Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Sera Mulai Curiga?
Sera menyiapkan 3 pasang pakaian formal, 3 pasang pakaian santai dan 6 underwear untuk di bawa Ravin dinas ke Bali.
Tidak hanya itu, ia juga menyiapkan handuk dan peralatan mandi lainnya, di dalam sebuah koper berukuran sedang.
Semalam, pria itu pulang pukul 10 malam. Sehingga Sera tidak sempat menyiapkan koper sang suami. Karena tidak tau, berapa baju yang harus disiapkan.
“Berangkat jam berapa, kak?” Tanya Sera pada sang suami yang tengah mematut diri di depan cermin meja rias yang ada di tengah ruang ganti.
“Jam 10, Ra. Nanti aku di antar pak Raka ke bandara.” Ucap Ravin.
Mendengar sang suami menyebut nama asistennya, Sera pun teringat pernah melihat pria itu di sebuah restoran saat Ravin mengaku ada masalah di proyek Bogor.
Sera berdeham pelan. “Waktu kakak pergi ke Bogor, aku sempat melihat pak Raka di restoran China. Apa dia tidak ikut menemani kamu?” Tanya Sera sembari menutup koper sang suami.
Tubuh Ravin tiba - tiba menegang.
Sera melihat pak Raka. Apa mereka sempat bertemu?
Apa Sera menanyakan keberadaan dirinya pada pak Raka?
Namun, Ravin berusaha untuk tetap tenang agar Sera tidak mencurigai sesuatu.
“Aku memang pergi sendiri, Ra.” Ravin meraih koper dari tangan sang istri.
“Kejadiannya mendadak. Dan pekerjaan di kantor juga banyak. Aku tidak mungkin membawa pak Raka.” Imbuh pria itu.
Sera mendengarkan ucapan sang suami. Ia kemudian mengangguk pelan.
‘Alasan yang cukup meyakinkan, kak.’ Monolog Sera dalam hati.
“Oh, ya. Bagaimana kinerja mas Wira? Dia membawa mobilnya dengan hati - hati ‘kan?” Ravin mengalihkan pembicaraan agar Sera tak lagi membahas tentang Bogor.
“Ya. Mas Wira membawa mobil dengan hati - hati. Kemarin juga sempat bertemu dengan papa. Dan papa, ternyata tidak mengetahui kalau mama mempekerjakan mas Wira. Bahkan papa tidak mengetahui kalau mama kena musibah kecopetan.” Jelas Sera.
“Mungkin mama tidak mau papa khawatir.” Ucap Ravin.
Sera menganggukkan kepalanya. “Padahal papa tau mama pergi menjenguk temannya di rumah sakit Sehat Medika. Tetapi, mama tidak menceritakan musibah yang menimpanya.”
Deg!!
Rumah Sakit Sehat Medika.
Bukankah itu adalah rumah sakit dimana Rania di rawat? Jadi benar, yang Ravin lihat di halaman rumah sakit itu adalah mama mertuanya?
Apa jangan - jangan mama Safina juga melihat dirinya?
Sera mengamati perubahan raut wajah sang suami. Namun, gadis itu berpura - pura tak menyadarinya.
“Kamu tau darimana mama kena musibah di rumah sakit Sehat Medika?” Tanya Ravin kemudian.
“Mas Wira yang mengatakannya. Tidak mungkin bohong ‘kan? Karena dia yang menolong mama.” Ucap Sera.
Ravin mengangguk pelan. Ia berusaha untuk tetap tenang.
‘Mama pasti tidak melihat aku. Kalau mama lihat, dia pasti sudah bertanya. Tenang Ravin. Jangan sampai Sera curiga.’
Pria itu menghela nafas kasar.
“Kalau begitu, ayo kita turun untuk sarapan. Aku masih harus mengurus beberapa dokumen sebelum pergi ke bandara.” Ucap Ravin sembari menarik koper miliknya.
Sera mengangguk pelan. Ia beralih mengambil tas tangan yang akan di bawanya ke kantor.
‘Kamu pasti takut aku mencurigai sesuatu ‘kan, kak? Kita lihat, sampai kapan kamu bisa bersandiwara seperti ini.’
.
.
.
Hari Sera berjalan seperti biasa setelah kepergian Ravin ke Bali. Pukul 2 siang, pria itu mengirim pesan, jika dirinya telah tiba dengan selamat di pulau Dewata itu.
Pukul 4 sore, Sera pulang dari kantor seperti biasa. Wira pun sudah menunggu gadis itu sejak satu jam yang lalu.
