Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahanan Pembawa Pesan
Disisi lain, Vins. Pria tersebut tidak segera beranjak dari tempatnya. Tangannya masih memegang map kosong, sementara pandangannya sempat turun ke lantai sebelum kembali kepada Lucien. Gerakan kecil tersebut tidak luput dari perhatian Eve.
Lucien yang sudah kembali memegang pena berhenti menulis. "Ada apa?"
Vins menarik napas pendek sebelum menjawab. "Sebenarnya, pencurian bukanlah masalah utamanya Yang Mulia. Namun, barang yang diambil kali ini cukup mengkhawatirkan."
Lucien mengangkat pandangan.
"Yang dicuri bukan perhiasan atau barang berharga lainnya," lanjut Vins. "Tersangka mengambil dokumen yang berisi rincian seluruh pekerja di kediaman Duke. Nama, asal, posisi, hingga informasi mengenai tugas mereka."
Jari Lucien berhenti di atas kertas.
Eve yang sejak tadi duduk diam langsung menegakkan tubuh.
'Data seluruh pekerja?'
Vins melanjutkan dengan suara lebih rendah, "Para ksatria sudah menginterogasinya, tetapi hasilnya nihil. Dia tidak memberikan penjelasan mengenai alasan mencuri dokumen tersebut ataupun kepada siapa dokumen itu akan diserahkan."
Lucien menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tidak menjawab?"
"Bukan hanya diam, Yang Mulia." Vins menggeleng pelan. "Menurut laporan para ksatria, tatapan tersangka sangat kosong. Seperti tidak benar-benar sadar dengan keadaan di sekitarnya."
Vins masih berdiri tegak di depan meja. "Hal lain yang membuat para penjaga merasa janggal, tersangka merupakan pekerja biasa. Tidak memiliki jabatan khusus, tidak pernah terlibat masalah, dan selama bekerja di mansion dikenal cukup baik oleh pekerja lainnya."
"Dia bahkan dikenal sering membantu pekerja lain ketika mereka membutuhkan bantuan," tambah Vins. "Tidak ada alasan yang jelas mengapa seseorang dengan reputasi seperti itu tiba-tiba mengambil dokumen yang bahkan tidak memiliki nilai bagi dirinya."
Ruangan kembali hening.
Lucien mengetuk permukaan meja dengan ujung jarinya. Kali ini dia tidak langsung mengambil keputusan.
Eve menurunkan pandangan ke lantai.
'Pencuri yang mengambil dokumen pekerja...'
Kalau seseorang memang berniat mencuri, benda berharga jauh lebih masuk akal. Perhiasan, uang, barang antik. Dokumen berisi daftar pekerja hanya berguna bagi seseorang yang membutuhkan informasi mengenai orang-orang yang tinggal dan bekerja di mansion.
Eve pernah melihat ekspresi serupa, meskipun konteksnya berbeda. Tatapan seseorang yang berada dalam kondisi tertekan berat, kehilangan kesadaran terhadap lingkungan, atau bahkan mengalami pengaruh zat tertentu bisa tampak berbeda dari orang yang sekadar gugup setelah tertangkap.
Eve mengangkat wajah dan kembali memperhatikan Lucien.
Pria tersebut tampaknya memikirkan hal yang sama. Rahangnya mengeras sedikit, Lucien masih menatap map di hadapannya, tetapi kali ini ekspresinya berubah lebih serius. Ujung jarinya mengetuk meja beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
"Di mana tersangka sekarang?" tanya Lucien.
"Masih berada di ruang tahanan bawah tanah, Yang Mulia," jawab Vins.
Lucien menutup laporan tersebut. "Aku akan menemuinya sendiri."
Dia mendorong kursinya ke belakang lalu berdiri. Eve yang sejak tadi duduk di kursi kecil langsung ikut bangkit.
"Ape ikut!"
Vins yang baru hendak berbalik segera menahan Eve dengan satu tangan di bahunya.
"Nona, sebaiknya Anda tetap di sini," ujar Vins hati-hati.
"Tempat tersebut bukan tempat yang cocok untuk anak kecil. Nona mungkin akan melihat sesuatu yang mengerikan dan nanti bisa mengalami mimpi buruk."
Eve mendongak menatapnya.
'Vins, gue dokter forensik. Yakali sama gituan takut.'
Dia menahan keinginan untuk menghela napas.
'Dulu gue bisa pulang kerja sambil makan gorengan setelah melihat kondisi jenazah yang jauh lebih parah dari sekadar orang babak belur.'
Namun wajah Eve tetap polos. Dia malah segera berbalik kepada Lucien yang sudah berjalan beberapa langkah.
