NovelToon NovelToon
AMERICAN CROWS

AMERICAN CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kazeo24

Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 CROWN OF BLOOD

​Mobil mewah hitam kami akhirnya merapat di pelataran luas Balai Pusat Kota. CITTT! Gesekan ban mahal di atas aspal menyuarakan kedatangan kami. Begitu pintu mobil terbuka dan kaki gua memijak tanah, pemandangan di depan mata bener-bener di luar nalar.

​Kalau di gerbang perbatasan tadi suasananya cuma sebatas pengeroyokan liar, di Pusat Kota ini keadaannya jauh lebih gila. Chaos total. VROOMM! VROOMM! Raungan mesin motor saling bersahutan memecah udara, PRANGG! pecahan botol kaca berhamburan di ubin, dan bentrokan antarkelompok pecah di berbagai titik tanpa ada yang melerai. Suara teriakan dan hantaman pipa besi menggema di mana-mana.

​"Tuan Muda, tolong tetap berada di dekat saya," bisik Sebas dengan nada siaga. Matanya tajam mengawasi sekeliling.

​Gua dan Sebas berjalan menyusuri koridor terbuka menuju pos administrasi. Di sepanjang jalan, puluhan berandalan yang nongkrong di sudut-sudut area menatap gua dengan tatapan lapar—penuh kebencian dan intrik. Mereka mengincar kami kayak serigala ngeliat daging segar.

​"Sebas, mereka kayaknya nggak suka sama kehadiran kita," gumam gua pelan sambil menyeringai tipis.

​"Saya sudah menyadarinya sejak kita turun dari mobil, Tuan Muda," jawab Sebas tenang.

​Di balik meja pos administrasi, duduk seorang pria bertubuh tegap dengan wajah culas bernama Geo. Dia menatap kami dengan pandangan meremehkan. Tanpa banyak bicara, Sebas maju lebih dulu menyerahkan formulir biodata kami yang sudah diisi secara tertutup. SREET! Geo memeriksa lembaran kertas itu sekilas, lalu melemparkan dua buah cincin ke atas meja. KLINK!

​"Satu Cincin Abu-Abu buat lu yang cuma mau jadi kroco sipil," ucap Geo malas sambil menunjuk Sebas, lalu melirik gua. "Dan buat lu, lu dapet Cincin Putih buat identitas awal sebagai status Outsider."

​Gua langsung mengambil Cincin Putih itu dan memasangnya di jari gua. Cincin logam itu terasa dingin di kulit. Gua menaikkan sebelah alis. "Lalu mana cincin kasta gua?"

​Geo menyandarkan punggungnya, lalu menatap gua dengan senyum miring yang menyebalkan. "Sebelum gua kasih cincin lu... gua cuma pengen nanya satu hal, Bocah. Lu ada niat buat nguasai kota ini gak?"

​Gua menatap matanya lurus tanpa ragu sedikit pun. "Tentu saja. Gua bakal ambil alih kota ini."

​WUSSS!

​Belum selesai kata-kata gua terucap, angin kencang mendadak berembus dari samping kanan gua. Sebuah tendangan melingkar secepat kilat mengarah tepat ke wajah gua!

​BRAKKK!

​Refleks gua bekerja cepat. Gua mengangkat lengan kanan, menangkis hantaman kaki keras itu tepat beberapa sentimeter dari pipi gua. Benturan itu menghasilkan suara keras beradu otot dan tulang. BUGHH! Gua menoleh, dan mata gua membelalak saat melihat siapa pelakunya.

​"Denza?!" gumam gua kaget.

​Geo yang duduk di balik meja terkekeh sinis. "Sesuai prosedur, Outsider yang mau dapet kasta harus dilewati ujian kelayakan! Dan penguji lu hari ini... adalah dia."

​Sebas langsung melangkah maju, wajahnya yang biasa tenang mendadak berubah murka. "Apa-apaan maksudnya ini, Denza?! Kenapa kau menyerang Tuan Muda?!"

​"Diamlah, Sebas! Ini aturan mainnya!" potong Denza tegas tanpa menurunkan posisi kuda-kuda bertarungnya. Matanya menatap gua tajam. "Ayo, kalahkan gua, Bocah! Buktiin kalau lu layak berada di kota ini!"

​"Jangan bercanda!" sela Sebas dengan nada tinggi. "Kalau memang ada ujian tes kelayakan, kenapa pengujinya harus seorang Old Generation?! Berikan dia lawan yang sepadan!"

