Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Dewa,Benarkah?
Di dalam ruangan khusus galeri, Kakek Lubis tampak sibuk merapikan dan menyiapkan meja sajen. Di atas meja itu telah tersedia wewangian serta sesajen, tepat di bawah lukisan naga Qing Long yang terpanjang anggun.
"Semoga Tuan Naga senantiasa melindungi keluarga kami," doa Kakek Lubis khusyuk.
Tiba-tiba, sepasang mata naga Qing Long di dalam lukisan memancarkan pendar cahaya emas halus.
"Semua keberkahan akan melimpah untuk keluargamu," gema suara Qing Long bersahut samar di telinganya.
"Terima kasih, Tuan Naga... Terima kasih banyak!"
"Suamiku, ayo!"
Kakek Lubis seketika berpaling. "Suara siapa barusan?" gumamnya bingung.
Berjalan perlahan ke arah kamar Chandra, Kakek Lubis menempelkan telinganya di pintu kayu tersebut, lalu mengetuknya pelan.
Tuk! Tuk! Tuk!
"Chandra, kamu masih di dalam?"
"Iya, Paman. Aku masih di sini," sahut Chandra dari dalam.
"Aneh, aku seperti mendengar suara wanita..." gumam Kakek Lubis curiga. "Chandra, dengan siapa kamu di dalam?"
"Aku sendirian, Paman!"
Padahal di atas kasur, Chandra sedang menindih tubuh Yueji seraya membungkam mulut wanita itu rapat-rapat dengan tangannya. "Kamu diam dulu!" bisik Chandra panik.
Kakek Lubis baru saja hendak memutar gagang pintu untuk mengecek.
"Ehem..."
Terdengar suara dehaman berat dari arah belakang. Kakek Lubis tertegun kaku.
"T-Tuan Naga..."
"Hey, Bocah! Kamu ke sini sebentar," panggil Qing Long.
"Baik, Tuan Naga!" Kakek Lubis buru-buru membalikkan badan dan kembali ke ruang kerjanya. "Ada apa Tuan Naga memanggil saya?"
"Ehh... sebenarnya Tuanku sedang berkultivasi ganda dengan wanitanya."
"APA?!" Kakek Lubis melotot kaget. "Bukankah Nak Chandra itu masih lajang?"
"Sebelumnya memang iya. Tapi barusan Tuanku menyelamatkan seekor siluman rubah, dan sekarang dia resmi menjadi istrinya."
"Siluman Rubah?! Apa?! Buyutku?!"
"Kau mengenal Yueji?" tanya Qing Long penasaran.
"Dia adalah leluhurku! Dulu almarhumah nenekku sering bercerita kalau keluarga kami pernah dibantu oleh Siluman Rubah saat masa-masa sulit. Aku sampai lupa kalau di kamar itu ada lukisannya!"
"Ya, itu salahmu sendiri meminta Tuanku tidur di sana. Sekarang leluhurmu sudah bangkit sepenuhnya."
"Bagus! Informasi yang sangat bagus! Aku sekarang dilindungi oleh roh leluhur dan juga Tuan Naga Suci! Hahaha!" seru Kakek Lubis kegirangan.
"Ehh, tapi leluhurmu itu sedikit licik, loh. Jadi kamu jangan banyak berhubungan dengannya. Biar Tuanku saja yang mengurusnya."
"Baik! Kalau itu arahan dari Tuan Naga, Lubis senantiasa patuh!"
"Bagus, Bocah."
"Huuuh... sepertinya Paman sudah kembali ke ruangannya," ucap Chandra lega, lalu merosotkan tubuhnya merebah di atas dada Yueji.
"Heheh, Sayang... kamu sudah siap?" goda Yueji seraya tersenyum manis.
"Apasih! Diam kamu, bikin panik saja!"
"Umm... kamu nolak, tapi bagian bawah ini makin keras..."
Kukuruyuk! Petok! Petok! (Suara ayam berkokok di luar mengiringi kepanikan Chandra.)
"Urgh..." Chandra meringis menahan gejolak tubuhnya.
"Wah, semakin keras!"
"Kamu bisa serius dulu tidak, sih?!"
"Suamiku... kan aku memang serius," cemberut Yueji sambil memasang raut wajah imut.
Chandra menatap paras cantik Yueji. "Tuhan... aku tidak bisa menahan godaan ini!" batin Chandra bergejolak hebat.
"Baiklah kalau itu mau kamu!"
"Aaaaa Sayang! Hahaha!"
"Diam kamu!"
"Ampun, Suamiku!"
***
Malam mulai melarut. Chandra tampak duduk termenung di depan kanvas kosong di tengah ruangan galeri.
"Aku melukis apa, ya? Sama sekali tidak ada inspirasi..."
"Lala~ lalala~ lalala~"
Yueji muncul sambil menari-nari kecil, membawakan nampan berisi sepiring kue dan secangkir teh hangat.
"Wah, kamu bisa buat kue juga?"
"Panggil aku 'Sayang' dulu, baru aku kasih!"
"Iya, iya... Sayangku," ucap Chandra sehalus mungkin.
"Istriku tercinta-nya mana?" Yueji kembali merajuk manis.
"Iya, Istriku tersayang..."
"Hihihi!"
"Wah, enak sekali kuenya, Sayang," puji Chandra seraya mengunyah nikmat.
"Sayang lagi buat apa?"
