Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
PrimaCare Home Service menempati ruko tiga lantai di kawasan Kebayoran Lama.
Dari luar, tempat itu tidak mencolok. Papan namanya putih bersih, pintu kacanya ditempeli stiker kecil bertuliskan `Professional Home Care and Household Management`.
Naura datang pukul sembilan pagi.
Ia mengenakan blus sederhana dan celana bahan. Tidak membawa tas kerja mahal. Tidak memakai jam yang dulu ia beli untuk terlihat pantas di depan klien. Hari itu ia ingin datang sebagai dirinya sendiri.
Resepsionis menyambut.
"Mbak Naura? Bu Ratih sudah menunggu."
Naura naik ke lantai dua.
Bu Ratih, pemilik PrimaCare, adalah perempuan usia empat puluhan dengan rambut pendek dan mata tajam. Di kehidupan lalu, Naura hanya bertemu dengannya dua kali. Waktu itu Bu Ratih pernah berkata, "Kamu terlalu pintar untuk kerja lapangan terus, tapi kalau suatu hari capek dikejar kantor, pekerjaan rumah tangga selalu butuh orang pintar."
Naura tidak mengerti.
Sekarang ia mengerti.
Bu Ratih berdiri begitu melihatnya.
"Naura Ayu. Lama sekali tidak ketemu."
Naura tersenyum. "Bu Ratih masih ingat saya?"
"Tentu. Anak UI yang waktu pelatihan bisa memperbaiki mesin kopi rusak dan mengajari peserta lain pakai spreadsheet untuk jadwal obat."
Naura tertawa kecil.
Mereka duduk di ruangan kaca kecil. Di dinding tergantung beberapa sertifikat pelatihan: caregiver lansia, housekeeping, food safety, first aid, dan child care.
Bu Ratih membuka berkas.
"Saya baca CV terbaru kamu. Mahardika Capital, VP corporate finance. Jujur, saya sempat berpikir staf saya salah orang."
"Tidak salah."
"Kamu benar-benar ingin ambil pekerjaan rumah tangga?"
"Saya ingin pekerjaan dengan kontrak jelas, batas jelas, dan bayaran sepadan."
Bu Ratih menatapnya lama.
"Di luar sana orang masih memandang pekerjaan ini rendah."
"Saya tahu."
"Klien premium lebih rumit. Mereka tidak selalu kasar, tapi ekspektasinya tinggi. Ada yang baik, ada yang merasa uang bisa membeli seluruh hidup orang."
"Saya juga sudah bertemu banyak klien seperti itu di kantor."
Bu Ratih tersenyum tipis. "Bedanya, di sini kamu masuk ke ruang pribadi mereka. Dapur, kamar, obat, kebiasaan buruk, rahasia keluarga. Kamu harus tahu kapan bicara dan kapan pura-pura tidak melihat."
Naura mengangguk.
"Saya bisa."
Bu Ratih membalik halaman. "Sertifikatmu sudah lama. Tapi kamu punya pengalaman praktis. Kamu dulu pernah ambil kerja bersih-bersih apartemen, bantu katering, barista, tutor, caregiver dasar. Masih bisa masak?"
"Bisa."
"Masakan diet?"
"Bisa mengikuti menu. Rendah garam, rendah gula, tinggi protein, makanan lunak untuk lansia, saya bisa pelajari lagi."
"Perbaikan kecil?"
"Keran bocor, engsel pintu, lampu, filter AC sederhana, mesin kopi, beberapa alat dapur."
Bu Ratih mengangkat alis. "Kamu masih ingat banyak."
"Saya hidup dari itu."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Bu Ratih tidak bertanya lebih jauh.
Ia mengambil tiga berkas.
"Ada tiga kandidat pekerjaan. Pertama, keluarga muda di Pondok Indah. Dua anak, satu balita, satu kelas dua SD. Butuh household manager sekaligus tutor ringan."
Naura membaca sekilas.
"Kedua, lansia pasca stroke di Menteng. Ada perawat, kamu lebih ke manajemen rumah, makanan, dan menemani. Gaji bagus, tapi keluarga sering bertengkar."
Naura menatap berkas kedua sedikit lebih lama.
"Ketiga, pasangan lansia di kawasan Alam Sutera. Anak dan cucu jarang pulang. Mereka butuh orang yang bisa memasak, mengatur obat ringan, menemani aktivitas, dan membuat rumah hidup. Sifatnya kontrak satu bulan dulu."