​Geo menopang dagunya di atas meja, tersenyum licik melihat kekacauan itu. "Suka-suka gua mau tentuin siapa pengujinya. Bukannya dia tadi bilang mau nguasai kota ini? Hahaha!"

​Tanpa memberi jeda, Denza langsung melesat maju menerjang gua. Kepalan tangannya terayun melintasi udara, mengincar dada gua.

​WUSSS! BUGHH!

​"Gua juga penasaran sama lu, Bocah!" teriak Denza di tengah ayunan pukulannya. "Apa lu beneran sekuat pendahulu lu itu?!"

​BRAKKK!

​Gua terlempar ke belakang, punggung gua menghantam tiang beton hingga retak memercikkan debu. Rasa panas menjalar di dada gua. Pukulan Denza bener-bener beda kelas.

​Gua bangkit sambil menyeka darah segar dari sudut mulut, lalu melesat menyerang balik. Gua melayangkan kombinasi pukulan cepat—WUSS! WUSS!—tapi Denza dengan mudah mengelak ke kiri dan kanan seolah sudah membaca semua pergerakan gua.

​BUGHH! BRAKK!

​Denza mendaratkan lututnya tepat di perut gua hingga napas gua tersengal, disusul pukulan balasan yang membuat gua tersungkur jatuh menabrak aspal untuk kedua kalinya.

​"Mengecewakan sekali," provokasi Denza sambil berdiri menatap gua yang berusaha bangkit. "Lemah! Lu beneran sangat lemah kalau dibandingin sama pendahulu lu! Apa cuma segini aja kemampuan pewaris keluarga sekuat itu? Cih!"

​Sebas yang berdiri di pinggir area sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Kepalan tangannya gemetar hebat. "Denza! Kau sudah keterlaluan!"

​"Jangan ikut campur, Sebas!" potong gua setengah berteriak.

​Gua berdiri perlahan. Pandangan mata gua mendadak berubah dingin. Semua hawa bercanda dan rasa sakit di tubuh gua menguap seketika, berganti dengan aura membunuh (killing intent) yang sangat pekat hingga udara di sekitar terasa membeku.

​"Lu tadi bilang apa?" bisik gua. Suara gua terdengar sangat rendah dan membunuh. "Lu bilang... gua lemah?"

​SREEEET!

​Dalam satu kedipan mata, tubuh gua melesat dengan kecepatan yang jauh berbeda dari sebelumnya—menciptakan bayangan tipis di udara. Gua sudah berada tepat di depan wajah Denza.

​BUGGGHHH! CRAK!

​Tinju keras gua mendarat telak di rahang Denza, membuat pria itu terpental beberapa meter dan menyeret aspal! Pertarungan berubah menjadi sangat brutal. Gua tidak memberi Denza napas, terus menekan dengan pukulan bertubi-tubi—BUGH! BUGH! BUGH!—yang menghancurkan pertahanannya. Dentuman keras memekakkan telinga saat pertarungan benar-benar mencapai puncaknya.

​Suasana di sekitar pos administrasi yang tadinya bising mendadak hening total. CRICKETS. Puluhan berandalan yang tadinya meremehkan gua kini melotot tak percaya dengan mulut melongo.

​"Gila... apa-apaan kekuatan bocah itu?!" seru salah satu berandalan dengan wajah pucat pasi.

​"Kecepatannya berubah total! Itu bukan gerak-gerik manusia biasa!" timpal yang lainnya ketakutan. "Pemula seperti dia bisa imbang lawan seorang Old Generation?!"

​Di balik meja, Geo yang tadi tersenyum licik kini berdiri dengan tubuh gemetar. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Rencana jahatnya buat mempermalukan pendatang baru ini hancur berantakan.

​"Sialan... Kenapa bisa begini?!" umpat Geo panik dalam hati.

​Gua dan Denza sama-sama melompat ke udara, mengumpulkan seluruh sisa tenaga untuk melayangkan satu pukulan terkuat kami. Pukulan penentu yang bakal menghancurkan siapa pun yang terkena.

​"Mampus lu!" teriak gua.

​Namun, sebelum kedua kepalan tangan kami bertabrakan di udara...

​SRAKKK!

​Sesosok pria mendadak muncul di tengah-tengah kami secepat kilat. Hanya dengan menggunakan dua telapak tangannya—PLAK! PLAK!—ia menahan pukulan terkuat gua dan pukulan Denza secara bersamaan tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri!

