Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Reuni Darah di Kota Angin Hitam
Di dalam Aula Utama Keluarga Ye di Kota Angin Hitam, suasana dipenuhi dengan tawa dan perayaan kecil.
Ye Kuang, Kepala Keluarga Ye, duduk di kursi kehormatan sambil menyesap teh roh tingkat rendah. Di sampingnya, putranya Ye Feng duduk dengan dada diperban. Meski masih pucat akibat hempasan aura Lin Xuan beberapa hari lalu, senyum sombong tak lepas dari wajah Ye Feng.
"Ayah, apakah kau yakin Tiga Algojo Darah sudah meratakan Gunung Bintang Jatuh semalam?" tanya Ye Feng sambil menggertakkan giginya. "Sayang sekali aku tidak bisa melihat langsung si lumpuh Ye Chen itu dipotong-potong menjadi makanan anjing."
Ye Kuang tertawa meremehkan. "Tiga Algojo Darah terkenal akan kekejaman dan efisiensi mereka. Ditambah seratus Pasukan Serigala Besi, bahkan seekor lalat pun tidak akan bisa selamat dari gunung itu. Pria berjubah putih yang menipuku tempo hari pasti sudah hancur berkeping-keping sekarang."
Beberapa tetua Keluarga Ye yang hadir ikut tertawa sambil mengelus janggut mereka.
"Kepala Keluarga sangat bijak. Dengan meminjam pisau Sekte Serigala Darah, kita tidak hanya menyingkirkan aib keluarga yang bernama Ye Chen itu, tapi juga mengamankan posisi kita di mata Aliansi Kegelapan," puji Tetua Kedua.
Namun, sebelum tawa mereka mereda...
BOOOOM!
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh kediaman Keluarga Ye. Cangkir teh di tangan Ye Kuang tergelincir dan pecah di lantai. Getarannya begitu kuat hingga debu-debu berjatuhan dari atap aula.
"Apa yang terjadi?!" raung Ye Kuang, berdiri dari kursinya dengan Qi bergejolak.
"Lapor, Kepala Keluarga!" Seorang penjaga berlari masuk ke aula dengan wajah pucat pasi dan tubuh berlumuran darah. "G-gerbang utama... Gerbang utama kita dihancurkan!"
"Siapa yang berani mencari mati di Keluarga Ye?!" Ye Kuang melesat keluar aula, diikuti oleh Ye Feng dan para tetua lainnya.
Ketika mereka tiba di pelataran depan, pemandangan yang menyambut mereka membuat langkah mereka terhenti. Gerbang baja hitam setebal setengah meter yang menjadi kebanggaan Keluarga Ye telah hancur berkeping-keping, meleleh di bagian tepinya seolah baru saja dihantam oleh meteor.
Di tengah debu yang mengepul, seorang pemuda berjalan masuk dengan langkah pelan dan terukur.
Pemuda itu mengenakan jubah abu-abu sederhana, namun auranya setajam pedang yang baru dicabut dari sarungnya. Di punggungnya, terikat sebuah pedang dengan gagang merah menyala. Angin meniup debu, memperlihatkan wajah yang sangat familier bagi semua orang di sana.
"Ye Chen?!" teriak Ye Feng tak percaya, matanya membelalak lebar. "B-bagaimana kau bisa hidup? Bukankah Sekte Serigala Darah sudah meratakan gunung bobrok tempatmu bersembunyi?!"
Mendengar nama Sekte Serigala Darah, langkah Ye Chen berhenti. Matanya yang dingin menatap lurus ke arah Ye Feng dan Ye Kuang.
"Serigala Darah? Ah... maksudmu seratus semut yang mencoba mengotori halaman sekteku semalam?" Suara Ye Chen datar, tapi membekukan tulang. "Guru telah mengubah mereka menjadi abu. Mereka bahkan tidak pantas menjadi pupuk bagi rumput di Gunung Bintang Jatuh."
"Mustahil!" Ye Kuang membentak, wajahnya merah padam. "Tiga Algojo Darah berada di pertengahan Pembangunan Yayasan! Bagaimana mungkin pria penipu itu bisa membunuh mereka? Kau pasti melarikan diri layaknya anjing pengecut saat sekte rongsokanmu dibantai!"
Ye Chen menggelengkan kepalanya pelan. "Katak dalam tempurung. Kalian tidak akan pernah mengerti betapa luasnya langit."
