NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH DI ATAS BUKIT

# PELET LAKNAT 2

## Bab 4: Darah di Atas Bukit

Hampir satu jam berlalu dalam hening yang memburu. Udara malam di puncak bukit terasa dingin menusuk, bercampur aroma tanah lembap dan getah cemara yang menyengat. Hanya gesekan dahan cemara dan bersahutannya suara hewan malam yang memecah keheningan bukit.

Sreeek... sreeek...

Derak ranting kering dan dedaunan yang terinjak perlahan terdengar dari arah bawah bukit. Jaka seketika menegang. Manik matanya membesar. Ia menyikut lengan Kiki keras-keras hingga sahabatnya itu mengaduh pelan.

"Ssshh! Ki, denger nggak? Itu pasti si cunguk!" bisik Jaka, jantungnya berdegup kencang menahan tegang.

"Iya, itu pasti si Dodi! Ayo, kita jegal dia!" sahut Kiki seraya merangkak pelan keluar dari balik semak-semak untuk memastikan target mereka.

Suara langkah kaki itu makin mendekat, membelah kesunyian malam di atas bukit. Bayangan seorang pemuda berjalan santai sambil bersiul kecil mulai terlihat samar, diterangi remang cahaya bulan yang tertutup awan tipis. Dodi. Pemuda itu berjalan sendirian dengan langkah tanpa beban setelah selesai mengantar Dea pulang, sama sekali tak menyadari bahaya yang mengintai dari balik kegelapan.

"Beneran si cunguk itu, Jak! Pas banget dia sendirian," bisik Kiki seraya menyeringai puas. Matanya berbinar licik di tengah kegelapan.

"Bagus... malam ini dia bakal tahu akibatnya karena udah berani nyari masalah dan ngerebut Dea dari aku," geram Jaka dengan napas memburu. Ia mengepalkan tangan erat-erat, menyalurkan seluruh dendam, cemburu, dan rasa malu yang membakar dadanya ke dalam kepalan tinjunya.

"Begitu dia lewat di depan kita, kita langsung hadang dia sama-sama. Jangan kasih dia kesempatan buat lari!" instruksi Jaka dengan suara menajam penuh ancaman.

"Siap, Jak! Kita kasih pelajaran sampai dia kapok!" sahut Kiki bersemangat, ikut bersiap melompat keluar dari persembunyian.

"Satu... dua... SEKARANG!"

SRET!

Bagaikan bayangan yang melompat dari kegelapan malam, Jaka dan Kiki menyeruak keluar dari rimbun semak-semak. Mereka mendarat tepat di tengah jalan setapak, berdiri menghadang di bawah rindangnya pohon cemara besar yang daun-daunnya bergoyang pelan diterpa angin malam.

Dodi menghentikan langkah secara mendadak. Tumit sepatunya bergeser di atas tanah basah. Begitu matanya mengenali dua sosok di hadapannya, alis Dodi berkerut rapat.

"Kalian berdua lagi?" dengus Dodi. Suaranya terdengar santai, namun sarat akan celaan yang meremehkan. "Nggak puas dibikin malu tadi sore? Mau apa lagi, hah?"

"Nggak usah banyak omong kamu, Bangsat!" jerit Jaka, kewarasannya hilang lepas kendali.

BUM!

Jaka menghentakkan kaki ke tanah, menerjang maju bagaikan banteng terluka. Tangan kanannya mengepal erat, diayunkan melingkar mengincar rahang Dodi dengan seluruh sisa tenaga dan emosi yang membakar dadanya.

Namun, Dodi bukanlah lawan yang mudah. Dengan refleks cepat, ia memiringkan kepala ke belakang—membuat tinju Jaka hanya menyapu udara kosong. Memanfaatkan celah itu, Dodi menekuk lutut lalu mendorong tubuhnya ke depan, menghantamkan siku kanan tepat ke ulu hati Jaka!

BUKKK!

"Ughhh...!" Jaka terbatuk keras, napasnya seketika tercekat. Tubuhnya terhuyung dua langkah ke belakang, matanya melotot menahan rasa nyeri yang membakar perutnya.

