NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taruhan Nyawa di Ujung Kegelapan

Darah di dalam tubuhku serasa berhenti mengalir. Gambar di layar ponsel baru itu seolah memaku pijakan kakiku ke lantai kamar. Sosok bayangan hitam yang berdiri tepat di balik jendela luar kamar adik kembarku... itu bukan gertakan kosong. Raka dan anak buahnya benar-benar ada di sana, mengintai dua bocah tak berdosa yang sedang tertidur lelap tanpa tahu bahaya mengerikan sedang mengancam nyawa mereka.

"Gwen... Glenn..." gumamku lirih, suara tercekik di tenggorokan.

Tanpa memedulikan rasa perih di lutut dan pergelangan tanganku yang memar, aku berlari setengah merangkak keluar dari kamar, menerobos koridor rumah yang sepi menuju pintu kamar adik-adikku. Dengan tangan gemetar hebat, kubuka pintu kayu cokelat tua itu pelan-pelan.

Di dalam kamar yang temaram oleh lampu tidur, Gwen dan Glenn tampak tertidur lelap di atas kasur tingkat mereka. Napas halus mereka teratur. Aku mendekati jendela kaca kamar mereka dengan langkah gemetar, menarik tirai kain tebal menutupinya rapat-rapt, lalu memastikan slot kunci jendela terkunci ganda dari dalam.

Pikiranku berputar liar bagai angin puting beliung. Raka tidak memintaku melapor ke polisi. Pria iblis itu menuntut Varro datang sendirian ke bangunan pabrik tua di stasiun lama esok malam jam sepuluh. Jika ada pasukan Starlit atau polisi yang terlibat, keselamatan Gwen dan Glenn menjadi taruhannya.

Varro!

Nama itu mendadak bergema memenuhi benakku. Aku memutar badan, berlari sekencang-kencangnya menuju pintu depan rumah, membukanya kasar, dan menerobos gerimis malam yang kembali turun membasahi bumi.

Di ujung gang, lampu merah belakang mobil sport BMW M8 Coupe milik Varro baru saja menyala, bersiap melaju meninggalkan area pemukimanku.

"VARRO!" teriakku histeris, suaranya serak tertahan di tengah keheningan malam. "VARRO, TUNGGU!"

Di dalam kabin mobilnya, Varro tampaknya melirik kaca spion tengah. Lampu rem merah seketika menyala terang. Pintu pengemudi terdorong terbuka secara mendadak, dan sosok tinggi tegap Varro melompat turun tanpa memedulikan air hujan yang kembali membasahi kemeja putihnya.

Pria berpostur 183 sentimeter itu berlari cepat menghampiriku seraya menyapukan pandangan panik. "Gisel! Ada apa?! Kenapa lo lari-larian hujan-hujanan begini?!"

Aku tidak sanggup menjawab dengan kata-kata. Tubuhku gemetar hebat oleh kombinasi antara rasa takut yang memuncak dan hembusan angin malam yang dingin. Dengan tangan yang tremor tak terkendali, kusodorkan ponsel baru pemberiannya tepat ke depan dada Varro.

"L-lihat ini... Varro... lihat ini..." bisikku patah-patah seraya menahan isak tangis yang pecah di dadaku.

Varro menerima ponsel itu dengan dahi berkerut heran. Namun, begitu matanya membaca pesan teks dan mengamati foto yang terlampir di layar, raut wajah tampannya seketika berubah drastis.

Warna hangat di kulitnya sirna tanpa sisa, berganti menjadi pucat pasi yang mengerikan. Bola mata cokelat gelapnya yang biasa memancarkan percaya diri mendadak berkilat bagai kobaran api neraka. Rahangnya mengatup amat rapat hingga urat-urat di lehernya menegang menonjol.

Aura membunuh yang jauh lebih dahsyat dan mematikan dari kejadian di lorong kafe tadi mendadak menguar hebat dari tubuh sang ketua Starlit.

"Iblis kurang ajar..." suara bariton Varro meluncur begitu rendah dan bergetar hebat oleh amarah mutlak yang menembus batas.