Bu Ratih mendorong berkas ketiga.
"Menurut saya ini paling cocok untuk awalmu."
Naura membaca nama keluarga.
Pradipta.
"Pak Aditya Pradipta dan Bu Marini?"
"Ya. Mereka keluarga lama. Sangat kaya, tapi pasangan tua itu tidak suka suasana rumah terlalu formal. Mereka pernah menolak chef hotel karena katanya makanan terlalu cantik tapi tidak bikin kenyang."
Bu Ratih tersenyum. "Mereka butuh orang yang bisa bicara, bukan cuma kerja."
"Anak-anak mereka?"
"Anak laki-laki mereka sudah bercerai, tinggal sendiri. Cucu tertua mengurus bisnis keluarga dan jarang pulang. Namanya Arkan Pradipta."
Nama itu membuat Naura berhenti sejenak.
Arkan Pradipta.
Kemarin ia melihat laki-laki tinggi keluar dari mobil hitam di depan Mahardika. Mungkin orang yang sama, mungkin bukan. Nama Pradipta cukup dikenal di Jakarta.
"Ada masalah khusus?"
"Kesepian."
Jawaban Bu Ratih pendek.
Justru karena pendek, Naura paham.
Rumah yang terlalu besar sering menyimpan kesepian yang lebih besar lagi.
"Gaji?"
Bu Ratih menyebut angka.
Naura tidak menunjukkan keterkejutan, tetapi angka itu hampir setara gaji bulanannya dulu setelah dipotong kewajiban keluarga.
Dan pekerjaannya kontrak satu bulan.
"Jam kerja?"
"Live-in selama hari kerja, libur satu hari seminggu. Tapi mereka fleksibel. Kamar sendiri. Makan disediakan. Kontrak tertulis. Kalau ada tugas tambahan di luar kontrak, harus disetujui."
Naura menatap kertas itu.
Dulu ia bekerja sampai subuh tanpa tambahan apa pun selain kalimat, "Kamu memang bisa diandalkan."
Di sini, bahkan tugas tambahan harus disetujui.
Ia hampir ingin tertawa.
"Saya ambil yang ini."
Bu Ratih tampak tidak terkejut. "Saya akan atur pertemuan sore ini. Tapi sebelum itu, kamu harus mengikuti refresh training setengah hari."
"Baik."
Pelatihan ulang dimulai di lantai tiga.
Ada enam peserta lain. Dua perempuan paruh baya yang sudah lama bekerja sebagai ART profesional, satu laki-laki muda yang ingin menjadi caregiver, dan tiga perempuan seusia Naura.
Saat instruktur memperkenalkan Naura sebagai mantan pekerja corporate finance, beberapa orang menoleh.
Salah satu perempuan berbisik cukup keras, "Sayang sekali ya. Sekolah tinggi-tinggi akhirnya kerja begini."
Naura sedang memakai sarung tangan untuk latihan membersihkan noda di meja marmer.
Ia menoleh sambil tersenyum.
"Kerja begini dibayar jelas. Lebih sayang kalau sekolah tinggi-tinggi tapi masih merendahkan kerja halal."
Perempuan itu langsung diam.
Instruktur menahan senyum.
Pelatihan berjalan cepat. Cara menyimpan bahan makanan. Cara mencatat obat. Cara membaca label alergi. Cara membersihkan kamar lansia tanpa mengubah letak benda terlalu drastis. Cara menolak perintah klien yang di luar kontrak tanpa terdengar melawan.
Naura mengikuti semuanya dengan serius.
Pukul tiga sore, Bu Ratih memanggilnya lagi.
"Kita ke rumah Pak Aditya sekarang. Mereka ingin bertemu langsung."
Perjalanan ke Alam Sutera memakan waktu hampir satu jam.
Mobil PrimaCare melewati jalan lebar, cluster mewah, dan gerbang keamanan berlapis. Rumah keluarga Pradipta berdiri di ujung jalan, besar tapi tidak terasa pamer. Halamannya luas, dengan pohon mangga tua di satu sisi dan taman kecil yang tampak diurus setengah hati.
Seorang pria tua berseragam rapi membuka pintu.
"Bu Ratih. Silakan."
"Pak Jaya, ini Naura."
Pak Jaya, kepala rumah tangga, menatap Naura dari atas sampai bawah.
"Mbak Naura, selamat datang."
"Terima kasih, Pak."
Mereka masuk ke ruang keluarga.
