Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Matahari perlahan mulai merangkak naik semakin tinggi menyengati ubun-ubun kepala Arga.
Keringat dingin bercampur keringat panas mengalir deras membasahi punggung kemeja flanel kotak-kotaknya.
Sudah hampir dua jam dia duduk bersila di atas karung beras bekas itu seperti patung bernapas.
Tidak ada satu pun pembeli yang sudi mampir ke lapaknya setelah insiden keributan dengan ibu berdaster bunga tadi pagi.
Bahkan orang-orang pasar yang berlalu lalang kini sengaja mengambil jalan memutar agak jauh.
Mereka seolah takut tertular penyakit gila jika berjalan terlalu dekat dengan lapak pemuda penjual tomat aneh tersebut.
"Ini namanya bukan jualan tapi sedang mempermalukan diri sendiri di depan umum." Arga bergumam pelan dengan nada suara yang sangat putus asa.
Dia menatap nanar ke arah sepuluh buah tomat kristal merah yang tersusun rapi di depannya.
Tomat-tomat itu masih memancarkan pendar cahaya yang indah dan terlihat sangat segar meski sudah dijemur selama dua jam.
Sayangnya keindahan itu tidak ada artinya jika tidak ada yang mau membelinya sama sekali.
Ibu penjual tempe di sebelahnya pun kini terus membuang muka dan enggan mengajak Arga mengobrol lagi.
Ibu itu sibuk melayani pelanggannya sambil sesekali melirik sinis ke arah Arga seolah Arga adalah parasit pengganggu.
"Dasar anak muda zaman sekarang, otaknya sudah pada miring semua karena terlalu lama menganggur." Terdengar suara bisikan kasar dari dua orang ibu-ibu yang sedang membeli tempe di sebelah.
"Maklum saja Bu, mungkin dia lagi stres berat karena ditolak kerja di kota makanya pulang kampung jadi orang kurang waras." Ibu penjual tempe itu ikut menimpali tanpa rasa bersalah.
Arga hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam menahan rasa panas yang menjalar di kedua telinganya.
Dia tidak berani membalas ucapan mereka karena dia tahu posisinya saat ini memang terlihat sangat tidak masuk akal.
Menjual satu buah tomat seharga seratus ribu rupiah di pasar tradisional desa adalah tingkat kebodohan yang hakiki.
"Sistem, apakah kamu tidak mau memberikan sedikit keringanan diskon harga untuk hari ini saja?" Arga mencoba bernegosiasi di dalam hatinya dengan suara memelas.
"Ayolah sistem, lima puluh ribu per buah saja sudah sangat mahal untuk ukuran desa ini."
[Peringatan: Harga produk sistem adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat oleh Host.]
[Waktu tersisa untuk menyelesaikan Misi Utama: 1 Jam 15 Menit.]
[Jika misi gagal, proses penghangusan seluruh saldo tunai Host akan langsung dieksekusi tanpa peringatan lanjutan.]
Suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi itu kembali bergema menghancurkan secercah harapan terakhir di hati Arga.
"Sialan, sistem ini benar-benar tidak punya hati nurani sama sekali kepada tuan rumahnya sendiri." Arga mengumpat kesal sambil meremas ujung karung berasnya.
Waktu terus berdetak tanpa ampun dan jalanan pasar tradisional itu kini mulai terasa semakin sesak dan panas.
Arga membayangkan saldo tiga puluh sembilan jutanya yang akan hangus menjadi abu dalam waktu satu jam lagi.
Uang yang rencananya akan dia gunakan untuk membangun kerajaan bisnis pertaniannya akan lenyap begitu saja.
Dia akan kembali menjadi gembel desa yang makan nasi kecap setiap hari sambil mendengarkan ocehan Bu Tejo.
"Tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja di sini seperti pecundang cacat." Arga mencoba menyemangati dirinya sendiri meski dadanya terasa sesak.
Dia menarik napas panjang lalu mulai memberanikan diri berteriak menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang lewat.
"Ayo dibeli tomat kristal supernya, dijamin manis dan bisa menyembuhkan segala macam pegal linu."
"Tomat impor asli tidak ada duanya di desa ini, silakan dilihat-lihat dulu barangnya."
Teriakan Arga itu justru membuat orang-orang pasar semakin menatapnya dengan pandangan jijik dan aneh.
Seorang bapak-bapak penjual ayam potong bahkan sampai berteriak menegurnya dari seberang jalan.
"Woi anak muda, kalau mau jualan obat kuat jangan di tempat sayuran sini, ganggu pemandangan saja kau ini."
Arga menutup mulutnya rapat-rapat dan kembali duduk bersila dengan bahu yang merosot lemas.
Ternyata berteriak seperti orang gila juga tidak membuahkan hasil apa-apa selain menambah rasa malunya.
Tin tin tin.
Suara klakson mobil yang sangat nyaring dan panjang tiba-tiba membelah kebisingan pasar tradisional tersebut.
Orang-orang pasar serentak menoleh ke arah jalan masuk utama dengan raut wajah keheranan dan kesal.