Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Hati
"Mas, jaga toko bentar ya. Aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Naresta sambil melepaskan celemek yang dikenakannya.
Elvan yang sedang menyusun beberapa bungkus mi di rak langsung menoleh.
"I-iya... S-sayang."
Naresta tersenyum hangat.
"Kalau ada pelanggan yang mau bayar, nanti Mas panggil Mbak Aya ya."
"I-iya."
Naresta mengusap pelan lengan suaminya sebelum berjalan menuju kamar mandi yang berada di belakang toko.
Kini, Elvan berdiri sendirian di depan meja kasir. Ia sesekali melirik ke arah pintu belakang, memastikan istrinya benar-benar sudah masuk.
Tak lama kemudian, bel pintu toko berbunyi.
Ting...
Seorang pria paruh baya bersama istrinya masuk ke dalam toko.
"Permisi."
Elvan langsung menoleh.
"S-selamat... d-datang."
Pasangan itu mengangguk pelan, lalu mulai memilih beberapa kebutuhan rumah tangga. Namun, saat melihat Elvan berdiri di belakang meja kasir, keduanya saling berpandangan.
"Itu suaminya Naresta, ya?" bisik sang istri.
"Iya. Katanya penyandang autisme," balas suaminya dengan suara pelan.
Mereka mengira Elvan tidak mendengar.
Padahal, setiap kata yang mereka ucapkan masuk jelas ke telinganya.
Elvan hanya menundukkan kepala. Tangannya mulai meremas ujung bajunya pelan, tetapi ia tetap berusaha tersenyum sambil menunggu Naresta kembali.
Setelah beberapa menit kemudian, pasangan itu membawa seluruh belanjaan mereka ke meja kasir.
"Ini semua belanjaannya. Totalnya berapa, ya?" tanya sang suami.
Elvan mulai menghitung satu per satu barang yang ada di hadapannya. Ia melakukannya dengan teliti, memastikan tidak ada yang terlewat.
Beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajahnya menatap pasangan itu.
"T-totalnya... s-seratus e-enam p-puluh... l-lima r-ribu."
"Seratus enam puluh lima ribu?" tanya pria itu memastikan.
"I-iya," jawab Elvan pelan sambil menganggukkan kepalanya.
Pria itu pun menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah kepada Elvan.
Elvan menerimanya, lalu menghitung uang kembalian dengan hati-hati. Jemarinya bergerak perlahan agar tidak salah menghitung.
Namun, sikapnya yang lambat justru membuat sang istri mulai mengembuskan napas tidak sabar.
"Lama juga, ya..." gumamnya pelan.
Mendengar gumaman itu, tangan Elvan seketika berhenti. Wajahnya tampak gugup, khawatir ia melakukan kesalahan.
Tak lama kemudian, Naresta kembali dari kamar mandi dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
"Mas, kenapa diam? Pelanggannya sudah dilayani?"
Elvan hanya terdiam sambil menggenggam uang dua ratus ribu di tangannya.
Belum sempat Naresta bertanya lagi, pelanggan wanita itu lebih dulu angkat bicara.
"Dari tadi uang kembaliannya belum dikasih."
Naresta langsung menoleh kepada suaminya.
"Oh, benarkah? Berapa total semuanya, Mas?"
"S-seratus... e-enam p-puluh ribu," jawab Elvan pelan.
"Lalu uang yang diberikan Ibu berapa?"
"D-dua... r-ratus ribu."
Naresta tersenyum lembut.
"Jadi kembaliannya berapa, Mas?"
"E-empat... p-puluh ribu."
Naresta mengangguk pelan.
"Iya, benar."
Ia kemudian mengambil uang kembalian dan menyerahkannya kepada pelanggan.
"Ini kembaliannya empat puluh ribu, Bu. Maaf sudah menunggu."
Pelanggan wanita itu menerima uang tersebut, lalu menghela napas pelan.
"Mbak, saya sarankan lebih baik suaminya jangan jaga toko. Bikin susah saja."
Senyum di wajah Naresta perlahan memudar.
"Maaf kalau tadi membuat Ibu menunggu," ucapnya dengan sopan. "Mas Elvan memang membutuhkan waktu lebih lama saat menghitung. Karena itu saya selalu mengajarinya untuk memastikan semuanya benar, daripada terburu-buru tetapi salah."
