NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Kehidupan yang Baru

Rhea mengepalkan tangannya dia atas pangkuan, napasnya tertahan saat membaca gerak bibir sosok basah kuyup di tepi kolam itu. "Tolong, saya tidak tenggelam... saya dibunuh.."

Rasa dingin yang aneh membeku di udara menyengat tengkuknya. Namun, begitu Zora mendorong kursi rodanya melintasi belokan koridor menuju ruang VIP, bayangan perempuan itu menghilang dari pandangan.

Rhea memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya bergemuruh hebat, ini bukan lagi sekadar halusinasi trauma otak atau ilusi efek obat penenang seperti kata dokter. Sensasi dingin yang menusuk dan pesan samar yang tertangkap mata batinnya adalah bukti nyata, dia beneran bisa melihat mereka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Tiga hari kemudian Rhea akhirnya diizinkan keluar dari rumah sakit. Bau karbol yang menyengat resmi berganti dengan aroma kamar kosnya yang familiar. Setelah beristirahat total dan memastikan kondisi fisiknya benar-benar pulih, Rhea tidak lagi melihat sosok-sosok aneh selama di rumah sakit maupun di jalanan. Tidak ada hantu lain yang mengganggunya, dan itu membuat Rhea sedikit bernapas lega.

Hari ini, Ibu Rhea sedang sibuk memasukkan sisa pakaian ke dalam tas sebelum pamit pulang ke kampung halaman nanti sore.

"Kamu beneran nggak mau ikut ibu pulang dulu aja ke kampung, Nak?" tanya Ibu cemas sambil mengelus bahu Rhea. "Biar Ibu yang rawat sampai kamu benar-benar sehat."

Rhea tersenyum tipis, merangkul jemari tuanya. "Nggak usah Bu. Rhea udah sehat banget kok. Lagian Rhea harus tetap di Jakarta. Rhea mau buka jalan baru, Bu."

"Jalan baru gimana maksud lu, Rhe?" sela Zora yang baru datang membawa dua cangkir kopi dan sekotak martabak telur yang dia beli di gang depan.

Rhea menatap dua wanita terpenting dalam hidupnya itu. Kejadian di PHK dan kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya memberi Rhea satu kesadaran besar, dia tidak bisa terus bergantung pada firma hukum milik orang lain yang bisa membuangnya kapan saja.

"Gue mau buka biro bantuan hukum sendiri, Ra." ujar Rhea mantap. "Pakai sisa uang pesangon gue."

Mata Zora membelalak. "Lu serius? Lu baru aja keluar dari rumah sakit, Rhe. Sewa tempat di jakarta itu mahal gila."

"Gue udah hitung," jawab Rhea tenang.

"Sisa pesangon gue cukup buat sewa ruko satu lantai yang sederhana di daerah Jakarta Selatan selama setahun, tambah beli meja kerja bekas dan plang pendaftaran. Gue mau jadi bos buat diri gue sendiri."

Zora menatap sahabatnya lama, lalu menghela napas panjang dan terkekeh bangga. "Dasar gila. Tapi... well, gue suka gaya lu. Buat urusan promosi, logo, sama medsos, serahin ke gue. Gue bakal bikin biro hukum lu keliatan keren di medsos.

Ibu Rhea mengelus dada sambil menggelengkan kepala melihat tingkah dua anak muda itu, namun senyum haru tak bisa disembunyikan dari wajah tuanya.

Rhea duduk di tepi ranjang, memperhatikan setiap wajah ibunya yang terlihat lelah. Ada rasa bersalah yang menyusul di dadanya.

"Ibu beneran gak mau Rhea antar sampai ke stasiun?" tanya Rhea lembut sambil mengelus jemari ibunya yang agak kasar.

Ibu menoleh, mengusap kepala Rhea penuh kasih sayang. "Nggak usah, Nak. Kamu itu baru sembuh. Lagian Zora kan udah pesan travel yang langsung jemput Ibu di depan gang. Kamu tenang aja."

Ibu mendekatkan duduknya di samping Rhea, memegang kedua tangan anak gadisnya itu rapat-rapat. Tatapannya mendadak berubah dalam dan penuh keharuan.

