NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

"Aku Straight, kok"

"Akhirnya diangkat juga."

Suara Ricky memenuhi telinga Keira begitu sambungan tersambung. Tidak ada salam, tidak ada pertanyaan apakah ia sedang sibuk. Nada pria itu terdengar seolah Keira berutang penjelasan kepadanya.

"Ada perlu apa?"

"Aku cuma khawatir. Chat-ku dari kemarin nggak dibalas. Kamu sehat, kan?"

"Aku sehat. Aku nggak membalas karena kita sudah membicarakan ini bulan lalu."

Di kursi seberang, Reynard menutup laptopnya perlahan. Ia tidak menatap Keira terang-terangan, tetapi perhatian penuh di wajahnya membuat Keira sadar setiap kata terdengar jelas.

Ricky tertawa kecil. "Kamu terlalu serius. Aku cuma mau kenal lebih dekat. Kita kerja di tempat yang sama, sama-sama suka bahasa. Siapa tahu memang jodoh."

"Aku sudah bilang nggak tertarik."

"Karena kamu sudah punya cowok? Aku tanya teman-teman, katanya nggak ada. Atau jangan-jangan... kamu memang nggak suka cowok?"

Jari Keira mengeras di tepi ponsel. Kepedulian palsu itu akhirnya pecah dan memperlihatkan wajah aslinya.

"Aku straight, kok," katanya, setiap kata terucap bersih. "Cuma memang nggak minat sama kamu. Segitu saja susah dimengerti?"

Ricky terdiam. Lalu suaranya naik. "Kamu nggak perlu sombong begitu. Aku cuma baik sama kamu."

"Orang baik berhenti ketika sudah ditolak. Jangan chat atau telepon aku lagi di luar urusan administrasi kelas."

"Keira, dengar dulu."

Keira memutus sambungan.

Panggilan kedua masuk sebelum layar sempat padam. Ia menolaknya. Panggilan ketiga menyusul bersama pesan yang diawali kalimat dasar perempuan sok jual mahal. Keira mengambil tangkapan layar, menyimpannya dalam folder khusus, lalu memblokir nomor Ricky.

Baru setelah itu ia mengembuskan napas.

"Dia pernah begini sebelumnya?" tanya Reynard.

"Pernah mengajak jalan. Aku tolak baik-baik. Kupikir selesai."

"Simpan semua pesannya."

Keira mengangkat alis. "Aku sudah simpan."

"Bagus. Kasih tahu pengelola sanggar kalau dia pakai data kerja buat menghubungimu terus."

Nada Reynard datar, tetapi rahangnya mengeras. Keira justru merasa tenang melihatnya tidak merebut ponsel, tidak menawarkan diri menelepon Ricky, dan tidak bertindak seolah ia lebih tahu apa yang harus dilakukan.

"Aku bisa urus," katanya.

"Aku tahu." Reynard membuka laptop lagi. "Kalau butuh ditemani, bilang."

Jawaban sederhana itu membuat bahu Keira yang tegang perlahan turun.

Keira kemudian membuka surel resmi Sanggar Bahasa Cerdas. Ia menulis kronologi singkat, melampirkan tangkapan layar, dan meminta seluruh komunikasi administratif kelas dialihkan melalui grup resmi. Sebelum menekan kirim, ia membaca ulang pesannya dua kali.

"Terlalu halus," komentar Reynard setelah Keira mengizinkannya melihat.

"Ini laporan profesional, bukan ajakan berantem."

"Tambahkan kalau kamu sudah menolak kontak pribadi dan dia tetap menghubungi. Biar batasnya tercatat."

Keira mempertimbangkannya, lalu menambahkan satu kalimat. Saran itu tepat tanpa mengambil alih keputusannya. Setelah surel terkirim, ia memindahkan semua bukti ke penyimpanan awan.

Reynard berdiri menuju dapur. Beberapa menit kemudian, secangkir teh hangat diletakkan di meja.

"Aku biasanya minum kopi."

"Tangan Cici masih dingin. Kopi bikin tambah berdebar."

Keira memegang cangkir. Hangatnya merambat ke telapak tangan, membuktikan bahwa Reynard memperhatikan lebih banyak daripada yang ingin ia akui.

"Kamu baru dua hari di sini," gumamnya. "Kok sudah sok tahu?"

"Tebakan beruntung."

Sekali lagi jawaban itu terlalu ringan untuk tatapan yang terlalu teliti.

***

Menjelang siang, mereka berjalan ke supermarket dekat apartemen. Reynard mendorong troli, sementara Keira memegang daftar belanja yang ia susun terlalu serius untuk ukuran dua orang penghuni unit seberang.

