NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Poster Misterius..

Istirahat telah tiba.

"Mantap, akhirnya istirahat, kita ke kantin yuk!" seru Rio penuh semangat.

"Hmm, sebentar Rio, aku harus nyatet dulu di papan tulis, belum selesai soalnya," balas Danu sambil merapikan alat tulisnya.

"Yaudah, gue tungguin."

Selesai menulis, Danu beranjak dari kursi. "Yuk ke kantin."

"Let's go!"

"Eh, tungguin aku, ikut dong!" jawab Zahra yang buru-buru merapikan bukunya setelah ikut menyelesaikan catatan.

"Udah?"

"Udah, yuk."

Mereka bertiga keluar dari kelas 10D dan menyusuri koridor sekolah. Namun, langkah mereka mendadak melambat begitu melihat kerumunan orang yang berdesakan di dekat area kantin.

"Loh, kok rame banget? Ada apa nih?" tanya Rio penasaran.

"Hmm... Mungkin ada menu baru di kantin makanya heboh?" duga Danu.

"Lebih baik kita samperin langsung."

"Oke."

Mereka mempercepat langkah. Begitu menerobos kerumunan, mereka mendapati Dimas dan Raka sedang berdiri di depan sebuah papan pengumuman yang dikerubungi siswa-siswi, tampak sibuk mengamati sesuatu yang janggal.

"Ayo sini bantuin cabut!" gerutu Raka dengan nada kesal.

"Sabar, iya ini gue di belakang," balas Dimas.

Dimas baru saja hendak meraih ujung poster itu ketika matanya tidak sengaja membaca tulisan di atasnya. Ia langsung terkesiap membaca isinya dengan suara cukup lantang.

"‘Jika berhasil meluluhkan hati gadis ini, akan dapat 100 juta’?!"

"Ih, berisik woy, hampir pecah gendang telinga gue!" protes Raka sambil menepis lengan Dimas.

"Hahaha, sorry, soalnya kaget gue baca ini."

"Ohh, menarik juga," gumam Raka, matanya menyipit menatap poster tersebut.

"Lu tertarik, Rak?"

"Bukan uangnya yang gue suka... tapi tantangannya."

"Idih, sok banget," cibir Dimas.

Keduanya akhirnya berbalik meninggalkan kerumunan itu untuk melanjutkan perjalanan ke kantin. Sementara itu, Danu, Rio, dan Zahra maju mendekati sisa poster yang menempel di dinding.

Danu menunduk sedikit, mengambil selembar brosur serupa yang berserakan di dekat lantai.

"Oh, jadi ini yang dapet 100 juta dan diramein anak-anak," ujar Rio yang baru paham setelah melihat lembaran di tangan Danu.

"Iya, di poster ini ditulis kalau bisa menaklukkan atau meluluhkan hati gadis misterius ini, hadiahnya 100 juta. Lu mau ikut tantangannya, Rio?" tanya Danu bercanda.

"Hmm, enggaklah, gue gak tertarik. Mending lu aja, Dan."

"Hahaha, candaanmu lucu. Aku kan gemuk, mana mungkin ada yang suka," balas Danu tertawa renyah, menertawakan bentuk tubuhnya sendiri.

"Ssst, jangan ngomong gitu. Siapa tahu ada seseorang yang justru suka sama lu apa adanya," jawab Rio sambil melirik sekilas ke arah Zahra dengan senyuman penuh arti.

Zahra yang merasa disindir langsung salah tingkah, pipinya bersemu merah. "Apaan sih, lu Rio! Kok senyum-senyum gitu?"

"Ah, gapapa. Siapa tahu aja," balas Rio terkekeh meledek.

Mereka bertiga pun memesan makanan dan mencari meja kosong di sudut kantin yang agak lengang. Danu langsung memesan lima porsi cemilan favoritnya untuk mengisi perut, Rio hanya memesan satu gelas minuman dingin, sementara Zahra memilih seporsi gorengan hangat dan es teh manis.

"Mantap, waktunya isi amunisi!" seru Rio penuh semangat begitu makanannya datang.

"Loh, Rio, lu gak beli makanan berat? Cuma minum doang?" tanya Danu heran sambil melirik gelas Rio.

"Ah, lagi gak selera makan, pengen yang segar-segar aja."

"Gimana sih, nih cemilan gue banyak, mau?" tawar Danu sambil menyodorkan piringnya.

"Gak usah, mending buat lu semua. Lagian lu butuh tenaga lebih, Dan," balas Rio sambil nyengir lebar. "Daripada bahas makanan, mending kita bahas topik yang lebih seru sambil santai."

"Emang lu punya topik apa?" tanya Zahra yang langsung nimbrung, matanya menyipit penasaran.

"Kemarin malam, pas gue pulang les, gue lihat seseorang yang gerak-geriknya mencurigakan banget di dekat gerbang belakang sekolah."

