Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Exposed: part 1
Deru mesin monitor heart rate di sudut ruangan seolah berpacu dengan detak jantung Belva yang berdegup kencang.
Suara bentakan Reno masih menggema di balik pintu kamar VIP rumah sakit itu, bercampur dengan isak tangis tertahan dan nada licik Belva yang berusaha membela diri. Belva, dengan segala kelicikannya sebagai istri kedua, mengira ia bisa terus memegang kendali atas kehancuran keluarga ini.
Ia mengira Reno—suami bodoh yang sudah dibutakan oleh pesonanya—akan terus menuruti segala hasrat serakahnya untuk menendang Aera, anak tirinya, keluar dari warisan.
Namun, di luar pintu putih bercat dhuco itu, kepalan tangan Oma Saraswati sudah bergetar bukan karena lemah, melainkan karena amarah yang telah sampai di puncak ubun-ubun.
Keriput di wajah wanita paruh baya itu mengeras, menyembunyikan sisa-sisa kecantikan bangsawan yang dulu disegani di dunia bisnis. Cukup. Sudah terlalu lama ia bersabar melihat sandiwara busuk ini.
Cklek.
Pintu kamar terbuka perlahan tanpa suara, namun sukses membuat nyawa Belva dan Reno serasa copot secara bersamaan. Oma Saraswati melangkah masuk. Posturnya yang tidak lagi muda tetap memancarkan wibawa dingin yang mencengkeram udara ruangan itu seketika.
Reno terbelalak, wajahnya pucat pasi melihat sang mertua berdiri di hadapannya. Sementara Belva, yang sedetik lalu masih memasang wajah memelas, langsung menelan ludah mentah-mentah saat melihat tatapan tajam nan mematikan dari wanita sepuh tersebut.
"Oma... Se... sejak kapan Oma di luar?" suara Belva bergetar, topeng manisnya mulai retak.
Oma Saraswati tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan, menatap sekeliling ruangan seolah tempat itu penuh dengan noda kotor yang menjijikkan. Begitu tiba di dekat ranjang, tepat di hadapan Belva yang menciut, Oma Saraswati menarik napas panjang, lalu meledakkan badai yang selama ini ia pendam.
"Sejak kamu mulai membeberkan kelicikanmu untuk merampas seluruh harta Aera, Belva," suara Oma Saraswati rendah, tajam, namun menghujam tepat di jantung.
Belva dan Reno tertegun.
"Kamu terkejut?" Oma tersenyum sinis, sudut bibirnya terangkat penuh cemoohan. "Kamu pikir permainan kotor kalian di belakangku tidak tercium? Kamu, Belva... perempuan ambisius berkedok istri penyayang, mengira perusahaan keluarga milikku yang sekarang dipegang oleh Reno ini akan jatuh ke tanganmu perlahan-lahan? Asal kamu tahu, kebodohan suamimu ini dalam mempercayaimu justru mempercepat kehancuran kalian sendiri."
Oma Saraswati menoleh tajam ke arah Reno, yang kini menunduk dalam-dalam tanpa berani menatap mata sang mertua.
"Reno, kamu buta!" bentak Oma, membuat Reno terperanjat. "Perusahaan yang kamu banggakan itu, yang sekarang berada di ambang kebangkrutan total akibat ulahmu sendiri yang menuruti perempuan jalang ini... semua investasinya sudah digelapkan! Belva sudah memindahkan seluruh aset perusahaan ke rekening pribadinya dan keluarganya. Kamu sudah bangkrut, Reno! Perusahaan itu bukan lagi milikmu, dan sebentar lagi, kalian berdua akan hidup di jalanan!"
Belva histeris. Wajahnya memucat bak mayat hidup. "Oma! Jangan asal bicara! Oma fitnah saya! Mas Reno, lihat Oma—"
"DIAM!" bentakan Oma Saraswati menggelegar, memotong ucapan Belva mentah-mentah. Auranya begitu mendominasi hingga membuat Belva terduduk lemas di tepi ranjang.
Oma melangkah mendekati Belva, menatap wanita itu tepat di manik matanya dengan kebencian yang teramat sangat. Air mata geram akhirnya tumpah di pipi keriput sang oma, bukan karena sedih, tapi karena kemarahan atas dosa terbesar yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh pasangan durjana di depannya.
"Dan bencana terbesar dari semua kebusukanmu, Belva..." suara Oma bergetar hebat, sarat akan kepedihan yang teramat dalam, "...bukanlah masalah uang atau perusahaan bangkrut itu."
Reno mengangkat kepalanya perlahan, merasakan firasat buruk yang teramat pekat menyergap dadanya.
Oma menunjuk tepat ke dada Belva dengan jari yang bergetar.
“Yang paling parah... yang tidak akan pernah bisa aku ampuni di dunia maupun di akhirat... adalah kematian anak semata wayangku. Putri satu-satunya. Istri pertama Reno."
Suasana kamar mendadak senyap, seolah oksigen ditarik begitu saja dari ruangan itu.
