NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Jawaban yang Tertahan

Pagi itu udara terasa beda. Gak mendung kayak hari-hari sebelumnya. Langit masih biru kelabu, tapi cahaya matahari mulai tembus pelan dari balik awan.

Gue keluar rumah, jantung berdebar kencang. Di depan, di bawah lampu jalan yang udah redup, mereka berdua berdiri — agak berjauhan, tapi sama-sama natap ke arah pintu gue.

Farhan yang pertama senyum pas gue keluar. Gak lebar, cuma senyum tipis yang bikin hati gue tenang seketika. Dimas di sebelahnya mengangguk pelan, tangan di saku, senyumnya sedih tapi ikhlas.

"Pagi," sapa gue pelan pas sampe di depan mereka.

"Pagi, Mir," jawab Farhan lembut. Langkahnya mau mendekat sedikit, tapi berhenti — kasih gue ruang, kayak yang dia janjiin.

"Siap?" tanya Dimas, suaranya tenang. Matanya bersih, gak lagi penuh beban kayak kemarin. "Orang tua gue udah di kantor polisi. Mereka minta ketemu kita bertiga sebelum pernyataan ditutup."

Gue angguk. "Gue siap."

Jalan ke sana hening. Kita naik satu mobil, Dimas yang nyetir. Farhan di sebelah depan, gue di belakang. Gak banyak ngomong, tapi heningnya gak berat lagi. Kayak semua hal yang ditahan selama setahun lebih akhirnya mulai bisa napas.

Pas sampe di sana, Bapak dan Ibu Dimas udah nunggu di ruang tunggu. Pas lihat Farhan masuk, mereka berdiri pelan. Bapaknya maju selangkah, gak langsung bicara — cuma natap lama, kayak baru aja sadar siapa yang berdiri di depan mereka selama ini.

"Farhan..." panggil Bapaknya pelan. "Bolehkah kami bicara?"

Farhan mengangguk sopan. "Tentu, Pak."

Mereka duduk di bangku panjang, gue di sebelah Farhan, Dimas di sebelah orang tuanya. Ruangan itu sepi, cuma suara kipas angin di langit-langit.

"Kami sudah mendengar semuanya dari Dimas tadi pagi," mulai Bapaknya, suaranya berat dan lembut sekaligus. "Tentang kesalahan dia. Tentang bagaimana kamu menanggungnya. Dan... tentang hal yang belum pernah diketahui siapa pun."

Farhan menunduk sedikit, tangannya saling meremas di pangkuan. "Saya hanya berusaha membantu, Pak. Saat itu semuanya terjadi terlalu cepat."

"Kamu tidak hanya membantu, Farhan." Ibunya Dimas menatap dengan mata berkaca-kaca. "Kamu menyelamatkan nyawa kerabat kami. Dan kamu diam... satu tahun lebih. Tanpa pernah meminta apa pun. Tanpa pernah menyalahkan siapa pun."

"Saya tidak ingin Dimas hidup dengan rasa bersalah seumur hidup," jawab Farhan tenang. "Dia sudah menyesal. Saya tidak ingin menambah beban yang tidak perlu."

Bapaknya menarik napas panjang, lalu berdiri dan berdiri tepat di depan Farhan. "Saya tidak tahu harus berterima kasih bagaimana. Dan saya tidak tahu harus meminta maaf sebesar apa karena selama ini kami membiarkanmu menanggung nama buruk yang bukan sepenuhnya milikmu."

"Semuanya sudah berlalu, Pak."

"Belum." Bapaknya menggeleng pelan. "Hari ini kami akan perbaiki semuanya. Nama kamu akan kami bersihkan. Cerita yang sebenarnya akan kami sampaikan ke semua pihak. Tapi satu hal lagi..." Dia berhenti, menatap Farhan dalam. "Kami ingin kamu tahu — di mata kami, kamu bukan sekadar teman Dimas. Kamu anak yang luar biasa."

Farhan menunduk, bahunya bergetar. Gue pegang tangannya pelan di sela-sela kursi. Dia langsung genggam tangan gue erat, mencari kekuatan.

"Terima kasih, Pak. Bu." Suaranya sedikit pecah. "Saya hanya ingin semuanya kembali baik-baik saja."

"Dan kamu juga, Nak," tambah Ibunya lembut. "Kamu pantas dihargai, bukan ditakuti. Pantas didengar, bukan didiamkan."

Setelah itu, Farhan masuk ke ruang petugas bersama Dimas dan orang tuanya. Gue nunggu di luar, duduk di bangku dekat jendela. Hati gue campur aduk — lega banget, tapi sekaligus sedih karena baru hari ini semua orang tau betapa besar hati orang yang selama ini diomongin buruk.

Sekitar dua jam kemudian, pintu terbuka. Mereka keluar berempat. Semua terlihat lelah, tapi wajah mereka lebih ringan. Beban di pundak seolah ikut tertinggal di ruangan itu.

Dimas jalan ke arah gue duluan.

"Selesai," katanya pelan. "Semuanya. Nama dia udah bersih. Cerita yang sebenarnya udah dicatat."

"Dan lo?" Gue natap matanya. "Lo oke?"

Dia senyum tipis, sedih tapi tenang. "Gue harus menjalani masa pembinaan selama beberapa bulan. Gak masuk penjara, tapi gak bebas juga. Gue terima. Ini pantas buat gue."

"Dim..."

"Hei, jangan sedih." Dia ketawa kecil pelan. "Justru ini yang gue butuhin. Hadapi. Berhenti lari." Dia berhenti, natap ke arah Farhan yang sedang bicara sama orang tuanya di ujung ruangan. "Dan gue dapat hal yang jauh lebih berharga dari semua itu."

