NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Part 4

Keesokan harinya, Gendis turun ke dapur dengan gamis sederhana, dan jilbab segi empat. Belum sempat membuka kulkas, seorang wanita seusianya dengan serbet tersampir di bahu menyapanya ramah.

"Selamat pagi, Bu. Saya Yati pengurus dapur di sini. Tuan Arya sudah berangkat sejak subuh."

Gendis balas tersenyum. "Panggil Gendis saja, Mbak. Nggak usah pakai, Bu."

Mbak Yati mengedip. "Saya nggak enak kalau cuma manggil nama saja, Bu. Karena kata Mas Tama Ibu ini istrinya Tuan Arya. Ibu Mau sarapan? Tuan Arya bilang, Ibu bebas pakai apa pun di dapur."

Gendis menghela napas lega. Setidaknya ada yang ramah di rumah besar ini. Dan laki-laki sombong itu masih punya nurani membiarkannya bebas di dapur.

Dua jam kemudian.

Gendis sedang membaca skenario di teras belakang. Sebuah mobil sport putih berhenti di halaman.

Seorang wanita dengan balutan gaun krem, rambut panjang tergerai, dan wajah flawless turun tanpa menunggu sopir membukakan pintu. Matanya menyipit melihat Gendis.

"Kamu siapa?"

Sebelum Gendis menjawab, Mbak Yati buru-buru keluar. "Eh, Mbak Gea? Tuan Arya sedang tidak di rumah—"

"Aku tidak tanya kamu," potong Gea ketus. Matanya tetap tertuju pada Gendis. "Aku tanya dia. Siapa kamu? Dan kenapa kamu di sini?"

Gendis berdiri perlahan. Tatapannya tenang. Ia kenal dengan Gea, beberapa kali tim kreatifnya menyebut kalau Gea cocok untuk mini series drama mereka yang baru.

"Saya Gendis. Istri Arya."

Udara di teras itu langsung membeku.

Gea tertawa sinis. "Istrinya Arya? Jangan bercanda, aku calon istrinya!!" bentak Gea lagi, matanya menyisir Gendis dengan tatapan merendahkan, mungkin karena Gendis memakai pakaian yang sederhana.

Oh... Jadi, ini pacarnya suamiku?

"GEA!"

Semua orang menoleh. Belum sempat Gendis membuka suaranya lagi, laki-laki yang sedang dipermasalahkan perempuan dihadapan Gendis ini sudah tiba.

Arya berdiri di pintu masuk. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menonjol. Matanya membelalak penuh amarah, bukan pada Gea, tapi pada Gendis.

Dengan tiga langkah besar, Arya sudah di depan Gendis. Tangannya mencengkeram lengan istrinya kasar, lalu menariknya masuk ke dalam rumah. Jauh dari pandangan Gea.

"Kamu gila?! Kenapa kau katakan pada Gea kalau kau istriku?!" bentak Arya, suaranya menggelegar di ruang tamu.

Gendis terseret sampai punggungnya terbentur tembok.

Dug!

Tusukan sakit menjalar di tulang belikatnya. Kepalanya berdenyut hebat karena benturan yang diciptakan Arya. Ada sesuatu yang berputar pada pandangannya. Ingin sekali rasanya Gendis langsung menutup matanya, tapi ia tahan sekuat tenaga, setidaknya dia tidak ingin di cap mencari perhatian pria sombong di hadapannya kini jika dia pingsan sekarang.

Gendis mengatupkan rahangnya. Ia memaksakan matanya tetap fokus pada Arya. Napasnya memburu, tapi suaranya ia buat setenang mungkin.

"Pertanyaanmu sekarang," ucap Gendis pelan, "Tidak kau tulis dalam kontrak perjanjian kita. Jadi aku bisa melakukannya."

Arya terdiam. Matanya menyipit, menatap Gendis seperti sedang membaca makhluk asing.

"Apa katamu?"

"Kontrak kita," Gendis ulang, meskipun kepalanya masih berdenyut. "Hanya mengatur hubungan kita di luar rumah. Di depan umum, kita orang asing. Tapi Gea datang ke rumahmu. Ke rumah pribadimu. Itu ranah privasi. Dan di ranah privasi ini, aku istri sahmu."

Arya mendengus kasar. Tangannya masih mencengkeram lengan Gendis, tapi genggamannya sedikit... mengendur.

