Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — Kata yang Tidak Bisa Dijelaskan
BAB 4 — Kata yang Tidak Bisa Dijelaskan
Kata itu tampak lebih pendek ketika dibaca dari seberang meja. Enam huruf yang seharusnya sederhana. Di wajah Nadira, kata itu berubah menjadi putusan yang tidak memberiku ruang untuk membela diri.
“Jelaskan,” katanya.
Aku sudah membayangkan percakapan ini berkali-kali. Di kepalaku, aku selalu punya lebih banyak waktu, bukti yang sudah siap, dan alasan yang bisa kusampaikan satu per satu.
Tidak satu pun menempatkan kami di taman samping rumah, lewat pukul sembilan malam, dengan buku abu-abu terbuka di antara kami dan cincin kawin Nadira memantulkan cahaya lampu dinding.
“Aku tidak bisa menjelaskan kata itu malam ini.”
Nadira tertawa tanpa suara. Ia menutup buku, lalu membukanya lagi pada halaman yang sama, seolah ingin memastikan aku melihat apa yang ia lihat.
“Nama kamu. Tanggal sebelum kita bertemu. Kata NIKAHI.” Ujung jarinya mengetuk halaman. “Bagian mana yang terlalu rumit?”
“Bukan rumit.”
“Lalu?”
“Ada janji yang kubuat kepada ibumu.”
Sejak menemukan buku itu, baru malam itu Nadira benar-benar terdiam.
Angin menggerakkan daun kamboja di atas kami. Satu bunga jatuh ke tanah di dekat kakinya. Ia tidak melihatnya.
“Ibu?” Suaranya turun. “Kamu mengenalnya sebelum mengenalku?”
“Hampir satu tahun.”
Nadira bangkit dari kursi. Kali ini aku tidak ikut berdiri. Aku tahu gerakanku bisa terlihat seperti usaha untuk mendekat, dan aku sudah terlalu lama memakai kedekatan untuk membuatnya berhenti marah.
“Ibu meninggal tujuh tahun lalu,” katanya. “Kamu bilang pertama kali melihatku enam tahun lalu di seminar.”
“Aku melihatmu dari berkas sebelum itu. Kita belum pernah bicara.”
“Berkas apa?”
“Aku tidak bisa menjawab tanpa membuka hal lain yang diminta ibumu untuk kutahan.”
“Dia sudah meninggal, Rendra. Jangan bicara seolah kamu lebih berhak menjaga pesannya daripada aku.”
“Aku tidak merasa lebih berhak.”
“Perilakumu bilang sebaliknya.”
Ia berjalan dua langkah, kemudian kembali menghadapku. Wajahnya pucat, tetapi suaranya tetap terjaga. Nadira selalu seperti itu saat bekerja. Semakin kacau keadaan, semakin rapi pertanyaannya.
“Apakah Ibu menyuruhmu menikah denganku?”
Aku melihat kata di halaman itu sekali lagi. “Aku menerima sebuah instruksi, tetapi aku tidak menikahimu karena dibayar.”
“Tidak ada jumlah di samping namamu. Jadi imbalannya apa—jabatan, penghapusan kesalahan keluarga, atau akses terhadap sesuatu yang ditinggalkan Ibu?”
“Tidak satu pun.”
“Lalu kenapa namamu ada di sana?”
Aku bisa memberinya sebagian kebenaran. Laksmi pernah meminta bantuanku menjaga jaringan sampai Nadira cukup aman untuk mengambil keputusan sendiri. Ada dokumen yang harus diserahkan setelah syarat tertentu terpenuhi. Halaman yang kutemukan setelah pemakaman Laksmi memang memuat kata NIKAHI, dan selama bertahun-tahun aku memilih percaya bahwa itu perintah terakhirnya.
Tapi menjelaskan sebagian akan memaksaku menyebut ayahku, kematian Aditya, dan berkas yang belum kuketahui berada di tangan siapa. Buku itu sudah keluar dari brankas. Kalau ada salinan yang berpindah kepada keluarga Kalyana, Nadira bisa menjadi sasaran sebelum memahami apa yang sedang terjadi.
Tapi aku tahu, alasan itu juga nyaman bagiku.
Selama bertahun-tahun, selalu ada bahaya yang bisa kutunjuk setiap kali ingin mengambil pilihan dari tangannya.