Di sofa, seorang perempuan tua duduk sambil memegang remote televisi. Rambutnya putih rapi, wajahnya cerah. Di sampingnya, seorang laki-laki tua membaca koran dengan kacamata turun di hidung.
"Ini orangnya?" perempuan itu langsung bertanya.
Bu Ratih tersenyum. "Iya, Bu Marini."
Bu Marini menatap Naura. "Cantik sekali. Kamu yakin mau kerja di rumah orang tua seperti kami?"
Pak Aditya melipat koran. "Marini, jangan mulai."
Naura menunduk sopan. "Saya yakin, Bu."
"Bisa masak apa?"
"Masakan rumah. Indonesia, beberapa menu Barat sederhana, makanan diet kalau ada aturan dokter."
"Bisa bikin sayur asem yang tidak terlalu asam?"
"Bisa."
"Sambal?"
"Bisa. Tapi saya perlu tahu batas pedas Bapak dan Ibu."
Bu Marini langsung tersenyum lebar.
"Nah, ini baru benar. Orang rumah ini kalau bikin sambal selalu seperti mau membunuh lidah."
Pak Aditya berdeham. "Kamu pendidikan terakhir apa?"
"S1, Pak."
"Pernah kerja kantoran?"
"Pernah."
"Kenapa keluar?"
Bu Ratih tampak hendak membantu, tetapi Naura menjawab lebih dulu.
"Saya ingin hidup lebih sehat dan bekerja dengan batas yang jelas."
Pak Aditya menatapnya lama.
"Jawaban yang jujur."
Bu Marini tiba-tiba berkata, "Kalau begitu, coba masak teh dulu."
Pak Jaya terkejut. "Bu?"
"Apa? Saya mau tahu dia bisa membuat teh yang tidak seperti air celupan daun."
Naura berdiri. "Boleh saya lihat dapurnya?"
Bu Marini menunjuk Pak Jaya. "Antar."
Dapur rumah itu besar dan bersih, tapi terasa jarang digunakan untuk memasak sungguhan. Naura membuka beberapa laci setelah meminta izin. Teh hitam, jahe, serai, gula batu, madu.
Ia membuat teh jahe serai ringan, tidak terlalu manis.
Ketika kembali ke ruang keluarga, Bu Marini menerima cangkir dan menghirup pelan.
Matanya langsung berubah.
"Aditya."
Pak Aditya mengambil cangkirnya. Setelah menyesap, ia menurunkan koran sepenuhnya.
"Mulai kapan bisa kerja?"
Naura menatap Bu Ratih.
Bu Ratih tersenyum.
"Kalau kontrak selesai hari ini, besok bisa."
Bu Marini menepuk sofa di sampingnya.
"Duduk dulu, Naura. Cerita sedikit. Kamu suka tanaman?"
Naura duduk.
"Suka, Bu. Tapi lebih sering mengurus tanaman orang daripada punya sendiri."
Bu Marini tertawa. "Bagus. Tanaman di belakang hampir putus asa semua. Kamu selamatkan juga ya."
Naura ikut tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah meninggalkan Mahardika, ia merasa tidak sedang turun derajat.
Ia hanya berpindah tempat.
Dari ruangan dingin penuh angka ke rumah besar yang membutuhkan napas manusia.
Saat ia menandatangani kontrak, ponsel Pak Jaya berbunyi. Ia menjauh sebentar, lalu kembali mendekati Bu Marini.
"Bu, Mas Arkan telepon."
Bu Marini langsung cerah. "Aduh, cucu sombong itu akhirnya ingat neneknya."
Pak Jaya menyerahkan ponsel.
Naura menunduk, tidak berniat mendengar.
Tapi suara Bu Marini terdengar jelas.
"Arkan, Nenek sudah dapat orang baru. Namanya Naura. Cantik, pintar, dan teh buatannya enak. Kalau kamu tidak cepat pulang, nanti Nenek jadikan dia cucu saja."
Di seberang, suara laki-laki terdengar samar.
Rendah.
Dingin.
Naura tidak tahu apa yang dikatakannya.
Bu Marini tertawa.
"Tidak usah kirim chef. Nenek mau Naura."
Naura menatap kontrak di depannya.
Nama `Keluarga Pradipta` tercetak di bagian atas.
Ia belum tahu, rumah ini bukan hanya pekerjaan pertama dalam hidup barunya.
Rumah ini adalah pintu menuju badai yang sama sekali lain.
jgn setengah 2 ya