Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Rue des Martyrs
Pukul lima pagi.
Paris belum benar-benar bangun.
Langit masih berwarna biru gelap.
Lampu-lampu jalan belum dipadamkan.
Dan udara...
Dingin sekali.
Aku menarik kedua tangan ke dalam saku jaket.
"Siapa sih..."
gumamku sambil menguap.
"...yang punya ide jalan jam segini?"
Henri tetap berjalan tanpa menoleh.
"Aku."
"Oh."
"Berarti pertanyaanku terjawab."
Léo yang berjalan di sampingku masih setengah tidur.
Rambutnya berantakan.
Matanya bahkan belum terbuka sepenuhnya.
"Maël."
"Hm?"
"Kalau nanti aku pingsan..."
"...tolong jangan tinggalin aku."
Aku mengangguk.
"Tentu."
"Terima kasih."
"Aku bakal jual kau ke toko roti."
Léo langsung melotot.
"KAU JAHAT."
"Katanya jangan tinggal."
"Itu bukan maksudku!"
Marcel yang berjalan di depan kami sampai menggeleng sambil tertawa kecil.
"Anak-anak..."
── Maël kepada kalian ──
Aku punya teori.
Kalau orang membangunkan kalian sebelum matahari terbit...
Dia pasti salah satu dari tiga jenis manusia.
Tukang roti.
Nelayan.
Atau...
Henri.
Bedanya...
Henri membawa revolver.
── Kembali ke cerita ──
Kami mulai memasuki kawasan Rue des Martyrs.
Berbeda dengan tempatku biasa tinggal.
Jalan ini terasa lebih hidup.
Toko bunga mulai membuka pintu.
Seorang pria sedang menyusun baguette di etalase.
Aroma kopi memenuhi udara.
Beberapa pelari pagi melewati kami sambil membawa anjing.
Aku memperhatikan mereka.
"Lucu ya."
kataku.
"Apa?"
tanya Léo.
"Orang-orang ini bangun pagi buat olahraga."
"Iya."
"Aku bangun pagi..."
"...karena dikejar organisasi misterius."
"Itu juga olahraga."
Aku menoleh.
"Kau benar juga."
Henri berhenti di depan sebuah bangunan tua bernomor 27.
Bangunannya kecil.
Tiga lantai.
Dindingnya dipenuhi tanaman merambat.
Di lantai dasar terdapat toko buku.
Papan kayunya bertuliskan:
Librairie des Hirondelles
"Toko Buku Burung Layang-Layang."
Aku mengerutkan dahi.
"Burung layang-layang lagi."
Henri mengangguk.
"Dulu..."
"...ini markas pertama."
"Markas?"
"Bukan markas perang."
"Tempat orang-orang bertemu."
"Tempat anak-anak jalanan makan."
"Belajar membaca."
"Dan tidur kalau musim dingin."
Aku memandang toko buku itu cukup lama.
Sulit dipercaya.
Tempat sederhana seperti ini...
Pernah menjadi rumah bagi begitu banyak orang.
Bel berbunyi ketika kami masuk.
Ting...
Aroma kertas tua langsung menyambut kami.
Rak-rak buku memenuhi ruangan.
Buku baru.
Buku bekas.
Peta tua.
Novel klasik.
Aku berjalan pelan.
Tanganku menyentuh salah satu buku.
Sampulnya sudah kusam.
"Maaf."
kata seorang wanita muda dari balik meja kasir.
"Toko baru buka."
"Apa yang bisa saya bantu?"
Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun.
Rambut cokelat sebahu.
Kacamata bundar.
Tangannya penuh noda tinta.
Ia tampak lebih seperti penulis daripada penjaga toko.
Henri tersenyum tipis.
"Bonjour, Camille."
Wanita itu membeku.
"Henri?"
Matanya membesar.
"Mon Dieu..."
"Kau masih hidup?"
Henri tertawa pelan.
"Kalimat itu sering sekali kudengar."
Camille langsung memeluk Henri.
"Aku pikir kau sudah..."
"Aku juga."
jawab Henri.
"Tapi ternyata belum."
Camille kemudian melihat ke arahku.
Tatapannya berubah.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Seolah ia sedang melihat seseorang yang pernah dikenalnya.
"Dia..."
bisiknya.
Henri mengangguk.
