sebuah kisah dua orang asing yang ditakdirkan menjadi keluarga. tanpa tau bahwa pertemuan mereka akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zean amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 4
"Apa yang kamu lihat? " ucap seseorang..
"Ah, hanya album lama mas" Jawab clara.
"Album lama? " Adrian mendekat dan melihat figuran itu. Disana ada sosok gadis dan seorang anak.
"Ini. Fotoku dan anakku mas. " Ucap clara.
Adrian terkejut, dan menoleh.
"Iya. Dia anakku mas, tapi dia ikut dengan ayahnya. " Ucap clara sedih.
Adrian berjalan sambil membawa foto itu dan berganti pakaian.
"Kenapa tidak kamu ajak main main disini? " Tanya Adrian.
Clara senang dan bahagia.
"Bolehkah mas? " Tanyanya memastikan.
Hm, jawab Adrian.
"Aku menemuinya 3 hari yang lalu, tapi dia... Sepertinya membenciku. " Ucap clara sedih
Adrian menoleh.
"Karena aku meninggalkan nya dan bersama dengan mas. " Jelasnya.
Adrian terdiam. Memang, semenjak kematian istrinya dia ingin menjadi duda dan fokus pada gavin. Tapi, gavin sepertinya memerlukan sosok ibu dan dia bertemu dengan clara. Dia tidak tau seperti apa kehidupan mereka. Adrian hanya tau clara setuju menikah dengan nya dan tinggal bersamanya dengan gavin menjadi putra angkatnya. Clara pernah bercerita kalau dia memiliki seorang anak seusia dengan gavin tapi Adrian tidak mengejar penjelasan lebih panjang. Dan sekarang, Clara kembali mengingat anaknya....
"Aku ingat, dulu kamu bilang dia seumuran dengan gavin. Dia sudah remaja seperti gavin sekarang? " Tanya Adrian.
"Ya. Dia sudah besar dan berprestasi di sekolahnya. Tapi... Aku sedih, dia tidak bisa mendapatkan pendidikan yang bagus untuk dirinya. " Ucap clara antusias dan sedih di akhirnya.
"Karena mantan suamimu? " Dan dibalas anggukan oleh Clara.
Adrian kemudian melihat foto itu lagi.
"Heh.. Dia mirip denganmu. Rambut yang indah kamu wariskan padanya. Dan wajah cantiknya juga plagiat darimu. Seperti melihatmu di waktu kecil. " Ucap Adrian.
Ah,.. "Mas, dia laki-laki bukan perempuan" jawab Clara tersenyum.
Adrian terkejut..
"Kamu benar mas dia seperti ku. Haha" Ucap Clara tertawa halus.
Adrian hanya bisa terdiam.
Di ruang makan..
Keheningan, sampai pelayan menyajikan makan malam.
Clara berusaha bersikap baik dan lembut pada gavin, tapi tetap. Gavin tidak ingin menerima pemberian Clara dan mengambil makanan sendiri. Clara diam saja, setidaknya gavin makan malam disini.
Clara melihat gavin, dia teringat pada Zean. Bagaimana Zean disana. Jika dilihat kembali, gavin seperti Zean tapi Zean versi lembutnya.
Melihat Clara terus tersenyum memandang gavin, Adrian kemudian angkat bicara.
"Ekhem, Clara. Kenapa kamu tidak coba membawa putramu kemari" ucap Adrian.
Mendengar hal itu, gavin berhenti dari aktivitas makannya. Dan Clara? Dia menoleh panik. Ayolah, suasana sudah tenang jangan menjadi suram lagi.
"Huh.. Tidak mas" Jawab Clara halus.
Adrian kemudian menoleh ke arah gavin.
"Gavin. Kau memiliki saudara laki-laki dari mamamu Clara" Ucap nya.
Prang!!
Gavin mendongak dan meletakkan sendok nya dengan kasar sambil menatap Clara.
"So? " Tanya Gavin geram.
"Mungkin kalian bisa akrab dan menjadi saudara yang baik. " Jawab Adrian.
Gavin tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikit pun rasa senang di wajahnya.
“Saudara?” ulangnya sinis.
Ahahahaah tawanya.
"Tiba-tiba sekali punya saudara. Papa yakin itu bukan anak haram yang ingin dimasukkan dalam kk kita pah? "...
" Gavin.. "Geram Adrian. Anaknya ini benar-benar tidak bisa berbicara sopan sama sekali.
" Mas, sabar. " Menenangkan Adrian.
"Gavin.... Mama memang memiliki seorang anak. Dia anak mama dan mantan suami mama. Mama tidak memberitahu mu dulu karena kamu masih kecil dan dia juga tidak tinggal bersama dengan mama. " Jelas Clara.
"Bagus." Ketus Gavin.
"Mama tidak akan membawanya jika kamu tidak setuju. Papamu hanya memberitahu kanmu. " Lanjut Clara.
