"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Keheningan di dalam kamar malam itu terasa begitu mencekik. Aku masih terduduk di balik pintu kayu yang terkunci rapat, menutupi mulutku dengan kedua tangan agar isak tangisku tak sampai membangunkan Naya. Air mata membasahi pipiku tanpa henti, meninggalkan rasa perih yang menjalar hingga ke dada.
Di luar kamar, keheningan ruang tamu itu rupanya tidak bertahan lama. Gesekan langkah kaki dan suara helaan napas berat terdengar jelas di balik daun pintu tempat punggungku bersandar.
Aku menahan napas, memasang telinga. Itu suara Bayu. Rupanya dia belum masuk ke kamar. Dia masih berada di ruang tamu bersama ibunya.
"Bu..." Suara Bayu terdengar dari balik pintu. Nadanya penuh tekanan dan rasa tidak tenang. "Aku kan udah bilang sama Ibu dari awal, biar aku yang ngomong pelan-pelan sama Maya! Kalau Ibu ngomong langsung dengan cara kasar kayak tadi, Maya bakal merasa sakit hati banget, Bu!"
Aku tertegun di balik pintu. Dadaku berdesir mendengar ucapan suamiku.
"Aku ini udah lima tahun membina rumah tangga sama Maya, Bu," lanjut Bayu, suaranya bergetar menahan emosi. "Selama lima tahun ini, aku nggak pernah sekalipun menyakiti hati Maya. Aku selalu menjaga perasaannya. Tapi malam ini, Ibu malah bikin Maya..."
"Bayu!"
Suara melengking Ibu Sumiati langsung memotong ucapan Bayu dengan tegas. Nada suaranya dingin, sarat akan dominasi yang tak mau dibantah.
"Kamu itu nggak usah sebegitunya sama Maya!" cetus Ibu Sumiati tanpa keraguan sedikit pun. "Mau bagaimanapun, Maya itu cuma orang lain di dalam kehidupan kamu! Yang asli keluarga kamu itu Ibu sama Rika, adik kamu! Cuma kami berdua darah daging kamu! Jadi kamu nggak perlu merasa bersalah sama Maya!"
Deg!
Kata-kata itu menghantam jantungku begitu keras, hingga rasanya tubuhku mendadak mati rasa.
Orang lain...
Aku memejamkan mata erat-erat, meremas kain celanaku sampai jemariku memutih. Air mataku menetes makin deras.
Lima tahun lebih aku mendampingi Bayu dari nol. Aku menyerahkan seluruh hidupku untuknya, melahirkan anak untuknya, mengurus rumah tangganya tanpa mengeluh, bahkan rela meninggalkan kota kelahiranku dan kenangan almarhum orang tuaku demi menuruti keinginannya. Namun, di mata wanita yang melahirkannya, seluruh pengorbanan dan statusku sebagai seorang istri sah hanya berharga sebagai orang lain.
Yang lebih menyakitkan adalah keheningan yang menyusul setelahnya. Dari balik pintu, aku menanti jawaban tegas dari Bayu. Aku berharap suamiku akan berteriak dan membela statusku sebagai istrinya. Aku berharap Bayu akan berkata, "Nggak Bu, Maya itu istriku, ibu dari anakku, dia bukan orang lain!"
Namun, jawaban itu tak pernah terdengar. Bayu hanya menghela napas panjang, membisu sekian detik, menerima begitu saja doktrin beracun dari ibunya tanpa perlawanan yang berarti.
"Ya udah, Bu..." ucap Bayu akhirnya dengan nada pasrah yang melemah. "Tapi aku mau Ibu transfer sebagian uangnya ke rekening aku sekarang, sesuai perjanjian kita tadi."
"Uang buat apa lagi?" tanya Ibu Sumiati curiga.
"Uang yang mau aku pakai buat memesan dan membelikan makanan untuk ulang tahun Naya besok, Bu," jawab Bayu memohon. "Naya itu cucu Ibu. Ini tradisi kita tiap tahun buat ngajarin Naya berbagi. Aku udah janji sama Maya dan Naya."
