NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Taksi online yang ditumpangi Raka berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah megah di kawasan elit Pondok Indah.

Rumah itu berdesain minimalis modern dengan tiga lantai dan cat dominan warna putih bersih.

"Ini beneran rumah gue sekarang?" gumam Raka menatap takjub dari balik kaca jendela taksi.

Ia membayar ongkos taksinya lalu turun membawa tas selempang yang berisi dokumen kepemilikan rumah tersebut.

Seorang satpam paruh baya berpakaian rapi keluar dari pos jaga dan menatap Raka dengan tatapan penuh selidik.

"Maaf Mas, mau cari siapa ya? Ini kediaman pribadi," tegur satpam itu dengan nada sopan tapi tegas.

"Saya Raka Pak, pemilik baru rumah ini mulai hari ini," jawab Raka sambil tersenyum ramah.

Satpam itu mengerutkan dahinya terlihat sangat tidak percaya melihat penampilan Raka yang kelewat santai.

"Jangan bercanda Mas, rumah ini harganya puluhan miliar dan baru saja dibeli oleh bos besar dari perusahaan properti."

"Bos besar itu namanya Sasa kan? Nah dia beli rumah ini atas nama saya Pak," jelas Raka mengeluarkan map cokelat dari tasnya.

Ia menyodorkan sertifikat rumah dan surat kuasa dari Grup Farmasi Bintang ke hadapan satpam tersebut.

Mata satpam itu membelalak lebar membaca nama Raka Mahesa tercetak tebal di atas kertas berhologram resmi itu.

"Y-Ya ampun! Maafkan kelancangan saya Tuan Raka, saya benar-benar tidak tahu kalau Anda majikan baru saya!"

Satpam itu langsung membungkuk hormat berkali-kali dengan wajah pucat pasi ketakutan akan dipecat.

"Santai saja Pak, saya bukan bos yang suka marah-marah kok," tawa Raka menepuk pundak satpam itu pelan.

"Siapa nama Bapak dan sudah berapa lama kerja jaga rumah ini?" tanya Raka mencoba akrab.

"Nama saya Yanto Tuan, saya sudah ditugaskan menjaga rumah kosong ini sejak tiga bulan lalu oleh agen properti."

"Bagus Pak Yanto, mulai sekarang gaji Bapak saya naikkan dua kali lipat asalkan Bapak jaga rahasia siapa pemilik rumah ini."

Pak Yanto langsung tersenyum sangat lebar hingga gigi palsunya terlihat jelas.

"Terima kasih banyak Tuan Raka! Saya bersumpah akan tutup mulut rapat-rapat meski diancam pistol sekalipun!"

Raka mengangguk puas lalu meminta Pak Yanto membuka gerbang utama yang menjulang tinggi itu.

Ia melangkah masuk melewati taman depan yang sangat luas dan tertata rapi seperti taman istana.

Tujuan pertama Raka bukanlah pintu utama rumah, melainkan garasi besar yang terletak di sayap kiri bangunan.

Ceklek.

Raka menekan tombol di remot kunci yang diberikan Bima tadi pagi dan pintu garasi otomatis itu terbuka perlahan.

Wush.

Aroma khas mobil baru dan AC garasi langsung menyapa penciuman Raka.

Di dalam ruangan luas itu terparkir tiga buah mobil super mewah yang bodinya mengkilap memantulkan cahaya lampu.

Ada sebuah mobil sport merah ceper bermerek Ferrari, sebuah sedan Porsche hitam elegan, dan satu mobil SUV Range Rover putih besar.

"Gila, Sasa beneran nggak main-main kalau ngasih hadiah," gumam Raka menelan ludah melihat koleksi harta karun otomotif itu.

Raka berjalan mendekati Ferrari merah itu dan mengelus kap mesinnya yang mulus dengan tangan gemetar.

Kemarin ia masih tidur beralaskan kardus bau di pinggir jalan, sekarang ia punya mobil yang harganya lebih mahal dari nyawanya sendiri.

"Kayaknya gue pakai yang Range Rover putih ini aja dulu buat keseharian," putus Raka beralih ke mobil SUV besar tersebut.

"Mobil sport merah ini terlalu mencolok buat gue yang masih mau main aman dari incaran musuh."

Raka masuk ke dalam rumah melalui pintu garasi dan langsung disambut oleh ruang tamu yang sangat megah.