"Mencurigakan gimana maksud lu?" tanya Danu serius, menghentikan kunyahannya.

"Ya jelas curiga! Pakai hoodie hitam, ngendap-ngendap, bawa map tebal lagi pas jam sepuluh malam."

"Terus? Lu samperin?" tanya Zahra makin antusias.

"Mana berani! Pas gue mau deketin... tukang bakso lewat, jadi pandangan gue teralihkan. Waktu gue nengok lagi, orangnya udah ngibrit hilang."

Zahra langsung memasang wajah datar. "Dih, ngeselin. Kirain cerita apaan, taunya cerita setengah matang gara-gara tukang bakso."

"Ya, kan fakta! Mana tahu itu pelaku poster 100 juta yang lagi nyebar teror," bela Rio sambil tertawa.

Danu hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan kecil dua temannya itu. Suasana kantin yang bising perlahan meredam candaan mereka, digantikan oleh obrolan yang mengalir ke topik lain seputar kegiatan sekolah. Namun, di tengah riuhnya suara siswa-siswi yang lalu-lalang, ingatan Danu kembali tertarik pada selembar kertas yang sempat ia lihat di koridor tadi.

"Menurut kalian, beneran ada orang yang mau ngasih 100 juta cuma buat hal gak jelas kayak gitu?" tanya Danu pelan, menatap lurus ke arah sisa brosur di genggamannya. "Rasanya terlalu aneh buat ukuran anak sekolah."

"Bisa jadi itu cuma kerjaan anak iseng atau orang luar yang sengaja bikin kehebohan," balas Rio sambil menyeruput minumannya. "Tapi kalau beneran ada uangnya... wah, lumayan banget buat modal kita nongkrong sebulan penuh!"

"Kebiasaan, otaknya duit mulu," sahut Zahra sambil melempar tatapan mengejek ke arah Rio, membuat Danu tertawa kecil melihat interaksi mereka.

Meski mereka tertawa, Danu merasa ada yang ganjil. Dari cara penempelan poster yang rapi di setiap sudut sekolah hingga pemilihan kata di selebaran itu, orang yang menyebarkannya pastilah seseorang yang punya tujuan sangat spesifik—bukan sekadar keisengan remaja biasa. Ada rapi yang disembunyikan di balik kekacauan itu, seolah sang penyebar sedang memancing seseorang keluar dari persembunyiannya.

Kehangatan di antara persahabatan mereka sejenak melunturkan ketegangan, namun teka-teki poster berhadiah itu telanjur menanamkan rasa penasaran yang mendalam di kepala Danu.

​Seusai obrolan panjang di kantin, bel masuk berdering kencang, memaksa mereka bergegas kembali ke kelas.

​Di tengah perjalanan, Danu beberapa kali harus melambat dan mengatur napas karena kelelahan, menyesuaikan diri dengan bentuk tubuhnya. Namun, Rio dan Zahra sama sekali tidak menunjukkan rasa kesal atau meninggalkan dirinya di belakang. Menyadari itu, rasa hangat bergemuruh di dada Danu—ia sama sekali tidak pernah menyangka akan menemukan teman-teman sebaik dan setulus ini saat pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMA.

​Sayangnya, setibanya mereka di depan pintu kelas, nasib berkata lain. Guru piket yang terkenal disiplin sudah berdiri tegak di ambang pintu. Alhasil, mereka bertiga resmi dinyatakan terlambat dan diganjar hukuman berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran terakhir usai.

​"Haduh, padahal telat sebentar doang. Dasar guru killer!" gerutu Rio pelan, melirik kesal ke arah pintu.

​"Mmm... maaf ya, gara-gara aku jalan kita lambat, kalian jadi ikut dihukum," cicit Danu merasa tidak enak.

​"Duh, santai aja kali, Dan. Lagian jangan kaku gitu, biasain panggil gue-lu aja biar lebih akrab," balas Rio sambil nyengir.

​"Betul tuh kata Rio. Daripada ngomel mulu bikin capek, mending kita manfaatin waktu hukuman ini buat ngobrol," sahut Zahra mendukung.

​"Wah-wah, ternyata gini ya sifat asli lu, Zahra? Galak tapi perhatian," ledek Rio.

​"Hah? Emangnya lu mau gue bersikap gimana?!" balas Zahra sewot dengan pipi merona tipis.

​Sementara dua temannya itu mulai berdebat kecil di bawah teriknya koridor, Danu hanya bisa tertawa kecil. Ia mengulurkan tangan besarnya, menepuk pelan bahu Rio dan Zahra untuk melerai perdebatan konyol mereka.

​Hari itu ditutup dengan senyuman di wajah Danu. Perlahan tapi pasti, rasa percaya diri yang sempat terkubur mulai bangkit, membantunya menerima diri sendiri di tengah dunia baru yang perlahan-lahan mulai membuka tabir rahasianya..

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!