Suara decakan lidah Ibu Sumiati terdengar sangat jelas di ruang tengah yang sepi itu.
"Halah! Pemborosan itu namanya!" semprot Ibu Sumiati tanpa ragu. "Ngapain sih kamu melakukan hal-hal nggak berguna begitu, Bayu? Pake tasyakuran segala, bagi-bagi makanan ke orang luar. Buang-buang uang aja!"
"Bu!" Suara Bayu meninggi, ada nada frustrasi yang membuncah dalam intonasinya. "Uang gaji yang aku transfer ke rekening Ibu tadi itu banyak.
Berjuta-juta, Bu! Bukan cuma seratus dua ratus ribu! Dan selama ini, dari uang segitu, Maya masih bisa mengaturnya dengan sangat baik bahkan masih bisa menabung buat masa depan Naya!"
Tepat di balik pintu, dadaku terasa sesak mendengar pengakuan Bayu. Ya, Bayu tahu betul betapa hemat dan pintarnya aku mengelola uang gajinya selama ini. Aku tak pernah berfoya-foya. Setiap rupiah aku catat, aku simpan untuk tabungan pendidikan anak dan dana darurat keluarga kami.
Tapi respons Ibu Sumiati berikutnya benar-benar menunjukkan seberapa rakus dan tidak berempatinya beliau sebagai seorang mertua.
"Ya udah! Kalau memang Maya pinter ngebawa uang, suruh Maya pakai uang tabungannya sendiri buat beli makanan ulang tahun Naya besok!" jawab Ibu Sumiati santai tanpa beban. "Gitu aja kok repot! Duit gaji kamu yang di Ibu ini mau Ibu pakai buat keperluan rumah yang lebih penting!"
"Tapi Bu, uang tabungan itu kan..."
"Udah ah! Ibu capek, mau tidur!" potong Ibu Sumiati cepat, menyudahi perdebatan itu secara sepihak. "Jangan ganggu Ibu lagi malam-malam gini!"
Langkah kaki Ibu Sumiati terdengar menjauh menuju kamarnya, disusul suara pintu kayu yang ditutup cukup keras.
Di ruang tamu, keheningan kembali melingkupi suasana. Aku bisa mendengar helaan napas Bayu yang begitu berat dan terengah-engah, menandakan betapa hancur dan tertekan perasaannya saat ini.
Gagang pintu kamar kami mendadak bergerak. Bayu mencoba membukanya dari luar.
Klek, klek.
Pintu itu terkunci.
"Mimo..." Suara Bayu terdengar berbisik dari balik pintu. "Mimo, buka pintunya, Sayang... Pipo mau masuk."
Aku terduduk kaku di lantai, menempelkan dahiku di balik pintu kayu yang dingin. Aku tidak bergerak sedikit pun untuk membukanya.
"Mimo... Pipo tahu kamu belum tidur. Pipo tahu kamu dengar semuanya..." suara Bayu terdengar begitu memohon, ada isakan tipis yang mulai lolos dari tenggorokannya. "Maafin Pipo, Mimo... Maafin Pipo. Buka pintunya, ya? Kita bicara di dalam..."
Aku memejamkan mata, mengusap air mataku dengan kasar. "Pergi, Bayu," bisikku pelan, namun cukup tegas untuk terdengar ke luar.
"Mimo, tolong..."
"Aku mau sendiri. Jangan ganggu aku dan Naya malam ini," potongku dingin.
"Tidur saja di sofa depan."
"Mimo..."
"Aku bilang pergi, Bayu!" tekan ku dengan suara yang tertahan agar tidak membangungkan Naya, namun sarat akan kemarahan yang meluap-luap.
Di luar, ketukan lembut Bayu terhenti. Hening sejenak, sebelum akhirnya terdengar langkah kaki Bayu yang terseret lambat menjauhi pintu kamar, menuju sofa ruang tamu.
Malam itu, aku tidak tidur sepicing pun. Aku menghabiskan malam dengan duduk di samping ranjang Naya, mengusap rambut ikal putri kecilku yang tertidur lelap tanpa tahu betapa hancurnya dunia ibunya malam ini.