"Tutup mulutmu, dasar sampah!" Ye Feng yang tidak bisa menahan amarahnya tiba-tiba melesat maju. Qi spiritual elemen angin meledak dari tubuhnya. Meskipun baru berada di tingkat 5 Kondensasi Qi, ia merasa cukup kuat untuk membunuh Ye Chen yang urat nadinya telah hancur.
"Mati kau! Tapak Pemecah Angin!"
Telapak tangan Ye Feng mengarah tepat ke kepala Ye Chen, membawa suara siulan angin yang tajam. Para tetua tersenyum dingin, menantikan kepala Ye Chen meledak seperti semangka.
Namun, Ye Chen bahkan tidak berkedip. Ia tidak mundur, tidak juga menghindar. Saat telapak tangan Ye Feng hanya berjarak satu inci dari wajahnya, Ye Chen mengangkat tangan kanannya dengan kecepatan kilat dan menampar wajah Ye Feng.
PLAAAK!
Suara tamparan itu terdengar seperti ledakan petasan raksasa.
"ARGHHH!"
Tubuh Ye Feng berputar di udara seperti gasing yang rusak, gigi-giginya rontok berhamburan disertai darah segar. Ia terpental sejauh belasan meter, menabrak pilar batu hingga pilar itu retak, lalu jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Separuh wajahnya hancur.
Keheningan yang mematikan seketika mencekik pelataran tersebut.
Mata Ye Kuang hampir lepas dari rongganya. Para tetua menahan napas dalam horor. Hanya dengan satu tamparan murni tanpa menggunakan teknik apa pun, seorang kultivator tingkat 5 Kondensasi Qi dilumpuhkan total!
"Urat nadimu... energi Qi-mu..." Ye Kuang menunjuk Ye Chen dengan jari gemetar, tiba-tiba menyadari sesuatu yang mengerikan. Hawa panas yang memancar dari tubuh Ye Chen tidak mungkin dimiliki oleh orang cacat. "Kau... urat nadimu telah pulih?! Dan kultivasimu..."
Ye Chen melangkah maju, dan kali ini, ia tidak lagi menyembunyikan kekuatannya.
BOOOM!
Pilar api tak kasat mata seolah meledak dari dalam tubuhnya. Tekanan spiritual dari Ranah Pembangunan Yayasan menyapu seluruh halaman, menekan dada para penjaga Keluarga Ye hingga mereka berlutut memuntahkan darah. Suhu udara di sekitar Ye Chen meningkat drastis, mengeringkan tanaman hias di halaman dalam sekejap.
"P-Pembangunan Yayasan?!" Tetua Kedua menjerit histeris, kakinya lemas hingga ia jatuh terduduk. "Ini tidak mungkin! Tiga tahun lalu dia baru tingkat 7 Kondensasi Qi, dan urat nadinya hancur selama tiga tahun! Bagaimana dia bisa menembus Pembangunan Yayasan?!"
Ye Kuang merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Ia adalah satu-satunya ahli Pembangunan Yayasan di keluarga ini, itupun hanya berada di tahap awal setelah puluhan tahun berkultivasi. Namun Ye Chen, bocah berusia lima belas tahun ini, memancarkan aura yang lebih murni dan menekan darinya!
"Semua ini berkat Guru," ucap Ye Chen dingin. Matanya terkunci pada Ye Kuang. "Tiga tahun lalu, saat urat nadiku hancur karena menyelamatkan konvoi keluarga ini, apa yang kau lakukan, Paman? Kau membuangku ke kandang pelayan. Kau mencuri jatah ramuanku untuk putramu. Kau membiarkan mereka meludahiku."
Ye Chen menarik gagang Pedang Bintang Merah di punggungnya.
SYRIIING!
Begitu pedang itu dicabut, gelombang panas meletus. Pola ukiran api di bilah pedang menyala terang, memancarkan aura Senjata Kelas Bumi yang membuat senjata-senjata di tangan para penjaga Ye bergetar hebat sebelum akhirnya patah menjadi dua karena ketakutan akan tekanan senjata yang lebih tinggi.
«Habisi mereka, Bocah!» seru Tetua Yan dari dalam cincin dengan bersemangat. «Seni Api Penyucian Sembilan Matahari yang diberikan Gurumu sangat mendambakan pertarungan sesungguhnya!»
