NovelToon NovelToon
Sutra Naga Pembelah Surga

Sutra Naga Pembelah Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Jatuh dari puncak kejayaan menjadi lelucon sekota dalam semalam, nasib Ye Xuan tampaknya telah berakhir. Namun, keputusasaan itu justru menjadi kunci pembuka rahasia kuno yang tertidur di dalam sebuah liontin tua. Di bawah bimbingan jiwa naga kuno, Ye Xuan mempelajari rahasia kultivasi yang menyimpang dari hukum langit. Dari turnamen kota kecil hingga medan perang antar benua, Ye Xuan menelan setiap rintangan dan kesengsaraan ilahi. Dunia menganggapnya sampah, namun ia akan membuktikan bahwa dirinya adalah penguasa sejati yang akan membelah surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Tengkorak Ular dan Langkah Guntur Sembilan Bayangan

​Angin senja bertiup lembut membawa guguran daun persik di pelataran Aula Sumber Daya Sekte Awan Azure. Suasana sore itu cukup ramai dengan para Murid Inti yang menukarkan poin atau mengambil misi baru.

​Keheningan mendadak merayap saat sesosok pemuda berjubah putih melangkah santai melewati ambang pintu. Pakaian Ye Xuan bersih tanpa noda debu sedikit pun, sangat kontras dengan reputasi misi tingkat merah yang baru saja ia jalani.

​"Bukankah itu Ye Xuan? Dia sudah kembali?" bisik seorang murid perempuan sambil menutupi mulutnya.

"Mungkin dia menyerah di tengah jalan. Celah Vulkanik bukanlah tempat untuk anak baru. Jangankan Ular Sisik Api, suhu di sana saja bisa merebus kultivator Pembentukan Fondasi Awal!" cibir murid lainnya.

​Mengabaikan tatapan meremehkan di sekelilingnya, Ye Xuan berjalan lurus menuju meja penukaran misi. Diaken penjaga meja yang sedang mencatat gulungan mendongak, mengerutkan kening melihat wajah yang tak asing ini.

​"Ye Xuan? Kau kembali lebih cepat dari dugaan. Apakah kau ingin membatalkan misimu? Membatalkan misi tingkat merah akan dikenakan denda lima ratus poin kontribusi," ucap Diaken itu dengan nada datar.

​Ye Xuan tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan kanannya dan mengibaskan jarinya di atas meja giok yang luas.

​BRUKKK!

​Sebuah benda raksasa berbau amis darah dan belerang jatuh menghantam meja giok hingga mejanya bergetar hebat.

​Mulut Diaken itu terbuka lebar, pena tintanya jatuh dari tangannya. Para murid di sekeliling aula mundur serempak dengan wajah pucat pasi.

​Itu adalah tengkorak raksasa dari Ular Sisik Api Beracun! Sisik merahnya masih memancarkan hawa panas, dan taring raksasanya masih meneteskan sisa-sisa liur hijau berbisa yang langsung membuat meja giok berasap tipis.

​"I-ini... Tengkorak Ular Sisik Api Tingkat 3?!" Diaken itu terbelalak, menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya kemudian memindai benda tersebut, mencari sesuatu. "T-tapi tunggu... di mana Inti Iblisnya? Misi ini menuntut penyerahan Inti Iblis!"

​Ye Xuan bersandar di meja dengan santai. "Inti iblisnya hancur saat aku meledakkan kepalanya dari dalam. Tapi sebagai gantinya, aku mengekstrak Kantung Racun Api-nya secara utuh."

​Ye Xuan meletakkan sebuah kantung empedu berwarna hijau menyala seukuran kepalan tangan di sebelah tengkorak tersebut. "Kurasa kantung racun murni ini bernilai setidaknya dua kali lipat lebih berharga bagi para Alkemis sekte daripada Inti Iblis biasa, bukan begitu, Diaken?"