Ia menatap foto bayangan pria bertopi hitam di dekat jendela kamar adik-adikku, lalu beralih menatap wajahku yang basah oleh air mata dan hujan. Dalam sekejap mata, Varro menekan gejolak murkanya, mengikis jarak di antara kami, lalu menarik tubuhku ke dalam dekapan dadanya yang kokoh.

"Gisel, tenang... dengerin gue," bisik Varro pelan di dekat telingaku. Kedua tangannya menangkup bahuku erat-erat, menyalurkan kehangatan yang amat nyata. "Lo aman. Glenn sama Gwen aman. Gue ada di sini."

"Varro... mereka ada di dekat kamar adik-adik gue!" tangisku pecah di dada kemejanya. "Gwen sama Glenn gak tahu apa-apa! Kalau Raka apa-apain mereka-"

"Gak akan ada yang berani nyentuh seujung kuku pun dari adik-adik lo, Gisel!" potong Varro dengan nada suara bariton yang teramat tegas, tajam, dan tak terbantahkan. Pria itu menundukkan kepalanya, menatap lurus tepat ke dalam mataku. "Gue bersumpah demi nyawa gue sendiri... gak akan ada hal buruk yang terjadi sama keluarga lo."

Varro membimbingku kembali masuk ke dalam rumah secara perlahan. Dengan gerakan yang amat tenang namun cekatan, ia menyisir seluruh area luar dan dalam rumah sederhanaku. Pria itu memeriksa jendela, memastikan setiap pintu terkunci rapat, bahkan mengamati celah-celah lorong gang di luar rumah untuk memastikan tidak ada lagi pengintai yang bersembunyi di balik kegelapan.

Setelah memastikan perimeter rumahku aman sepenuhnya, Varro mengajakku duduk di kursi kayu ruang tamu yang sepi. Mama dan adik-adikku masih tertidur lelap di kamar masing-masing, tidak menyadari badai besar yang sedang mengintai keluarga kami.

Varro merogoh ponsel pintarnya dari saku, melangkah beberapa tindak menjauh ke sudut ruangan untuk melakukan panggilan telepon rahasia.

"Brandon," panggil Varro dengan suara yang sengaja dipelankan namun amat menekan. "Mulai detik ini, kirim enam orang bodyguard Starlit paling senior buat berjaga dua puluh empat jam di sekeliling rumah Gisel. Samarkan mereka jadi warga biasa atau tukang dagang. Jangan sampai ada satu lalat pun dari geng Viper yang bisa mendekat."

Di seberang telepon, suara Brandon terdengar tegang. "Al, ada apa? Raka bikin pergerakan baru?"

"Raka ngirim ancaman ke HP Gisel," jawab Varro dingin. "Dia ngancam bakal celakain adik-adik kembar Gisel kalau gue gak datang sendirian ke bangunan pabrik tua di stasiun lama besok malam jam sepuluh."

"Apa?!" suara Marcel terdegar menyela dari seberang telepon dengan nada tinggi. "Itu jebakan mati, Al! Raka pasti udah nyiapin belasan anak buah utama Viper di sana buat pengeroyokan! Lo gak bisa pergi sendirian ke sana!"

"Gue gak punya pilihan lain," tumpas Varro mantap. Matanya melirik hangat ke arahku yang sedang menunggunya di sofa. "Gue gak bakal membiarkan keselamatan adik-adik Gisel dipertaruhkan. Besok malam... gue yang bakal datang nemuin Raka."

"Varro! Dengarkan gue dulu!" sela Brandon tegas. "Raka sengaja manfaatin rasa peduli lo sama Gisel buat memancing lo keluar tanpa pasukan. Kalau lo pergi sendirian tanpa strategi, lo sama aja menyerahkan nyawa lo secara cuma-cuma!"