"Kalian menyerahkan lokasiku pada Serigala Darah. Itu adalah dosa yang tidak bisa dimaafkan," ucap Ye Chen, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Hari ini, aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak Sekte Bintang Jatuh, dan menagih utang darah Keluarga Ye!"
Menyadari situasi telah mencapai titik mati, Ye Kuang meraung putus asa. "Semua tetua, serang bersama! Jika kita tidak membunuhnya hari ini, Keluarga Ye akan musnah!"
Lima tetua di puncak Kondensasi Qi dan Ye Kuang di awal Pembangunan Yayasan serentak mengeluarkan senjata mereka, menerjang ke arah Ye Chen dari enam arah yang berbeda. Berbagai warna energi Qi meledak, menciptakan jaring kematian yang mengurung Ye Chen di tengah.
Ye Chen mendengus dingin. Api keemasan mulai berkobar di matanya.
"Seni Api Penyucian Sembilan Matahari. Matahari Pertama: Tebasan Bara Kiamat!"
Ye Chen mengayunkan Pedang Bintang Merah-nya dalam satu putaran penuh.
WUUUUUSHHH!
Sebuah cincin api berbentuk pedang Qi yang melengkung meluas dari titik tempat Ye Chen berdiri. Suhunya begitu luar biasa hingga udara di sekitarnya terdistorsi.
Saat gelombang pedang api itu berbenturan dengan serangan gabungan Keluarga Ye, suara ledakan memekakkan telinga terdengar. Senjata para tetua meleleh seketika saat menyentuh api tersebut. Energi Qi mereka hancur berkeping-keping seolah kertas tipis yang dilempar ke dalam tungku peleburan baja.
"TIDAAAK!"
Kelima tetua menjerit sebelum tubuh mereka terhempas ke belakang, hangus terbakar dengan tulang dada yang patah berantakan. Mereka tewas sebelum tubuh mereka menyentuh tanah.
Hanya Ye Kuang yang berhasil bertahan menggunakan perisai Qi lapis tiganya. Namun, hantaman api itu tetap membuatnya terpental jauh, menabrak dinding hingga tembus ke ruangan lain. Ia memuntahkan darah segar yang bercampur dengan abu, organ dalamnya terluka parah.
Satu serangan. Enam ahli elit Keluarga Ye hancur total.
Ye Chen berjalan perlahan melewati puing-puing, menghampiri Ye Kuang yang sedang merangkak putus asa di lantai batu yang retak. Ujung Pedang Bintang Merah yang masih membara diarahkan tepat ke tenggorokan Ye Kuang.
"T-tunggu... Ye Chen, keponakanku! Ampuni Paman!" Ye Kuang menangis terisak, seluruh harga dirinya telah hancur. "Aku salah! Aku buta! Tolong, jangan bunuh aku!"
"Sertifikat kepemilikan Tambang Batu Roh di luar kota. Serahkan sekarang, atau kepalamu akan terpisah dari lehermu," tuntut Ye Chen tanpa sedikit pun belas kasihan di matanya.
Tubuh Ye Kuang gemetar hebat. Tambang itu adalah sumber pendapatan terbesar Keluarga Ye. Namun di hadapan kematian, harta tidak ada artinya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah lempengan giok merah berisi kontrak darah kepemilikan tambang.
Ye Chen mengambil lempengan itu dengan tangan kirinya dan menyimpannya.
"Bagus," ucap Ye Chen datar.
Ia membalikkan badan, membiarkan Ye Kuang menghela napas lega sesaat. Namun, tepat sebelum Ye Chen melangkah keluar dari aula yang hancur, ia menjentikkan jarinya ke belakang.
Syuutt! Pfft!
Sebuah jarum Qi elemen api seukuran jarum jahit melesat dengan kecepatan kilat, menembus Dantian Ye Kuang.
"ARGHHH!" Ye Kuang menjerit histeris, memegangi perutnya. Inti Qi-nya hancur berantakan. Kultivasinya selama puluhan tahun lenyap dalam sekejap mata. Ia telah menjadi manusia biasa yang cacat, sama seperti Ye Chen tiga tahun lalu.
"Utang darah telah dibayar dengan lunas," suara Ye Chen menggema dari kejauhan, sosoknya telah menghilang ke arah gerbang kota. "Keluarga Ye, kalian boleh hidup sebagai manusia fana. Jika ada di antara kalian yang berani menyebut nama Sekte Bintang Jatuh dengan tidak hormat lagi... aku akan kembali dan menghapus garis keturunan ini dari muka bumi."