“Aku berjanji kepada Laksmi untuk tidak membuka bagian itu sampai dokumen aslinya ditemukan,” kataku.
Nadira menatapku seperti baru saja mendengar bahasa yang tidak dikenalnya.
“Kamu memanggil Ibu dengan namanya?”
“Aku bekerja dengannya. Menjaga beberapa hal yang dia tinggalkan.”
“Termasuk aku?”
Pertanyaan itu keluar lebih pelan daripada yang lain.
Aku tidak menjawab cukup cepat.
Wajah Nadira berubah. Bukan terkejut. Lebih buruk. Seperti baru saja menemukan jawaban untuk sesuatu yang selama ini mengganggunya.
“Aku bukan berkas yang ditinggalkan Ibu,” katanya.
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu mengelola hidupku seperti satu proyek yang diwariskan.”
“Aku tidak melihatmu seperti itu.”
“Kamu membayar orang untuk menemaniku, memilih apartemenku, mengarahkan klien kepadaku, dan melaporkan keadaanku. Apa nama yang kamu pakai untuk semua itu?”
Aku terdiam. Apa pun yang kukatakan terdengar seperti penghinaan baru.
“Awalnya perlindungan,” kataku.
“Lalu?”
Aku kembali memandangnya.
Nadira mengangguk tipis. “Nah. Itu bagian yang selalu kamu hilangkan.”
Ia duduk kembali, tetapi tidak mendekatkan buku kepadanya. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.
“Siapa saja yang dibayar untuk mencintaiku?”
“Tidak ada.”
Jawabanku membuatnya mengangkat kepala.
“Jangan langsung percaya pada apa yang tertulis di buku itu,” lanjutku. “Tara tidak menerima uang untuk menyayangimu. Gilang tidak dibayar agar peduli ketika kamu sakit. Dr. Mira tidak dibayar untuk membuatmu bergantung kepadanya. Aku menempatkan mereka dalam posisi tertentu, dan sebagian menerima bayaran untuk tugas yang seharusnya punya batas.”
“Seharusnya punya batas,” kataku. “Aku yang memperluasnya tanpa izinmu.”
“Tara melapor dan Gilang melacak rute?”
“Iya.”
“Mira memberikan isi terapiku?”
“Tidak seluruhnya. Aku menerima perubahan yang dianggap berkaitan dengan keselamatanmu—awalnya menurut Mira, lalu kadang menurutku.”
Nadira memejamkan mata.
Jawaban itu ternyata lebih menyakitkan daripada penyangkalan.
Nadira merapatkan bibir, lalu bertanya, “Jadi kamu tahu aku takut kembali bekerja setelah Ibu meninggal, dan tahu aku merasa bersalah karena tidak berada di rumah pada malam terakhirnya.”
Aku tetap diam.
“Dari Mira?”
“Sebagian.”
Nadira menoleh ke pagar tanaman yang gelap. “Aku menceritakan itu di ruangan yang kupikir aman.”
“Aku tidak pernah memakai informasi itu untuk menyakitimu.”
Ia kembali menatapku. “Kamu memakainya untuk menjadi lelaki yang selalu tahu apa yang kubutuhkan.”
Kalimat itu membuatku tidak bisa langsung menjawab.
Aku pernah datang membawa makanan pada hari ia lupa makan karena mengenang kematian ibunya. Aku mengajaknya meninggalkan kota saat tanggal tertentu mendekat. Aku tahu kapan harus bicara dan kapan cukup duduk di sampingnya.
Selama ini aku mengira perhatian cukup untuk menutupi dari mana semua pengetahuan itu datang.
“Aku salah,” kataku.
Nadira menggeleng. “Kamu terlalu sering memakai dua kata itu seperti pintu keluar.”
“Aku tidak meminta percakapan ini selesai.”
“Tapi kamu ingin aku tetap duduk sampai kamu merasa sudah menjelaskan cukup banyak.”
Aku hendak membantah, lalu sadar ia benar. Dari awal aku sudah mengatur tempat, urutan, bahkan seberapa banyak yang akan kukatakan. Pengakuanku pun masih kuberikan dalam ukuran yang menurutku bisa ia tanggung.
Aku berdiri dan melangkah menjauh dari meja.