"Aku mau melukis buat dijual. Supaya nanti punya uang dan hidup kita sejahtera," jawab Chandra tersenyum.
"Uang? Maksud kamu seperti ini, Sayang?"
Tring! (Yueji menjentikkan jarinya.)
Gedebuk!
Satu gepok uang kertas pecahan seratus ribu rupiah mendadak tergeletak di atas meja.
"Wuanjir! Sayang, kamu bisa ciptain uang?!" Wajah Chandra cengang memegang tumpukan uang tebal itu.
"Tidak. Aku cuma memindahkan uang itu dari gedung besar di seberang sana ke sini."
Gak! Gak! Gak! (Imajinasi burung gagak melintas di atas kepala Chandra.)
"Itu namanya MENCURI!" bentak Chandra seraya menyipitkan mata. "Kembalikan uang ini sekarang!"
Tring! Seketika tumpukan uang itu lenyap kembali.
"Apa itu mencuri?" tanya Yueji polos.
"Haha... nanti saja aku jelaskan di ranjang, ya!" seru Chandra mulai gemas.
"Ayo kita ke ranjang! Hihi!" Yueji mendadak semangat sambil menepuk-nepuk tangannya.
"Dasar otak mesum!"
"Ehh! Benar, ya! Aku ke kamar sekarang. Kalau kamu menyusul, aku tidak mau layani! Huh!" balas Yueji yang kini memasang wajah jengkel, lalu menghentakkan kaki berjalan ke kamar.
"Yahh... bisa ngambek juga dia."
Yueji membuka sedikit pintu kamar lalu berteriak, "Suamiku Jahat!"
BRAK! (Pintu dikunci kencang.)
Chandra menopang dagunya di atas meja lalu tersenyum tipis. "Belum satu hari aku bersamanya, sudah serasa seperti pengantin lama saja. Siluman ini cukup unik juga. Terserahlah, yang jelas dia istri sahku sekarang," gumam Chandra seraya menyeruput teh hangatnya.
Dia kembali memandangi kanvas putih di hadapannya.
"Ahh... pelayan!"
Tangan lincah Chandra mulai menggoreskan kuas, mengukir sosok pelayan anggun berbalut gaun biru muda.
"Xian Shi adalah dayang para dewa. Karena kamu yang kuciptakan, kuberi kamu nama Sisi," bisik Chandra seraya menggoreskan nama tersebut di sudut kanvas.
"Huaaah... perasaan baru satu jam melukis, sudah jam 2 pagi saja."
Chandra bangkit dari duduknya lalu melangkah perlahan menuju kamar. Di atas kasur, tampak Yueji tertidur lelap membelakanginya.
"Wah, yang marah sudah pulas tidurnya," gumam Chandra tersenyum.
Dia merebahkan badan di samping Yueji. "Masa aku dibelakangi gini? Sini kamu."
Chandra membalikkan tubuh Yueji hingga mereka kini saling berhadapan.
"Lucu sekali hidupku... baru dapat rezeki hari ini, langsung ditimpa wanita cantik seperti kamu. Tapi aku bingung, kenapa tidak ada benturan energi kalau kamu memang benar-benar siluman?"
Belaian demi belaian lembut di pipi Yueji mengiringi pertanyaan di batin Chandra. Perlahan, rasa kantuk menyerang hingga Chandra tertidur lelap sambil memeluk tubuh hangat Yueji. Di dalam tidurnya, Yueji tersenyum manis merasakan dekapan itu.
***
Mata Chandra mendadak terbelalak. Dia berada di sebuah tempat asing bersuasana kuno di mana orang-orang berlarian panik.
"Selamatkan diri kalian! Siluman Rubah mengamuk!" teriak seorang warga yang melintas ketakutan.
"Apa?! Di mana ini?!" Chandra bingung setengah mati.
Tiba-tiba seorang prajurit berzirah emas berlutut di hadapannya. "Dewa Shou! Hanya Anda yang mampu menandingi siluman tersebut!"
"Apa?! Dewa?! Aku Chandra!"
"Hahahahaha! Miao Shou Shen! Akhirnya kamu datang juga!" gema suara legendaris membelah langit.
Di kejauhan, tampak sesosok rubah raksasa berukuran gunung dengan sembilan ekor putih salju sedang mengamuk hebat.
"Aku... Dewa?"
Dari kedua tangan Chandra, mendadak muncul sebuah Kuas Sakral dan Gulungan Kanvas Emas. Dia menatap kedua benda itu sejenak.
"Baiklah... akan kucoba!"
Dengan penuh gelora, Chandra berlari melompati atap demi atap bangunan kuno. Secepat kilat, jemarinya menggoreskan kuas di udara melukis Empat Binatang Suci.
"Qing Long! Bai Hu! Zhu Que! Xuan Wu! Keluar kalian!"
SWOOSH! SWOOSH!
Cahaya emas membumbung tinggi dari empat gulungan kertas. Siluet naga, harimau putih, burung api, dan kura-kura raksasa tercipta, mengepung sang Siluman Rubah dari empat arah!
Dengan jubah emas yang berkibar ditiup angin kencang, Chandra berdiri gagah tepat di atas kepala Naga Qing Long.
"Musnahkan siluman ini!" seru Chandra memberi perintah.
Keempat Hewan Suci siap menyerakkan kekuatan dahsyat mereka. Namun tepat sebelum ledakan energi terjadi...
"SAYANG!!!"