NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Yang Mengintai di Toko Buku

Beberapa hari setelah akad, Bram kembali ke satuan untuk mengurus rumah dinas dan jadwal kepindahan.

"Saya pulang sebelum sore," katanya di teras.

Laras menyerahkan map dokumen. "Kalau tidak pulang?"

"Saya kabari."

"Bagus. Aku juga akan keluar."

Bram yang sudah memakai sepatu dinas berhenti. "Ke mana?"

"Pasar kain dan toko buku. Aku perlu referensi pola, kertas, dan ingin melihat harga bahan."

"Dengan siapa?"

"Diriku sendiri."

Alis Bram naik.

"Aku sudah hidup sendiri bertahun-tahun sebelum mengenalmu," lanjut Laras. "Menikah tidak membuatku lupa menyeberang jalan."

"Saya tidak melarang. Saya bertanya karena Tania baru melewati batas."

"Aku akan mengirim lokasi dan tidak pulang lewat gang sepi."

"Kalau ada sesuatu, telepon saya."

"Atau polisi, tergantung siapa yang paling dekat."

Bram mengangguk puas. Ia mencium kening Laras singkat sebelum pergi.

"Jangan lupa makan."

"Kamu juga."

Bu Rahayu yang melihat dari ruang tengah tersenyum. "Kalian sudah terdengar seperti pasangan yang menikah sepuluh tahun."

"Kami hanya sama-sama suka memberi perintah," kata Laras.

***

Di pasar, Laras membandingkan harga katun, rayon, dan kain seragam. Ia tidak membeli banyak, hanya beberapa potong sampel untuk membuat pakaian bagi Bu Rahayu dan Kinan. Bik Inah sudah memberinya ukuran keduanya.

"Nak, tidak usah repot membuatkan Ibu baju," kata Bu Rahayu melalui pesan suara.

Laras membalas, "Ini latihan sampel, Ibu. Kalau hasilnya buruk, jangan dipakai keluar rumah."

Jawaban Bu Rahayu datang cepat. "Kalau buatanmu, Ibu pakai ke arisan supaya semua orang iri."

Laras tersenyum sendiri.

Ia memasukkan kain ke tas besar, lalu berjalan menuju toko buku di seberang pusat pertokoan. Di sana ia mencari buku dasar manajemen UMKM, katalog warna, dan referensi busana Nusantara kontemporer.

Rak desain berada di bagian belakang, lebih sepi daripada area alat tulis.

Laras baru menyadari seseorang mengikutinya ketika bayangan yang sama muncul di pantulan kaca rak untuk ketiga kali.

Seorang lelaki berkaus abu-abu pura-pura membaca sampul buku teknik. Di lorong lain, dua lelaki berdiri terlalu dekat tanpa membawa keranjang. Satu orang lagi menjaga ujung rak.

Laras tidak menoleh langsung.

Ia mengambil ponsel, membuka percakapan dengan Bram, dan mengirim lokasi. Kemudian ia mengetik satu kalimat: `Ada beberapa pria mengikuti. Aku masih di dalam toko.`

Pesan terkirim, tetapi belum terbaca.

Jaringan di bagian belakang toko lemah.

Laras bergerak menuju meja kasir sambil membawa tiga buku. Lelaki berkaus abu-abu bergeser menutup jalur utama.

"Mbak, cari buku apa?" tanyanya.

"Sudah dapat."

"Buru-buru sekali."

"Kasir menunggu."

Ia berusaha melewati sisi kanan. Lelaki lain muncul dari lorong, membuat ruang semakin sempit.

Jantung Laras mulai berdetak keras, tetapi wajahnya tetap tenang.

"Permisi."

"Kami cuma mau ngobrol," kata lelaki kedua. "Jangan sombong."

"Kalau ingin bertanya soal buku, panggil pegawai."

Laras berbalik menuju ujung lain. Di sana berdiri dua orang tambahan. Lima seluruhnya.

Mereka tidak datang kebetulan.

***

Di kantor satuan, Bram baru selesai menandatangani berita acara serah terima rumah dinas ketika ponselnya bergetar.

Pesan Laras masuk terlambat beberapa menit.

`Ada beberapa pria mengikuti. Aku masih di dalam toko.`

Wajah Bram langsung berubah.

Ia menelepon. Tidak tersambung. Lokasi yang dikirim mengarah ke sebuah toko buku dekat pasar, sekitar lima belas menit dari markas bila lalu lintas lancar.