Wanita itu hanya mendecak pelan.
"Ya tetap saja, jadi merepotkan pelanggan."
Naresta menatap wanita itu dengan tenang.
"Terima kasih atas masukannya, Bu. Tapi bagi saya, mengajarkan suami saya untuk mandiri jauh lebih penting. Selama dia tidak melakukan kesalahan, saya akan terus mendukungnya."
"Dasar wanita aneh," gumam pelanggan wanita itu dengan nada sinis. Ia lalu menoleh kepada suaminya.
"Mas, lain kali kita ke toko sebelah saja. Di sini pelayanannya lama sekali."
"Iya," sahut suaminya singkat.
Keduanya pun pergi meninggalkan toko. Naresta hanya mengembuskan napas pelan. Senyum di wajahnya perlahan memudar. Meski sudah terbiasa mendengar ucapan seperti itu, tetap saja ada rasa sakit yang sulit ia sembunyikan.
Di sampingnya, Elvan masih menundukkan kepala.
"M-maaf..." ucapnya lirih.
Naresta langsung menoleh. Melihat wajah suaminya yang dipenuhi rasa bersalah, hatinya justru semakin sesak.
Ia menggenggam tangan Elvan dengan lembut.
"Mas nggak salah apa-apa."
"T-tapi... a-aku l-lama."
Naresta menggeleng pelan sambil tersenyum hangat.
"Nggak apa-apa. Yang penting Mas sudah berusaha. Aku lebih bangga melihat Mas berhitung pelan tapi benar, daripada terburu-buru lalu salah."
Elvan menatap istrinya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"A-aku... m-malakin k-kamu."
Naresta mengusap pelan punggung tangan suaminya.
"Jangan bilang begitu lagi, ya. Mas itu bukan beban buat aku. Mas adalah suami yang selalu membantu aku setiap hari."
Mendengar ucapan itu, Elvan hanya mengangguk pelan. Namun, jauh di dalam hatinya, kata-kata pelanggan tadi masih terus terngiang, membuat dadanya terasa sesak.
"Udah, jangan dipikirin lagi, ya," ucap Naresta lembut sambil mengusap pelan lengan suaminya.
Ia kemudian membuka lemari pendingin kecil yang ada di belakang meja kasir, lalu mengambil semangkuk puding cokelat.
"Nih, makan puding ini. Aku yang buat kemarin khusus buat Mas."
Elvan menatap puding itu, lalu menatap wajah istrinya.
"B-buat... a-aku?"
Naresta mengangguk sambil tersenyum.
"Iya. Mas kan suka puding cokelat."
Elvan menerima mangkuk itu dengan kedua tangannya.
"M-makasih..."
"Sama-sama."
Naresta mengambil satu sendok, lalu menyuapkan sesendok puding ke arah Elvan.
"Nah, buka mulutnya."
Elvan menurut. Setelah mencicipinya, matanya langsung berbinar.
"E-enak..."
Naresta tersenyum lega.
"Syukurlah. Berarti nanti aku buat lagi kalau sudah habis."
Elvan mengangguk pelan sambil terus menikmati puding itu. Sedikit demi sedikit, rasa sedih yang memenuhi hatinya mulai tergantikan oleh kehangatan dari perhatian sederhana yang selalu diberikan istrinya.
Tring!
Lonceng di pintu toko berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang.
Karena toko baru saja buka, pelanggan mulai berdatangan satu per satu untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Naresta langsung berdiri dari kursinya sambil menoleh kepada Elvan.
"Mas, makan sendiri ya. Aku mau layani pelanggan dulu," ucapnya lembut.
"I-iya," jawab Elvan pelan sambil mengangguk.
Naresta tersenyum tipis, lalu berjalan menuju meja kasir untuk menyambut pelanggan yang baru masuk.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
Sementara itu, Elvan tetap duduk di kursinya sambil memegang mangkuk puding. Sesekali ia melirik ke arah Naresta yang sedang sibuk melayani pelanggan, lalu kembali menyuapkan sesendok puding ke mulutnya. Meskipun hatinya masih terluka oleh ucapan pelanggan sebelumnya, perhatian kecil dari sang istri membuat perasaannya perlahan menjadi lebih tenang.