NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan setitik Penuh Romansa

Setelah obrolan penuh tawa malam itu, suasana akhirnya benar-benar mencair. Jingga dan Arin merasa lega karena semua pekerjaan berat selama beberapa hari terakhir sudah terselesaikan. Tapi di sisi lain, mereka juga sadar kalau selama ini waktu mereka habis hanya untuk urusan proyek.

“Rin, gimana kalau kita ambil napas sebentar? Maksudku… sebelum pulang besok ayo kita liburan sejenak,” ucap Jingga sambil menatap sahabatnya.

Arin langsung mengangguk, matanya berbinar.

“Gue setuju banget. Kita udah kerja gila-gilaan, Ji. Rasanya sayang banget kalau ke kota B cuma dapet stres dan rapat doang.”

Levin yang duduk di samping Jingga langsung menimpali, “Kalau kalian mau, ayo. Aku juga bisa atur semua biar nggak ada gangguan kerja.”

Ia menoleh ke Roy. “Roy, tolong atur ulang semua jadwalku. Cancel meeting, alihkan panggilan, urus semua biar dua hari ke depan aku benar-benar ingin bebas.”

Roy menunduk hormat, tapi kemudian tersenyum kecil. “Baik, Tuan.”

Akhirnya mereka sepakat: besok, tujuan mereka bukan kantor, bukan site proyek, bukan rapat—melainkan sebuah pantai yang letaknya hanya satu jam dari penginapan mereka. Dadakan, tanpa rencana detail, tapi justru itulah yang bikin suasananya terasa lebih menyenangkan.

Keesokan Paginya 

Pagi itu, matahari baru saja naik, memantulkan sinarnya ke permukaan laut yang berkilau keemasan. Udara terasa hangat dengan semilir angin laut yang membawa aroma asin khas pantai.

Arin melompat-lompat kecil begitu kakinya menyentuh pasir putih. “Akhirnya! Liburan juga!” teriaknya sambil merentangkan tangan ke udara. Jingga hanya terkekeh melihat sahabatnya yang seperti anak kecil baru dilepas ke taman bermain.

“Rin, jangan terlalu heboh, nanti orang ngira lo orang gila,” canda Jingga.

Levin yang berdiri di sebelahnya hanya menatap dengan senyum kecil. Tapi matanya tak lepas dari Jingga. Ia akhirnya berani menggenggam tangan Jingga sambil berbisik,

"Ayo kita menikmati hari ini sayang "

"Iya sayang " jawab jingga dengan penuh kelembutan.

Di sisi lain, Roy sudah siap dengan kacamata hitam dan kamera digantung di lehernya. “Oke, hari ini saya resmi jadi fotografer pribadi kalian. Jadi kalau ada yang mau gaya ala model majalah, silakan antre.”

“Antre?!” Arin langsung berpose dramatis, menirukan gaya supermodel. “Roy, angle gue harus bagus. Gue nggak mau kalah sama selebgram.”

Jingga dan Levin tertawa terpingkal-pingkal, sementara Roy dengan wajah sok serius memotret.

“Tenang, hasilnya pasti estetik, Rin. Bahkan bisa jadi foto kalender,” ucapnya kalem, padahal jelas-jelas menggoda.

Suasana benar-benar cair. Mereka berempat berjalan menyusuri tepi pantai, sesekali berlarian ketika ombak datang menggulung kecil. Arin dan Roy sibuk bercanda, sementara Jingga dan Levin memilih menikmati momen tenang, duduk di atas pasir dengan kaki menyentuh air laut.

Levin menatap laut sebentar, lalu berbisik pada Jingga, “Kamu tau nggak? Aku nggak pernah sesantai ini sebelumnya. Rasanya… kayak semua beban hilang.”

Jingga menatapnya lembut, lalu bersandar di bahunya. “Makanya, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Sesekali nikmati hidup, Vin.”

Dan untuk pertama kalinya, Levin hanya mengangguk tanpa membantah. Senyum tipisnya terlihat tulus, berbeda dari biasanya yang penuh gengsi.

Setelah puas berjalan menyusuri pantai, Arin tiba-tiba berlari sambil cipratin air laut ke arah Jingga.

“Ji, ayo main air! Jangan jaim!” teriaknya sambil tertawa lepas.

Jingga refleks menjerit kecil, “Rinnn! Rambut gue jadi basah, tau!”