"Iya."
"Maël."
Camille menutup mulutnya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Mustahil..."
Aku mengangkat tangan.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kenapa setiap orang yang melihatku..."
"...selalu bereaksi seperti habis melihat hantu?"
Léo menyela.
"Aku juga penasaran."
Camille tertawa kecil.
"Karena..."
"...kau benar-benar mirip ibumu."
Aku menghela napas panjang.
"Lagi-lagi."
"Ibu."
"Semua orang mengenalnya."
"Aku saja yang tidak."
Camille tampak bersalah.
"Maaf."
Aku tersenyum tipis.
"Tidak apa."
"Sudah biasa."
Padahal...
Belum juga.
Henri berjalan menuju rak paling belakang.
Ia menarik satu buku tebal berjudul Notre-Dame de Paris.
Klik.
Seluruh rak buku bergeser pelan.
Aku langsung melongo.
"Tunggu."
"Ini..."
"...rak rahasia?"
Léo langsung bersinar.
"AKU SUKA TEMPAT INI."
"Ada berapa pintu rahasia lagi di Paris?"
Henri menjawab santai.
"Lebih banyak daripada jumlah turis yang kehilangan dompet."
Aku spontan menoleh ke Léo.
"Kita jangan tersinggung."
"Kita bagian statistik."
Di balik rak buku terdapat ruangan kecil.
Jauh lebih tua daripada toko di luar.
Dinding batanya dipenuhi foto-foto.
Peta Paris.
Surat.
Dan sebuah papan besar yang penuh benang merah.
Persis seperti yang sering kulihat di film detektif.
Aku mendekat.
Di tengah papan itu...
Ada sebuah foto.
Foto seorang perempuan.
Rambut hitam.
Mata abu-abu.
Senyumnya hangat.
Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Namun...
Entah kenapa dadaku terasa sesak.
"Siapa dia?"
tanyaku lirih.
Henri menjawab pelan.
"Itu..."
"...ibumu."
Aku tidak bisa mengalihkan pandangan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku...
Aku melihat wajah orang yang telah melahirkanku.
Senyumnya...
Aneh.
Terasa begitu akrab.
Seolah aku pernah melihatnya.
Dalam mimpi.
Atau...
Dalam ingatan yang telah lama terkubur.
Camille berdiri di sampingku.
"Ibumu suka membaca."
katanya.
"Setiap kali datang ke sini..."
"...dia selalu membawa anak kecil."
Aku menoleh perlahan.
"Anak itu..."
"...aku?"
Camille mengangguk.
"Iya."
"Lima belas tahun lalu."
"Kau selalu berlari ke rak komik."
Léo langsung menepuk bahuku.
"Tuh."
"Dari kecil kau memang suka gambar."
Aku tersenyum kecil.
"Sepertinya."
Namun senyum itu perlahan menghilang.
Karena mataku menangkap sesuatu di sudut papan.
Ada foto ibuku.
Dan di sebelahnya...
Ada foto seorang pria yang wajahnya dicoret dengan tinta hitam.
Di bawah foto itu tertulis satu kata.
TRAÎTRE
"Pengkhianat."
Aku menunjuk foto itu.
"Siapa dia?"
Ruangan mendadak sunyi.
Camille memalingkan wajah.
Henri mengepalkan tangan.
Marcel menarik napas panjang.
Tak ada yang ingin menjawab.
Lalu...
Suara bel toko kembali berbunyi dari lantai atas.
Ting...
Camille mengernyit.
"Aneh..."
"Toko belum jam buka."
Kemudian terdengar suara seorang pria.
Lembut.
Tenang.
"Bonjour."
"Aku sedang mencari sebuah buku."
Camille langsung membeku.
Wajahnya kehilangan warna.
Henri hanya berbisik satu kalimat.
"Jangan bersuara."
Aku menatap mereka satu per satu.
"Ada apa?"
Henri menjawab dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Itu..."
"...orang yang seharusnya sudah mati."
── Maël kepada kalian ──
Dulu aku mengira hidupku cuma tentang bertahan sampai besok.
Sekarang...
Setiap pintu yang kubuka melahirkan rahasia baru.
Dan anehnya...
Semakin dekat aku pada kebenaran...
Semakin banyak orang yang ingin memastikan aku tidak pernah menemukannya.