"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Sisil Gigit Jari
Sisil berhenti tepat di depan pintu kamar utama. Tanpa menggetok atau meminta izin, Sisil mengangkat kakinya dan menghentakkan tumit sepatunya ke pintu kayu jati tersebut dengan sangat kasar.
Brak! Brak! Brak!
"Nisa! Keluar kamu cewek pembawa sial!" teriak Sisil seperti orang kesurupan. "Keluar gak kamu?! Gara-gara kamu rumah ini mati lampu! Gara-gara kamu kartu kreditku diblokir! Gara-gara kamu Mas Rian jadi pusing! Dasar cewek parasit gak tahu diri!"
Brak!
Sisil kembali menendang pintu itu dengan sekuat tenaganya.
Tak sampai tiga detik kemudian, kunci pintu terdengar berputar dari dalam. Pintu kamar utama terbuka secara perlahan dan anggun.
Annisa Septiani berdiri tegap di ambang pintu. Ia tampil begitu memukau dan berkelas dalam balutan setelan blazer sutra berwarna krem pastel dengan celana kain potongan lurus yang sangat rapi. Rambut hitam panjangnya sudah terurai indah dengan tatanan blow yang sempurna. Di jemari tangannya, melingkar sebuah jam tangan Patek Philippe berlapis emas putih yang nilainya bisa untuk membeli tiga unit mobil sedan milik Rian.
Aura dominasi dan ketenangan yang terpancar dari sosok Annisa mendadak membuat napas Sisil tertahan di tenggorokan. Kaki Sisil yang tadinya hendak menendang pintu lagi mendadak membeku di udara.
Annisa menatap Sisil dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang amat dingin—pandangan seorang atasan yang sedang menatap seekor serangga pengganggu di lantai marmernya.
"Sudah selesai berteriak-teriak seperti orang tidak berpendidikan, Sisil?" tanya Annisa. Suaranya sangat tenang, sangat halus, namun memiliki tekanan psikologis yang begitu menekan.
Muka Sisil mendadak memerah padam akibat malu bercampur murka. Ia berusaha menutupi kegugupannya dengan membusungkan dada dan menunjuk muka Annisa.
"Gak usah sok berkelas kamu ya, Nisa!" bentak Sisil, suaranya agak gemetaran. "Kamu tuh cuma cewek pengangguran yang ditampung sama keluarga kami! Berani-beraninya kamu bikin rumah ini kacau dan memblokir kartu kreditku! Kamu tahu gak gara-gara kamu aku hampir ditangkap polisi di restoran kemarin?!"
Annisa terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang terdengar sangat merdu namun sangat menghina di telinga Sisil.
"Kartu kredit kamu?" tanya Annisa seraya menaikkan sebelah alisnya. "Sejak kapan kartu kredit atas nama Annisa Septiani menjadi milikmu, Sisil?"
"Mas Rian yang kasih kartu itu ke aku! Berarti itu hak aku!" jawab Sisil serong tanpa malu sedikit pun. "Kamu itu cuma istri Mas Rian! Semua harta kamu ya milik Mas Rian juga! Jangan sok-sok mengaku rumah ini punya kamu ya! Mas Rian itu Manager di perusahaan raksasa, gajinya puluhan juta! Mana mungkin dia numpang di rumah cewek kampungan kayak kamu!"
Annisa melipat kedua tangannya di depan dada, menyandarkan tubuh anggunnya di bingkai pintu kamar.
"Rian? Manager di perusahaan raksasa?" gumam Annisa pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memikat. "Sisil, adik iparku yang manja ... apa kamu tahu nama perusahaan tempat abangmu bekerja?"
"Tahu lah! Vantara Land! Perusahaan konglomerasi paling kaya di Jakarta!" sahut Sisil bangga, membusungkan dadanya tinggi-tinggi. "Abangku itu orang penting di sana!"
Annisa merogoh tas tangan Hermes miliknya yang tergeletak di meja rias dekat pintu, lalu mengeluarkan sebuah salinan dokumen akta kepemilikan saham bersampul hijau tua dengan segel resmi kementerian.
"Sisil, coba baca lembaran ini baik-baik," ucap Annisa seraya menyodorkan dokumen itu ke hadapan wajah Sisil.
Sisil mengerutkan keningnya, mendengus kesal, namun matanya secara refleks membaca baris demi baris tulisan tebal di lembar pertama dokumen tersebut.
> AKTA PENDIRIAN DAN KEPEMILIKAN SAHAM
> PT VANTARA LAND SUB-HOLDING
> Pemegang Saham Mayoritas (95%) Annisa Septiani binti Yusuf Al Ghazali
> Komisaris Utama: Annisa Septiani
Mata Sisil melotot lebar. Pupil matanya bergetar hebat saat membaca nama lengkap yang tertera di sana.