"O-Oma... apa maksud Oma?" bisik Reno terbata-bata, tenggorokannya mendadak kering. Kematian istrinya tahun lalu... yang diklaim sebagai kecelakaan tunggal.
"Ya, Reno! Itu bukan kecelakaan!" air mata Oma tumpah deras, namun sorot matanya menyala seperti api neraka. Ia menatap Belva yang kini sudah gemetar ketakutan, sekujur tubuhnya mandi keringat dingin.
“Perempuan inilah pembunuhnya! Istri kesayanganmu inilah yang meracuni rem Kuda besi putriku! Istri kedua yang kamu bela-belaan nikahi di belakang anakku, dialah dalang di balik rem blong yang merenggut nyawa belahan jiwaku!"
"Tidak! Itu tidak benar! Mas Reno, jangan percaya perempuan tua pikun ini!" Belva menjerit histeris, histeris hisap jari, mencoba mengelak sambil merangkek memeluk kaki Reno. "Dia memfitnahku! Dia ingin melindungi cucunya si Aera itu!"
Namun Reno sudah tidak mendengarkan. Seluruh dunia seolah runtuh di sekelilingnya. Bayangan wajah istri pertamanya yang tewas tragis berkelebat di kepalanya, disusul dengan kenyataan pahit bahwa perempuan iblis yang ia nikahi dan ia menangkan selama ini adalah algojo yang merenggut nyawa wanita yang paling dicintai mertuanya—dan wanita yang dulu pernah ia khianati.
Oma Saraswati tersenyum dingin melihat kehancuran di hadapannya. Kedok telah robek, kebusukan telah telanjang di bawah cahaya lampu rumah sakit.
"Semua bukti penggelapan dan rekaman pengakuan orang bayaranmu sudah ada di tangan polisi, Belva," bisik Oma Saraswati tepat di telinga Belva yang terduduk lunglai di lantai.
“Dan untuk kematian anakku... aku pastikan kamu membusuk di penjara sampai akhir hidupmu. Permainan kalian sudah selesai."
Isakan histeris Belva pecah, mencabik-cabik keheningan malam di lantai VIP rumah sakit tersebut. Ia tidak lagi peduli pada citra wanita anggun yang selama ini ia bangun di hadapan sosialita kota. Tubuhnya melorot sepenuhnya ke lantai keramik yang dingin, mencengkeram ujung seprai rumah sakit dengan jemari yang memutih.
Sisa-sisa topeng penipuannya telah terkoyak tak bersisa di hadapan Oma Saraswati, meninggalkan rupa aslinya yang penuh ketakutan dan kehancuran.
"Tidak... tidak mungkin..." Reno bergumam lirih. Pria paruh baya itu berdiri mematung, menatap dua wanita di hadapannya dengan tatapan kosong nan nanar.
Dunia yang ia bangun atas dasar kebohongan, ambisi buta, dan pengkhianatan kini runtuh seketika dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit. Perusahaan keluarga besar milik mendiang istri pertamanya—yang selama ini ia kelola dengan jumawa—ternyata sudah ludes. Bukan sekadar merugi, melainkan benar-benar kosong. Rekening-rekening cadangan, aset properti atas nama perusahaan, hingga investasi jangka panjang telah dipindahtangankan oleh Belva secara sistematis ke rekening pribadi istri keduanya itu serta keluarga besar Belva di kampung halaman.
Reno menoleh patah-patah kepada Belva. Sosok wanita yang selama ini ia anggap sebagai penyelamat hidupnya dari kejenuhan pernikahan pertamanya, wanita yang ia bela setengah mati meskipun anak kandungnya sendiri, Aera, harus tersiksa batinnya di rumah itu.
"Belva..." suara Reno tercekat di tenggorokan, bergetar hebat antara amarah yang membuncah dan rasa bersalah yang teramat pekat. "Apa... apa yang sudah kamu lakukan? Apa benar semua itu?!"
Belva mendongak, air matanya bercampur peluh dan riasan wajah yang luntur, membuat penampilannya tampak begitu mengenaskan. Alih-alih menjawab dengan penyesalan, ia justru mendesis penuh kebencian, menunjuk ke arah Oma Saraswati dengan tangan gemetar.
"Iya! Kenapa?! Kamu pikir aku bodoh, Mas?!" Belva mendadak bangkit dengan sisa-sisa tenaga, meneriakkan kebenaran busuk yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Suaranya melengking tinggi, memekakkan telinga.
“Aku lelah hidup dalam bayang-bayang istri pertamamu yang suci itu! Aku lelah melihat rumah ini masih memuja arwahnya! Perusahaan itu besar karena kerja samaku dan keluargaku yang menutup-nutupi kebobrokan manajerialmu, Reno! Kamu pikir kamu hebat? Tanpa aku, kamu sudah lama bangkrut sejak lima tahun lalu!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Belva. Reno tidak lagi bisa menahan diri. Tenaga yang tersisa dari amarah yang meledak-ledak membuat tamparan itu begitu kuat hingga Belva kembali tersungkur ke lantai.