"Rhea... Ibu tahu kamu anak yang kuat." bisik Ibu dengan suara yang agak serak.

Rhea menahan napas, matanya mulai berkaca-kaca. "Maafin Rhea ya Bu. Belum bisa bikin Ibu tenang. Malah bikin Ibu khawatir."

"Husshh. Ngomong apa kamu ini." Ibu menepuk pelan paha Rhea. "Namanya musibah nggak ada yang tahu. Yang penting sekarang kamu itu selamat dan sehat. Soal pekerjaan dan rezeki itu udah ada yang ngatur. Jangan di paksa kalau memang belum mampu. Kalau capek di Jakarta, pulang ke rumah Ibu di kampung ya, Nak."

Rhea tersenyum tipis, merangkul baju ibunya erat-erat, menghirup aroma minyak kayu putih yang selalu menenangkan dari tubuh ibunya. "Iya Bu. Rhea janji bakal jaga diri baik-baik di sini."

Suara klakson mobil dua kali di luar gang menandakan jemputan travel Ibu sudah tiba. Zora, yang sejak tadi membantu membawakan tas ke depan, muncul di ambang pintu sambil mengacungkan jempolnya.

Setelah momen perpisahan yang dipenuhi tangis haru dan wejangan panjang, travel itu akhirnya melaju menembus kemacetan Jakarta. Rhea berdiri di pinggir jalan sampai mobil itu hilang di belokan, meninggalkan dirinya dan Zora yang berdiri berdampingan.

"Nah," Zora menepuk bahu Rhea kencang sampai Rhea sedikit terdorong ke depan. "Ibu lu udah jalan dengan tenang. Sekarang, waktunya kita eksekusi rencana gila lu, Ibu pengacara."

Dua minggu berikutnya terasa bagaikan angin puting beliung bagi Rhea dan Zora. Rhea tidak mau membuang-buang waktunya untuk melamuni nasibnya. Dengan sisa uang pesangon yang dia perhitungkan dengan sangat ketat. Rhea memutuskan untuk melangkah lebih jauh dan nekat tetap mendirikan biro bantuan hukum independen miliknya sendiri.

Berburu tempat di Jakarta Selatan bukanlah urusan gampang. Rhea dan Zora harus merayapi jalanan dari Tebet, Pancoran sampai ke area Mampang di bawah terik matahari yang membakar.

Mereka keluar masuk lorong, bernegosiasi dengan pemilik bangunan yang galak, hingga hampir putus asa karena harga sewa yang melambung tinggi.

Sampai pada akhirnya, ada satu hari keberuntungan memihak mereka. Sebuah ruko dua lantai bekas studio foto di daerah Tebet sedang kosong. Tempatnya yang strategis dari jalan raya utama, aksesnya yang sangat mudah di jangkau dengan harganya yang masuk akal setelah Zora mengeluarkan jurus negosiasi ala influencernya yang ajaib.

"Pokoknya Pak, teman saya ini Pengacara jujur. Nanti ruko bapak pasti ramai dan berkah kalau disewakan ke kita." kata Zora waktu itu, yang anehnya berhasil melelehkan hati sang pemilik ruko.

Lantai bawah ruko di sulap menjadi area penerimaan tamu sederhana dengan dua kursi kayu bekas yang dipoles ulang, meja resepsionis kecil, dan pot tanaman hias untuk memberikan kesan segar. Sementara di lantai atas, dijadikan ruang kerja pribadi Rhea lengkap dengan rak buku berkas dan sofa lantai.

Puncaknya terjadi pada hari jumat sore. Sebuah plang kuningan berukuran sedang yang dipesan Zora semacam custom akhirnya terpasang megah di sebelah pintu kaca ruko. Sangat mudah di baca para pejalan kaki.

BIRO BANTUAN HUKUM RHEA & PARTNERS.

Keadilan untuk Semua.

"Tadaaa!" Zora meletupkan party popper kertas warna-warni tepat di depan muka Rhea, membuat potongan kertas hias berserakan di atas keramik yang bersih dan mengilap.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!