Sofa kulit asli, lampu gantung kristal raksasa, dan televisi pintar berukuran bioskop ada di sana.

Ia melempar tubuhnya ke atas sofa empuk itu lalu merentangkan kedua tangan dan kakinya dengan sangat lega.

"Akhirnya gue bisa ngerasain hidup tenang sebagai orang super kaya di Jakarta."

Namun baru sepuluh menit Raka memejamkan matanya untuk menikmati AC sentral rumah barunya, sebuah suara berbunyi nyaring di kepalanya.

Ting! Ting! Ting!

Suara itu terdengar sangat keras dan panik seperti alarm kebakaran.

Raka langsung terbangun dan membuka matanya dengan kaget.

Sebuah layar biru transparan berukuran sangat besar muncul berkedip-kedip di depan wajahnya memancarkan cahaya merah peringatan.

[Peringatan Darurat Sistem!]

[Wilayah Kekuasaan Utama di Dunia Kuno sedang diserang oleh entitas musuh bersenjata.]

[Status Utusan Karta: Bahaya Kritis. Peluang kematian 89 persen jika tidak segera ditolong.]

"Apa-apaan ini? Diserang siapa lagi sih desa bapak tua itu?" umpat Raka kesal karena waktu santainya diganggu.

Raka langsung duduk tegak dan membaca baris teks selanjutnya yang muncul di layar merah tersebut.

[Analisis Ancaman: Kelompok Bandit Gunung Berdarah. Jumlah musuh sekitar lima puluh orang membawa senjata tajam beringas.]

"Bandit gunung? Sialan, pasti mereka mencium bau uang setelah desa itu mulai mengumpulkan ginseng secara massal."

Raka mengusap wajahnya kasar menyadari bahwa memonopoli desa kuno itu juga membawa risiko keamanan yang sangat besar.

Kalau Karta mati dibunuh bandit, pasokan ginsengnya akan terputus dan bisnisnya dengan Sasa akan berantakan total.

"Gue nggak bisa cuma bawa pisau lipat atau korek api kalau musuhnya lima puluh bandit pembunuh beneran," gumam Raka berpikir cepat.

Orang primitif di alun-alun desa bisa ditipu dengan trik sulap melayang, tapi bandit gunung yang kejam pasti tidak akan ragu membacoknya.

Ia butuh senjata modern yang bisa melumpuhkan orang dalam sekejap tanpa ampun.

Raka segera berdiri dan berlari keluar rumah menuju garasi.

Ia menyambar kunci Range Rover putihnya lalu masuk ke bangku kemudi.

Brummm!

Suara mesin V8 mobil mewah itu meraung gahar saat Raka menginjak pedal gasnya.

Pak Yanto sang satpam buru-buru membuka gerbang melihat majikan barunya keluar dengan tergesa-gesa.

"Mau ke mana Tuan Raka? Ada yang bisa saya bantu belikan?" teriak Pak Yanto dari pos jaga.

"Saya ada urusan mendadak Pak, tolong jaga rumah baik-baik ya!" balas Raka menurunkan kaca jendelanya sedikit.

Mobil putih besar itu melesat cepat membelah jalanan ibu kota menuju sebuah toko perlengkapan militer dan taktis yang sering ia lihat di pusat kota.

Dulu Raka sering diusir kalau berani numpang berteduh di depan toko tersebut, tapi sekarang ceritanya sudah berbeda.

Ceklek.

Raka mendorong pintu kaca toko berlabel Tactical Gear Pro itu dan langsung masuk ke dalam.

Seorang pria bertato berbadan tegap yang menjaga kasir menatap Raka dengan pandangan menilai.

"Selamat siang, cari perlengkapan apa Mas? Buat naik gunung atau airsoft gun?" sapa penjaga toko itu dengan nada datar.

"Siang Bang. Saya butuh alat kejut listrik stun gun dengan voltase paling tinggi yang Abang punya," jawab Raka tanpa basa-basi.

Mata penjaga toko itu sedikit melebar mendengar permintaan Raka yang sangat spesifik dan berbahaya itu.

"Stun gun voltase tinggi itu barang khusus Mas, biasanya cuma buat aparat atau petugas keamanan berlisensi."

Raka tidak mau berdebat panjang karena nyawa Karta di dunia kuno sedang dalam hitungan waktu.

1
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!