NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Uang Diurus Istri

"Kami sedang mengerjakan renovasi kecil," jawab Nathan tanpa berkedip.

Kevin melihat meteran di tangannya, lalu menatap Karina. "Ko Nathan kuliah finansial, bukan desain interior."

"Aku serba bisa."

"Kenapa menginap?"

Karina menyela, "Dia tidak menginap. Datang pagi untuk membantu. Cici sempat hampir jatuh di tangga."

Kevin langsung lupa mencurigai Nathan. "Cici jatuh? Harus ke dokter?"

"Sudah diperiksa. Cuma perlu istirahat."

Nathan menahan diri agar tidak menambahkan bahwa tiga bayi mereka baik-baik saja. Kevin tinggal setengah jam, memeriksa jendela dan mengisi kulkas, lalu kembali ke kampus bersama Nathan.

Sebelum pergi, Nathan berbisik, "Malam ini aku kembali."

"Jangan. Kevin mengawasi."

"Aku tunggu dia tidur."

"Kamu benar-benar seperti pencuri."

"Aku mencuri hati, bukan barang."

Karina menutup pintu di wajahnya.

Siang itu, Nathan mendapat panggilan dari Ko Steven. Hartawan Group mencari wajah baru untuk kampanye ponsel pasangan. Kontrak dengan Julian tertunda karena jadwal dan persyaratan eksklusivitas. Steven menawarkan Nathan sebagai solusi, sekaligus cara membuat sepupunya menghasilkan uang setelah rekening keluarga dibekukan.

"Aku nggak butuh bantuan," kata Nathan.

"Kamu punya tiga tanggungan sebelum lulus," balas Steven. "Jangan sok mandiri dengan uang receh."

Nathan menegang. "Dari mana Ko tahu?"

"Aku belum tahu apa-apa. Sekarang aku tahu ada sesuatu."

Nathan memutus sambungan, tetapi tawaran itu masuk akal. Dia mengikuti tes kamera sore itu, menandatangani kontrak setelah klausul diperiksa, dan meminta seluruh pembayaran masuk ke rekening yang bisa dikelola Karina.

Studio Hartawan Group berada di gedung kaca kawasan bisnis. Nathan datang dengan jaket kampus, membuat tim kreatif meragukannya sampai kamera menyala. Dalam tiga pengambilan, dia mengubah senyum malas menjadi tatapan tajam yang membuat ruangan diam.

Konsep iklan menampilkan ponsel pasangan dengan slogan tentang dua orang yang tetap terhubung. Nathan meminta satu perubahan pada adegan akhir: alih-alih menatap model perempuan, dia menatap kamera sambil mengetik pesan.

Untuk Kak yang selalu memblokirku.

Sutradara menyukai ekspresinya, tanpa tahu siapa yang ada dalam pikirannya.

Setelah pemotretan, staf keuangan menjelaskan nilai kontrak, pajak, jadwal pembayaran, dan hak penggunaan gambar. Nathan tidak asal tanda tangan. Dia mengirim dokumen kepada pengacara keluarga, mencoret klausul yang terlalu luas, lalu baru menyetujui.

"Penerima rekening berbeda dari nama talent," kata staf.

"Buat surat kuasa pengelolaan. Semua transparan."

"Hubungannya?"

Nathan menjawab tanpa ragu, "Calon istri."

Staf itu berhenti mengetik, tetapi Nathan tidak memberi penjelasan lain.

Malamnya, Nathan datang membawa kartu bank dan map kontrak.

"Ini apa?" tanya Karina.

"Aku dapat pekerjaan endorse."

"Kamu influencer?"

"Kadang."

"Berapa pengikutmu?"

Nathan menunjukkan akun yang selama ini tidak pernah Karina lihat. Jumlah pengikutnya membuat mata Karina membesar.

"Kenapa mahasiswa punya pengikut sebanyak ini?"

"Wajahku menjual."

"Tidak tahu malu."

Nathan duduk di sampingnya dan menyerahkan kartu. "Mulai sekarang, uangnya kamu urus."

Karina mengembalikan kartu. "Aku bukan manajermu."

"Istri biasanya pegang uang."

"Aku bukan istrimu."

"Calon."

"Nathan, ini serius."

"Aku juga serius. Rekeningku dibatasi keluarga. Aku mau membuktikan bisa membiayai kalian sendiri."

Karina membuka kontrak. Nama Hartawan Group membuatnya berhenti. "Kamu kenal pemilik perusahaan ini?"

"Ko Steven bekerja di sana."

"Pekerjaan apa?"

"Lumayan tinggi."

Nathan menghindari tatapan. Karina tahu ada bagian yang disembunyikan, tetapi belum punya tenaga untuk mengejar.

