Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Dua minggu telah berlalu sejak malam kelam di kamar 101 itu meremukkan seluruh tubuh dan jiwanya.
Setelah menjalani masa pemulihan dan beristirahat selama tiga hari penuh akibat siksaan kejam dari Tuan Nolan—yang menyisakan memar kebiruan dan bekas luka robek di keningnya—La Bonna rupanya sudah mulai dipaksa kembali bekerja di panggung utama Velvet Noir.
Namun sayang sekali, selama hampir dua minggu penuh sejak ia kembali melangkah di atas panggung berlampu temaram tersebut, Bonna sama sekali tidak mendapatkan satu pun pelanggan.
Tak ada seorang pun pria yang menaruh minat padanya.
Ia sering kali berdiri di sudut panggung, merenung dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri: seburuk dan serusak apa sebenarnya fisiknya ini? Bagaimana mungkin dalam rentang waktu dua minggu tidak ada satu pasang mata pun yang sudi menatap atau menawar harganya? Bonna terheran-heran memikirkan seperti apa kriteria pria-pria hidung belang yang berkunjung ke tempat hiburan malam ini.
Padahal, ia merasa penampilannya tidaklah jelek-jelek amat.
Selama beberapa hari terakhir, Bonna sudah mulai bisa makan dengan cukup berkat bantuan makanan dari Alena. Ia berusaha sebisanya untuk memperbaiki penampilannya—merapikan rambutnya, memoles wajahnya yang pucat, dan menutupi bekas luka dengan riasan tipis.
Walaupun demikian, tatapan dari Seraphina kerap kali terasa begitu merendahkan. Wanita pirang itu hampir setiap malam menatap Bonna dengan raut wajah penuh jijik, secara terang-terangan menunjukkan betapa ia menganggap Bonna tak lebih dari bangkai busuk yang tak laku disewa.
Namun sayang... sepertinya alam pun mulai mendukung nasib buruk Bonna. Jika sampai Nolan kembali dari Italia dan melihat bahwa Bonna tetap tidak menghasilkan sepeser uang pun dari para pengunjung, pria iblis itu dipastikan akan mengesekusi dan membunuhnya tanpa ragu.
Belakangan ini, Bonna mulai menaruh curiga. Ia yakin Seraphina adalah dalang di balik alasan mengapa tidak ada satu pun pria yang memilih atau menyewanya.
Seraphina pasti menyebarkan ancaman atau mengintimidasi para tamu agar tak ada yang berani mendekati Bonna. Namun di balik kecurigaan dan kekesalan itu, di sudut hatinya yang paling dalam, Bonna sebenarnya merasa bersyukur pada gadis pirang itu.
Berkat kebencian dan kejahilan Seraphina, Bonna tidak perlu membaringkan tubuhnya untuk melayani satu orang pun pria asing selama dua minggu ini.
...°°°°...
Satu bulan pun berlalu dengan cepat di dalam cengkeraman atmosfer Velvet Noir yang berat.
Dari kabar yang didengar Bonna dari Alena, Nolan rupanya sudah kembali dari perjalanannya ke Italia sejak satu minggu yang lalu. Namun, Bonna sama sekali belum pernah melihat batang hidungnya.
Entah apa yang sedang dilakukan oleh pria iblis itu selama sepekan terakhir—tentu saja melancarkan aksi pembunuhan demi pembunuhan di balik layar, karena hanya itulah satu-satunya keahlian dan pekerjaan yang dimiliki seorang ketua mafia berdarah dingin.
Namun, rupanya malam ini terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Setelah satu bulan lamanya Bonna tidak pernah lagi melihat siluet tubuh kekar itu di seluruh sudut Velvet Noir, malam ini sosok yang ditakuti itu akhirnya kembali muncul.
Pria itu sudah duduk anggun di tempat kekuasaannya seperti biasa—di lantai mezanin atas yang mewah, dikelilingi oleh para anak buah setianya, dan tentu saja ditemani oleh Lucifer yang berdiri siaga di sisi sampingnya.
Bonna sedang menari di atas panggung utama seperti biasanya. Musik bertempo sedang menggema menghentak ruangan, lampu spotlight temaram berpendar memantul di kulit para penari. Namun kali ini, pandangan mata Bonna sama sekali tak pernah lepas dari arah sofa di lantai mezanin atas.