​Diaken itu menatap kantung racun tersebut dengan tangan gemetar. Membunuh monster adalah satu hal, tapi mengekstrak kantung racun utuh tanpa merusaknya dalam pertarungan brutal? Itu membutuhkan presisi dan kendali kekuatan yang menakutkan!

​"B-benar... Kantung racun utuh sangat langka," gumam Diaken itu, masih setengah syok. Ia segera mengambil Token Murid Inti Ye Xuan. "Misi selesai dengan sempurna. Lima ribu poin kontribusi telah dimasukkan ke tokenmu, dan ini adalah medali akses ke lantai enam Paviliun Kitab Suci untuk memilih satu teknik tingkat menengah puncak."

​Ye Xuan mengambil barang-barangnya, menatap sekilas ke arah para murid yang kini membeku layaknya patung es dengan rahang hampir lepas, lalu berjalan keluar dari aula tanpa menoleh lagi.

​Paviliun Kitab Suci, Lantai Enam.

​Ye Xuan kembali menginjakkan kakinya di pagoda kuno sekte. Berbeda dengan lantai bawah yang dipenuhi senjata, lantai enam menyimpan ratusan gulungan teknik rahasia dan seni bela diri yang diwariskan oleh para pendahulu sekte.

​Ia berjalan melewati rak-rak yang berisi teknik pedang, tombak, dan telapak tangan. Ia sudah memiliki kekuatan ofensif dari fisiknya dan teknik tombak dasar yang sedang ia sempurnakan. Yang ia butuhkan sekarang adalah Kecepatan.

​"Zhao Feng sangat lincah, dan serangan jarak jauhnya berbahaya. Jika aku hanya mengandalkan lari lurus, aku akan menjadi target empuk," batin Ye Xuan.

​Setelah membolak-balik belasan gulungan, pandangan Ye Xuan tertuju pada sebuah gulungan perkamen perak kuno yang tertutup debu tipis di sudut ruangan. Penghalang formasinya sudah sangat redup, menandakan teknik ini jarang sekali disentuh selama puluhan tahun.

​Ye Xuan mengambilnya dan membaca judulnya: [Seni Langkah Guntur Sembilan Bayangan].

​"Seni gerak tingkat menengah puncak (hampir menyentuh tingkat tinggi). Menggunakan ledakan Qi atribut guntur di telapak kaki untuk menembus ruang dalam jarak pendek, meninggalkan bayangan ilusi yang bisa menipu musuh. Kesulitan: Sangat Ekstrem. Syarat fisik: Tubuh yang sangat kokoh, jika tidak, ledakan inersia akan memutuskan meridian kaki dan meremukkan tulang kering."

​Mata Ye Xuan berbinar. Inilah alasan mengapa teknik hebat ini ditinggalkan. Kultivator biasa di Alam Pembentukan Fondasi lebih mementingkan Qi daripada melatih fisik daging mereka. Menggunakan teknik yang mengharuskan mereka menahan ledakan seperti ini sama saja dengan mematahkan kaki sendiri!

​Namun bagi Ye Xuan? Tulang Emas Primordial-nya bisa menahan ledakan gunung berapi, apalagi hanya ledakan inersia gerak!

​"Ini dia," Ye Xuan tersenyum puas, mencatatkan gulungan tersebut pada formasi penjaga, dan segera kembali ke kediamannya.

​Puncak Matahari Terbenam.

​Suasana di dalam aula kediaman Zhao Feng luar biasa mencekam. Hawa dingin menyelimuti ruangan, membuat air di dalam kolam spiritual membeku perlahan.

​Zhao Feng berdiri mematung di depan meja altar. Di atas meja itu, terdapat deretan kepingan giok jiwa (Soul Slips) yang terhubung dengan aura kehidupan para pengikut setianya.

​Saat ini, tiga kepingan giok, yang bertuliskan nama Ma Teng dan dua murid lainnya, telah hancur berkeping-keping menjadi debu kelabu.

