Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRIA MISTERIUS
Luna mengendap-endap mengikuti Oreo hingga akhirnya sampai ke sebuah perkampungan di wilayah Jakarta Barat. Kawasan itu merupakan daerah padat penduduk yang dihuni kaum urban dari berbagai latar belakang.
Oreo terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah bangunan yang sekilas lebih mirip toko atau galeri lukisan daripada sebuah rumah.
Anak itu kemudian masuk ke dalam.
Luna yang sejak tadi mengikutinya akhirnya ikut masuk ke dalam galeri tersebut.
Begitu berada di dalam, Luna melihat Oreo sedang berbincang dengan seorang pria paruh baya. Pria itu berpakaian lusuh, tetapi tetap terlihat karismatik. Wajahnya masih tampan dan maskulin, hanya saja ada raut kesedihan yang sulit disembunyikan.
Pria tersebut sedang membersihkan sebuah motor gede berwarna hitam. Tanpa menoleh kepada Oreo, mereka mulai berbincang.
“Ayah, udah makan belum?”
Pria itu balik bertanya tanpa menghentikan tangannya yang sedang mengelap motor.
“Lo sendiri udah makan belum?”
“Gue udah makan tadi di jalan. Ini gue bawain nasi Padang. Cepetan lo makan, nanti malah kambuh lagi itu asam lambungnya.”
“Taruh aja di atas meja. Ntar gue makan.”
Pria itu kemudian berhenti sejenak.
“Lo ngapain bawa-bawa perempuan lagi? Mau cariin Ayah lo ini jodoh lagi?”
“Gue bawa siapa, Ayah?”
Pria itu menunjuk ke arah Luna menggunakan gerakan bibirnya.
“Itu siapa?”
Oreo pun menoleh.
Betapa terkejutnya dia ketika melihat gurunya berdiri di dekat pintu masuk.
“Ya ampun, Bu Guru! Sejak kapan Ibu di situ?”
“Ya... gue baru aja sampai. Tadi kebetulan lewat, terus gue lihat lo masuk ke rumah ini.”
Oreo segera memperkenalkan mereka.
“Bu Guru, ini ayah gue. Namanya Bandung.”
Mendengar Oreo memperkenalkannya sebagai guru, pria yang dipanggil Bandung itu segera bangkit. Ia mencuci tangannya terlebih dahulu, lalu berjalan mendekati Luna.
“Oh, jadi elu gurunya Oreo?”
Bandung mengulurkan tangannya.
“Gue Bandung, ayahnya Oreo. Tapi entah gue yang ayahnya atau malah gue yang anaknya Oreo.”
“Ayah nggak boleh ngomong begitu. Biar gimana pun gue tetap anak lo.”
Luna memperhatikan gaya percakapan ayah dan anak itu. Ada sesuatu yang menarik dari hubungan mereka. Mereka berbicara seperti ayah dan anak, tetapi sekaligus seperti dua orang sahabat yang sudah lama saling memahami.
“Jadi Anda ayahnya Oreo?”
“Iya, gue ayahnya Oreo. Maaf, Bu, kalau Oreo sering cerita yang nggak-nggak soal gue.”
“Oh, nggak kok, Pak. Om... Bang... Aduh, gue harus panggil apa, ya?”
“Kalau di sini, panggil nama gue aja. Orang-orang biasa panggil gue Bandung.”
Luna kembali memperhatikan wajah pria di hadapannya.
Entah kenapa, Bandung terlihat cukup menarik baginya.
Meskipun penampilannya lusuh dan wajahnya menunjukkan seseorang yang seolah sudah kehilangan semangat dalam menjalani hidup, tubuh dan wajah pria itu masih terlihat menawan.
“Gue Luna. Kalau di sekolahan, gue guru Oreo.”
“Terus ngapain lo ke tempat gue?”
“Bandung, lo santai sedikit dong. Gue mau ngomongin soal Oreo.”
“Kenapa Oreo? Gue rasa dia nggak mungkin bikin masalah di sekolahan.”
“Ini bukan masalah Oreo, tapi elo sebagai ayahnya Oreo.”
Bandung menunjuk dirinya sendiri.
“Ada apa sama gue?”
Luna menarik napas panjang, kemudian menyandarkan tubuhnya di dekat Bandung yang kembali duduk di jok motor gedenya.
“Oreo itu anak yang cerdas. Prestasinya juga bagus di kelas. Tapi gue bingung, kenapa setiap ada pertemuan sekolah, orang yang datang sebagai orang tua atau walinya selalu berbeda-beda?”
Sebelum Bandung sempat menjawab, seorang wanita tiba-tiba masuk sambil membawa beberapa bungkusan makanan.
Mulut wanita itu terus berceloteh, seolah sedang memarahi Bandung.
“Bandung! Elo hari ini nggak jemput Oreo lagi? Sekali-kali lu tuh datang ke sekolahan. Jadilah lu laki-laki yang bertanggung jawab! Ayah yang bertanggung jawab! Jangan lu cuma tiap hari ngurusin lukisan sama motor terus.”
“Iya, Icha. Lagi ada tamu. Lo nggak usah bawel.”
Perempuan yang dipanggil Icha itu langsung menoleh ke arah Luna yang berdiri di samping Bandung.
