NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Jangan Bersaing dengan Masa Lalu!

Hari itu Mellisa memilih untuk tidak pergi ke kantor. Ia sengaja mengambil cuti karena sejak kemarin tubuhnya terasa begitu lemah dan lesu. Bahkan untuk sekadar bangun dari tempat tidur pun rasanya membutuhkan tenaga yang lebih besar dari biasanya.

Ia masih berbaring, membiarkan tubuhnya tenggelam di antara lembutnya seprai. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar, sementara pikirannya justru tak pernah benar-benar berhenti.

Kejadian dua hari terakhir terus berputar di kepalanya. Terutama tentang seseorang yang selama bertahun-tahun berusaha keras ia hindari.

Handoko.

Mellisa mengembuskan napas panjang. Ia masih ingat betapa berantakannya perasaannya ketika tak sengaja kembali dipertemukan dengan laki-laki itu. Selama ini ia tidak menyangka akan dipertemukan kembali dengannya. Ia sudah berusaha mengubur semua kenangan, dan meyakinkan dirinya sendiri kalau suatu saat dia ditakdirkan bertemu, dia menganggap apa pun yang pernah terjadi di antara mereka sudah selesai.

Namun ternyata, benteng itu tidak sekuat yang ia kira. Jangankan bertemu dalam waktu lama, hanya duduk berhadapan, membicarakan masa lalu, lalu makan bersama kemarin saja sudah cukup membuat pertahanannya porak-poranda.

Mellisa memejamkan mata.

Yang paling membuatnya tidak tenang bukanlah pertemuan itu. Bukan pula kenangan-kenangan lama yang kembali bermunculan. Melainkan kenyataan yang baru diketahuinya. Selama ini ia mengira Handoko meninggalkannya. Ia mengira laki-laki itu memilih pergi, membiarkannya menghadapi semua luka seorang diri, lalu menjalani kehidupan baru tanpa pernah menoleh kembali kepadanya.

Ternyata ia salah. Handoko tidak pernah meninggalkannya. Dan kenyataan itulah yang kini terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua kebencian yang selama ini ia pelihara.

Mellisa menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat kembali percakapan mereka kemarin.

Seandainya ia tahu sejak dulu...Seandainya ia tidak salah memahami semuanya...Seandainya mereka bisa saling menjelaskan sebelum luka itu terlanjur mengakar begitu dalam.

Mellisa membuka mata, menatap kosong ke arah jendela. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: apakah selama ini ia benar-benar sudah melupakan Handoko?

Atau sebenarnya ia hanya sedang berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa ia sudah melupakannya?

Dan semakin ia mencoba mencari jawabannya, semakin hatinya terasa kacau.

Karena jauh di dalam sana, ia tahu satu hal yang paling ingin ia sangkal. Pertemuannya dengan Handoko kemarin telah membuat perasaan yang selama ini ia kubur kembali hidup.

***

Hari itu Pratiwi sudah menunaikan tugasnya mengajar mahasiswa psikologi di kampus tempatnya mengabdikan diri. Begitu kelas terakhir selesai, ia merapikan beberapa berkas, kemudian bergegas menuju tempat praktiknya.

Sesampainya di ruang praktik, Pratiwi meletakkan tas di atas meja. Ia duduk sejenak di kursinya, menyandarkan punggung, lalu mengembuskan napas panjang. Hari itu cukup melelahkan, tetapi pekerjaannya belum selesai.

Ia mengambil segelas air putih, meneguknya perlahan, lalu memeriksa jadwal konsultasi.

Klien pertamanya sudah menunggu.

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan memasuki ruangannya. Cantik, anggun, dan tampak terawat. Usianya kira-kira menjelang kepala empat. Namun dari sorot matanya, Pratiwi bisa menangkap sesuatu yang jauh lebih tua daripada usianya.

Lelah.

Perempuan itu duduk di hadapan Pratiwi. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang selama ini dipendam.

"Selamat siang, Bu!" sapa Pratiwi lembut.

"Siang, Bu!"

"Apa yang ingin Ibu ceritakan kepada saya?"

Perempuan itu terdiam beberapa saat. "Suami saya berubah, Bu."