"Apa?"

"Gue dapet temen yang rela hancur buat gue. Dan gue dapet kejelasan soal lo." Dia balik natap gue, matanya jujur sepenuhnya. "Hati lo di sana, Mir. Di dia. Gue lihat dari cara lo natap dia, dari cara lo takut kehilangan dia. Gue gak mau jadi orang ketiga yang ngehalangin."

"Lo bukan orang ketiga, Dim. Lo temen kami. Dan gue sayang lo... sebagai temen. Bukan lebih."

"Gue tau." Dia tarik napas dalam, buang pelan. "Dan itu udah cukup buat gue. Gue bisa terima."

Farhan berjalan mendekat. Mukanya masih merah habis nangis, tapi senyumnya paling tulus yang pernah gue lihat.

"Lo oke?" tanyanya ke gue, langsung natap mata gue.

"Gue harusnya nanya itu ke lo." Gue senyum balik, mata panas. "Semua udah selesai?"

"Udah. Gak ada rahasia lagi." Dia berhenti sebentar, lalu natap Dimas. "Makasih, Dim. Udah berani jujur."

"Makasih balik, Han." Dimas menepuk bahunya pelan. "Udah berani nyelamatin gue. Dan udah ngasih gue kesempatan berubah."

Mereka saling tatap — bukan sebagai saingan lagi. Tapi sebagai dua orang yang sama-sama pernah jatuh, dan saling bantu berdiri.

"Gue harus masuk sebentar lagi," kata Dimas pelan. "Buat tanda tangan terakhir." Dia natap gue terakhir kali. "Jaga diri ya, Mir. Bahagia. Lo berhak."

"Lo juga, Dim. Semangat."

Dimas masuk kembali. Tinggal gue sama Farhan di ruang tunggu yang mulai sepi.

Kita jalan keluar bareng. Udara di luar segar banget, bau tanah basah dan pohon. Matahari udah mulai keluar, sinarnya hangat di kulit.

Kita berhenti di trotoar, di bawah pohon rindang. Gak jauh dari tempat Dimas jemput gue kemarin.

"Mir..." Farhan mulai, suaranya lembut dan ragu. "Gue tau lo belum kasih jawaban. Gue gak mau nuntut sekarang. Gue cuma mau bilang... kalau lo butuh waktu, sebulan, setahun, berapa lama pun — gue nunggu. Gue gak kemana-mana."

Gue natap dia lama. Orang di depan gue ini — yang selama ini gue kira pengecut, yang selama ini gue curigai, yang ternyata justru orang paling tulus yang pernah gue kenal.

"Gue gak butuh waktu lama, Han." Gue maju selangkah, berani pegang tangannya. "Karena selama ini gue sibuk nyari jawaban di tempat yang salah. Padahal jawabannya ada di depan mata dari awal."

Dia menahan napas, matanya melebar pelan. "Maksud lo?"

"Gue sayang lo, Farhan. Bukan cuma temen." Gue bilang pelan tapi jelas, gak ada ragu sedikit pun. "Bukan karena kasihan. Bukan karena terpaksa. Karena lo — yang diam tapi selalu ada, yang rela hancur buat orang lain, yang bikin gue mau jadi orang lebih baik."

Tangannya yang tadi genggam lemah langsung genggam tangan gue erat-erat, seakan takut gue hilang.

"Lo beneran..." suaranya gemetar, air mata jatuh di pipi. "Gue gak mimpi kan?"

"Gak mimpi." Gue senyum, hapus air mata di pipinya pelan. "Dan mulai sekarang — gak ada rahasia lagi. Gak ada yang dihadapi sendirian. Kita berdua."

Dia menarik gue pelan ke pelukannya, lembut dan hati-hati, seakan gue hal paling berharga di dunia. Wajahnya di ceruk leher gue, napasnya terasa hangat dan lega.

"Makasih, Mir... makasih gak pergi."

"Gue gak kemana-mana."

Kita berdiri begitu cukup lama. Di bawah sinar matahari yang mulai terang, di tempat yang tadi penuh ketakutan — sekarang penuh harapan.

Tiba-tiba HP gue di saku bergetar. Pesan masuk dari nomor yang gue kenal.

Dari Dimas.

"Gue lihat dari jendela. Kalian cocok banget. Jangan lupa — gue tetap di sini kalau butuh temen. Bahagia ya, kalian berdua."

Gue senyum lihat layar, terus masukin HP ke saku. Gak perlu dibalas panjang. Dimas bakal ngerti.

Farhan sedikit melepaskan pelukan, natap gue dalam-dalam. "Mau jalan pulang bareng? Kita bisa lewat taman. Kayak dulu."

"Kayak dulu..." Gue senyum, genggam tangannya lebih erat. "Tapi kali ini beda kan?"

"Iya." Dia senyum tulus, terang benderang. "Kali ini kita gak perlu pura-pura apa-apa lagi."

Kita melangkah beriringan, tangan saling pegang. Langit di atas udah bersih, awan kelabu perlahan berganti cerah.

Tapi di ujung jalan, di balik pohon besar... ada seseorang berdiri.

Bukan Dimas. Bukan Rina.

Seorang perempuan berjaket cokelat, menatap tepat ke arah kita. Dan saat mata kita bertemu... dia tersenyum tipis, lalu menghilang di balik pepohonan.

Gue berhenti langkah.

"Mir? Ada apa?" tanya Farhan.

"Gak tau..." Gue mengerjap, takut salah lihat. "Kayaknya... gue kenal orang itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!