NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 4, JALAN YANG BERBEDA.

Bulan berganti, dan berita tentang penolakan Arvin menyebar seperti api kering. Raja Vereon marah besar—ia tidak hanya gagal menangkap Zhoo, tetapi Arvin, ksatria kepercayaannya, telah membiarkan musuh pergi. Di istana, Rhaen membisikkan racun ke telinga raja: “Kesetiaan itu rapuh, Baginda. Jika ia memilih sahabat daripada rajanya, siapa yang menjamin ia tidak akan berkhianat di medan perang?”

Arvin ditangkap, dicabut gelarnya, dan dipenjara di ruang bawah tanah Ironhold yang paling gelap dan lembap. Di sana, dalam kegelapan total, ia merenungkan pilihannya—menyerah pada ambisi raja dan membunuh sahabatnya, atau tetap setia pada hati nurani dan membusuk dalam penjara. Pilihan yang tampaknya sederhana ternyata menjadi beban paling berat yang pernah ia pikul.

Sementara itu, Zhoo, Kael, dan Elara tidak tinggal diam. Dengan peta segel kuno di tangan, mereka mulai berkelana ke setiap kerajaan, mencari dukungan rakyat dan segel kekuasaan. Namun perjalanan ini tidak lagi seperti sebelumnya—setiap langkah terasa lebih berat, setiap bayangan terasa lebih mengancam. Zhoo sering terbangun di tengah malam, berkeringat dingin, membayangkan wajah Arvin di balik jeruji besi.

“Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang, Zhoo,” kata Kael suatu malam, saat mereka berkemah di perbatasan Solares. “Terutama jika mereka memilih jalan mereka sendiri.”

“Tapi aku bisa mencoba,” jawab Zhoo, matanya menatap api unggun yang menari-nari. “Arvin pergi demi kita—agar kita bisa keluar dari desa yang miskin. Sekarang ia menderita karena keputusanku. Bagaimana aku bisa memimpin orang jika aku membiarkan orang yang paling kucinta hancur?”

Elara duduk di sampingnya, meletakkan tangan di atas punggungnya. “Memimpin bukan berarti menanggung semua rasa sakit sendirian. Itu berarti membiarkan orang lain berbagi beban. Arvin membuat pilihannya sendiri, dan itu tidak membuat rasa sakitnya menjadi tanggung jawabmu. Tapi jika kau ingin menyelamatkannya, kita akan melakukannya—bersama-sama.”

Dengan tekad yang baru, mereka menyusun rencana berani: menyusup ke kota Ironhold saat festival bulan purnama, membebaskan Arvin, dan membawanya pergi. Namun Kael memperingatkan: “Istana itu seperti sarang lebah. Jika kita mengganggunya, seluruh pasukan akan mengejar kita. Dan kita belum cukup kuat untuk melawan Raja Vereon secara terbuka.”

“Maka kita tidak akan melawannya dengan pedang,” kata Zhoo. “Kita akan menggunakan apa yang ia tidak miliki: pengetahuan tentang kelemahannya.”

Selama berminggu-minggu, Elara menyusup ke kota sebagai penyanyi jalanan, mengumpulkan informasi dari prajurit dan pelayan istana. Ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: Raja Vereon bukanlah pewaris sah takhta. Ia merebut kekuasaan dengan membunuh kakaknya, raja yang bijaksana dan dicintai rakyat, bertahun-tahun yang lalu. Dan Rhaen—penasihat kepercayaannya—adalah satu-satunya saksi yang masih hidup, yang kini memeras raja dengan rahasia itu.

“Kekuasaan Vereon dibangun di atas kebohongan,” kata Elara saat mereka berkumpul di tempat persembunyian rahasia. “Jika rakyat mengetahui kebenaran ini, kepercayaan mereka akan hancur. Tapi kita butuh bukti—catatan tertulis yang disimpan di menara tertinggi istana.”

“Maka aku akan mengambilnya,” kata Zhoo.

Malam festival tiba. Seluruh kota diterangi obor dan lampu minyak. Orang-orang berkumpul di alun-alun, minum dan bernyanyi, sementara prajurit-prajurit lengah karena pesta. Zhoo menyusup ke istana melalui saluran air bawah tanah, bergerak dalam kegelapan, mengandalkan indra yang telah ia asah selama perjalanannya. Di belakangnya, Kael menunggu di luar dengan kuda siap, sementara Elara mengalihkan perhatian penjaga dengan nyanyiannya yang memikat.

Zhoo naik ke menara, menemukan ruang arsip, dan dengan tangan gemetar menemukan catatan itu—ditulis dengan tinta darah pudar, tanda tangan raja yang terbunuh, dan pengakuan Vereon sendiri. Namun saat ia hendak pergi, sebuah suara dingin terdengar dari ambang pintu.

“Kau memiliki bakat untuk mengganggu rencana orang lain, anak muda.”

Rhaen berdiri di sana, memegang lampu minyak, wajahnya dalam bayang-bayang.

“Kau tahu apa yang ada di sini,” kata Zhoo, memegang catatan itu erat-erat. “Mengapa kau tidak memberitahu siapa pun?”

“Karena kekuasaan adalah permainan, dan aku suka menjadi pemain terbaik,” jawab Rhaen pelan. “Vereon adalah raja yang kejam, tapi ia kuat. Kau… kau ingin menjadi baik. Dan orang baik selalu kalah. Berikan catatan itu padaku, dan aku akan membiarkanmu hidup. Bahkan mungkin aku akan membantumu. Bersama-sama kita bisa mengendalikan Vereon, dan kau bisa menjadi penguasa bayangan. Bukankah itu yang kau inginkan—mengubah dunia tanpa menjadi monster?”

Zhoo menatap pria itu, dan menyadari jenis kejahatan yang paling berbahaya: kejahatan yang menyamar sebagai akal sehat.

“Tidak,” kata Zhoo tegas. “Karena jika aku bermain dengan cara mereka, maka perubahan apa pun yang kubuat tidak akan ada artinya. Kebohongan tidak bisa melahirkan keadilan.”

Rhaen menghela napas panjang, seolah kecewa. “Kau muda dan idealis. Suatu hari nanti kau akan mengerti bahwa dunia tidak peduli pada kebenaran. Tapi sampai saat itu… selamat tinggal.”

Ia bertepuk tangan, dan puluhan prajurit muncul dari balik pintu rahasia. Zhoo melompat melalui jendela, jatuh ke dalam tumpukan jerami yang telah disiapkan Elara di bawah, dan berlari sekuat tenaga dengan prajurit-prajurit mengejar di belakangnya. Mereka berhasil melarikan diri, namun Zhoo tahu: Rhaen membiarkannya pergi. Ia sengaja membiarkannya hidup, mungkin untuk melihat apakah Zhoo benar-benar mampu mengubah segalanya—atau agar ia bisa memanfaatkannya nanti.

Mereka berhasil membebaskan Arvin dari penjara bawah tanah sebelum alarm berbunyi. Saat Arvin melihat Zhoo di dalam kegelapan, ia tidak berkata apa-apa—ia hanya memeluk sahabatnya erat, seolah takut jika melepaskannya, Zhoo akan menghilang. Namun kebebasan itu datang dengan harga mahal: saat mereka menengok ke belakang, melihat kota Ironhold terbakar bukan karena mereka, tapi karena rakyat yang mulai bangkit setelah mendengar kebenaran yang disebarkan Elara. Api itu bukan awal kemenangan, melainkan tanda bahwa benua Est sedang hancur, dan tidak ada yang bisa menghentikannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!