Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: JANGAN JATUH CINTA PADAKU
Denting lonceng peringatan dari menara Kota Luoshui perlahan melenyap di balik kabut tebal yang membungkus hutan perbatasan. Setelah pelarian sengit menembus barikade prajurit dan tebasan pedang para pemburu kota, Shen Rui dan Lian Yue akhirnya berhasil menyerahkan anak siluman bersisik hijau itu ke tangan Qing Luo di titik pertemuan rahasia. Anak kecil itu telah dibawa pergi menuju tempat berlindung kaum siluman di kedalaman gurun selatan, aman dari jangkauan manusia.
Kini, keheningan yang menyesakkan kembali menyelimuti hutan pinus yang dingin.
Matahari mulai terbenam di balik gumpalan awan tembaga, melemparkan bayang-bayang panjang di antara batang-batang pohon raksasa. Angin senja berhembus perlahan, membawa serpihan daun kering yang melayang turun di atas ubin batu tua sebuah bekas kuil terpencil di tengah hutan.
Lian Yue berdiri di bawah naungan atap kayu kuil yang melengkung. Gaun sutra putihnya sedikit kotor oleh jelaga pelarian, namun pendar aura manis di sekeliling tubuhnya tetap memancar murni. Ia memandangi pergelangan tangan kirinya—tempat sisik perak yang tadi sempat memercikkan cahaya spiritual kini telah sepenuhnya meredup kembali di bawah jaringan kulit manusianya.
Di pelataran kuil, Shen Rui membelakanginya. Pria itu berdiri di tepi tebing kecil, memandangi hamparan Kota Luoshui dari kejauhan. Sarung Pedang Zhaoyang di pinggangnya diikat sangat ketat. Dari bahu dan punggung tegapnya, terpancar aura ketegangan yang amat pekat—sebuah tembok dingin yang sengaja dipasang pria itu untuk membatasi jarak di antara mereka.
Lian Yue melangkah pelan, mendekati Shen Rui. Suara gesekan gaun sutranya di atas dedaunan kering memecah keheningan.
"Anak siluman itu sudah aman bersama Qing Luo," bisik Lian Yue halus. "Terima kasih, Shen Rui... Kau kembali mempertaruhkan segalanya di Kota Luoshui demi membantuku."
Shen Rui tidak langsung berbalik. Jemari tangannya yang terbungkus sarung kulit mencengkeram erat gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kata yang meluncur dari bibir Lian Yue terasa bagaikan gelombang hangat yang merobek pertahanan batinnya.
Di dalam dada Shen Rui, tanda bulan sabit perak berdenyut panas, menyalurkan setiap emosi murni Lian Yue—rasa syukur, kerinduan, dan rasa percaya yang tak bertepi. Dan justru karena emosi itulah, kepedihan mendalam mencengkeram jantung sang pemburu.
Shen Rui menghembuskan napas berat. Ketika ia akhirnya memutar tubuh dan memandang Lian Yue, matanya yang tajam bagai elang tidak lagi memancarkan kelembutan seperti saat mereka berada di Penginapan Angin Timur semalam. Tatapan pria itu kembali membeku, berubah menjadi dingin dan tertutup bagaikan dinding es Gunung Wuyin.
"Aku membantumu bukan karena rasa kasihan, Lian Yue," kata Shen Rui dengan suara rendah yang kaku. "Aku hanya bertindak atas dasar keadilan yang kurasa benar saat melihat ketamakan manusia di kota itu."
Lian Yue tertegun. Ia menghentikan langkahnya tiga tindak dari Shen Rui. Perubahan sikap pria itu yang mendadak terasa bagai embusan hawa dingin yang menusuk dadanya.
"Shen Rui... ada apa?" tanya Lian Yue bingung, mata peraknya menatap lurus ke dalam netra Shen Rui. "Mengapa kau menatapku seperti ini lagi? Apakah karena tindakanku di kota tadi membahayakanmu?"
"Bukan," potong Shen Rui cepat. Pria itu mengambil satu langkah mundur, sengaja mengikis kedekatan fisik yang sempat tercipta di antara mereka.
Shen Rui mendongak menatap langit senja yang kian memerah. Di dalam benaknya, bayangan tiga makam tanpa nama di Lembah Karang, tulisan berdarah surat rahasia Guru Xuan He tentang batas waktu hari ke-49, serta kenyataan keji bahwa tangannya telah membunuh Lian Yue sebanyak tiga kali dalam kehidupan masa lalu berputar-putar tanpa henti bagaikan mimpi buruk.
Semakin ia mendekati Lian Yue, semakin ia membiarkan hatinya terikat pada perempuan ini, maka semakin cepat takdir kejam itu akan menyeret mereka kembali ke dalam tragedi berdarah yang sama.
"Kau harus mendengarkanku baik-baik, Lian Yue," ujar Shen Rui dengan nada suara yang sangat datar dan tegas, meski di balik jubah abu-abunya, tangannya yang menggenggam pedang bergetar hebat menahan perih. "Perjalanan kita sampai di sini hanyalah karena sebuah kebetulan yang merantai ingatan masa lalu. Kau adalah siluman ular putih yang dicari oleh seluruh pemburu benua, dan aku adalah murid Paviliun Tianjian."
"Tapi kau sendiri yang melepaskan pedangmu!" seru Lian Yue dengan suara bergetar. Air mata bening mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa di dalam kamar penginapan semalam, kau hanyalah pria yang memilih berada di sisiku!"
"Itu adalah kekeliruan!" bentak Shen Rui, suaranya naik satu nada penuh ketegasan yang dipaksakan. Ia tidak berani menatap langsung ke dalam mata perak Lian Yue yang berkaca-kaca, takut pertahanan hatinya akan runtuh seketika.
"Rasa hangat yang kau rasakan, keakraban yang kita lewati, hingga bekas luka bulan sabit ini... semuanya hanyalah jebakan dari ikatan kutukan seribu tahun," lanjut Shen Rui dingin. "Kutukan itu memanipulasi emosi kita, membuat kita merasa saling membutuhkan, padahal pada akhirnya... kehadiran satu sama lain hanya akan membawa kehancuran."
Shen Rui melangkah melintasi Lian Yue, membelakangi perempuan itu seraya menatap ke kegelapan hutan pinus di depan mereka.
"Mulai hari ini, jaga jarakmu dariku," kata Shen Rui, mengucapkan kata-kata yang memotong dalam ke dalam jiwanya sendiri. "Jangan pernah jatuh cinta padaku, Lian Yue. Dan jangan biarkan dirimu berharap padaku. Jika kau terus mendekat... saat hari ke-49 itu tiba, pedang di tanganku ini mungkin tidak akan sanggup mengendalikan takdirnya sendiri."
Lian Yue berdiri mematung di pelataran kuil tua yang sepi. Angin malam yang dingin berhembus kencang, menyapu air mata yang menetes pelan membasahi pipi pucatnya. Kata-kata peringatan Shen Rui terdengar bagaikan pukulan godam yang meremukkan kepasrahannya.
Namun di balik dada kiri Lian Yue, tepat di atas tanda bulan sabit peraknya, ia bisa merasakan denyutan cepat dan kepedihan yang sangat pekat yang terpancar dari jantung Shen Rui—sebuah kebohongan terbesar dari pria yang berpura-pura membencinya demi melindunginya dari takdir kematian.