Hanya empat kata. Namun setelah mengucapkannya, matanya langsung berkaca-kaca.

Pratiwi tidak buru-buru menyela. "Berubah seperti apa?"

"Sejak dia bertemu lagi dengan mantan pacarnya."

Pratiwi terdiam sepersekian detik. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa begitu dekat.

Terlalu dekat. Namun ia segera menyingkirkan perasaan itu dan kembali menjadi seorang profesional.

"Mantan pacar semasa sekolah?"

Perempuan itu mengangguk.

"Mereka bertemu lagi setelah bertahun-tahun tidak pernah berhubungan. Awalnya saya tidak keberatan. Saya pikir cuma reuni, nostalgia, ngobrol sebentar. Bahkan saya sempat senang karena suami saya kelihatan bahagia."

Ia tersenyum getir. "Tapi ternyata saya salah."

Pratiwi menatapnya penuh perhatian. "Sejak saat itu, apa yang berubah?"

"Perhatiannya." Jawaban itu keluar begitu cepat.

"Dulu dia selalu pulang tepat waktu. Kalau ada pekerjaan yang membuatnya terlambat, dia selalu memberi kabar. Sekarang tidak. Dulu dia selalu menyempatkan waktu untuk anak-anak. Sekarang lebih sering sibuk dengan ponselnya."

Perempuan itu menarik napas panjang. "Saya mulai merasa seperti orang asing di rumah sendiri."

Pratiwi membiarkannya melanjutkan. "Yang paling menyakitkan bukan karena dia bertemu perempuan itu, Bu. Tapi karena setelah bertemu perempuan itu, saya seperti tidak lagi menjadi seseorang yang penting baginya."

Air mata mulai jatuh di pipinya. "Saya sudah mencoba bertanya. Saya sudah mencoba bicara baik-baik. Tapi dia bilang saya terlalu banyak berpikir."

Pratiwi mengambil tisu dan mendorongnya perlahan ke arah klien. "Kalau begitu, apa yang paling Ibu takutkan?"

Perempuan itu terdiam. Lama. Kemudian bibirnya bergetar. "Saya takut dia masih mencintai perempuan itu."

Ruangan menjadi hening. Pratiwi menatap perempuan di hadapannya. Untuk beberapa detik, ia seperti sedang melihat bayangan dirinya sendiri bertahun-tahun lalu.

Rasa takut yang sama. Rasa takut kehilangan yang sama. Karena bagaimanapun dia tahu siapa suaminya itu. Laki-laki itu pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Tapi kandas. Jika Handoko sedang sendiri dan dia menebak kalau suaminya sedang mengenang mantannya. Perasaan menjadi perempuan yang kalah dari sebuah masa lalu yang bahkan tidak pernah ia lawan.

Namun Pratiwi tahu, ia tidak boleh menjawab berdasarkan lukanya sendiri.

"Ibu," katanya pelan, "bertemu kembali dengan seseorang dari masa lalu tidak selalu berarti seseorang ingin kembali ke masa lalu itu."

Perempuan tersebut mengangkat wajahnya.

"Tapi perubahan sikap suami Ibu adalah sesuatu yang memang perlu dibicarakan."

"Bagaimana caranya, Bu? Saya sudah berkali-kali bicara."

"Jangan mulai pembicaraan dengan pertanyaan, 'Mas, masih mencintai dia?'"

Perempuan itu terdiam. "Karena kalau Ibu bertanya seperti itu, kemungkinan besar dia akan sibuk menyangkal atau membela diri. Coba sampaikan apa yang Ibu rasakan tanpa menuduh."

Pratiwi berhenti sebentar. "Misalnya, 'Sejak kamu bertemu dengannya, aku merasa kehilangan suamiku. Aku tidak melarang kamu berteman dengan siapa pun, tapi aku membutuhkan kepastian bahwa rumah tangga ini masih menjadi tempat yang kamu pilih.'"

Perempuan itu menyeka air matanya. "Lalu kalau dia tetap memilih perempuan itu?"

Pertanyaan tersebut membuat Pratiwi terdiam cukup lama. Ada jeda sebelum ia menjawab.