"Papa!"
Lucien berhenti dan menoleh. Eve melepaskan tangan Vins, lalu berlari kecil menghampirinya.
"Papa pweaseee..." rengeknya sambil menarik ujung pakaian Lucien. "Ape mawu ikut. Ape macih lindu cama Papa."
Lucien menatap tangan kecil yang mencengkeram pakaiannya, lalu wajah Eve yang sengaja dibuat semelas mungkin.
Pria tersebut mengembuskan napas panjang. Baru beberapa hari mengenal anak angkatnya, Lucien sudah menemukan satu kesimpulan yang cukup merepotkan.
Aveline sangat keras kepala.
"Aku akan mengizinkanmu ikut," katanya akhirnya. Eve langsung tersenyum lebar, tetapi Lucien mengangkat satu jari sebelum dia sempat bersorak. "Dengan satu syarat. Kau tidak boleh menangis."
Eve mengangguk cepat.
"Iya!"
"Kalau takut, jangan berteriak."
"Iya."
"Dan tetap dekat denganku."
Eve kembali mengangguk.
Vins yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa menghela napas kecil. "Baiklah, Nona."
Tidak lama kemudian, mereka bertiga meninggalkan ruang kerja. Karena lorong menuju penjara bawah tanah cukup panjang dan tangga di beberapa bagian terlalu curam bagi kaki kecil Eve, Vins akhirnya menggendongnya. Eve menurut tanpa protes, kedua tangannya melingkar ringan di leher pelayan tersebut.
Semakin jauh mereka berjalan, suasana mansion perlahan berubah. Lorong yang biasanya terang mulai dipenuhi dinding batu dan lampu-lampu kecil yang cahayanya tidak terlalu kuat. Udara juga terasa lebih dingin. Setelah melewati sebuah pintu besi, tangga batu menurun semakin dalam.
Eve memperhatikan sekeliling dengan mata berbinar.
'Jadi penjara bawah tanah beneran kayak begini.'
Selama hidupnya dulu, tempat semacam ini hanya pernah dia lihat dalam film atau cerita fantasi. Sekarang dia justru sedang digendong melewati lorong sempit dengan dinding batu yang lembap dan pintu-pintu besi di kedua sisinya.
Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di depan sebuah ruangan. Dua orang ksatria berdiri berjaga di depan pintu. Begitu melihat Lucien datang bersama Vins yang menggendong seorang anak kecil, keduanya langsung saling melirik.
Salah satu dari mereka bahkan sempat berbisik kepada rekannya.
"Kenapa Duke membawa-"
"Diamlah."
Suara Lucien memotong ucapan tersebut. Tatapannya tajam hingga kedua ksatria langsung membungkam mulut.
Mereka segera menundukkan kepala.
"Maaf, Yang Mulia."
Eve yang melihat kejadian tersebut diam-diam tersenyum.
'Lucien lagi belain gue. Mampus lu pada'
Entah kenapa dadanya terasa sedikit hangat. Lucien tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya berjalan melewati kedua ksatria tersebut, diikuti Vins dan Eve.
Begitu pintu dibuka, aroma ruangan yang lebih pengap langsung menyambut mereka. Di dalam terdapat empat ksatria yang berjaga. Di tengah ruangan, seorang pria kurus duduk di atas kursi kayu dengan kedua tangan dan kakinya terikat. Wajahnya tampak babak belur, dengan beberapa luka dan memar yang terlihat jelas pada pipi serta sudut bibirnya.
Namun yang paling menarik perhatian Eve bukan luka-luka tersebut.
Kepala pria itu mendongak ke atas, tatapannya kosong, benar-benar kosong. Matanya terbuka, tetapi tidak terlihat seperti sedang memperhatikan sesuatu. Pandangannya hanya terpaku pada langit-langit ruangan seolah keberadaan orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak berarti.
Keempat ksatria yang berjaga segera berdiri lebih tegak ketika Lucien masuk.
"Yang Mulia Duke," sapa salah seorang dari mereka sambil menundukkan kepala. "Kami sudah menunggu kedatangan Anda."
"Bagaimana kondisinya?" Lucien mengangguk singkat.
"Masih sama seperti sebelumnya, Yang Mulia," jawab ksatria tersebut. "Tidak banyak bicara dan tidak memberikan jawaban yang berguna."
Eve masih berada dalam gendongan Vins. Matanya tidak lepas dari pria yang duduk di kursi.
'Bahkan sekarang dia masih seperti orang yang gak ada di sini.'
Jari Eve perlahan mencengkeram pakaian Vins. Eve merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan pria tersebut.