“Ini siapa?”
Luna segera mengulurkan tangannya.
“Selamat sore, Bu. Gue guru SD-nya Oreo.”
Icha menjabat tangan Luna.
“Oh, guru Oreo?”
Kemudian ia kembali berbicara.
“Ada apa lagi sibuk sama Oreo? Anak itu sudah terlalu mandiri untuk ukuran anak sekolah. Gue yakin dia pasti nggak bikin masalah, kan, di sekolahan?”
“Oreo nggak membuat masalah di sekolahan. Justru saya hanya ingin meminta bantuan dari orang tuanya atau walinya. Oreo adalah anak yang mempunyai prestasi paling menonjol di sekolah. Tapi kalau saya perhatikan, sepertinya dia tetap membutuhkan bimbingan dari orang tuanya.”
Icha mengangguk pelan.
“Maafkan saya, Bu. Saya terlalu sibuk mengurus dagangan, jadi beberapa hari ini nggak sempat menjemput Oreo.”
Tiba-tiba Bandung memotong ucapan Icha.
“Udah, lo pergi sana. Urus dagangan lo. Jangan sampai ada barang yang hilang.”
Icha menatap Bandung sebentar.
“Urusan Bu Guru ini biar gue yang beresin. Gue juga masih bisa jadi ayah yang bener.”
“Ya udah. Tapi lo makan dulu. Ini makanan gue taruh di meja.”
Icha kemudian meletakkan makanan yang dibawanya sebelum pergi.
Luna memperhatikan sekeliling ruangan.
Beberapa lukisan sudah selesai dan dipajang di dinding. Namun, ada pula beberapa lukisan yang tampaknya belum selesai. Sebagian bahkan terlihat rusak dan teronggok begitu saja di sudut ruangan.
Di hadapannya, sebuah motor gede berwarna hitam terparkir.
Tidak jauh dari sana terdapat sebuah ruangan kaca yang di dalamnya terlihat beberapa perangkat komputer.
Luna kemudian kembali menatap Bandung.
“Bang Bandung, kalau memang lo sibuk, setidaknya ibunya Oreo bisa menyempatkan waktunya. Atau sebaliknya, kalau ibunya Oreo sibuk, ya lo sebagai ayahnya yang menyempatkan diri menghadiri acara wali murid di sekolah.”
Belum sempat Bandung menjawab, Oreo keluar dari kamar.
“Bu Guru...”
Luna menoleh.
Oreo kemudian berkata dengan santainya,
“Ayah itu jomblo. Dia udah nggak laku lagi semenjak nenek sihir kabur sama juragan angkot.”
Luna mengernyit.
“Maksudnya... bokap lo duda?”
“Iya. Duda nggak laku.”
“Lo anak kecil tahu apa soal hidup?”
Bandung menggeleng.
“Gue bukannya nggak laku. Gue emang belum mau nyari aja!”
Luna menahan senyum.
Namun, entah kenapa, setelah mendengar Oreo mengatakan bahwa ayahnya seorang jomblo, tiba-tiba ada kehangatan kecil yang muncul di dalam hatinya.
Ia kembali memperhatikan sosok laki-laki paruh baya di depannya.
“Maaf, gue kurang tahu. Gue pikir yang tadi itu ibunya Oreo.”
“Lo nggak usah minta maaf. Ibunya Oreo di sini banyak. Kalau gue mau, semua juga mau jadi ibunya dia.”
Oreo langsung menyahut.
“Iya, tapi lo malah milih nungguin nenek sihir itu balik lagi.”
Bandung menatap anaknya.
“Lo ngerti apa soal hidup? Udah, kalau udah makan, sana buruan ke lapak. Ntar barang-barang lo pada diambilin sama pemulung.”
“Ya udah, gue berangkat. Tapi lo jangan lupa makan.”
Oreo berjalan mendekati ayahnya. Sebelum pergi, ia mengedipkan mata ke arah Bandung, lalu membisikkan sesuatu ke telinga ayahnya.
“Lo harus bisa dapetin Bu Guru Luna. Gue jamin lo nggak bakal nyesel.”
“Udah sana pergi, dasar bocah.”
Oreo pun pergi meninggalkan mereka.
Luna yang sempat mendengar bisikan itu tiba-tiba merasa tersipu.
Ia berusaha menyembunyikan wajah malunya.
“Lo makan aja dulu, Bandung. Gue duduk di sini aja.”
Bandung kemudian duduk di samping Luna.
Ia membuka salah satu kotak makanan yang dibawakan Icha dan menyodorkannya kepada Luna. Setelah itu, ia mengambil bungkusan nasi Padang yang dibawakan Oreo.
“Ini buat lo. Gue makan nasi Padang aja.”
Namun, sebelum membuka makanan, Bandung berhenti sejenak dan menatap dua bungkus makanan yang berada di atas meja.
“Eh, Luna. Lo mau nasi Padang atau ketoprak?”
Luna tersenyum.
“Udah, gue apa aja bisa. Ketoprak juga oke.”
Bandung kemudian memilih makanannya.
Mereka pun melanjutkan makan sambil berbincang-bincang.
Sementara itu, waktu perlahan bergerak menuju sore.