"A-apa ini ...?" gagap Sisil, suaranya mendadak mencicit pelan. "K-kamu ... pemegang saham mayoritas ...? Nggak! Ini pasti palsu! Kamu bikin dokumen bodong buat menakut-nakuti aku, kan?!"
"Palsu?" Annisa tersenyum dingin. "Kamu bisa cek nomor registrasi akta itu di situs kementerian sekarang juga pakai ponsel mahalmu itu, Sisil. Dan soal rumah ini ...."
Annisa mengambil satu lembar salinan sertifikat tanah dari dalam tasnya.
"Rumah berlantai dua yang kamu tinggali dengan gratis selama tiga tahun ini dibeli secara tunai oleh ayahku, Pak Yusuf Al Ghazali, sebagai hadiah kelulusanku dari Universitas Indonesia. Atas nama Annisa Septiani."
DEG!
Jantung Sisil serasa diremas kuat-kuat oleh tangan tak kasatmata. Wajahnya yang tadinya kemerahan kini berubah menjadi pucat pasi tanpa darah sedikit pun.
"L-lalu ... Mas Rian ...?" suara Sisil bergetar hebat.
"Abangmu yang kamu agung-agungkan itu?" potong Annisa dengan nada merendahkan. "Rian cuma seorang karyawan biasa yang diangkat menjadi Manager karena rekomendasi rahasia dariku kepada jajaran direksi tiga tahun lalu. Dia tidak punya saham selembar pun di Vantara Land. Dan gaji puluhan juta yang dia pamerkan ke kamu dan ibumu ... bahkan tidak cukup untuk membayar biaya perawatan mobil sedan yang dia pakai."
Sisil mundur satu langkah dengan tubuh gemetaran. Seluruh pilar kesombongan yang selama ini ia bangun di kampus—gaya hidup mewahnya, tas branded-nya, kesombongannya sebagai adik dari seorang Manager kaya—runtuh seketika menjadi debu yang tak berharga.
Selama tiga tahun ini, ia bukan menikmati hasil keringat abangnya. Ia menikmati kemewahan dari wanita yang saban hari ia hina, ia suruh-suruh seperti pembantu, dan ia panggil dengan sebutan "cewek pengangguran tak berpendidikan"!
"N-nggak mungkin ... Mas Rian." Tangis Sisil mulai pecah. Air mata ketakutan dan rasa malu yang amat sangat merembes keluar membasahi pipinya.
Saat Sisil berdiri membeku bagaikan patung di kaki tangga lantai dua, suara klakson mobil yang amat nyaring terdengar dari luar pekarangan rumah.
Titin! Titin!
Tak lama kemudian, pintu depan rumah terbuka lebar. Dua orang pria bertubuh tegap bersetelan jas hitam rapi melangkah masuk ke dalam rumah bersama Pak Danu, pengacara senior Vantara Group. Di belakang mereka, empat orang petugas berseragam resmi dari pengadilan dan kepolisian mengikutinya dengan membawa lembaran surat perintah resmi.
Rian dan Bu Rini yang berada di ruang tamu langsung berdiri histeris.
"Pak Danu?! Ada apa ini?!" jerit Rian panik setengah mati.
Pak Danu melangkah maju tanpa tersenyum sedikit pun. Ia mengangkat surat perintah dari pengadilan tinggi di tangan kanannya.
"Selamat pagi, Pak Rian, Ibu Rini, dan Mbak Sisil," panggil Pak Danu dengan suara tegas yang bergema di seluruh ruangan. "Kami datang ke sini atas perintah langsung dari pemilik sah bangunan ini, Mbak Annisa Septiani, untuk melakukan pengosongan dan penyitaan aset secara resmi."
"Apa?! Pengosongan?!" jerit Bu Rini histeris hingga hampir pingsan di tempat. "Ini rumah anak saya! Rumah Rian! Kamu jangan sembarangan ya!"
"Rumah ini milik Mbak Annisa Septiani seratus persen, Bu Rini," potong Pak Danu dingin. "Dan sesuai instruksi klien kami, kalian diberikan waktu tepat tiga puluh menit mulai dari sekarang untuk mengemas barang-barang pribadi milik kalian. Setelah tiga puluh menit, seluruh pintu rumah ini akan disegel secara hukum."
Sisil yang menyaksikan pemandangan itu dari atas tangga terduduk lemas di lantai kayu. Ponsel mahal di tangannya terlepas dan jatuh membentur anak tangga dengan bunyi *krak* yang nyaring.
Ia menoleh perlahan ke arah Annisa yang berdiri anggun di ambang pintu kamar.
Annisa menatap Sisil yang sedang gigit jari dan menangis histeris dengan tatapan dingin tanpa ampun.
"Selamat menikmati kenyataan hidup yang sesungguhnya, Sisil," bisik Annisa pelan, lalu melangkah turun menuruni tangga dengan angkuh, melewati Rian dan keluarganya yang kini menangis meraung-raung di tengah reruntuhan kesombongan mereka sendiri.
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