Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyek Sintesis
Dokumen proposal itu punya sepuluh halaman, lengkap dengan struktur tim, timeline, dan proyeksi hasil, dan Elias membacanya dua kali sebelum akhirnya berani bertanya.
"Pak," katanya, meletakkan dokumen itu kembali ke meja, "proyek ini apa?"
"Inisiatif sintesis data lintas divisi," kata Madoc, tanpa mengangkat kepala dari laptopnya. "Buat gabungin insight dari operasional, finance, sama marketing jadi satu dashboard terpadu."
"Kenapa mendadak?"
"Karena selama ini data kita tersebar di divisi masing-masing, gak ada yang nyatuin. Kalau ada ancaman kayak Aditama lagi, kita bisa respons lebih cepat kalau datanya udah terintegrasi."
Alasan itu terdengar cukup logis di permukaannya—cukup logis untuk membuat siapa pun yang membacanya tanpa konteks tambahan akan mengangguk setuju tanpa pertanyaan lebih lanjut. Tapi Elias sudah bekerja untuk Madoc cukup lama untuk mengenali pola yang mulai terlihat familiar.
"Siapa yang bakal pimpin proyek ini?"
"Belum diputusin," kata Madoc, meski nadanya terdengar seperti orang yang sudah punya jawaban di kepalanya sejak awal. "Tapi harus orang yang paham operasional sama analisis data sekaligus."
Elias membaca ulang halaman ketiga dokumen itu, bagian yang mendeskripsikan kualifikasi pemimpin proyek—analitis, berpengalaman dengan lintas divisi, punya track record menyelesaikan masalah kompleks dengan cepat.
Deskripsi itu, kalau dibaca dengan sedikit kecurigaan, terdengar persis seperti profil satu orang yang sudah cukup sering muncul dalam berbagai konteks yang mencurigakan selama beberapa bulan terakhir.
"Pak," katanya, akhirnya, memilih untuk langsung saja. "Ini proyek asli atau alesan doang?"
Madoc berhenti mengetik, menoleh, ekspresinya berubah defensif dalam sepersekian detik. "Apa maksudnya alesan?"
"Maksud saya," Elias melanjutkan, tidak gentar meski sudah cukup lama kerja dengan orang yang sekarang menatapnya dengan tatapan yang bisa membuat seluruh ruang rapat diam dalam dua detik, "proyek ini emang perlu, atau cuma cara buat Bapak punya alesan formal buat kerja bareng Gwen lebih sering?"
Ruangan hening sesaat. Madoc menatapnya, rahangnya sedikit mengeras, tapi tidak membantah.
"Dua-duanya," katanya akhirnya, jujur, karena berbohong ke Elias sudah lama terbukti tidak ada gunanya.
---
Proposal itu resmi dikirim ke seluruh kepala divisi minggu berikutnya, dan reaksi yang muncul jauh lebih positif dari yang diharapkan Elias—sebagian besar karena idenya memang genuinely masuk akal, terlepas dari motivasi tersembunyi di baliknya.
"Ini bagus banget," kata Reza, waktu membaca proposal itu di rapat koordinasi. "Udah lama saya usul integrasi data lintas divisi kayak gini, tapi selalu ketunda karena prioritas lain."
"Siapa yang bakal pimpin?" tanya kepala divisi finance.
Madoc, yang duduk di ujung meja rapat, menjawab dengan nada yang sudah dia latih supaya terdengar sewajar mungkin. "Gwen Aditya. Dia udah terbukti bisa handle analisis lintas divisi dari kasus Aditama kemarin."
Beberapa kepala mengangguk setuju, tidak ada yang mempertanyakan pilihan itu lebih jauh—reputasi Gwen sudah cukup solid sejak kasus Meridian dan Suryamas, jadi memilihnya untuk memimpin proyek besar berikutnya terasa seperti keputusan yang wajar, bukan sesuatu yang perlu dicurigai.
---
Gwen menerima berita itu dengan antusiasme yang jujur, sepenuhnya tidak menyadari lapisan lain di balik kepercayaan besar yang baru saja diberikan padanya.
"Proyek Sintesis?" tanyanya, waktu Reza memberitahunya sore itu. "Serius saya yang mimpin?"
"Serius. Udah disetujui Pak Kane langsung."
Gwen membaca dokumen proposal itu dengan seksama, matanya berbinar melihat cakupan proyek yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dia pegang sebelumnya—bukan cuma satu divisi, tapi integrasi penuh dari tiga divisi berbeda, dengan otoritas untuk mengakses dan menyusun data dari seluruh perusahaan.