Lucien berjalan perlahan mendekati pria kurus tersebut. Bunyi langkah sepatunya terdengar jelas di lantai batu yang sunyi. Eve yang masih berada dalam gendongan Vins ikut memperhatikan setiap gerakannya.
Pria yang duduk di kursi kayu masih menengadah. Tidak ada perubahan pada wajahnya, bahkan ketika Lucien berhenti tepat di hadapannya. Kemudian, seolah baru tersadar dari sesuatu, kepala pria tersebut bergerak perlahan. Matanya turun dan langsung menatap Lucien. Dia tidak menyapa, tidak menundukkan kepala, bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda mengenali majikannya. Tatapannya hanya terpaku pada wajah Lucien dengan ekspresi kosong.
Beberapa detik berlalu sebelum bibirnya bergerak.
"Vaelith naer morai Endor," gumamnya pelan.
Lucien tidak bereaksi. Pria tersebut kembali mengulang kalimat yang sama, lalu melanjutkan dengan suara datar,
"Kael varin naer thalir Aerys. Sae vael kael nor, Elarion aelira."
Eve mengerutkan kening.
'Bahasa apa lagi ini?'
Pria tersebut menggumamkan rangkaian kalimat tadi beberapa kali. Suaranya tidak berubah, seolah dia hanya mengulang sesuatu yang sudah tertanam kuat di kepalanya.
Eve akhirnya menoleh kepada Vins.
"Vins, dia ngomong apa?" tanyanya pelan.
Vins memperhatikan pria tersebut beberapa saat sebelum menjawab, "Saya tidak tahu, Nona. Bahasa tersebut merupakan bahasa bangsa Elf. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui atau mampu memahaminya."
Eve mengedipkan mata.
"Termasuk Papa?"
"Mungkin, Nona." Vins melirik Lucien. "Mendiang Duchess memiliki darah Elf, meskipun hanya sebagian. Yang Mulia kemungkinan mengetahui bahasa tersebut."
Eve kembali memandang Lucien.
'Jadi cuma beberapa orang yang bisa ngerti?'
Lucien masih berdiri di hadapan pria kurus tersebut. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pucat yang penuh luka itu, pria tersebut kembali bergumam.
"Vaelith naer morai Endor..."
"Mahkota yang membusuk tidak layak untuk memerintah," ucap Lucien.
Eve langsung menoleh.
Lucien melanjutkan tanpa mengalihkan pandangan dari pria tersebut, "Anjing yang terikat tidak layak melindungi sang Kaisar. Saat keduanya jatuh, Elarion akan terbebas."
Tatapan Eve berpindah dari Lucien kepada pria kurus tersebut. Lucien menyelesaikan terjemahannya dengan suara datar. Setelah kalimat terakhir terucap, pandangannya tidak langsung kembali kepada pria yang terikat di kursi. Dia justru menoleh kepada Vins.
Keduanya saling bertatapan.
Tidak ada percakapan diantara mereka, Vins hanya mengamati ekspresi Lucien beberapa detik, lalu pandangannya bergeser kepada pria kurus di hadapan mereka. Lucien kembali meliriknya dan memberi anggukan kecil.
Eve yang memperhatikan dari gendongan Vins menyipitkan mata.
'...Mereka ngapain sih? kasih tau kek.'
Dari reaksi keduanya, Eve bisa menebak kesimpulannya. Pria yang mereka tangkap bukan pencuri biasa. Seseorang telah menyusup ke kediaman Duke, menyamar sebagai pekerja, lalu berusaha mendapatkan rincian seluruh penghuni mansion. Dan dari kalimat yang baru saja diterjemahkan Lucien, kemungkinan besar orang tersebut memiliki hubungan dengan organisasi yang berbahaya.
Vins akhirnya melangkah mendekati Lucien.
"Yang Mulia..." panggilnya pelan.
Namun sebelum Vins sempat melanjutkan perkataannya, Eve mencium aroma yang sama.
Hidung kecilnya bergerak sedikit. Aroma samar, lembap, dengan kesan manis yang aneh.
'Bau ini...'
Eve langsung teringat Marquess Guzman.
'Lagi-lagi bunga lilac.'
Tatapannya berpindah ke pria yang duduk di kursi. Tidak ada bunga di ruangan tersebut. Tidak ada vas, parfum, atau benda lain yang terlihat bisa menjadi sumber aroma.
'Kenapa baunya sama?'
Eve belum sempat memikirkan jawabannya ketika terdengar suara logam terhunus.
Sret! Cret!!
Lucien sudah menarik pedangnya. Gerakannya begitu cepat sampai Eve hanya sempat melihat kilatan bilah sebelum pedang tersebut menebas leher pria yang terikat.