Tapi justru itu bikin Arin makin semangat nyipratin.

Levin yang duduk manis tadinya, langsung berdiri sigap. “Hei, jangan ganggu calon istriku,” katanya dengan nada sok serius, lalu balas nyipratin air ke arah Arin.

“Woyyy! Lawan nggak seimbang, dua lawan satu!” Arin protes keras.

Roy yang dari tadi sibuk motret, akhirnya ikut nimbrung. “Tenang, Rin. Aku di pihakmu.”

Dan seketika pantai jadi arena perang ciprat-cipratan air. Jingga tertawa sampai perutnya sakit, Levin tanpa gengsi ikut berlarian, Roy tetap dengan gayanya yang kalem tapi licik suka nyiprat tiba-tiba, sementara Arin paling ribut teriak-teriak.

Setelah basah kuyup, mereka berempat akhirnya duduk di pasir, kehabisan tenaga. Jingga dan Levin bersandar satu sama lain, sementara Arin menatap istana pasir mini bikinannya yang… jujur saja, lebih mirip gundukan nasi tumpeng.

“Gimana? Bagus kan hasil karya seni gue?” Arin menunjuk bangunannya dengan bangga.

Roy pura-pura mengangguk serius. “Iya, Rin. Mirip… banget sama gunung meletus.”

“ROYYYY!!!” Arin langsung ngelempar pasir ke arah Roy, bikin semua orang ketawa ngakak lagi.

Suasana berubah lebih hangat ketika matahari mulai turun, langit oranye keemasan. Mereka duduk berempat, menikmati senja. Angin laut berhembus lembut, membawa rasa damai.

Levin menggenggam tangan Jingga erat, kali ini tanpa canggung. “Kalau ada momen yang pengen aku simpan selamanya… mungkin ya kayak gini.”

Jingga tersenyum kecil, menatap laut. “Aku juga, Vin. Rasanya semua perjuangan kemarin terbayar.”

Arin menepuk bahu Roy sambil berbisik, “Liat tuh, drama Korea beneran depan mata.”

Roy hanya menahan senyum. “Untung bukan drama cemburu lagi.”

Arin langsung ngakak, “Hahaha iya, kalau nggak, gue udah siap popcorn!”

Tawa mereka kembali pecah, menutup hari dengan keceriaan yang nggak akan mereka lupakan.

Malam itu mereka memutuskan tetap di pantai. Roy dengan telaten menyalakan api unggun kecil, sementara Arin sibuk memanggang marshmallow dengan gaya sok chef.

“Ji, Vin, sini duduk deket api, biar nggak kedinginan,” kata Arin sambil sibuk meniup marshmallow yang gosong setengah.

Jingga duduk bersebelahan dengan Levin. Angin malam yang lembut bikin suasana makin intim. Levin menatap Jingga lama, senyumnya lembut tapi matanya penuh makna.

“Sayang…” bisiknya pelan.

Jingga menoleh, “Hm?”

Levin mendekat, wajahnya semakin dekat, sampai Jingga bisa merasakan hembusan napasnya.

Dan sebelum Jingga sempat mengalihkan pandangan, Levin langsung mengecup bibirnya—hangat, lembut, penuh rasa rindu yang tertahan berhari-hari.

Arin yang baru balik badan untuk kasih marshmallow langsung terbelalak.

“ASTAGAAAAA!!! GUE NGGAK MAU LIAT INI!!!”

teriaknya sambil nutup mata dengan kedua tangan, tapi tetap mengintip lewat sela jarinya.

Roy yang duduk di sebelahnya cuma geleng-geleng, menahan tawa.

“Adegan FTV depan mata gue!” jawab Arin heboh, wajahnya merah padam.

Jingga buru-buru mendorong pelan dada Levin sambil menutupi wajahnya yang panas. “Vin! Ada Arin sama Roy, malu tau!”

Levin cuma terkekeh kecil, tanpa menyesal sedikit pun. “Biarin aja, biar semua orang tau kalau kamu punya aku.”

Arin langsung teriak lagi sambil menutupi telinganya.

“GUE NGGAK DENGER! GUE NGGAK DENGER! ROY TOLONG !!!”

Roy akhirnya ngakak keras. “Ya ampun Rin, kayak anak SMP baru pertama kali liat orang pacaran aja.”