"Ini gede banget," katanya, setengah tidak percaya. "Timeline-nya tiga bulan, tim gabungan dari operasional, finance, marketing."
"Kamu udah buktiin diri sejak Meridian," kata Reza, tersenyum bangga. "Wajar kalau dipercaya proyek sebesar ini."
Malam itu, Gwen tidak bisa tidur lebih awal seperti biasanya—terlalu bersemangat memikirkan struktur tim yang harus dia susun, kerangka kerja yang harus dia rancang, tantangan intelektual baru yang jauh lebih kompleks dari apa pun yang pernah dia hadapi sebelumnya.
Dia mengirim pesan ke Nadya, tidak bisa menahan diri untuk berbagi kabar baik itu.
GWEN: gue dipercaya mimpin proyek gede banget, integrasi data lintas divisi. tiga bulan timeline
NADYA: WOW selamat!! ini yang bikin dari Pak Kane lagi?
GWEN: iya, katanya karena kemampuan gue dari kasus Aditama kemarin
NADYA: dia emang percaya banget ya sama lo
GWEN: ya karena hasil kerja gue emang bagus 😌
NADYA: iya iya. tapi tetep aja, gede banget kepercayaannya buat orang yang baru enam bulan kerja
Gwen membalas dengan emoji tertawa, tidak menangkap nada penasaran di balik komentar Nadya, terlalu sibuk memikirkan langkah-langkah pertama yang harus dia ambil begitu proyek itu resmi dimulai minggu depan.
---
Sementara itu, di ruangannya sendiri, Madoc mempelajari ulang struktur proyek yang baru saja dia setujui, memastikan setiap detail sudah sesuai dengan yang dia rencanakan—jadwal rapat progress mingguan yang harus dia hadiri langsung sebagai penanggung jawab tertinggi proyek, sesi review bulanan yang otomatis melibatkan dia dan Gwen dalam diskusi intensif, dan kebutuhan koordinasi lintas divisi yang secara alami membuat mereka harus sering berkomunikasi langsung.
Semua itu, di permukaan, terlihat seperti struktur proyek yang wajar untuk inisiatif sebesar ini. Tapi Madoc tahu persis, jauh di dalam hatinya, betapa dia sudah menyusun setiap detail itu dengan satu tujuan tersembunyi: memastikan dia dan Gwen akan terus punya alasan profesional untuk bertemu, berdiskusi, bekerja sama, tanpa perlu mencari-cari alasan lagi seperti yang selama ini dia lakukan.
Elias masuk ke ruangannya sore itu, membawa dokumen lain yang perlu ditandatangani, dan sempat melihat sekilas jadwal rapat yang sudah Madoc susun untuk proyek Sintesis.
"Pak," katanya, membaca jadwal itu, "rapat progress mingguan langsung sama Bapak? Biasanya proyek sebesar ini cukup lapor ke direktur operasional aja, gak perlu sampe CEO turun tangan tiap minggu."
"Proyek ini penting," kata Madoc, cepat. "Saya mau pantau langsung perkembangannya."
"Sepenting itu sampe Bapak yang harus hadir tiap minggu?"
"Iya."
Elias menatapnya lama, ekspresinya jelas tidak sepenuhnya percaya, tapi memilih untuk tidak mendorong lebih jauh kali ini—dia sudah dapat jawaban jujur dari bosnya minggu lalu, dan mengulang pertanyaan yang sama cuma akan membuang waktu tanpa hasil berbeda.
"Baik, Pak," katanya, meletakkan dokumen di meja dan berjalan keluar.
Tapi sebelum benar-benar keluar ruangan, dia berhenti sebentar di ambang pintu, menoleh ke belakang.
"Pak," katanya, "kalau ini emang beneran soal Gwen, mungkin lebih gampang kalau Bapak langsung ngomong aja ke dia, daripada bikin proyek segede ini cuma buat alesan ketemu."
Madoc menatapnya, tidak menjawab langsung, tapi ekspresi wajahnya cukup jelas menunjukkan bahwa dia sendiri sudah mempertimbangkan hal itu—dan sudah menemukan alasan kenapa dia belum siap melakukannya.
"Belum waktunya," katanya akhirnya, pelan.
Elias mengangguk, tidak mendesak lebih jauh, dan keluar ruangan, meninggalkan bosnya sendirian dengan jadwal proyek yang, meski disusun dengan alasan tersembunyi, akan segera membawa dua orang itu lebih dekat dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya—terlepas dari apakah salah satu dari mereka sudah siap menghadapi konsekuensi dari kedekatan itu atau belum.