"Kalau sampai pada titik itu, Ibu harus berhenti memikirkan bagaimana caranya membuat suami Ibu kembali mencintai Ibu."

Tatapan perempuan itu berubah. "Ibu harus mulai bertanya kepada diri sendiri..." Pratiwi mencondongkan tubuhnya sedikit. "Kalau seseorang tidak lagi menjaga hati kita, sampai kapan kita akan terus memaksa diri untuk tinggal di tempat yang membuat kita terluka?"

Perempuan itu kembali menangis. "Tapi saya masih mencintainya, Bu."

"Saya tahu."

Jawaban Pratiwi begitu lembut. "Dan mencintai seseorang bukan berarti Ibu harus kehilangan harga diri."

Ia mengambil jeda. "Pertahankan rumah tangga Ibu selama masih ada dua orang yang mau memperjuangkannya. Tapi jangan berjuang sendirian."

Kalimat itu menggantung di udara. "Karena pernikahan tidak akan pernah bisa diselamatkan oleh satu orang saja."

Perempuan itu menunduk. Bahunya bergetar.

Pratiwi melanjutkan dengan suara semakin pelan.

"Berikan suami Ibu kesempatan untuk menjelaskan. Berikan kesempatan untuk memperbaiki. Tetapi berikan juga kesempatan kepada diri sendiri untuk menerima kenyataan apa pun yang nantinya Ibu temukan."

"Kalau ternyata dia memang masih mencintai mantannya?"

Pratiwi menatapnya. "Jangan bersaing dengan masa lalu!"

"Kenapa?"

"Karena Ibu tidak perlu menang dari perempuan lain untuk membuktikan bahwa Ibu layak dicintai."

Air mata perempuan itu semakin deras. "Ibu sudah menjadi istri. Sudah menjadi ibu. Sudah menemani hidupnya bertahun-tahun. Kalau setelah semua itu dia memilih pergi, itu bukan berarti Ibu kurang."

Pratiwi tersenyum tipis. "Kadang-kadang, seseorang pergi bukan karena kita tidak cukup baik. Tetapi karena hatinya memang memilih jalan yang berbeda." Perempuan itu mengangguk sambil menangis.

Setelah sesi konsultasi berakhir, perempuan itu berdiri dan mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari ruangan.

Pintu tertutup. Pratiwi masih duduk di tempatnya. Ruangan kembali sunyi. Ia menatap kursi kosong di hadapannya.

Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Tadi ia begitu mudah mengatakan kepada kliennya agar tidak bersaing dengan masa lalu. Agar tidak memaksakan seseorang untuk tetap mencintai.Agar tidak berjuang sendirian.

Tetapi ketika kalimat-kalimat itu kembali terngiang di kepalanya, Pratiwi justru merasa seperti sedang menampar dirinya sendiri.

Ia menunduk. Mungkin itulah ironi seorang konselor. Ia bisa begitu bijak ketika membantu orang lain memahami luka mereka. Tetapi ketika luka itu menyentuh dirinya sendiri, semua teori terasa jauh lebih sulit untuk dipraktikkan.

Pratiwi menarik napas panjang. Lalu tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.

"Jangan bersaing dengan masa lalu"

Ia mengulang kalimatnya sendiri dalam hati. Namun ada satu kenyataan yang tidak pernah bisa ia bantah. Dulu, ia memang tidak pernah menjadi perempuan dari masa lalu itu. Ia adalah perempuan yang dipilih setelah seseorang kehilangan perempuan yang dicintainya.

Dan selama bertahun-tahun, Pratiwi berusaha meyakinkan dirinya bahwa cinta yang tumbuh setelahnya sudah cukup untuk membuat semua itu tidak penting.

Tetapi hari ini, setelah mendengar kisah kliennya, ia tiba-tiba bertanya kepada dirinya sendiri:

"Bagaimana kalau suatu hari orang yang kita cintai kembali bertemu dengan cinta pertamanya?*"

Dan kini setelah sekian lama, pertanyaan itu tidak lagi terasa seperti kemungkinan. Ia terasa seperti luka lama yang baru saja dibuka kembali.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!