Bukan mendekatinya. Aku berjalan ke pintu taman, membuka kaitnya, lalu membiarkannya terbuka.
Nadira memperhatikan.
“Kamu bebas pergi,” kataku. “Bawa bukunya. Aku tidak akan menghentikanmu.”
“Tapi kamu masih bisa tahu ke mana aku pergi.”
“Pelacakan ponsel dan akses kendaraan sudah kumatikan dalam perjalanan pulang. Bukan karena bukunya hilang—karena sistem itu tetap mengawasimu bahkan ketika aku memutuskan tidak melakukannya.”
Ia tidak terlihat lega. Aku tidak mengharapkannya.
“Buka seluruh aksesmu, bukan daftar versi kamu. Jangan hubungi Tara atau Mira sebelum aku bicara dengan mereka.”
“Baik.”
Aku tidak terbiasa mengatakan iya tanpa menyiapkan langkah berikutnya. Nadira menungguku menambahkan syarat, tetapi kali ini tidak ada.
“Kenapa baru sekarang?” tanyanya.
Aku bisa mengatakan karena aku takut kehilangan dirinya. Kalimat itu benar, tetapi rasanya tidak cukup. Aku tidak berhak memakai ketakutanku untuk meminta simpati setelah selama ini dia yang menanggung akibatnya.
“Karena selama ini caraku berhasil,” jawabku.
Nadira tampak terkejut.
“Aku tahu kapan kamu pulang. Aku tahu siapa yang ada di dekatmu. Aku bisa mencegah masalah sebelum menyentuhmu. Dan setiap kali kamu tersenyum kepadaku karena aku datang pada saat yang tepat, aku merasa caraku dibenarkan.”
“Kamu menikmati semua ini.”
“Aku menikmati menjadi orang yang paling kamu butuhkan.”
Suara serangga malam memenuhi jeda di antara kami.
Aku tidak pernah mengucapkan hal itu dengan keras. Begitu keluar, kalimat itu terdengar lebih buruk daripada ketika hanya tinggal di kepalaku.
Nadira mengambil buku dan memasukkannya ke tas. “Aku mau melihat rumah ini.”
“Apa?”
“Semua ruangan. Semua barang yang kamu pilih. Semua kebetulan yang ternyata keputusanmu.”
“Aku akan menjawab yang bisa kujawab.”
“Tidak.” Ia mengangkat telapak tangan saat aku hendak mendekat. “Kamu ikut, tapi jangan memimpin. Malam ini aku yang bertanya.”
Aku mengangguk.
Kami masuk melalui pintu samping. Nadira berjalan lebih dulu melewati dapur, ruang makan, dan lorong menuju ruang kerja. Di setiap tempat, aku melihat kenangan kami berubah di wajahnya.
Meja makan yang kubeli setelah ia mengatakan permukaan marmer lebih mudah dibersihkan.
Rak buku yang dipasang saat ia mengeluh ruang kerja terlalu sempit.
Lukisan di lorong yang katanya kutemukan secara kebetulan, padahal aku meminta Tara memotret apa yang ia sukai ketika mereka mengunjungi pameran.
Aku belum mengakui hal-hal itu. Nadira belum bertanya. Tapi cara matanya bergerak membuatku tahu waktunya akan tiba.
Ia berhenti di depan foto pernikahan kami.
Dalam foto itu, Nadira tertawa karena aku salah mengucapkan satu bagian janji pernikahan. Bertahun-tahun aku menyimpan foto itu sebagai bukti bahwa apa pun yang membawa kami ke altar, kebahagiaan hari itu tetap nyata.
Sekarang aku tidak tahu apakah bukti semacam itu masih memiliki arti baginya.
Nadira menyentuh bingkai, lalu menarik tangannya kembali.
“Kamu bilang tidak seorang pun dibayar untuk mencintaiku.”
“Benar.”
“Termasuk kamu?”
“Termasuk aku.”
Ia memandangi foto kami sedikit lebih lama.
Ketika berbalik, matanya tidak lagi mencari penjelasan. Ia sedang menyiapkan pertanyaan yang lebih tajam.
“Kalau begitu jawab satu hal tanpa memilih kata-kata yang aman,” katanya. “Pertemuan pertama kita di seminar itu—apakah juga kamu bayar?”