NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Diam-Diam Menjaga

Nara

Dua hari setelah fitnah jam tangan, aku mengubah pembagian kerja rumah.

Di kertas, alasannya efisiensi. Pekerja kebun mengambil cucian berat. Bu Nah mengatur ulang jadwal dapur. Sekar fokus pada Arka, pencatatan kebutuhan bayi, dan masakan yang memang menjadi keahliannya.

Tidak ada satu baris pun menyebut bahwa aku tidak tahan melihat tas lusuhnya dibalik atau telapak tangannya memerah karena pekerjaan kasar.

"Bapak membuat struktur kerja rumah seperti proyek konstruksi," kata Bayu saat membaca tabel.

"Ada masalah?"

"Tidak. Hanya lucu."

"Kalau lucu, jangan tersenyum."

Dia berhenti tersenyum, setidaknya selama tiga detik.

Aku meminta bonus kinerja untuk Sekar diproses bersama dua pekerja lain yang tanggung jawabnya bertambah. Jumlahnya wajar, dicatat resmi, dan disetujui Bu Retno. Aku tidak ingin uang menjadi pemberian pribadi yang bisa dipakai orang merendahkannya.

Sore itu seorang pekerja lama mengeluh karena Sekar tidak lagi mencuci karpet halaman.

"Baru datang sudah dapat kerja enak," katanya di dapur, cukup keras untuk terdengar.

Aku kebetulan lewat. "Kalau ingin tugas pengasuhan bayi lengkap dengan catatan susu, makanan, suhu, dan popok, silakan bertukar. Gajinya juga dihitung ulang sesuai tanggung jawab."

Perempuan itu langsung menggeleng. Bu Nah menahan senyum.

"Pembagian kerja bukan hadiah," lanjutku. "Kalau ada keberatan, sampaikan lewat Bu Retno. Jangan ganggu pekerja lain."

Sekar mendengar dari ruang bayi. Dia tidak mengucapkan terima kasih, hanya mengirim satu gelas air ke ruang kerjaku satu jam kemudian dengan catatan: Untuk orang yang suka lupa minum saat membela efisiensi.

Catatan itu kusimpan.

Sekar tetap mengetahuinya.

Dia menemukanku di taman tengah ketika aku memeriksa kunci gerbang.

"Den yang menambah bonus?"

"Bu Retno menyetujui."

"Itu bukan jawaban."

"Kau bekerja baik. Rumah ini membayar pekerjaan baik."

"Pekerjaan berat saya juga dipindahkan."

"Pembagian lama tidak efisien."

Dia menyilangkan tangan. "Den selalu punya kata panjang untuk bilang sedang menjaga saya."

Aku memandangnya. "Kalau kau tidak setuju, pembagian bisa dibahas."

Sekar menahan senyum. "Saya setuju. Saya hanya tidak mau Den berpura-pura ini soal efisiensi."

"Sebagian memang efisiensi."

"Sebagian lagi?"

"Bukan urusanmu."

"Kalau menyangkut pekerjaan saya, itu urusan saya."

Sekar benar lagi. Aku menarik napas. "Sebagian lagi karena tanganmu belum pulih sempurna dan kau sudah punya tugas penuh. Saya tidak mau kau menganggap menyakiti diri sebagai bukti rajin."

"Itu lebih jujur."

"Puas?"

"Lumayan."

Hubungan ini aneh. Aku memiliki kuasa lebih besar di rumah, tetapi dia perlahan belajar membuatku mempertanggungjawabkan cara menggunakannya. Alih-alih merasa terganggu, aku justru lega.

Dia tertawa kecil lalu pergi membawa botol susu Arka. Aku sadar jawaban terakhir justru mengakui lebih banyak daripada yang ingin kusembunyikan.

***

Perubahan kecil itu menarik perhatian Ibu.

Dia memanggilku ke ruang keluarga setelah makan siang. "Nara, duduk."

"Ada rapat lima belas menit lagi."

"Lima menit cukup."

Ibu menunjukkan daftar pembagian kerja. "Ini idemu?"

"Iya."

"Bonus juga?"

"Sekar membuat jadwal Arka stabil dan dua pekerja lain mengambil tugas baru. Semuanya menerima sesuai beban."

"Kau sengaja menyamarkan perhatian pribadi sebagai kebijakan umum."

Aku tidak menjawab.

Ibu menatapku lama. "Ratih salah memfitnah. Itu tidak membuat semua kekhawatirannya otomatis salah. Kau berubah sejak Sekar datang."