“Kita langsung pulang, atau nona ingin mampir ke suatu tempat?” Tanya Wira dari balik kemudi saat mobil meninggalkan pelataran gedung Mahendra Corp.
“Kita pulang saja, mas. Saya tidak ada mampir kemana pun.” Ucap Sera pelan.
Wira mengangguk pelan. “Karena bapak tidak di rumah, saya kira nona akan merasa bosan, dan ingin menghabiskan waktu sebentar di luar rumah.” Ucap pria itu.
Sera tidak langsung menanggapi. Ia menatap Wira dari belakang.
Selama menikah, belum sekalipun Sera menghabiskan waktu sendiri di luar rumah, meski tau Ravin tidak bisa pulang tepat waktu.
Sera sibuk menjadi istri yang baik. Menunggu kedatangan sang suami dengan membantu bibi menyiapkan makan malam.
Namun, terkadang yang Sera lakukan hanya sia - sia. Ravin bahkan tidak menyentuh makanan yang sengaja Sera siapkan untuknya.
“Non.” Panggil Wira lagi saat melihat Sera terdiam.
“Hmm. Jalan pulang saja, mas. Saya mau istirahat lebih awal.” Gadis itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Wira mengangguk pelan. Kemudian fokus pada padatnya lalu lintas sore itu.
‘Tunggu waktunya, Sera. Aku pasti akan membebaskan kamu dari pernikahan tanpa cinta ini.’
Setengah jam kemudian, mobil Sera tiba di depan gerbang rumah. Petugas keamanan dengan cepat membuka pintu gerbang.
Saat Wira memarkirkan mobil di halaman, tiba - tiba datang mobil lain dan berhenti di belakang mereka.
“Sepertinya ada tamu, non.” Ucap Wira sembari mematikan mesin mobil. Ia kemudian keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Sera.
“Terima kasih, mas.” Ucap Sera. Ia pun melihat ke arah mobil yang berhenti di belakang mobilnya.
“Mama.” Ucap Sera pelan ketika melihat sang ibu mertua keluar dari mobil itu.
Wira yang hendak kembali masuk ke dalam mobil, pun mengurungkan niatnya. Ia ikut menoleh ke arah padangan Sera.
Seoarang wanita paruh baya dengan tampilan elegan, bak ratu Inggris melangkah mendekati mereka.
Jantung Wira seketika bergemuruh kencang. Tangan pria itu terkepal begitu saja.
‘Wanita ini.’
Wira menyembunyikan kepalan tangan di belakang tubuhnya. Ia berusaha untuk menenangkan diri. Menarik dan membuang nafas berulang kali.
‘Tenang, Wira. Ini baru awal. Kamu tidak boleh terlihat lemah. Jangan sampai ada yang curiga padamu.’
“Apa kabar, ma?” Sera mendekat sembari memberikan salam hormat pada sang mertua.
“Mama baik, Sera. Kamu kenapa tidak pernah datang ke rumah?” Tanya mama Irene.
“Maaf, ma. Akhir - akhir ini aku dan kak Ravin terlalu sibuk.” Tukas Sera. Agar tak menyinggung perasaan mama Irene.
Mama Irene mengangguk pelan. Ia kemudian tanpa sengaja melihat ke arah Wira.
Dahi wanita paruh baya itu seketika berkerut halus, setelah melihat wajah Wira.
Sera ikut melihat. “Dia sopir baru aku, ma. Namanya mas Wira.” Beritahu Sera.
“Sopir baru? Sejak kapan?” Selidik mama Irene.
“Baru 2 hari, ma.”
Mama Irene mengamati Wira dengan lekat. Ia seperti tidak asing dengan wajah pria muda itu.
“Mas Wira, ini mama Irene. Mamanya kak Ravin.” Sera mengenalkan sang mertua kepada Wira.
Wira mengangguk pelan. Kemudian mengulurkan tangannya.
“Salam kenal, nyonya.”
Mama Irene membalas uluran tangan Wira, namun hanya di ujungnya saja.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya wanita paruh baya itu.
Wira pun mengedikan bahu pelan. “Mungkin wajah saya mengingatkan nyonya dengan kenalan di masalalu.”
Kening mama Irene kembali berkerut halus.
“Maaf, non. Saya permisi untuk memindahkan mobil.” Pamit Wira kemudian.
Ia tidak ingin wanita paruh baya itu mengingat wajah lebih lama. Setidaknya, sampai waktu yang tepat itu datang.