"Kau pikir kau pintar, ya?"

"Tidak," jawab Gendis datar. "Tapi aku tidak suka basa basi."

Dari kejauhan, suara hak tinggi Gea terdengar mendekat. Arya menoleh cepat. Ia melepaskan Gendis, lalu berbisik dengan nada mengancam.

"Dengar. Kau bilang ke Gea kau asisten baruku. Kau ART-ku. Bukan istri. Kau paham? Ucapanmu tadi hanya becanda saja."

Gendis menatap Arya lama. Lalu mengangguk tipis. "Baik. Tapi aku tidak akan bersikap seperti ART pada umumnya."

"Kau tidak punya pilihan."

"Aku selalu punya pilihan," potong Gendis. "Sama seperti kau yang memilih untuk tidak menceraikanku padahal bisa."

Arya tersentak. Gendis benar. Jika Arya benar-benar mau, dengan kuasa dan uangnya, dia bisa memaksa penghulu yang menikahkan mereka kemarin untuk membatalkan pernikahan itu. Tapi dia tidak melakukannya. Video itu terlalu mengancam. Kalau sampai Gea tahu, dan berita itu langsung muncul ke publik semua nya bisa hancur!

Gea muncul di ambang pintu, matanya bergantian menatap Arya dan Gendis dengan curiga.

"Arya, siapa sebenarnya perempuan ini? Kamu sudah menikah? Kamu mendukan aku?"

Arya menegakkan punggungnya. Wajahnya kembali dingin, seperti topeng.

"No, Baby... Dia asisten baruku. Namanya... Gendis."

Gea mengerutkan dahi. "Asisten? Sejak kapan kamu butuh asisten pribadi? Aku tidak pernah—"

"Sekarang aku butuh," potong Arya ketus. "Puas? Sekarang pulanglah. Aku sudah bilang jangan datang kesini tanpa memberitahu lebih dulu, kamu tahu kan... Mama tidak menyukai kamu, dia bisa datang kapan saja kesini."

Gea menggigit bibirnya. Pandangannya beralih ke Gendis sekali lagi, penuh selidik.

"Baik. Tapi kita belum selesai, Arya."

"Aku akan menelpon mu nanti, Ok?"

Setelah mobil putih itu pergi, Arya menatap Gendis. Tatapan yang sulit diartikan.

"Besok malam ada acara makan malam dengan klien. Kau ikut. Sebagai asistenku."

"Aku tidak bisa. Aku punya kerja—"

"Kontrakmu tidak menyebutkan kau punya hak untuk menolak perintahku di dalam rumah," potong Arya dingin. "Atau mau kau baca ulang pasal 4?"

Gendis terdiam. Ia tahu Arya benar. Kontrak itu ia tanda tangani tanpa membaca terlalu teliti. Sebuah kesalahan yang bodoh.

"Baik. Tapi gajiku sebagai asisten dibayar terpisah."

Arya mendengus. "Dasar matre."

"Kamu yang mulai dengan uang 500 ribu, itu" balas Gendis tanpa ekspresi.

Arya tidak menjawab. Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Gendis yang masih bersandar di tembok.

Setelah Arya benar-benar pergi, Gendis mengusap dadanya yang berdebar kencang. Bukan karena takut pada Arya. Tapi karena jantungnya memang sedang tidak baik-baik saja.

Ia melangkah gontai menuju kamarnya di lantai 3. Setiap anak tangga terasa seperti mendaki bukit.

Sesampainya di kamar, Gendis duduk di tepi kasur. Mengatur nafasnya yang kurang stabil sejak tadi.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Sepertinya aku harus menemui Alex."

Ia berbaring, memejamkan mata. Bayangan Arya yang marah, bentakan Arya, dan genggaman Arya di lengannya... masih terasa. Tap, lebih dari itu bayangan wajah Galang lebih membuatnya merasa bersalah.

"Kalau dia begitu benci, kenapa dia tidak mengusirku saja?"

___

Sementara itu, di ruang kerjanya Arya, Laki-laki itu duduk diam menatap ponsel. Ia baru saja mengirim pesan pada Gea, Lalu matanya beralih ke langit-langit, ke arah kamar lantai 3.

"Pertanyaanmu sekarang tidak kau tulis dalam kontrak," kalimat itu terus berputar di kepalanya.

"Wanita itu... Terlalu berani."

BERSAMBUNG...

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!