"Ada masalah, Kapten?" tanya petugas perumahan.

"Istri saya diikuti beberapa orang."

Bram tidak berlari tanpa rencana. Ia menghubungi nomor toko yang ditemukan melalui pencarian cepat, meminta pegawai memeriksa area rak belakang dan tidak mendekat sendirian bila melihat kelompok mencurigakan. Setelah itu ia mengirim lokasi kepada petugas keamanan setempat dan memberi tahu piket satuan bahwa ia keluar karena keadaan darurat pribadi.

Baru kemudian ia meraih kunci kendaraan.

"Saya ikut," tawar seorang rekan.

"Tidak. Hubungi polisi kalau saya kirim kode darurat."

Ia tidak ingin membawa kewenangan militer ke konflik sipil tanpa alasan. Namun bayangan lima orang yang mengelilingi Laras membuat darahnya terasa mendidih.

Saat kendaraan keluar gerbang, pesan kedua tidak datang.

***

Di luar toko, Bang Somad merokok dekat sepeda motor. Tania hanya memberi instruksi agar Laras diperingatkan dan dibuat takut, tidak sampai terluka parah. Namun salah satu anak buahnya sudah bertanya apakah mereka boleh "bersenang-senang sedikit".

Bang Somad tidak menjawab tegas. Uang tambahan sering lahir dari kekacauan.

Ia melihat layar ponsel. Pesan Tania masuk.

`Pastikan dia paham harus menjauh dari Bram.`

Bang Somad membalas dengan satu tanda jempol.

***

Laras meletakkan tas kain di dekat kaki agar kedua tangannya bebas.

"Siapa yang menyuruh kalian?" tanyanya.

Lelaki berkaus abu-abu tersenyum. "Pintar juga."

"Kalau hanya ingin merampok, kalian tidak perlu menunggu aku masuk rak paling belakang."

"Kami tidak mau uangmu."

"Bagus. Aku juga tidak punya banyak."

Salah satu lelaki tertawa. Yang paling muda melirik tubuh Laras dengan cara yang membuat kulitnya meremang.

"Katanya istri tentara," ujarnya. "Tapi pergi sendiri."

Laras mundur satu langkah. Ujung rak menekan punggungnya.

Ia menghitung jalan. Lorong kanan tertutup dua orang. Kiri satu orang. Di belakang tidak ada pintu. Pegawai toko berada cukup jauh, tetapi jika Laras membuat suara besar, kamera dan pelanggan bisa menjadi saksi.

Di sudut langit-langit ada kamera berbentuk kubah. Laras sengaja bergeser agar wajah para lelaki masuk ke arahnya. Di dekat ujung rak, sebuah alat pemadam tergantung pada dinding. Terlalu jauh untuk diraih sekarang, tetapi bisa menjadi tujuan bila ia berhasil membuka lorong.

Ia menekan tombol samping ponsel melalui kain saku beberapa kali, berharap panggilan darurat atau rekaman suara aktif. Tidak tahu apakah berhasil, ia mulai menyebut ciri mereka dengan suara keras.

"Lima orang. Satu kaus abu-abu, dua jaket hitam, satu topi merah, satu kemeja kotak. Kalian yakin mau semua wajah terekam?"

Senyum lelaki di depan langsung hilang. "Perempuan ini banyak akal."

"Kalau ada pesan, katakan di sini," ucapnya lebih keras.

"Pelankan suara."

"Kenapa? Takut didengar?"

Lelaki berkaus abu-abu maju. "Kami bilang ngobrol baik-baik."

Laras mengangkat sebuah buku tebal di depan dada. "Lima lelaki mengepung satu perempuan di belakang toko bukan definisi baik-baik."

Seorang pelanggan di lorong sebelah menoleh. Salah satu preman segera bergeser menutup pandangan.

Ponsel Laras bergetar di saku. Entah balasan Bram atau notifikasi lain. Ia tidak bisa mengambilnya tanpa membuka pertahanan.

Lelaki termuda mendekat dari samping. Bau rokok dan keringatnya semakin kuat.

"Jangan sentuh aku," kata Laras.

"Kalau disentuh kenapa? Mau panggil suami?"

Bayangan mereka mengepung di antara rak buku. Sebuah tangan kasar terulur, lalu meraih bahu Laras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!