab Dimas berbohong karena Argadana dan Anggadana memang hanya bisa di lihat oleh orang orang yang mereka pilih.
"Rian, maafkan aku, aku ingin kalian tinggal di sini dan di ijinkan keluargaku m" ungkap Hannan memeluk Rian
"Maafkan adikku Rissa, dia terlalu senang di peluk ibunya Hannan dan Hisyam, jadi tadi dia ingin di peluk lagi, tolong jangan habisi kami" ucap Rian
"Kami hanya jin lemah" ucap Reza
"Hiks... Maafkan Rissa, Rissa hanya mau di peluk mama" lirih Rissa yang memang terlihat seperti Hannah yang masih tiga tahun
"Innalillahi, apa yang harus Hatta lakukan pak?" tanya Hatta tidak tega menyakiti mereka yang sudah menolong kedua anaknya.
"Mereka baik ko Dimas, Hatta, mereka itu qorin dari tumbal seseorang atau mungkin sosok yang jahat,
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Dimas
"Hihihi... Dimas lihat saja mata mereka sama, berdarah" jawab Sahara
"Pengganggu"
Teriak suara yang terdengar memenuhi seluruh perkebunan karet Karta.
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