"Kurang ajar kamu!" bentak Reno, dadanya naik turun dengan napas memburu. Matanya memerah, urat-urat lehernya menonjol.
“Aku mempercayaimu! Aku berikan segalanya untukmu! Dan kamu... kamu menghancurkan hidupku, perusahaan warisan mertuaku, dan... dan merenggut nyawa istriku?!"
Belva memegang pipinya yang memerah, menatap Reno dengan tawa sumbang yang terdengar seperti ringkikan iblis.
“Nyawa? Oh, kamu baru peduli soal nyawanya sekarang, Mas? Ke mana saja kamu saat dia masih hidup? Kamu sibuk menciumiku di belakangnya! Kamu sendiri yang membuat jalanku semakin mudah karena kamu terlalu sibuk dengan urusan ranjang kita dan mengabaikannya!"
"Cukup!" suara Oma Saraswati menggelegar kembali, memotong pertengkaran menjijikkan di hadapannya.
Oma sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Tatapannya dingin, setajam silet, menembus jiwa kedua orang berdosa di dalam ruangan itu.
Bagi Oma, air mata telah habis terkuras bertahun-tahun lalu saat ia harus memakamkan putri tunggalnya dalam peti mati yang tertutup rapat, diiringi isak tangis Aera kecil yang saat itu bahkan belum mengerti arti kata kematian.
"Kalian tidak perlu saling mencakar seperti anjing kelaparan," ucap Oma Saraswati dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk merinding. "Karena pengadilan dunia dan akhirat sudah menyiapkan tempat yang paling pas untuk kalian berdua."
Seiring dengan kalimat itu, pintu kamar rumah sakit kembali terbuka dari luar. Tiga orang pria berjas rapi dengan lencana identitas khusus melangkah masuk ke dalam ruangan. Di belakang mereka, berdiri sesosok gadis muda berambut panjang dengan mata sembab namun memancarkan ketegasan yang luar biasa—Aera.
Aera.
Gadis yang selama ini menjadi korban intimidasi dan pengusiran halus oleh Belva di rumahnya sendiri. Aera berdiri di ambang pintu, menatap nanar ke arah ayah kandungnya yang hancur berkeping-keping dan ibu tirinya yang kini meringkuk tak berdaya di lantai. Di tangannya, sebuah tablet menyala menampilkan dokumen-dokumen transaksi keuangan ilegal dan surat penangkapan resmi dari kepolisian.
"Oma..." bisik Aera lirih, berjalan mendekati sang nenek dan merengkuh bahu wanita sepuh tersebut dengan penuh kelembutan. Ada genangan air mata di sudut mata Aera, bukan karena kesedihan, melainkan kelegaan luar biasa setelah bertahun-tahun hidup dalam teror psikologis yang diciptakan oleh Belva.
Reno terbelalak melihat kehadiran anak kandungnya. Tenggorokannya mendadak kelu. Ia ingin memanggil nama Aera, ingin merentangkan tangan meminta pengampunan, namun kakinya terasa terpaku di lantai bumi. Ia sadar, ia adalah ayah yang gagal—pria bodoh yang dibutakan oleh nafsu duniawi hingga membiarkan ular beracun bersarang di dalam istananya sendiri.
"Aera... anakku..." lirih Reno nyaris tak terdengar.
Aera menoleh pelan ke arah ayahnya. Tidak ada amarah yang meledak-ledak dari bibir gadis itu, yang ada hanyalah tatapan kosong penuh kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan daripada sebuah makian.
"Papa salah memihak," ucap Aera datar, suaranya bergetar namun tegas menusuk relung hati Reno. "Dan sekarang, waktunya membayar semua harga dari kesalahan itu."
Petugas kepolisian melangkah maju tanpa ragu. Dua orang petugas langsung memborgol kedua tangan Belva yang terus meronta-ronta dan mengeluarkan sumpah serapah kotor. Wanita itu berteriak histeris, memanggil nama Reno berkali-kali agar menyelamatkannya, namun Reno hanya bisa terduduk lemas bersandar pada dinding rumah sakit, menutup wajahnya dengan kedua belah tangan yang gemetar hebat.
Penyesalan datang terlambat, persis seperti badai yang menyapu bersih seluruh isi rumah hingga tak menyisakan sebatang tiang pun untuk bersandar.
Oma Saraswati merangkul pundak Aera, membalikkan badan meninggalkan ruangan penuh bau kepedihan dan kebusukan moral tersebut. Di ambang pintu, Oma sempat melirik sekilas ke arah Reno yang kini menangis tersedu-sedu di lantai seorang diri, meratapi kebangkrutan harta dan kehormatannya yang ludes dalam sekejap mata.
"Mari kita pulang, cucuku," bisik Oma Saraswati lembut kepada Aera.
Malam itu, di bawah langit kota yang dingin, tirai kebohongan terangkat sepenuhnya. Keadilan, meski berjalan dengan jalan yang terjal dan penuh air mata, akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk menuntut balas atas jiwa-jiwa tak berdosa yang telah dizalimi.