NovelToon NovelToon
Menantu Tak Terkalahkan

Menantu Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pengadilan Hujan Darah di Halaman Belakang

​Hujan badai masih mengguyur Kota Jiangzhou dengan brutal. Kilat menyambar membelah langit malam, diikuti suara guntur yang menggetarkan kaca-kaca jendela. Namun, di halaman belakang Vila Keluarga Su yang luas dan ditumbuhi ilalang setinggi lutut, sebuah pemandangan surealis sedang berlangsung.

​Di bawah sebuah kanopi besar yang biasanya digunakan untuk pesta kebun, sebuah kursi ukir kayu jati ditempatkan menghadap ke arah rerumputan yang berlumpur. Lin Fan duduk di kursi tersebut dengan postur tegak yang memancarkan dominasi mutlak. Ia tidak lagi mengenakan celemek konyolnya, melainkan kembali mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di tangan kanannya, ia memegang secangkir teh Longjing panas yang asapnya mengepul tipis, mengabaikan badai yang mengamuk hanya beberapa sentimeter dari ujung sepatunya.

​Di sekeliling halaman belakang yang gelap, puluhan bayangan hitam berdiri mematung di bawah guyuran hujan. Mereka adalah Pasukan Bayangan yang telah selesai mensterilkan ruang tamu dari mayat-mayat Tim Beta, dan kini berjaga bak patung gargoyle yang mematikan.

​Terdengar suara mesin mobil menderu dari arah gerbang belakang vila. Sebuah SUV hitam berlapis baja menerobos masuk dan berhenti tepat di pinggir halaman berlumpur.

​Pintu terbuka. Komandan Yuan melangkah keluar, menembus tirai hujan sambil menyeret sebuah tubuh yang meronta-ronta lemah layaknya karung rongsokan. Sesampainya di hadapan kanopi, Yuan melemparkan tubuh itu dengan kasar hingga berguling di atas kubangan lumpur, tepat di bawah kaki Lin Fan.

​Itu adalah Long Ao, Tuan Muda dari wilayah selatan yang beberapa jam lalu berkoar akan meratakan Jiangzhou dengan tanah.

​Menatap Sang Dewa Kematian

​Percikan air bercampur lumpur dingin yang menghantam wajahnya membuat Long Ao tersadar dari pingsannya. Rasa sakit yang luar biasa langsung menyerang sarafnya. Rahangnya patah akibat sikutan Yuan, membuat separuh wajahnya bengkak kebiruan dan mulutnya terus-menerus meneteskan darah segar ke atas rumput.

​Long Ao mengerang kesakitan, berusaha menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang gemetar. Ia mendongak dengan susah payah, menyipitkan mata menembus guyuran hujan.

​Di sana, di bawah kanopi yang terang, duduk seorang pria dengan wajah yang sangat ia kenal dari foto-foto target intelijennya.

​"L-Lin... F-Fan..." Long Ao memaksakan kata-kata keluar dari mulutnya yang hancur, suaranya parau dan bercampur darah. Matanya terbelalak lebar, dipenuhi ketidakpercayaan yang luar biasa. "K-kau... suami sampah itu..."

​Bagaimana mungkin? Long Ao telah diberitahu oleh Lin Ye bahwa Menara Su dijaga oleh pasukan pemberontak yang bersembunyi di balik perisai sipil. Ia tidak pernah sekali pun membayangkan bahwa pria miskin yang menjadi bahan tertawaan satu kota ini adalah orang yang duduk di singgasana penguasa.

​Lin Fan menatap Long Ao dengan pandangan kosong yang membekukan tulang, seolah ia sedang melihat seekor cacing tanah yang kepanasan.

​"Selamat datang di rumahku, Tuan Muda Long," sapa Lin Fan dengan nada datar, menyesap teh panasnya dengan tenang. "Kudengar kau datang jauh-jauh dari selatan membawa seratus tentara bayaran hanya untuk menemui istriku."

​Meski tubuhnya hancur dan pasukannya telah dibantai, kesombongan yang mengakar dalam darah Long Ao menolak untuk padam begitu saja. Ia adalah pewaris dinasti militer! Kakeknya adalah jenderal bintang empat! Ia tidak boleh tunduk pada pria tak dikenal di kota kelas dua ini!

​"K-kau... bajingan!" Long Ao meludah, darah segar bercampur lumpur mengotori lantai kanopi. Ia memaksa dirinya berlutut, menatap Lin Fan dengan kebencian yang menyala. "K-kau pikir kau menang?! Kakekku... Jenderal Besar Komando Selatan... akan memburu kalian semua! Dia akan mengirim tank dan pesawat tempur untuk meratakan kota busuk ini! Jika kau berani membunuhku, keluargamu akan dibantai sampai ke akar-akarnya!"

​Mendengar ancaman itu, Yuan yang berdiri di samping kanopi mendengus sinis, nyaris tertawa. Puluhan Pasukan Bayangan di sekitar halaman juga tidak menunjukkan reaksi sedikit pun selain keheningan yang mengejek.

​Lin Fan meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam mata Long Ao.