"Jak! Kamu nggak apa-apa?!" teriak Kiki panik melihat sahabatnya langsung kewalahan. "Sialan kamu, Dodi!" serunya menatap Dodi penuh amarah.

Kiki langsung melompat maju, mengayunkan tendangan lurus yang mengincar dada Dodi. Dodi dengan sigap menyilangkan kedua tangan di depan dada untuk menahan benturan.

DUK!

Dodi terdorong beberapa inci ke belakang, sol sepatunya menggerus tanah becek. Belum sempat ia memperbaiki posisi, Jaka yang matanya sudah gelap oleh amarah kembali menerjang dari samping. Ia meluncurkan pukulan keras yang menghantam pinggang Dodi, hingga keduanya bergulingan di atas tanah dingin berduri dedaunan cemara.

GUBRAK!

Di atas tanah, Jaka langsung mengunci Dodi. Dengan mata memerah penuh dendam, ia menduduki dada Dodi dan melayangkan pukulan bertubi-tubi tanpa ampun!

BUKKK! BUKKK!

"Ini buat rasa malu aku tadi sore!" jerit Jaka seraya menghantamkan tinjunya ke pipi Dodi hingga sudut bibir rivalnya itu robek dan mengucurkan darah segar.

Dodi meringis kesakitan, namun di tengah gempuran itu, matanya tetap berkilat tajam. Ia mengepalkan tangan, lalu dari bawah, menghantamkan tinju balasan tepat ke hidung Jaka!

BUKKK!

Darah segar langsung meleleh dari hidung Jaka, menetes hangat membasahi bibirnya yang pecah-pecah. Rasa sakit yang menyengat membuat cengkeramannya mengendur. Dodi tak membuang waktu; ia menghentakkan kakinya, menendang tubuh Jaka ke samping hingga terlempar dan menghantam batang pohon cemara dengan keras.

DUB!

"Aakh!" Jaka mengerang, memegangi punggungnya yang serasa patah.

Dodi dengan cepat bangkit, mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan sambil terengah-engah. Ia menatap Jaka dan Kiki penuh ancaman. "Cuma segini kemampuan kalian berdua? Beraninya cuma main keroyokan?!"

Melihat Jaka yang sudah tak berdaya, Kiki membelalakkan mata. Ia gentar melihat ketahanan fisik Dodi. Matanya celingukan panik mencari apa pun yang bisa digunakan untuk melawan, hingga pandangannya tertuju pada sebatang kayu sebesar lengan yang tergeletak di tanah dekat akar cemara.

Kiki cepat-cepat meraih kayu itu, telapak tangannya mencengkeram kasar permukaan kayu yang lembap. Tanpa basa-basi, ia mengayunkannya keras-keras, menghantam bahu Dodi yang sedang lengah karena terfokus pada Jaka.

BUG!

Dodi terhuyung seketika. Tak memberi kesempatan bernapas, Kiki kembali menghantamkan kayu itu ke punggung Dodi hingga sang rival ambruk tak berdaya ke tanah.

GUBRAK!

"Rasain itu, Bajingan!" teriak Kiki seraya melemparkan batang kayu itu ke samping tubuh Dodi, dadanya naik turun terengah-engah.

Jaka yang sudah bangkit merangkak segera menghampiri Kiki. Ia berjalan terhuyung-huyung seraya memegangi pinggangnya yang masih serasa remuk, sementara darah dari hidungnya masih menetes membasahi kerah bajunya.

"Mampus kamu, Berengsek! Makanya jangan coba-coba dekatin Dea lagi! Dea itu milikku! Kalau sampai aku lihat kamu dekat-dekat sama Dea, aku bakal kasih perhitungan yang lebih parah dari ini!" ancam Jaka, lalu melayangkan satu tendangan telak ke perut Dodi.

DUK!

Dodi meringkuk menahan sakit, tubuhnya bergetar di atas tanah dingin yang basah oleh embun malam. Tanpa memedulikan kondisi rival mereka lagi, Jaka dan Kiki melangkah pergi meninggalkan bukit, membiarkan Dodi terkapar sendirian di bawah rimbun pohon cemara yang terus bergoyang ditiup angin malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!