NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018: Menampar di Depan Umum

"Orang Bandung yang beli bukit, pesan bunker, lalu main ke Surabaya tanpa salam, biasanya memang cepat merasa kebal."

Sendok Hendra berhenti di atas piring.

Restoran itu ramai oleh suara piring, gelas es, dan percakapan makan siang. Di luar jendela, panas Surabaya memantul dari kap mobil dan aspal. Hendra memilih meja pojok agar bisa melihat pintu, kasir, parkiran, dan pantulan kaca sekaligus.

Ia baru selesai memeriksa ulang peta dermaga lama dari Bang Macan.

Tiga malam lagi, tanker itu bergerak.

Hari ini, ada orang lain yang datang lebih dulu mencari masalah.

Pemuda berkaus mahal dan jam tangan mencolok berdiri di sisi mejanya. Rambutnya disisir rapi, senyumnya terlalu percaya diri. Di belakangnya ada tiga pria. Satu kurus tinggi dengan mata gelisah, satu botak bertato di leher, satu lagi berbahu lebar dengan tangan penuh bekas pukulan.

Hendra meletakkan sendok.

"Anda siapa?"

Pemuda itu tertawa pendek. "Kau benar-benar tidak tahu?"

"Kalau saya tahu, saya tidak bertanya."

Beberapa pengunjung menoleh.

Pemuda itu menarik kursi di depan Hendra tanpa izin, lalu duduk santai. Ia menepuk meja dua kali seperti pemilik tempat.

"Ivan Bahtiar."

Nama belakang itu cukup membuat pramusaji yang lewat memperlambat langkah.

Hendra melihat perubahan kecil itu.

Ivan menikmatinya.

"Anak Pak Bahtiar," lanjut Ivan. "Orang Bandung pasti tahu nama itu."

Hendra mengambil gelas air. "Saya tahu banyak nama di Bandung."

"Bagus. Berarti kau paham kenapa aku datang."

"Belum."

Senyum Ivan menipis.

Si Cungkring, pria kurus di belakangnya, mendekat setengah langkah. Si Gundul bertato menyilangkan tangan. Mereka sengaja membuat bayangan jatuh ke meja Hendra.

Hendra tidak bergeser.

Ponselnya berada di atas meja, layar menghadap bawah. Ibu jarinya menyentuh sisi ponsel sekali.

Rekaman suara berjalan.

Ivan tidak memperhatikan.

"Kau beli lahan di Bandung. Bangun proyek aneh di bukit. Pesan baja, genset, gudang pendingin, makanan satu kota. Lalu kau bolak-balik Surabaya bawa uang miliaran." Ivan mencondongkan tubuh. "Orang seperti kau biasanya lupa satu hal."

"Apa?"

"Izin."

Hendra menatapnya datar.

Ivan tersenyum lebih lebar.

"Bukan izin kertas. Izin napas. Kalau kau mau proyekmu aman, kendaraanmu tidak dicegat, gudangmu tidak diperiksa, dan pekerjamu tidak tiba-tiba takut datang, kau harus tahu kepada siapa memberi hormat."

Kali ini suara di meja sekitar benar-benar turun.

Seorang bapak berbaju batik pura-pura menunduk ke ponsel, tetapi kameranya sudah mengarah ke meja Hendra. Dua mahasiswa di dekat kasir saling sikut. Pramusaji berdiri kaku dekat dispenser.

Ivan melihat semua itu dan justru makin puas.

Ia ingin panggung.

Hendra memberinya panggung.

"Berapa harga hormat itu?" tanya Hendra.

"Akhirnya cepat juga mengerti." Ivan mengangkat lima jari. "Lima miliar. Uang atensi. Anggap saja donasi untuk menjaga hubungan baik."

"Lima miliar untuk Anda?"

Ivan menggeleng seolah Hendra bodoh. "Untuk hubungan."

"Dengan Pak Bahtiar?"

Mata Ivan berkilat.

Ia menurunkan suara, tetapi cukup keras untuk tertangkap ponsel Hendra.

"Dengan orang yang bisa membuat proyekmu di Bandung diperiksa dari pondasi sampai surat tanah. Dengan orang yang bisa membuat kontraktormu ditanya ini-itu sampai mereka berhenti bekerja. Dengan orang yang bisa membuat kau menyesal karena merasa uangmu cukup untuk membeli bukit."

Hendra mengangguk pelan.

"Jadi Anda memeras saya di tempat umum, memakai nama ayah Anda."