"hem, baguslah jika kau sadar siapa tuan muda yang sebenarnya disini. Hanya akan ada tuan muda Gavin Adrian, tidak akan dan jangan pernah ada lainnya. " Setelah mengucapkan itu, dia pergi menuju kamarnya.
Jujur, Clara sedikit marah dan menggepalkan tangan ketika Gavin mengatakan itu. Tapi dia harus bersabar.
Tuan muda Gavin, putra Adrian dan mendiang nyonya valencia. Hidup dengan sendok emas sejak lahir, kekayaan, kekuatan, kekuasaan, melingkar dalam dirinya. Memakai brand terkenal, menjadi primadona sekolah sudah hal biasa baginya. Hanya dia yang satu satunya pantas menjadi pewaris keluarga dan kekayaan Adrian.
"Hanya aku yang pantas kan ma? " Tanya Gavin miris melihat foto yang terpampang disana dengan dirinya, nyonya valencia, dan Adrian.
Drtt, drt..
"Hm? " Jawab Gavin.
"Ada apa boy? Kenapa menelpon? Apa paman memarahi mu lagi? " Jawab dari seberang.
"Ya.. Jika tidak keras bukan Adrian namanya. " Jawab Gavin.
Hanya tawa yang terdengar dari seberang.....
.....
"Turun Nak. Sarapan sudah siap. "
"Iya yah. " Sambil pergi ke meja makan.
"Wahhh, anak ayah sangat tampan. Ayo ayo kita sarapan. " Jawabnya sambil merapikan meja makan.
Belum selesai, sudah ada yang mengetuk pintu.
"Zean, cepat buka pintunya. Siapa yang datang pagi-pagi sekali. " Hm dan Zean berjalan ke arah pintu.
Jeng, jeng jeng,... Siapa lagi coba.. Arine, tentu saja dan.. Tidak sendiri, dia dengan Faris.
"Kalian? " Heran Zean.
Mereka kemudian masuk.
"Eh kalian, ayo ayo sarapan bersama. " Ucap ayah Zean.
"Ya paman. Zean, mama memberikan ini untuk mu. " Ucap Arine.
"Thanks" Ramah dan mengambil buah tangan itu.
"Arine, kau.. Bersamanya? " Zean bertanya sosok Faris di samping nya.
"Iyo. Dia mau ikut kesini, tugasnya ga selesai katanya. Dia mau minta diajarin sama kamu Zean. " Dan sang empu hanya cengengesan.
Zean tersenyum geli melihat itu.
Mereka kemudian sarapan bersama. Ayah Zean berpamitan untuk berangkat bekerja.
Dan mereka bertiga? Masih mengerjakan tugas itu. Waktunya masih lama sebelum berangkat sekolah.
Sesekali Arine akan memukul Faris jika menyusahkan Zean.
Sudah selesai, mereka bertiga kemudian berjalan pergi ke sekolah bersama...
Zean juga bercerita kejadian kemarin sebagai sarapan dijalan agar tidak hening.
Tidak lama kemudian, ada sebuah mobil mewah berhenti didepan mereka. Mereka semua terkejut...
Dan ketika keluar, itu Clara. Zean tersentak, apa yang dia lakukan di... sekolahnya. Darimana dia tau ini disini dia bersekolah. Clara tersenyum ramah dan menghampiri Arine. Arine senang dan menerima sapaan Clara. Faris yang melihatnya hanya tertegun, lagi lagi dia menatap berganti an antara Clara dan Zean.
Wajah mereka...
"Nak." Pikiran Faris buyar saat disapa Clara.
"I-iya, tante? " Jawab Faris sopan.
"Bisa saya minta waktu berbicara berdua dengannya? " Menunjuk Zean.
Mereka saling menatap dan kemudian pergi meninggalkan Clara dan Zean.
"Apa lagi? " langsung saja Zean.
"Disini sekolahmu Zean? " Sambil melihat sekeliling.
"Jika nyonya hanya ingin menilai sekolahku sebaiknya nyonya pergi. " sarkas Zean.
"Mama hanya ingin melihatmu pergi ke sekolah Zean. Owh ya, mama membawakan bekal untukmu. Setidaknya, tidak akan ada kentang rebus seperti yang diberikan ayahmu. " Ucap Clara. Sambil mengulurkan bekal itu.
Tapi Zean menolaknya.
"Setidaknya kentang rebus jauh lebih lezat daripada burger dan semacamnya yang dimakan secara terpaksa. " Mendengar ucapan Zean, Clara terdiam.
Dia paham, anaknya ini mirip sepertinya. Dia keras kepala.
"Huh... Baiklah. " Clara menyerah pada anaknya ini. Dia kemudian melangkah maju dan mencium pipi putranya itu. Setelah itu, dia pun pergi meninggalkan Zean yang terdiam.
.....
Seperti apa kamu memandang dan menilai ibumu, dia akan tetep menjadi seorang ibu. Seorang ibu, akan tetep menyayangi anaknya dalam keadaan apapun, meskipun anaknya membenci atau menjauhinya_