"Aku tetap tidak mau memegang uangmu."

"Kalau aku belanja sembarangan, marahi. Kalau bayi butuh sesuatu, pakai. Kalau kamu butuh sesuatu, juga pakai."

"Aku punya penghasilan."

"Aku tahu kamu mandiri. Izinkan aku ikut bertanggung jawab."

Karina mengambil buku catatan dan membuat perhitungan. Biaya kontrol, obat, kemungkinan rawat inap, kebutuhan pindah, dan dana darurat ditulis dalam kolom. Nathan mengamati dengan dagu bertumpu pada bahunya.

"Jangan dekat-dekat," tegur Karina.

"Dokter melarang yang lain, bukan melihat anggaran."

"Kamu mengganggu hitungan."

"Aku suka wangi rambutmu."

Karina menggeser kursi. Nathan ikut bergeser. Akhirnya dia menekan ujung pulpen ke kening Nathan agar menjauh.

"Uang ini tetap milikmu. Aku hanya catat pengeluaran untuk bayi."

"Dan kebutuhanmu."

"Tidak."

"Kalau kamu harus berhenti kerja sementara?"

Pertanyaan itu membuat Karina diam. Dia belum berani memikirkan kehilangan penghasilan, apalagi bergantung pada seseorang. Nathan menutup tangan Karina yang memegang pulpen.

"Memegang uangku bukan berarti kamu lemah. Itu berarti aku percaya padamu."

"Kepercayaan tidak dibangun dalam beberapa minggu."

"Kalau begitu anggap uang ini cicilan kepercayaan pertama."

Karina tertawa kecil. Dia membuat rekening terpisah khusus kebutuhan medis dan menyimpan setiap bukti transaksi. Nathan menyetujui tanpa protes.

Kali ini tidak ada godaan dalam suaranya. Nathan meletakkan kartu di atas hasil USG yang disimpan Karina dalam map bening.

"Seluruh milikku aku titip ke kamu."

Karina memandangi kartu itu. Andri selama bertahun-tahun menyembunyikan bonus, utang kartu kredit, bahkan biaya apartemen Tania. Nathan, yang baru mengenalnya beberapa minggu, menyerahkan akses pada penghasilan pertamanya.

"Kamu bisa menyesal."

"Kalau kamu kabur bawa uangku, aku punya alasan mengejar."

"Jadi ini trik?"

"Sedikit."

Nathan mengaktifkan aplikasi bank di ponsel Karina, tetapi saldo belum masuk. Dia menjelaskan proses: kontrak lama Julian dihentikan sesuai klausul, kontrak pengganti ditandatangani, materi kampanye dijadwalkan, lalu bagian keuangan memproses pembayaran.

"Jangan pakai sebelum semua administrasi selesai," kata Karina.

"Lihat? Kamu sudah jadi manajer."

Ponsel Nathan berdering. Ko Steven menelepon lagi. Nathan mengangkat sambil berjalan ke balkon.

"Uangnya masuk rekening siapa?" terdengar suara Steven dari seberang.

"Perempuanku."

"Kamu gila? Kalian baru kenal."

"Aku tanggung sendiri."

"Aku mau lihat perempuan macam apa yang membuatmu begini."

Nathan menutup pintu balkon agar Karina tidak mendengar semuanya. Namun Karina melihat rahangnya mengeras dan menyadari dunia Nathan mulai mengetuk pintu apartemen kecil mereka.

Notifikasi bank masuk ke ponselnya.

Karina melihat deretan angka, lalu menghitung nolnya sekali, dua kali.

Jumlah itu jauh dari upah endorse mahasiswa biasa.

Dua miliar rupiah.

Karina menelepon layanan bank untuk memastikan bukan kesalahan sistem. Setelah petugas mengonfirmasi transfer sah dari Hartawan Group, dia memeriksa kontrak sekali lagi. Nilainya memang tertulis di sana, tetapi tadi dia mengira salah membaca.

"Nathan," panggilnya.

Nathan membuka pintu balkon. "Kenapa?"

"Dua miliar bukan uang saku."

"Makanya jangan dihabiskan buat mi instan."

"Siapa kamu sebenarnya?"

Senyumnya muncul, tetapi mata gelap itu menyimpan pintu lain yang belum mau dibuka.

Dia mengangkat wajah ke arah Nathan.

Pemuda ini jelas bukan siapa-siapa.

Di meja, kartu bank itu menindih gambar tiga denyut kecil mereka. Untuk pertama kalinya, Karina tidak melihat uang tersebut sebagai jebakan, melainkan janji nyata yang terlalu besar untuk diabaikan begitu saja pada malam yang terasa panjang itu bagi mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!