​"Mati..." Zhao Feng menggertakkan giginya. Wajah tampannya terdistorsi oleh amarah yang buas. "Tiga orang ahli... salah satunya Puncak Pembentukan Fondasi Menengah... dikirim untuk membunuh seorang pemula, namun justru mereka yang musnah?!"

​Di belakangnya, beberapa pengikut lain berlutut di lantai sambil gemetar hebat, tidak berani bernapas.

​"Kakak Pertama," salah satu pengikut memberanikan diri berbicara. "Apakah ada Tetua yang melindunginya secara diam-diam? Tidak mungkin Ye Xuan membunuh Kakak Ma Teng sendirian!"

​"Bodoh!" bentak Zhao Feng, melepaskan aura Puncak Pembentukan Fondasi Akhir-nya yang membuat pengikutnya terbatuk darah. "Penatua Kepala memang memihaknya, tapi beliau adalah sosok yang angkuh dan adil. Beliau tidak akan merendahkan diri menjadi pengawal pribadi seorang murid! Ye Xuan membunuh mereka dengan kemampuannya sendiri."

​Zhao Feng mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya menonjol. Ia akhirnya menyadari bahwa pemuda yang ia anggap sebagai semut ini diam-diam telah bermutasi menjadi monster mematikan.

​"Baiklah, Ye Xuan... Jika kau bersembunyi di balik aturan sekte, aku tidak akan melanggarnya. Tapi Turnamen Inti Sekte tinggal lima hari lagi," mata Zhao Feng memancarkan niat membunuh yang pekat. "Aku akan menggunakan Pil Pembakaran Esensi sebelum naik ke arena untuk menembus Alam Inti Emas secara paksa! Akan kupastikan, mayatmu akan menjadi batu pijakanku menuju kejayaan!"

​Lima Hari Kemudian.

​Di pelataran Puncak Utama Sekte Awan Azure, sebuah arena raksasa yang terbuat dari Batu Bintang hitam telah didirikan. Ribuan murid, baik dari pelataran luar maupun dalam, berkumpul mengelilingi arena, bersorak sorai memeriahkan acara.

​Para Tetua duduk di tribun VIP yang melayang di udara, menatap ke bawah dengan penuh antisipasi. Hari ini adalah Turnamen Inti Sekte, ajang pembuktian tertinggi bagi generasi muda Awan Azure untuk memperebutkan kuota emas menuju Alam Rahasia Kuno.

​TENG! TENG! TENG!

​Suara lonceng kuno bergema tiga kali, menandakan dimulainya turnamen.

​Di Paviliun Angin Musim Gugur, pintu batu yang tertutup rapat selama lima hari terakhir akhirnya bergeser terbuka.

​Ye Xuan melangkah keluar. Pakaian putihnya bersih, Tombak Besi Hitam-nya kini tersarung rapi di punggungnya dalam balutan kain abu-abu, menyembunyikan bobot mematikannya.

​Saat ia berjalan menuruni tangga paviliunnya, tidak ada jejak arogansi berlebih atau emosi yang meledak-ledak. Matanya jernih, namun jauh di kedalaman pupilnya, ada percikan petir keemasan yang berkedip samar.

​Selama lima hari terakhir, di bawah latihan neraka dan bimbingan Master Naga, ia bukan hanya menyerap sisa-sisa energi untuk memantapkan fondasinya, namun ia telah menguasai tingkat pertama dari Langkah Guntur Sembilan Bayangan.

​"Waktunya telah tiba," Ye Xuan menatap ke arah pusat keramaian di alun-alun sekte. "Mari kita lihat, siapa yang akan menjadi hantu di bawah tombakku hari ini."

1
Divka
bgus
Divka
bgus...smg ye xuan nnt mampu melindungi temen dan rekannya...berbuat baiklah sedikit🤣
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
keren cerita nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!