Suasana jadi pecah tawa, tapi di balik itu, Jingga dan Levin saling menatap dengan rasa yang jauh lebih dalam daripada sekadar canda.

Setelah tawa heboh Arin agak mereda, akhirnya mereka semua duduk melingkar dekat api unggun. Suasana jadi lebih tenang, hanya ada suara ombak dan api yang berderak.

Arin masih manyun sambil peluk bantal kecil.

“Huh, trauma gue liat orang pacaran depan mata.”

Roy langsung nyeletuk sambil tersenyum tipis, “Trauma apanya… kamu iri ya ..”

“Royyy! Jangan asal ngomong dong!” Arin menepuk bahunya dengan wajah merah.

Jingga tertawa kecil, akhirnya meraih tangan Arin. “Rin, maaf ya.”

“Hmm, yaudah deh. Tapi jangan sering-sering di depan gue! Bisa Naik darag gue .” Arin pura-pura cemberut, bikin semua tertawa lagi.

Levin menghela napas panjang, lalu menatap Jingga penuh sayang.

“Aku bener-bener lega bisa ada di sini bareng kamu, Ji. Selama ini aku kebanyakan mikir aneh-aneh. Padahal, yang aku butuhin cuma momen kayak gini.”

Jingga tersenyum, matanya berkaca-kaca sedikit. “Aku juga, Vin. Kerja keras beberapa hari ini, rasanya semua capek kebayar.”

Roy yang biasanya kalem ikut menimpali, “Ya, kalian berdua memang pasangan yang cocok. Tapi jangan lupa, ada aku sama Arin juga di sini.”

Arin langsung angkat tangan kayak anak kecil, “Iyaaa, setuju! Kita harus bikin momen ini bukan cuma buat romantis-romantisan, tapi juga buat kenangan kita berempat. Kan jarang banget bisa bareng kayak gini.”

Suasana jadi hangat. Mereka ngobrol ngalor-ngidul—dari kerjaan, mimpi masa depan, sampai cerita lucu masa kecil. Sesekali suara tawa mereka pecah bersamaan dengan suara ombak yang menghantam pantai.

Hingga akhirnya, Jingga bersandar di bahu Levin, Arin ketawa-ketawa kecil dengan Roy, dan malam itu jadi salah satu momen yang tak terlupakan untuk mereka semua.

Arin yang dari tadi geli sendiri melihat romansa Levin dan Jingga akhirnya berdecak pelan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Astaga, gue gak kuat lagi liat beginian. Roy, ayo ikut gue beli makanan!” katanya tiba-tiba sambil menarik tangan Roy.

Roy agak kaget, “Eh? Kita kan udah banyak makanan, Rin.”

Arin langsung mencari alasan cepat, “Ya kan… takut kurang. Lagian aku pengen makan jagung bakar, siapa tau ada yang jual di pinggir pantai.”

Roy menatapnya sebentar, bibirnya terangkat tipis, seakan paham kalau alasan itu cuma kedok. Tapi dia tetap mengikuti langkah Arin tanpa banyak komentar.

“Baiklah, kalau kamu yang minta,” ucapnya singkat.

Arin berusaha menahan senyumnya, tapi wajahnya memerah. “H-hah? Iya dong… kan mumpung lagi malam-malam gini, enak banget makan jagung bakar.”

Jingga yang memperhatikan dari jauh langsung tersenyum penuh arti sambil berbisik ke Levin,

“Liat deh, Arin itu sok banget. Padahal alasannya jelas cuma biar bisa berduaan sama Roy.”

Levin mengangkat alis, lalu terkekeh kecil.

“Heh, jangan-jangan mereka sebenernya sama aja kayak kita, Ji. Cuma belum mau ngaku.”

Mereka berdua saling pandang dan tertawa kecil, sementara di kejauhan Arin masih sibuk menutupi rasa malunya dengan berbagai alasan ke Roy yang hanya tersenyum tenang menanggapinya.

---

Setelah cukup jauh meninggalkan Jingga dan Levin, Arin jadi kikuk sendiri. Ia bingung bagaimana harus membuka obrolan dengan Roy.

“Hm… aku nggak nyangka hari ini tiba-tiba bisa ketemu kamu,” ucap Arin sambil memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan degup jantungnya.

