AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: MALAM PERTAMA YANG CANGKUNG?
Aku masih terduduk di lantai dapur yang dingin. Punggungku bersandar di dinding kayu yang lapuk. Air mataku sudah berhenti, tapi isak tangisku masih sesekali keluar, membuat bahuku naik turun.
Arga masih berdiri di sampingku. Rangkulannya sudah dilepas sejak Rendo menghilang ke dalam kebun karet. Kini dia hanya berdiri mematung menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan tempat Rendo menghilang tadi. Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras.
"Dia... mantan pacarmu?" tanyanya akhirnya, tanpa menoleh padaku.
Aku mengangguk pelan, meski dia tidak melihat. "Iya. Namanya Rendo. Ayah biologis dari... dari anak ini."
Aku mengelus perutku yang masih rata. Kata "ayah biologis" terasa pahit di lidahku.
Arga berbalik. Matanya yang biasanya dingin, kini menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada marah, ada kasihan, dan ada sesuatu yang lain... seperti... kekhawatiran yang mendalam.
"Kamu masih sayang sama dia?" tanyanya to the point. Tidak ada basa-basi. Khas Arga.
Pertanyaan itu membuatku terdiam. Masih sayang? Dua bulan lalu, aku akan menjawab ya tanpa ragu. Aku mencintai Rendo. Sangat. Dia adalah dunia ku. Tapi setelah dia menghilang, setelah aku muntah-muntah sendirian di kos, setelah aku melihat dua garis merah itu sendirian di kamar mandi klinik, setelah Ibu menamparku dan Ayah mengusirku... rasa sayang itu sudah berubah menjadi luka yang bernanah. Menjadi benci. Menjadi trauma.
"Sayang saya sudah mati malam ini, Pak. Dibunuh sama dia dan keluarga saya sendiri," jawabku pelan, jujur.
Arga mengangguk. Sepertinya jawaban itu cukup memuaskannya.
"Kamu kedinginan. Masuk kamar. Salsa bisa kebangun sendirian," katanya.
Dia membantuku berdiri. Tangannya besar dan kasar menarik lenganku dengan hati-hati. Aku masih gemetar.
Saat aku berjalan kembali ke kamar, aku memberanikan diri bertanya, "Pak Arga... tadi... Bapak kelihatan tegang waktu lihat Rendo. Apa... apa Bapak kenal dia?"
Langkah Arga terhenti sepersekian detik. Sangat singkat, tapi aku menangkapnya.
"Tidak," jawabnya cepat. Terlalu cepat. "Di desa ini banyak pemuda yang mondar-mandir. Aku hanya tidak suka ada laki-laki yang mengintip rumah istriku tengah malam."
Istriku. Lagi-lagi dia menyebutku istri. Meski hanya pernikahan kontrak, kata itu terdengar aneh dan membuat pipiku memanas.
Aku masuk ke kamar. Salsa masih tertidur pulas, memeluk boneka kelincinya. Posisi tidurnya sudah berpindah, kini meringkuk di tempatku tadi berbaring. Mencari kehangatan.
Aku berbaring di sampingnya. Tidak bisa tidur. Otakku berisik sekali. Bayangan Rendo, bayangan Ibu yang menamparku, bayangan gerbang yang digembok, dan bayangan wajah dingin Arga yang tiba-tiba menjadi pelindungku, semua berputar di kepalaku.
Sekitar jam 4 pagi, hujan akhirnya benar-benar berhenti. Suara jangkrik dan kodok sawah mulai terdengar nyaring. Dari luar, aku mendengar suara Arga sedang menyapu halaman yang becek. Jam 4 pagi? Pria itu tidak tidur?
Aku mengintip dari celah pintu kamar. Arga sedang menyapu daun-daun mangga yang berguguran dengan sapu lidi. Hanya memakai kaos oblong hitam dan sarung. Punggungnya yang lebar terlihat jelas. Ada bekas luka panjang di punggungnya, seperti bekas sayatan. Aku cepat-cepat memalingkan muka.
Pukul 5 pagi, azan Subuh terdengar dari masjid desa yang agak jauh.
"Kirana, bangun. Sholat Subuh," panggil Arga pelan dari luar kamar.
Aku terbangun. Salsa juga terbangun karena mendengar suara ayahnya. Anak itu duduk, mengucek matanya dengan lucu.
"Mama..." panggilnya padaku sambil merentangkan tangan, minta digendong.
Aku yang belum pernah menggendong anak kecil, dengan kaku menggendongnya. Ternyata berat juga. Salsa yang sudah di gendonganku malah menyandarkan kepalanya di bahuku dan kembali tertidur.
Aku membawa Salsa keluar. Arga sudah menggelar sajadah di ruang tamu yang lantainya sudah agak kering. Sajadahnya hanya satu.
"Kamu sholat di kamar saja sama Salsa. Biar aku di sini," katanya.
Kami sholat bergantian. Setelah sholat, suasana menjadi semakin canggung. Dua orang asing yang tiba-tiba menjadi suami istri, tidak tahu harus bicara apa.
"Aku mau ke kebun. Sarapan sudah aku masak. Ada nasi goreng di tungku. Makan sama Salsa ya," kata Arga sambil memakai sepatu boot karetnya yang tinggi. "Kunci rumah dari dalam. Jangan bukakan pintu untuk siapa pun, terutama laki-laki tadi malam. Kalau ada apa-apa, teriak saja. Tetangga sebelah, Bu Minah, dengar."