Bonna terus-menerus menatap lurus ke arah Nolan.
Di atas sana, Nolan juga tengah memperhatikan panggung. Mata kelam pria itu menatap Bonna dengan pandangan yang teramat datar—dingin, tak terbaca, dan tanpa ekspresi.
Bonna paham betul bahwa bentuk tubuhnya saat ini memang tidak seindah milik Seraphina. Namun, menyadari bahwa nyawanya sedang dipertaruhkan malam ini, La Bonna berusaha sebisanya untuk menari seindah dan seanggun mungkin. Ia menggantungkan tubuh kurusnya pada tiang besi panggung, bertumpu pada satu kaki seraya berputar cepat.
Dengan gerakan meliuk yang penuh perhitungan, Bonna menurunkan kepalanya ke belakang, melengkungkan punggungnya sedemikian rupa hingga memperlihatkan belahan dadanya yang—meski mungkin tidak seberapa dibanding milik Seraphina—terlihat cukup menggoda karena sudut posisi tubuhnya yang presisi.
Pertunjukan sesi pertama usai dalam riuh tepuk tangan penonton di bawah. Musik meredup.
Begitu melangkah turun dari lantai panggung, Bonna tidak membuang waktu. Ia tidak berjalan menuju kamar rias seperti penari lainnya, melainkan langsung berlari-lari kecil menaiki tangga melingkar menuju lantai mezanin atas—menuju tempat Nolan berada.
Di tengah anak tangga atas, Bonna bahkan menyalip dan melewati Seraphina yang saat itu juga tengah berjalan melenggang anggun ingin menghampiri Nolan.
Bonna bisa merasakan tatapan mata Seraphina yang mendadak menusuk tajam ke arah punggungnya, memancarkan amarah yang siap meledak karena posisinya mendadak diserobot secara berani oleh sang tawanan.
Mengabaikan hawa membunuh di belakangnya, Bonna melangkah tegap menghampiri Nolan yang duduk santai di atas sofa kulit hitam. Bonna berjalan melintasi area lantai mezanin dengan tatapan mata yang terkunci lurus pada pria itu, seakan-akan ia sedang melangkah menghampiri kekasih hatinya yang sudah sangat lama tidak ia temui.
Tanpa keraguan sedikit pun, Bonna langsung berlutut di atas lantai dingin tepat di depan lutut Nolan yang tengah duduk bersilang kaki sembari mengisap cerutunya yang memutih.
Bonna mendongakkan kepalanya perlahan. Ia menatap lurus ke dalam iris mata kelam milik Nolan, lalu pelan-pelan menarik sudut bibirnya—menampilkan senyuman lebar yang paling manis, hangat, dan memikat yang mampu ia ciptakan. Senyuman terbaik yang pernah ia sunggingkan seumur hidupnya.
Aksi berani Bonna seketika menciptakan keheningan yang aneh di lantai atas.
Lucifer yang berdiri di samping sofa tampak menaikkan alisnya dengan tatapan terkejut yang tertahan. Alena yang berdiri tak jauh dari sana membelalakkan matanya ragu, menahan napas cemas.
Dan yang paling parah, di balik punggung Bonna, Seraphina berdiri membeku dengan raut wajah penuh amarah berapi-api—rahangnya mengetat keras, merasa terhina dan dilecehkan oleh tindakan berani wanita kurus itu di hadapan semua orang.
Bonna tidak peduli pada mereka semua. Pandangannya hanya terkunci pada pria di hadapannya. Bibirnya yang beroleskan perona merah perlahan bergerak, membisikkan kata-kata sederhana namun penuh penekanan yang berani:
"Selamat datang kembali, Tuanku."
Kalimat itu meluncur mulus dari tenggorokannya, memecah kepulan asap cerutu di antara mereka.
Nolan tidak menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Namun, demi memperhatikan wanita yang kini bersimpuh di depan kakinya dengan senyuman lebar, sudut bibir pria itu perlahan mengukir sebuah garis tipis—tertarik ke atas membentuk sebuah seringai dingin yang amat berbahaya.
semoga la bonna gk jadi kabur🤔