"Kenapa beli wortel sebanyak ini?" tanya Keira.

"Biar ada sayur."

"Aku bukan kelinci."

"Kemarin isi kulkas Cici seperti kulkas anak kos yang sedang menunggu kiriman uang."

Keira memasukkan dua bungkus camilan ke troli sebagai balasan. "Ini kebutuhan pokok."

"Keripik rasa keju bukan kebutuhan pokok."

"Bagi mahasiswa semester tujuh, itu sumber kehidupan."

Reynard menggeleng, tetapi tidak mengeluarkannya. Ia pergi ke lorong daging untuk mengambil ayam, meninggalkan Keira memilih saus. Saat itulah seorang pria berkaus polo berhenti terlalu dekat di sampingnya.

"Mbak, saus yang itu enak?"

Keira menjawab singkat, "Lumayan," lalu bergeser.

Pria itu ikut bergeser. "Sering belanja di sini? Kayaknya pernah lihat. Boleh kenalan?"

"Maaf, saya sedang buru-buru."

"Minta WhatsApp saja. Siapa tahu bisa ngobrol."

Keira hendak pergi, tetapi tubuh pria itu menghalangi ujung lorong. Rasa tidak nyaman dari panggilan Ricky kembali naik ke tengkuknya.

Sebelum ia bicara, sebuah tangan mendarat ringan di bahunya.

Reynard berdiri di sisi Keira, begitu dekat hingga lengan mereka bersentuhan. Ia menarik Keira setengah langkah ke arahnya, memindahkan posisi tubuhnya di antara Keira dan pria asing itu.

"Dia sama saya," ucap Reynard.

Suaranya tidak keras. Justru karena tenang, peringatan di dalamnya terdengar lebih jelas. Tatapannya tidak bergeser sampai pria itu berdeham, menggumamkan maaf, lalu pergi sambil mendorong keranjang.

Tangan Reynard masih berada di bahu Keira.

"Sudah pergi," bisik Keira.

"Aku tahu."

"Terus tanganmu?"

Reynard menurunkannya pelan. Panas telapak itu tertinggal di balik kain kardigan, memicu denyut kecil yang membuat Keira segera mengambil sebotol saus tanpa melihat mereknya.

Di kasir, Reynard diam-diam menukar saus yang salah dengan pilihan yang biasa dibeli Keira. Ia tidak mengomentari tangan Keira yang sedikit gemetar.

Kasir perempuan itu melirik isi troli mereka, lalu tersenyum. "Belanja bulanan, Kak?"

"Mingguan," jawab Keira.

"Pacarnya perhatian banget, semua barang berat dibawa sendiri."

Keira nyaris menjatuhkan dompet. "Bukan pacar."

Reynard menyerahkan kartu pembayaran tanpa mengoreksi kasir. Saat Keira menatap tajam, ia hanya berkata, "Kasirnya sudah sibuk. Nggak perlu bikin antrean tambah panjang."

"Kamu bisa bilang kita bukan pasangan."

"Cici sudah bilang."

"Tapi kamu senyum."

"Aku memang ramah."

Keira mendengus. Reynard mengambil struk, masih dengan wajah tanpa dosa, lalu menyerahkan satu kantong paling ringan kepadanya. Dua orang di belakang mereka menahan senyum. Tanpa perlu sepatah kata lagi, Keira merasa baru saja dikerjai di depan umum.

Mereka berjalan pulang membawa beberapa kantong belanja. Matahari Jakarta terasa menyengat, tetapi jalan di bawah deretan pohon cukup teduh. Keira melirik Reynard yang memegang hampir semua kantong.

"Tadi kamu kayak benar-benar cemburu."

Langkah Reynard melambat.

"Masa?"

"Tatapanmu serem. Orang itu langsung kabur."

"Bagus berarti."

"Aku cuma bilang kamu kelihatan cemburu, bukan memuji."

Reynard berhenti. Ia menoleh, membuat Keira ikut berhenti di trotoar. Tidak ada tawa di matanya kali ini.

"Kalau aku bilang aku memang cemburu," katanya, "Cici percaya nggak?"

Panas matahari mendadak terasa berkumpul di wajah Keira. Ia membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Reynard menunggu dua detik. Lalu sudut bibirnya terangkat lagi, seolah baru saja melempar candaan biasa.

"Ayo. Es krimnya nanti meleleh."

Ia kembali berjalan sambil membawa kantong belanja. Keira tertinggal setengah langkah, menatap punggungnya dengan jantung yang tidak mau kembali teratur.

Kalimat tadi terdengar seperti bercanda.

Masalahnya, mata Reynard sama sekali tidak ikut bercanda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!