Dia pergi. Meninggalkan aku dan Salsa berdua di rumah bocor itu.
Pagi itu, untuk pertama kalinya aku merasa menjadi seorang ibu, meski bukan ibu kandung Salsa dan belum menjadi ibu untuk anakku sendiri.
Aku menyuapi Salsa nasi goreng. Anak itu makan dengan lahap, tapi hanya mau disuapi kalau aku yang menyuapi. Sesekali dia tersenyum, menunjukkan gigi depannya yang ompong satu.
"Mama cantik," katanya tiba-tiba.
Aku tersenyum. Senyum pertama yang tulus sejak kemarin.
"Terima kasih, Sayang."
Setelah makan, aku mencoba membersihkan rumah. Menyapu debu yang tebalnya hampir satu sentimeter, mengelap jendela yang berjamur. Perutku yang hamil muda ini membuatku cepat lelah dan mual, tapi aku paksakan. Ini sekarang rumahku. Rumah kontrakku bersama Arga dan Salsa.
Saat sedang menyapu di bawah meja kayu tua di ruang tamu, sapuku menyenggol sesuatu. Sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di kolong meja, tertutup debu tebal.
Penasaran, aku membuka kotak itu.
Di dalamnya, ada beberapa foto. Foto seorang perempuan cantik berambut panjang, tersenyum manis sambil menggendong bayi. Pasti Mira, istri Arga yang sudah meninggal.
Tapi ada satu foto yang membuat darahku membeku.
Foto itu adalah foto pernikahan. Mira memakai kebaya putih, bersanding dengan Arga yang memakai beskap. Mereka tersenyum bahagia.
Dan di belakang mereka, sebagai bridesmaid yang memakai kebaya pink, berdiri... seseorang yang sangat kukenal.
Rendo.
Ya. Rendo ada di foto pernikahan Arga dan Mira. Sebagai bridesmaid? Tidak, sebagai groomsmen. Dia berdiri di barisan keluarga laki-laki. Tersenyum lebar merangkul Arga.
Tanganku gemetar memegang foto itu.
Jadi Arga dan Rendo saling mengenal. Bahkan sangat dekat. Mungkin saudara? Atau sahabat?
Kenapa Arga bilang tidak kenal tadi malam? Kenapa dia berbohong?
Dan kenapa Rendo ada di pernikahan Arga dua tahun lalu, tapi Rendo tidak pernah sekalipun bercerita padaku bahwa dia punya teman atau saudara bernama Arga yang tinggal di desa Wonorejo?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, membuat mualku semakin menjadi-jadi.
Saat itu, pintu rumah diketuk keras dari luar.
"Assalamualaikum! Kirana! Kirana ada di dalam?"
Suara perempuan tua. Ramah.
Aku menyimpan kembali foto itu ke dalam kotak dengan tangan gemetar dan membukakan pintu.
Seorang ibu-ibu gemuk dengan daster bunga-bunga berdiri di depan pintu membawa rantang.
"Kamu pasti Kirana ya? Cucunya Bu Lastri? Saya Bu Minah, tetangga sebelah. Ini saya bawakan sayur lodeh. Tadi Arga titip pesan katanya istrinya baru datang, belum ada apa-apa di dapur."
Istrinya. Kata itu lagi.
"Terima kasih, Bu Minah," kataku pelan.
Bu Minah menatapku dari atas ke bawah, tatapannya berhenti di perutku yang masih rata, lalu tersenyum dengan senyum yang... aneh. Senyum yang penuh arti.
"Betah ya, Nduk, di sini sama Arga. Arga itu anak baik. Sayangnya... jodohnya memang agak... berat. Istri pertama meninggal, sekarang dapat istri kedua..."
"Berat gimana, Bu?" tanyaku penasaran.
Bu Minah mendekat dan berbisik, seolah takut ada yang mendengar, padahal hanya ada kami dan Salsa di rumah itu.
"Kamu belum dengar to, Nduk? Mira, istri Arga yang pertama itu... meninggalnya tidak wajar. Kata orang puskesmas sih pendarahan, tapi kata orang pintar di desa sebelah... dia disantet. Karena ada yang iri sama pernikahannya sama Arga. Dan yang menyantet itu... masih ada di desa ini. Makanya Arga jadi pendiam begitu."
Bulu kudukku merinding.
Disantet? Meninggal tidak wajar?
Aku baru sehari di desa ini, baru satu malam menjadi istri Arga, tapi aku sudah dihadapkan pada dua misteri besar.
Misteri pertama: Apa hubungan sebenarnya antara Arga, suami kontrakku, dengan Rendo, ayah dari anak yang kukandung?
Misteri kedua: Benarkah istri pertama Arga meninggal karena disantet? Dan apakah aku, sebagai istri keduanya, akan menjadi target selanjutnya?
Aku memeluk Salsa yang tiba-tiba datang dan memeluk kakiku. Anak kecil ini tidak tahu apa-apa tentang rahasia kelam yang menyelimuti ayahnya dan rumah ini.
Di luar, langit yang tadinya cerah setelah hujan, tiba-tiba kembali mendung.
Dan aku tahu, pengasinganku di desa ini bukan akhir dari penderitaanku. Ini baru permulaan.
---