​"Kakekmu? Jenderal Besar Long?" Lin Fan tersenyum tipis yang mengerikan. "Kau pikir Lin Ye menjebakmu malam ini karena dia takut padamu? Tidak. Lin Ye menggunakanmu sebagai pion miskin karena dia tahu persis bahwa militer kakekmu itu bahkan tidak pantas untuk menyemir sepatuku."

​"O-omong kosong!" raung Long Ao tak terima.

​Lin Fan mengangkat tangannya. Yuan segera mendekat, mengeluarkan sebuah tablet militer tahan air, dan menghadapkannya ke wajah Long Ao.

​Layar tablet itu terhubung dengan siaran langsung dari satelit pengintai privat Keluarga Lin.

​Runtuhnya Langit di Wilayah Selatan

​Mata Long Ao terfokus pada layar yang basah oleh rintik hujan. Apa yang ia lihat dalam hitungan detik berikutnya langsung menghancurkan seluruh kewarasan dan sisa-sisa harga dirinya.

​Video itu menampilkan Markas Besar Komando Militer Selatan yang merupakan pusat kekuasaan mutlak keluarganya. Namun, markas besar yang seharusnya dijaga ketat itu kini tampak seperti zona taklukan.

​Ratusan helikopter tempur hitam tanpa logo negara—hanya memiliki lambang Teratai Hitam—melayang mengepung markas tersebut. Di halaman utama, ribuan prajurit militer selatan telah dilucuti senjatanya dan dipaksa tiarap di tanah. Dan yang paling menghancurkan hati Long Ao adalah sosok seorang pria tua berseragam jenderal bintang empat yang sedang berlutut di tengah lapangan dengan kepala menunduk. Tanda pangkat di bahunya telah dirobek secara paksa.

​Itu adalah kakeknya. Sang Jenderal Besar yang tak terkalahkan, kini berlutut pasrah di bawah todongan senjata Pasukan Bayangan cabang utama.

​"T-tidak... ini... ini palsu... tidak mungkin..." Long Ao menggelengkan kepalanya dengan histeris, air mata membanjiri wajahnya yang berlumur lumpur. Pikirannya hancur lebur. Kekuatan macam apa yang bisa menundukkan sebuah komando militer negara tanpa memicu perang nasional?!

​"Keluarga Longmu memang memegang senjata di selatan," suara Lin Fan memecah tangis histeris Long Ao, tajam bagaikan pedang algojo. "Namun, di negara ini, Keluarga Lin adalah pihak yang memproduksi dan menjual senjata itu kepada mereka. Di hadapan naga yang sesungguhnya, kakekmu hanyalah seekor kadal tua yang kehilangan giginya."

​Keputusasaan absolut menelan jiwa Long Ao. Ia akhirnya sadar betapa bodohnya ia membiarkan dirinya dimanipulasi oleh Lin Ye untuk menyerang keberadaan eksistensi dewa ini. Ia bukan sekadar menendang pelat besi; ia baru saja melemparkan seluruh dinastinya ke dalam tungku api neraka.

​Long Ao menjatuhkan wajahnya ke dalam lumpur. "A-ampun... Tuan... saya buta... saya dibodohi oleh Lin Ye... Tolong lepaskan kakek saya... bunuh saja saya..."

​"Membunuhmu terlalu mudah, dan darahmu akan mengotori tanganku," ucap Lin Fan dingin. Ia kembali bersandar ke kursinya, memberikan titah terakhirnya pada Yuan.

​Patahkan seluruh persendian utama di kedua kaki dan tangan Long Ao, pastikan ia lumpuh seumur hidup dan tidak bisa menggunakan kursi roda sekalipun.

​Hancurkan pita suaranya secara permanen, sehingga ia tidak bisa mengeluh tentang penderitaannya.

​Kemas tubuhnya ke dalam peti mati kayu mentah, dan kirimkan paket itu ke markas besar Lin Corporation di ibu kota menggunakan pesawat kargo malam ini juga.

​"Tulis sebuah kartu ucapan kecil dan letakkan di atas dada bajingan ini," Lin Fan menatap lurus menembus badai, seolah ia sedang menatap wajah sepupunya di Jingcheng. "Tuliskan: Pionmu sudah kumakan. Bersiaplah untuk menyerahkan takhtamu, Lin Ye."

​"Siap laksanakan, Tuan Muda!" Yuan membungkuk hormat, lalu dengan kejam menyeret tubuh Long Ao yang menjerit bisu kembali ke dalam badai untuk dieksekusi perlahan.

​Di saat yang sama, komunikator di saku Lin Fan berbunyi. Ada pesan masuk dari istrinya, Su Yuhan.

​"Lin Fan, di luar hujan deras. Aku masih terjebak di ruanganku di Menara Su karena mati listrik. Bisakah kau menjemputku?"

​Membaca pesan itu, aura tiran pembunuh seketika lenyap dari wajah Lin Fan. Ia segera berdiri, menyambar payung hitam di dekatnya.

​"Yuan, selesaikan sisanya dengan bersih," perintah Lin Fan sambil melangkah terburu-buru. "Istriku menungguku menjemputnya pulang. Jangan biarkan dia melihat setetes pun darah di lobi gedung!"

1
Glastor Roy
update
Driver Muda
Jelek💪💪👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
mantep coy 😎
Ariya Noviandy Khusofi
kok sama alur ceritanya dengan kebangkitan pewaris sakti
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff ini ☕😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!