​BUMMM!

​Gelombang angin keras berembus menghempas debu di sekitar kami hingga berhamburan gila-gilaan.

​"Cukup sudah," ucap pria itu dengan suara berat yang menenangkan. Ia melirik ke arah meja. "Bukankah lu sudah cukup puas, Geo?"

​Pria yang menghentikan duel kami ternyata bernama Maruken—seorang veteran Old Generation lainnya. Geo mendesis jengkel, membuang muka. "Cih... Padahal lagi seru-serunya."

​Maruken menatap Geo dengan pandangan tajam menusuk. "Sudahlah, Geo. Berikan saja cincin itu kepadanya. Dia sudah lebih dari cukup membuktikan kelayakannya."

​Geo tidak punya pilihan lain. Dengan wajah cemberut dan gusar, ia mengambil sebuah cincin berlapis warna cokelat dari dalam laci, lalu melemparkannya ke arah gua. WUSS!

​Gua menangkap cincin itu di udara. Cincin Cokelat.

​"Lu resmi diakui sebagai bagian dari Crows," kata Maruken sambil menatap gua. "Dan jika dilihat dari kemampuan bertarung lu tadi, pangkat lu otomatis langsung di level High Crows."

​SREET! Maruken lalu melemparkan sebuah buku tebal berkulit hitam ke dada Sebas. TAK! Sebas menyambar buku itu dengan mudah.

​"Itu buku panduan resmi di kota ini. Di dalamnya ada peta wilayah, aturan hukum, dan hierarki fraksi secara lengkap. Baca baik-baik kalau kalian nggak mau mati konyol."

​Setelah menyerahkan buku itu, Maruken membalikkan badan dan melangkah pergi. "Baiklah, kalau sudah beres gua pergi dulu, Denza."

​Denza menyeka darah di pipinya sambil tersenyum tipis. "Oke, makasih, Maruken."

​Maruken melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang dan berjalan lurus menghilang di balik kegelapan.

​Denza kemudian menoleh ke arah gua dan Sebas dengan raut wajah tanpa dosa, lalu mengacungkan jempolnya. PING! "Baiklah! Saatnya pulang ke rumah baru kalian!" ucap Denza dengan nada riang dan senyum lebar.

​Melihat tingkah Denza yang mendadak berubah 180 derajat, muka gua dan Sebas langsung ditekuk. Kami berdua memasang ekspresi jengkel dan muak setengah mati.

​"Bisa-bisanya setelah semua yang terjadi..." gerutu gua sambil mengepalkan tangan yang masih pegal.

​Denza malah tertawa terbahak-bahak. "HAHAHA! Ayolah, kalau gua nggak pura-pura serius nyerang lu, si Geo brengsek itu nggak bakal mau ngeluarin Cincin Crows buat lu hari ini!"

​Sebas merapikan jasnya yang agak kusut dengan raut wajah sangat dingin. "Hampir saja saya turun tangan untuk mematahkan lehermu, Denza."

​Denza terkekeh sambil merangkul bahu Sebas santai. "Kalau lu ikut turun tangan, rasanya bakal jauh lebih seru lagi, kan? Hahaha!"

​Tanpa mempedulikan ocehan Denza lagi, kami bertiga berjalan meninggalkan area pos administrasi yang penuh tatapan takjub para berandalan, menuju mobil untuk meluncur ke kediaman baru kami di pusat Cikampek.

1
DANZ XYZ
/NosePick//NosePick//Applaud/
Arashiii22
keren bangat sialan
Dongo Dipelihara
siapa yang di maksd maruyama abang nya zela kah?
Kazeo24: Yap itu abang nya zela
total 1 replies
Dongo Dipelihara
prolog yang keren
Kada Wijaya
DAMN BROO
Ekaa
/Plusone/
damai kami sepanjang hari
THISS IS PEAK BRO!!
AZIKAZUE
GOKSS PARAH SELAMA INI 22 BAB TERNYATA CMN PROLOG🤭
Kazeo24: BENER SEKALII
total 1 replies
AZIKAZUE
terus bekarya bang✌🏻
Kada Wijaya
OH GITU🤭
Kada Wijaya
👍👍👍
Kada Wijaya
lanjutt perang nya
Kada Wijaya
BADASSS🔥🔥🔥
kaka pelenger
GOKILLL
RezaFitra
/Casual//Casual/
Dongo Dipelihara
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!