Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Jebakan Rekaman dan Tragedi Telur Mata Sapi Gosong
"BODOH KAU, GERALD!"
Same meledak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding marmer mansion Gothic miliknya.
"Maksudku bukan permainan yang kau bayangkan! Mereka benar-benar bermain seperti anak kecil! Sepupuku yang sok berwibawa itu merangkak di lantai dan membiarkan gadis itu tertawa terbahak-bahak di punggungnya! Lihat sendiri!"
Gerald buru-buru memungut tablet itu. Dengan tangan gemetar, ia memutar ulang video tersebut. Matanya membelalak melihat Raditama—CEO yang dikenal dingin dan tak tersentuh—sedang tertawa lepas, sebuah pemandangan yang mustahil terjadi di depan publik. Namun, Gerald tidak berhenti di situ. Ia memperhatikan setiap detik dengan teliti hingga matanya menangkap sebuah momen di menit-menit terakhir sebelum rekaman itu berakhir.
"Tuan... tunggu," bisik Gerald, wajahnya mendadak serius. "Anda benar, awalnya memang terlihat konyol. Tapi tolong, lihat adegan di bagian akhir ini. Saat mereka mengira kamera sudah tidak mengawasi."
Gerald menyodorkan kembali tablet itu ke arah Same. Video tersebut menunjukkan perubahan suasana yang drastis dari adegan konyol menjadi sesuatu yang jauh lebih intens di antara keduanya di atas kasur.
Raditama tampak kehilangan kendali atas emosi dan kewarasan akibat efek zat kimia dalam minuman tersebut.
Mata Same menyipit, terpaku pada layar. Detik berikutnya, sebuah seringai licik tersungging di wajahnya. Ia menyesap wine merah di gelasnya, seolah sedang merayakan kehancuran reputasi lawannya yang sudah di depan mata.
"Amil yang ini, Gerald. Simpan baik-baik," gumam Same dengan suara rendah.
"Pastikan potongan video ini tersimpan dengan aman. Video ini adalah tiket untuk menjatuhkan sepupuku dari posisinya."
Gerald tersenyum lebar, menyadari betapa hancurnya citra Raditama jika rekaman skandal ini bocor ke publik.
"Anda benar, Tuan. Ini akan menjadi berita besar yang tidak mungkin dia sangkal."
Same tertawa kecil, suara yang terdengar sangat dingin. Ia meletakkan gelasnya di meja dengan bunyi denting yang tajam.
"Akan kupastikan video ini menyebar luas. Dunia harus melihat bagaimana pemimpin pujaannya berperilaku di balik pintu tertutup."
****
Sinar matahari Paris mulai menyelinap malu-malu melalui celah gorden raksasa di penthouse Avenue Montaigne. Sella keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun mawar yang segar. Ia sudah rapi dengan setelan dress berwarna cream pastel yang manis, rambut sebahunya dicepol asal namun justru menambah kesan imut.
Polesan liptint tipis di bibirnya membuat wajahnya tampak segar, jauh dari kesan zombi saat di bandara kemarin.
Pandangannya tertuju pada sofa panjang di ruang tengah. Di sana, sang CEO tangguh sedang terkapar dengan posisi tidur yang jauh dari kata berwibawa. Jas navy-nya tersampir di lantai, dan kemeja putihnya sangat kusut.
"Dasar kebo," gumam Sella pelan sambil mendengus. Ia sama sekali tidak sadar bahwa julukan itu sebenarnya lebih cocok untuk dirinya sendiri.
Sella melangkah menghampiri, lalu dengan sengaja menepuk bahu Adit cukup keras. "Om! Bangun! Sudah hampir jam tujuh pagi. Katanya orang kaya, kok jam segini masih molor?"
"Hmm... Apa sih lo? Berisik banget, ganggu tidur gue aja," gerutu Adit tanpa membuka mata.
Ia membetulkan posisinya, mencoba kembali memeluk bantal sofa yang dingin. "Gue belum sempat tidur nyenyak gara-gara drama jambak-jambakan lo di pesawat tadi."
Sella berkacak pinggang, menatap Adit dengan
pandangan menghakimi. "Lo kan harus kerja, Om! Katanya ada urusan penting yang bikin gue harus dibuang ke Paris hari ini juga. Apa jangan-jangan lo cuma cari alasan di depan Papa? Gue telepon Papa nih, biar lo beneran digantung di puncak Menara Eiffel!"
Mendengar kata "telepon Papa", saraf Adit seketika tegang. Refleks bertahan hidup dari mertua tentara langsung bangkit. Saat Sella hendak memencet layar ponselnya, Adit bergerak secepat kilat. Ia menyambar ponsel itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, memanfaatkan perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh.
"Heh, dengar ya, Mahasiswi Sableng! Jangan sukanya main ancam doang!" gertak Adit sambil duduk bersandar di sofa, napasnya masih sedikit berat khas orang bangun tidur.
Sella mendengus geram. Ia berjinjit, berusaha meraih ponselnya yang berada di jangkauan tangan panjang Adit.
"Ih, balikin nggak ponsel gue! Om Robot, balikin!"
Karena jarak yang terlalu dekat dan gerakan Sella yang tidak beraturan, wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Adit tertegun.
Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat bulu mata Sella yang lentik dan aroma vanila yang menguar dari kulit gadis itu.
Ternyata lo cantik juga kalau lagi nggak marah-marah, batin Adit tanpa sadar.
Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.
"Woy, Om! Kenapa lo malah senyum-senyum begitu?" tanya Sella heran, menghentikan gerakannya.
Ia memicingkan mata curiga. "Lo nggak lagi kesurupan jin penunggu pesawat tadi, kan?"
Seketika, topeng kaku Adit kembali terpasang. Ia berdeham berat dan memasang wajah datar andalannya.
"Kurang ajar lo. Berani-beraninya ngatain gue kesurupan! Sudah gue bilang berapa kali, gue bukan Om lo! Umur kita cuma beda enam tahun, Sella!"
Hap!
Dengan ketangkasan seorang eksekutif yang biasa berolahraga, Adit menangkap kedua pergelangan tangan Sella dan menguncinya rapat di samping tubuh gadis itu, membuat Sella terperangkap di antara kedua lengan kokohnya.
"Apa sih, Om! Lepasin nggak?"
Sella meronta, wajah cantiknya memerah padam. "Gue juga bukan anak kecil! Gue sudah gede, tahu! Umur gue udah 19 tahun, udah mahasiswa!"
Sella membusungkan dadanya dengan polos untuk membuktikan ucapannya.
Refleks, mata Adit turun mengikuti arah pembicaraan Sella. Ia terpaku selama dua detik sebelum otaknya memproses apa yang baru saja ia lihat.
"Akkh! Mesum lo, Om!" teriak Sella menyadari arah pandang Adit.
Bugghh!
Sella melayangkan tendangan maut ke arah aset Adit untuk yang kedua kalinya. Namun, kali ini Adit sudah belajar dari pengalaman pahit di hotel Paris tempo hari. Dengan gerakan akrobatik yang hampir membuatnya terjatuh dari sofa, Adit melompat mundur secepat kilat. Tendangan Sella hanya menyambar angin, nyaris saja mengenai sasaran fatalnya.
"Gila lo ya! Mau bikin gue mandul beneran?!" teriak Adit sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang, antara syok dan ngeri.
"Habisnya mata lo itu nggak bisa dijaga sih, Om! Gue hajar beneran baru tahu rasa lo!" seru Sella ketus. Napasnya masih memburu, tangannya mengepal seolah siap melayangkan tinju susulan.
Adit hanya melengos, merapikan kerah kemejanya yang sedikit miring akibat pergulatan tadi. "Lo sendiri yang pamer. Lagian nggak usah kepedean," sahut Adit datar sebelum melangkah santai menuju kamar mandi, meninggalkan Sella yang terpaku dengan mulut menganga.
"Sialan lo, Om!"
Buk!
Sella melempar bantal sofa dengan tenaga penuh, namun benda empuk itu hanya memantul tak berdaya di pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Sella menghentakkan kakinya ke lantai marmer dengan gusar.
"Perut gue lapar banget. Bukannya dapat sarapan, pagi-pagi malah disuguhin ribut!" gerutunya.
Dengan langkah gontai, ia menyeret kakinya menuju dapur mewah yang didominasi warna hitam itu. Begitu pintu kulkas dua pintu itu terbuka, Sella makin ingin menangis. Di sana hanya ada bahan mentah; sayuran organik, telur, daging sapi premium, dan ayam yang masih beku. Tidak ada roti lapis instan, apalagi bubur ayam langganannya di Jakarta.
"Ck. Ini beneran nggak ada yang bisa dimakan apa ya?"
Sella menyambar sebuah apel merah, menggigitnya sekali, namun perutnya justru meronta meminta asupan karbohidrat berat.
Terpaksa, Sella mengumpulkan keberaniannya. Memasak adalah aktivitas yang paling ia hindari seumur hidup—level keahliannya hanya sebatas menyeduh mi instan. Ia mulai menyalakan pemanggang roti, lalu beralih ke kompor induksi.
Dengan tangan gemetar, ia memecahkan telur ke atas teflon yang sudah panas.
Cesssss!
Beberapa menit kemudian, suasana damai apartemen itu berubah mencekam. Kepulan asap hitam mulai membumbung tinggi dari arah kompor, memicu alarm sensor asap di langit-langit mengeluarkan bunyi peringatan pendek.
"Aduh! Aduh! Kok begini?!"
Sella panik luar biasa. Ia mundur tiga langkah sambil memegang tutup panci di depan dadanya seperti tameng prajurit. Telur mata sapinya sudah tidak berbentuk, berubah warna menjadi hitam legam alias gosong sempurna. Roti di pemanggang pun tak kalah mengenaskan, mengeluarkan bau sangit yang menusuk hidung.
"Aduh, gue takut kena cipratan minyak! Mama, tolong Sella!" teriaknya histeris, masih berlindung di balik tutup panci sambil sesekali mengintip wajan yang mulai memercikkan minyak panas.
Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Adit keluar dengan penampilan paripurna; setelan jas kantor navy yang licin tanpa cela, rambut yang tertata rapi, dan aroma parfum maskulin yang mahal. Namun, langkah gagahnya terhenti seketika karena kepulan asap di depannya.
"Uhuk! Uhuk! Bau apaan nih? Waduh, kebakaran?!"