Wajah Ivan berubah.

"Hati-hati bicara."

"Saya hanya mengulang agar jelas."

"Kau pikir rekaman bisa menyelamatkanmu?" Ivan melirik ponsel Hendra. Ternyata ia tidak sebodoh kelihatannya. "Ambil."

Si Cungkring langsung meraih ponsel di meja.

Tangannya belum menyentuh layar ketika pergelangan itu ditangkap Hendra.

Gerakan Hendra hampir tidak terlihat.

Satu detik Si Cungkring masih tersenyum.

Detik berikutnya wajahnya pucat.

"Lepas," desisnya.

Hendra hanya menekan sedikit.

KRAK.

Bukan tulang patah. Hanya bunyi sendi yang dipaksa tunduk.

Si Cungkring jatuh berlutut di samping meja, mulutnya terbuka, tetapi suara yang keluar tertahan di tenggorokan. Ia mencoba menarik tangan, namun lengan Hendra seperti penjepit besi.

Restoran meledak oleh napas tertahan.

Si Gundul maju dengan sumpah serapah.

Hendra melepas Si Cungkring, lalu berdiri.

Piring di meja bergeser.

Si Gundul mengayunkan pukulan ke wajahnya.

Hendra tidak mundur.

Ia menangkap tinju itu dengan telapak tangan.

Bunyi benturan terdengar pendek.

Mata Si Gundul membesar.

Ia merasa seperti memukul tiang baja.

Hendra memutar pergelangan lawan setengah lingkaran. Tubuh besar itu ikut berputar, bahunya terbuka, lututnya menghantam lantai.

BUKK!

Pria ketiga hendak menerjang dari samping.

Hendra mengambil sendok logam dari meja dan melemparkannya pelan ke arah kaki pria itu.

Sendok itu tidak tajam. Tidak berat.

Tetapi saat mengenai tulang kering, suara benturannya seperti palu kecil.

Pria itu menjerit dan jatuh menabrak kursi.

Hendra menatap sendok yang bengkok di lantai.

Unsur Logam di tubuhnya belum sempurna.

Namun untuk preman bayaran, setengah jalan sudah lebih dari cukup.

Ivan berdiri cepat. Kursinya terguling ke belakang.

"Kau berani menyentuh orangku?"

Hendra menoleh.

"Anda membawa mereka untuk apa? Menghias meja?"

Wajah Ivan memerah.

Satu dua pengunjung tertawa tertahan.

Tawa kecil itu menusuk Ivan lebih dalam daripada pukulan.

"Kau tidak tahu siapa ayahku!"

Hendra mengambil ponselnya dari meja, membalik layar, lalu memperlihatkan indikator rekaman yang masih berjalan.

"Saya tahu. Anda sudah menyebutnya."

Ivan menelan ludah.

Baru sekarang ia sadar suara restoran sudah berubah. Tidak ada lagi yang pura-pura tidak melihat. Beberapa ponsel terangkat terang-terangan. Kamera CCTV di sudut ruangan mengarah tepat ke meja mereka.

Hendra berjalan satu langkah mendekat.

Ivan mundur satu langkah.

Punggungnya menyentuh meja orang lain.

"Di depan semua orang," kata Hendra, "Anda datang, duduk tanpa izin, meminta lima miliar, membawa preman, lalu memakai nama ayah Anda untuk mengancam proyek saya."

"Kau memutarbalikkan kata!"

"Kalau begitu jelaskan."

Hendra mengangkat ponsel sedikit lebih tinggi.

"Uang lima miliar tadi untuk apa?"

Ivan membuka mulut.

Tidak ada jawaban yang keluar.

"Siapa yang akan membuat proyek saya diperiksa?"

Ivan mengepalkan tangan.

"Siapa yang akan membuat kontraktor saya takut bekerja?"

"Diam!"

"Nama siapa yang Anda pakai?"

"Aku bilang diam!"

Manajer restoran akhirnya keluar dari balik kasir. Pria itu berkemeja putih, wajahnya pucat, tetapi ia masih mencoba tersenyum.

"Pak Ivan, Pak... mungkin ini bisa dibicarakan di ruang belakang. Pengunjung mulai tidak nyaman."

Ivan menoleh kepadanya seperti baru menemukan sasaran yang lebih lemah.

"Kau mau ikut campur?"

"Bukan begitu, Pak. Saya hanya..."

"CCTV di sini menyala?"

Manajer itu membeku.