Varro diam sejenak, mengepalkan tangan kanannya yang memar. "Gue tahu ini jebakan. Makanya lo sama Marcel harus siapin rencana cadangan dari luar area pabrik tanpa ketahuan Raka. Tapi besok malam jam sepuluh... gue yang bakal masuk duluan ke dalam pabrik itu sendirian."

Tanpa membiarkan dua sahabatnya memprotes lebih jauh, Varro mematikan sambungan telepon tersebut dan mengantongi ponselnya kembali.

Ia melangkah menghampiriku, lalu mendudukkan tubuh jangkungnya di sebelahku. Varro meraih kedua telapak tanganku yang masih terasa dingin, menggenggamnya rapat-rapt di dalam pertautan jemari kekarnya.

"Gisel," panggil Varro lembut.

Aku mendongak, menatap mata cokelat gelapnya yang kini memancarkan kehangatan luar biasa di tengah mencekamnya malam. "Lo... lo beneran mau pergi sendirian besok malam ke pabrik tua itu, Varro?" tanyaku dengan suara gemetar.

Varro menyunggingkan senyum tipisnya yang teramat tampan, sebuah senyuman percaya diri yang seolah mampu meruntuhkan segala bentuk ketakutan di dunia ini.

"Gue harus pergi, Gisel," jawab Varro jujur. "Cuma dengan cara itu Raka bakal merasa menang dan tidak mengusik Glenn sama Gwen lagi."

Aku meremas jemari tangannya kuat-kuat, menggelengkan kepala kencang. "Tapi itu jebakan, Varro! Raka itu curang! Dia pasti nyiapin belasan orang buat menghajar lo di sana! Kalau lo... kalau lo gak kembali gimana?!"

Mendengar kekhawatiranku yang begitu emosional, Varro memajukan tubuhnya. Pria yang biasa dikenal sebagai ketua geng motor paling arogan se-kampus itu mengangkat tangan kanannya, mengelus lembut pipiku dengan ibu jarinya, menghapus sisa jejak air mata di kulitku.

"Gue bakal kembali, Gisel cantik," bisik Varro dengan suara bariton yang teramat dalam dan penuh kepastian mutlak. "Gue janji sama lo... gue pasti bakal kembali dalam keadaan selamat."

"Kenapa lo bisa sekuyup dan seyakin itu?!" sahutku menahan sesak di dada.

Varro menatap lurus tepat ke dalam kedua bola mataku. Senyum hangat terukir manis di bibirnya, memancarkan ketulusan perasaan yang tak pernah pudar sedikit pun.

"Karena gue masih punya satu urusan penting yang belum selesai di dunia ini," ujar Varro pelan namun meresap hingga ke dasar hatiku.

"Urusan apa?" tanyaku menahan napas.

Varro mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik tepat di samping telingaku. "Urusan buat bikin seorang Gisella Vanessa Setiawan benar-benar membukakan hatinya dan jatuh cinta setengah mati sama gue."

Dada serasa dihantam oleh gelombang rasa haru dan kepedihan yang menyatu hebat. Di saat nyawanya sendiri berada di ujung tanduk ancaman bahaya, pria ini masih sempat memikirkan perasaanku. Tembok pertahanan yang selama ini kubangun tinggi-tinggi... kini tak menyisa satu celah pun. Aku sadar, jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku telah jatuh cinta pada pria di hadapanku ini.

Varro mengecup pelan puncak kepalaku, lalu bangkit berdiri. "Gue pulang sekarang ya. Ingat pesan gue: besok lo dan adik-adik lo jangan keluar rumah tanpa pengawalan bodyguard Starlit. Percaya sama gue, oke?"

Aku mengangguk pelan, menatap punggung tegapnya yang melangkah keluar menembus kegelapan gang malam.

Namun, saat mobil sport mewahnya melaju meninggalkan pemukimanku, sebuah tekat nekat mendadak bergejolak di dalam dadaku. Aku tidak akan biarkan Varro bertarung sendirian menantang bahaya demi melindungiku dan keluargaku. Besok malam... aku akan memastikan pria itu tidak berjalan menuju kematian seorang diri.

Bersambung……

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!