Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 1: Sangkar Emas dan Gaun yang Salah
...MENGULANG LUKA...
Bab 1: Sangkar Emas dan Gaun yang Salah
Pencahayaan temaram dari lampu meja rias memantulkan bayangan seorang wanita yang tampak begitu asing sekaligus familier bagi Valencia Florence. Ketika kesadarannya pulih sepenuhnya, hal pertama yang dia rasakan adalah dinginnya permukaan kursi beludru di bawahnya dan pantulan matanya sendiri di cermin marmer yang megah.
Valencia tersentak. Dia menunduk, menatap tubuhnya sendiri, dan seketika rasa dingin menjalar di punggungnya. Punggungnya mendadak kaku bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa.
Dia mengenakan sepotong gaun tidur tipis. Lingerie satin hitam dengan potongan dada rendah dan aksen brokat yang sangat minim melekat ketat di tubuhnya. Pakaian itu memperlihatkan lekuk kulitnya dengan jelas. Desainnya sengaja dibuat untuk satu tujuan: menggoda.
"Apa... apa-apaan ini?" bisik Valencia dengan suara bergetar.
Rasa mual dan benci pada diri sendiri tiba-tiba bergejolak di dada Valencia. Ingatan terkelamnya terkunci pada pakaian ini. Ini adalah momen bodoh yang paling ingin dia hapus dari sejarah hidupnya. Hari ini adalah hari di mana Julian Edgar pulang setelah tiga bulan lamanya mengabaikannya demi urusan dinas di luar negeri.
Julian memang hanya pulang ke rumah utama setiap tiga bulan sekali. Pria itu biasanya menetap selama satu minggu penuh ketegangan, lalu pergi lagi seolah mansion ini hanyalah hotel persinggahan. Selama dua tahun pernikahan, Valencia dibiarkan membusuk dalam kesepian dan rasa tidak diinginkan.
Di hari ini, tiga tahun lalu, Valencia yang malang dan naif sengaja membeli lingerie ini. Dia merendahkan harga dirinya dan membuang martabatnya demi mengemis perhatian dari seorang suami yang jelas-jelas tidak pernah mencintainya.
Valencia memegangi kepalanya yang mendadak pening. Jantungnya bertalu-talu menghantam rongga dada.
"Aku di mana? Ruangan ini..."
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar utama yang sangat luas dan mewah itu. Desain interior klasik Eropa yang maskulin dan aroma parfum kayu cendana yang mahal menegaskan identitas pemiliknya. Ini adalah kamar Julian Edgar.
"Kenapa penampilanku seperti ini? Apa ini mimpi buruk?" Valencia mencengkeram tepi meja rias hingga buku-buku jarinya memutih. "Kenapa aku harus memimpikan momen ini lagi? Kenapa harus ingatan yang terlampau menyakitkan ini?"
Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Padahal baru beberapa bulan lalu dia akhirnya bisa bernapas lega, resmi bercerai dan lepas dari belenggu pria itu setelah lima tahun pernikahan yang bagaikan neraka.
Namun kini, takdir justru melempar jiwanya berputar balik tiga tahun ke belakang—terjebak kembali di tahun kedua pernikahan mereka, di malam yang paling memalukan ini.
Klek.
Gagang pintu kuningan yang berat itu berputar. Detik berikutnya, terdengar derit halus saat pintu besar itu terbuka.
Valencia membeku di tempat duduknya. Matanya terpaku pada ambang pintu.
Di sana, berdiri seorang pria yang sangat dia kenali. Sosoknya tinggi menjulang, sekitar 190 sentimeter, dengan postur tubuh tegap berbalut setelan jas formal hitam yang tampak sedikit kusut karena perjalanan jauh. Wajahnya adalah pahatan sempurna dengan rahang tegas dan tatapan mata yang luar biasa dingin.
Julian Edgar. Pria yang beberapa bulan lalu resmi menjadi mantan suaminya di masa depan, kini berdiri tegak di hadapannya dalam balutan waktu yang berputar balik.
Julian tidak langsung melangkah masuk. Dia hanya berdiri di ambang pintu sambil melonggarkan simpul dasinya dengan gerakan perlahan. Sepasang manik mata gelapnya bergerak turun, menilai penampilan Valencia yang hanya berbalut kain tipis dari atas kepala hingga ujung kaki.
Tidak ada binar gairah di sana. Tidak ada pula rasa rindu setelah tiga bulan berpisah. Tatapan Julian penuh dengan pandangan merendahkan, seolah-olah dia sedang melihat sebuah pajangan murah yang sedang mencoba dengan putus asa untuk menarik perhatian pemiliknya.