"Saya tahu."

Jawaban jujur itu membuat Ibu terdiam.

"Kau tahu posisi keluarga kita," katanya. "Omongan orang bisa menghancurkan perempuan seperti Sekar lebih cepat daripada dirimu. Kalau kau hanya tertarik sesaat, menjauh."

"Saya tidak bermain-main."

"Lalu apa niatmu?"

Untuk pertama kalinya, aku tidak punya kalimat yang cukup pasti. Aku peduli, ingin melindungi, dan merasa rumah kosong saat dia menghindar. Tetapi mengucapkan niat tanpa kesiapan memberi nama hanya akan menambah beban padanya.

"Saya belum akan menyeretnya ke pembicaraan keluarga," jawabku. "Sampai saya jelas, saya menjaga batas."

"Pastikan batas itu terlihat, bukan hanya ada di kepalamu."

Ibu pergi sebelum rapatku dimulai. Peringatannya keras, tetapi dia tidak merendahkan Sekar. Dia bahkan menyebut risiko terbesar jatuh pada Sekar, bukan nama keluarga. Itu berarti Ibu sudah melihat lebih banyak daripada yang kukira.

***

Malamnya, aku membuka laci meja.

Tiga sapu tangan Sekar terlipat di dalam. Yang satu memiliki jahitan bekas darah di sudut. Yang lain bersulam S. Kain ketiga adalah yang pernah kupakai saat tangannya terluka.

Aku mengambil sapu tangan bersulam S dan memikirkan mengembalikannya.

Sudah tiga malam aku melakukan hal yang sama. Mengambil, melipat ulang, lalu menyimpan. Kain itu tidak ajaib. Aromanya hampir hilang setelah dicuci. Namun sulaman tangannya dan noda tanah samar di sudut membuat benda itu terasa seperti bagian dari perjalanan yang belum dia ceritakan seluruhnya.

Menyimpannya tanpa izin tidak sejalan dengan semua pidatoku tentang hak memilih. Besok aku harus mengaku dan mengembalikan. Keputusan itu sangat masuk akal sampai Sekar benar-benar muncul di pintu.

Ketukan terdengar. Sekar berdiri di depan pintu terbuka bersama Bu Nah, membawa teh dan piring buah. Mereka sengaja datang berdua sesuai aturan.

"Teh, Den," kata Bu Nah.

Sekar meletakkan buah. Matanya jatuh ke sapu tangan di tanganku.

"Itu punya saya."

Aku menutup jari di sekeliling kain. "Saya tahu."

"Saya cari dari kemarin."

"Saya mencucinya."

"Sampai dua hari?"

Bu Nah melihat kami bergantian lalu mundur. "Saya tunggu di lorong. Pintu terbuka."

Sekar mengulurkan tangan. Aku hampir menyerahkan kain itu.

Hampir.

"Besok," kataku.

"Kenapa besok?"

"Belum disetrika."

Dia menatap lipatan rapi tanpa satu kerut pun. "Den berbohong buruk sekali."

"Tehnya dingin."

"Jangan alihkan."

"Sekar."

Dia akhirnya menarik tangan, tetapi senyum kecil muncul. "Baik. Besok saya tagih."

Setelah dia pergi, aku melihat sapu tangan itu lagi.

Aku peduli padanya, lebih dari yang seharusnya. Pengakuan itu tidak lagi menakutkan. Yang menakutkan adalah betapa sedikitnya keinginan dalam diriku untuk berhenti.

Aku memasukkan kembali dua kain lain, tetapi sapu tangan bersulam S tetap di tangan. Jika dia menagih besok, aku harus memberikannya. Kalau dia bertanya alasan, aku belum tahu apakah sanggup berkata bahwa benda itu mengingatkanku pada keberaniannya melarikan diri.

Di luar, Ibu lewat dan melihat cahaya ruang kerja. Tatapannya jatuh pada sapu tangan yang masih kugenggam.

Dia tidak masuk atau bertanya. Dia hanya berhenti satu detik, lalu meneruskan langkah. Diamnya lebih jelas daripada teguran: seorang Adiwijaya tidak menyimpan barang perempuan tanpa alasan, dan seorang ibu mengenali alasan sebelum putranya sanggup menyebutnya.

Aku tahu perhatian ini tidak akan tersembunyi lama. Cepat atau lambat, keluarga akan memaksaku menjelaskan apakah Sekar hanya pekerja yang kujaga atau perempuan yang benar-benar kuinginkan berada di sisiku untuk waktu yang sangat lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!