Roy tersenyum tipis. “Iya, walaupun sempat repot karena drama Tuan Levin tadi, tapi di balik itu… aku senang bisa ketemu sama kamu.”

Jawaban itu sukses bikin Arin salah tingkah.

“Eh—maaf ya, aku sebenarnya cuma mau kasih ruang buat Tuan Levin sama Jingga biar bisa berduaan. Jadi aku… ngajak kamu jalan,” katanya beralasan, padahal jelas sekali kalau itu hanya cara Arin untuk bisa lebih dekat dengan Roy.

Roy menatapnya lembut. “Aku paham kok, Rin. Jadi tenang aja.”

Mereka pun memilih duduk di bawah pohon pinggir pantai. Angin laut berhembus pelan, membawa suasana jadi lebih hangat. Tiba-tiba, sebuah ranting kecil jatuh tepat di rambut Arin.

Refleks, Roy meraih ranting itu dan menyibakkannya, lalu tangannya dengan lembut membelai rambut Arin sebentar.

Arin langsung mematung, matanya membesar—speechless. Jantungnya seolah mau meloncat keluar, dan ia buru-buru mencoba menetralkan suasana.

“Ma… makasih, Roy…” ucapnya terbata-bata.

“Sama-sama, Arin.” Roy menambahkan dengan sedikit iseng, mencubit pelan pipi Arin.

Arin spontan menutup pipinya dengan kedua tangan. Wajahnya sudah merah padam, seperti kepiting rebus. Ia menunduk, semakin salting sendiri, sementara Roy hanya tersenyum melihat tingkahnya.

----

Malam kian larut. Debur ombak terdengar menenangkan, sementara angin pantai meniup lembut rambut Jingga.

Levin berdiri di belakangnya, matanya tak lepas dari sosok wanita yang membuat pikirannya kacau dua hari terakhir. Ia mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya sejengkal.

Levin kemudian menggenggam tangan Jingga, .

“Aku nyaris gila dua hari ini karena terlalu banyak mikirin kamu,” suaranya bergetar jujur, “aku cemburu bodoh… tapi itu karena aku takut kehilangan kamu.”

Mata Jingga melembut, ia mengangkat tangannya menyentuh pipi Levin. “Kamu nggak akan kehilangan aku, Vin. Aku di sini… untukmu.”

Levin menatapnya lama, seakan ingin memastikan kata-kata itu nyata. Tangannya perlahan mengangkat wajah Jingga, jemarinya membelai pipi lembutnya. “Aku benar-benar nggak bisa tanpa kamu.”

Tanpa menunggu jawaban, Levin menunduk dan mencium bibir Jingga. Awalnya lembut, hati-hati… tapi kemudian ciuman itu semakin dalam, penuh emosi dan kerinduan yang tertahan.

Jingga sempat terkejut, tapi ia membalas ciuman itu, menutup matanya, membiarkan dirinya larut. Angin pantai meniup rambut mereka, ombak seakan menjadi musik pengiring.

Levin memeluk pinggang Jingga, menariknya lebih dekat, seolah takut ia akan pergi. Ciuman itu panjang, intens, tapi tetap sarat rasa sayang. Hingga akhirnya mereka berdua melepaskan dengan napas tersengal.

Jingga menunduk, wajahnya memerah, bibirnya masih bergetar kecil. “Kamu keterlaluan…” ucapnya dengan senyum malu-malu.

Levin mengusap rambutnya sambil tertawa pelan. “Kalau itu salah… aku nggak mau benar.”

Mereka pun berpelukan erat di bawah langit malam, seakan dunia hanya milik mereka berdua.

Malam itu, langit dipenuhi bintang yang berkilau seakan ikut merayakan kebahagiaan mereka.

Ombak berdebur pelan, menjadi musik alami yang menemani dua pasangan yang sedang larut dalam dunia masing-masing.

Levin dan Jingga duduk berdampingan di bibir pantai, jemari mereka saling bertaut erat, seakan takut terlepas. Sementara itu, tak jauh dari mereka, Arin dan Roy berbagi tawa kecil, menikmati kebersamaan sederhana yang terasa begitu berarti.

Angin laut berhembus membawa kesejukan, menenangkan hati yang lelah oleh perjalanan panjang. Dan malam itu menjadi malam indah yang menutup kisah liburan singkat mereka — malam di mana cinta, persahabatan, dan kebahagiaan berpadu menjadi satu.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!