Ivan menunjuk kamera di sudut ruangan. "Matikan. Hapus rekamannya."

Kalimat itu membuat beberapa pengunjung yang tadinya hanya merekam diam-diam langsung mengangkat ponsel lebih tinggi.

Hendra menatap manajer restoran.

"Jangan hapus apa pun."

Manajer itu menelan ludah. "Pak, saya tidak mau masalah."

"Kalau rekaman hilang, masalah Anda lebih besar," kata Hendra. "Saya bayar kerusakan meja, kursi, dan makanan. Tapi jangan sentuh CCTV."

Nada Hendra tidak keras.

Justru karena itu orang-orang mendengarnya jelas.

Ivan sadar panggung yang ia inginkan mulai berbalik. Ia membawa nama besar untuk menekan satu orang, tetapi sekarang nama itu terekam bersama perintah menghapus bukti.

Pipinya berkedut.

"Kau pikir dengan bayar kursi kau bisa keluar dari kota ini?"

"Saya tidak sedang membeli jalan keluar," jawab Hendra. "Saya sedang membeli saksi agar tidak ada yang dipaksa berbohong."

Ivan mengangkat tangan.

Tamparannya belum sempat turun.

Hendra menampar lebih dulu.

PLAK!

Suara itu bersih.

Tidak terlalu keras untuk membunuh.

Cukup keras untuk membuat seluruh restoran diam.

Ivan terhuyung. Sudut bibirnya pecah tipis. Jam tangan mahalnya menghantam tepi meja. Ia menatap Hendra seperti tidak percaya bahwa dunia masih berjalan setelah pipinya disentuh orang lain.

Seumur hidup, mungkin ini pertama kali seseorang menamparnya di depan umum.

Hendra tidak mengejarnya.

Ia hanya berdiri di tempat, ponsel masih merekam, suara tetap tenang.

"Itu untuk tangan Anda yang mau memukul saya."

Ivan memegang pipinya.

Matanya merah.

"Kau selesai."

"Belum," kata Hendra. "Saya masih makan."

Beberapa pengunjung benar-benar tertawa kali ini.

Ivan menoleh tajam ke mereka.

Tawa langsung mati, tetapi ponsel tidak turun.

Hendra mengambil tisu, menyeka ujung jarinya, lalu berkata, "Pulang. Bawa tiga orang ini. Katakan kepada Pak Bahtiar, kalau beliau ingin bicara bisnis, kirim pengacara. Kalau ingin mengancam, kirim orang yang lebih pintar membawa bukti."

"Kau pikir aku takut rekaman kecil?"

"Tidak."

Hendra menekan layar ponsel.

File tersimpan.

Lalu ia membuka aplikasi cloud dan mengunggahnya di depan Ivan.

"Saya hanya ingin memastikan rekaman kecil ini tidak hilang kalau ponsel saya rusak."

Wajah Ivan berubah kaku.

Si Cungkring masih memegangi pergelangan. Si Gundul mencoba berdiri, tetapi langsung terduduk lagi. Pramusaji akhirnya berani mendekat dari jauh.

"Pak... kami panggil keamanan?"

"Tidak perlu," kata Hendra. "Mereka akan pergi."

Ivan menatap Hendra lama.

Di matanya masih ada amarah, tetapi di bawah amarah itu sudah muncul sesuatu yang lebih jujur.

Malu.

Hendra mengenali rasa itu dari kehidupan lalu. Orang seperti Ivan tidak takut salah. Mereka takut terlihat kalah.

Dan hari ini, seluruh restoran melihatnya.

Ivan mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menelepon seseorang sambil berjalan mundur.

"Pa," katanya begitu sambungan terhubung. Suaranya rendah, penuh napas panas. "Ada orang gila dari keluarga Wijaya. Dia mempermalukan aku."

Hendra kembali duduk.

Ia mengangkat gelas air dan minum seteguk.

Di layar ponselnya, unggahan cloud selesai seratus persen.

Ivan berhenti di pintu restoran, menoleh sekali lagi.

"Malam ini," katanya, "kau akan tahu bedanya melawan anak pejabat dan melawan rumah yang berdiri di belakangnya."

Hendra tidak menjawab.

Ia hanya melihat tiga preman itu menyeret langkah keluar, lalu menatap pantulan dirinya di kaca jendela.

Tiga malam lagi, tanker menunggu di laut.

Sebelum itu, ada satu rumah kekuasaan kecil yang harus dibuat belajar mengetuk pintu dengan sopan.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!