NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033: Bayang Laskar Merdeka

Menara Pandang Utara selalu lebih dingin daripada bagian lain Akademi Damokles.

Bukan karena Pasira tiba-tiba punya belas kasihan. Planet itu tetap memanggang pasir di siang hari dan mengirim angin tajam di malam hari. Tetapi menara ini berdiri di ujung kompleks, jauh dari kantin, jauh dari lapangan, jauh dari suara siswa yang berdebat soal mecha, kredit, dan ranking. Dindingnya tebal. Jendelanya menghadap gurun gelap. Di bawah sana, Alun Pedang Damokles tampak kecil, hanya petak cahaya dengan bekas luka samar di tengah.

Tri tiba terakhir.

Bukan karena terlambat.

Karena ia mampir mengambil kotak peredam kecil, dua rekaman cadangan, dan roti kering dari kantin.

Bara melihat roti itu.

“Kau membawa makanan ke rapat penyelidikan?”

Tri mengangkat roti. “Penyelidikan panjang membutuhkan logistik.”

“Itu roti diskon.”

“Justru lebih cocok untuk rapat rahasia. Kalau saya mati, kerugian kecil.”

Hendra duduk di meja bundar dengan Kom terbuka. “Tolong jangan mulai rapat dengan perhitungan harga kematian lo.”

Rakha sudah memasang proyektor mini. Di atas meja, gambar Alun Pedang Damokles muncul dari atas: titik kemunculan Bestia, arah serangan, posisi warga, posisi Hendra, posisi Rakha, posisi Tri, posisi Mayor Bara. Garis-garis merah dan biru saling silang.

Bara menutup pintu.

Kunci mekanis berbunyi.

Lalu kunci Indra tipis menyapu dinding.

Tri merasakannya hanya seperti tekanan ringan di kulit kepala. Komandan tingkat tinggi mungkin akan merasa lebih jelas. Baginya, gelombang itu seperti hujan kecil jatuh ke laut terlalu luas.

Ia tidak menunjukkan apa-apa.

Bara duduk. “Tidak ada catatan resmi untuk bagian pertama. Jika ada yang keluar dari ruangan ini tanpa izin, aku anggap pelanggaran keamanan akademi.”

Tri menggigit roti.

Kering sekali.

Ia hampir menyesal tidak mencuri air Hendra.

“Mulai,” kata Bara.

Hendra memutar rekaman. “Pertama, arah muncul. Lima Bestia keluar dari tiga titik. Kalau tujuan mereka sekadar membuat kerusuhan, mereka akan menyebar ke kerumunan terpadat. Tapi dua Bestia memotong jalur ke posisi Rakha, dua bergerak ke arah saya, satu menyerang warga di sekitar Bu Wening karena jalurnya dihalangi Tri.”

Garis merah bergerak di proyeksi.

Tri menambahkan, “Mereka bukan pintar. Geraknya masih kasar. Tapi ada prioritas. Seperti mecha murah diberi perintah setengah rusak: maju ke tanda panas, hancurkan apa pun yang menghalangi.”

Rakha membuka gambar lapisan abu kehijauan. “Bahan penempel ini kemungkinan bekerja sebagai jembatan impuls. Bukan kendali penuh. Lebih seperti memaksa saraf gerak Bestia merespons rangsangan tertentu.”

Bara menyilangkan tangan. “Rangsangan apa?”

Rakha melihat Hendra, lalu dirinya sendiri. “Daya Indra tinggi. Atau pola darah wangsa tertentu. Saya belum bisa memastikan.”

Hendra mengetuk meja. “Kalau Daya Indra tinggi, kenapa bukan semua siswa S di plaza?”

“Karena lapisannya terlalu kasar untuk memilih banyak target,” kata Tri. “Atau karena pembuatnya memang cuma menandai dua jenis mangsa.”

“Komandan dan Empu,” kata Bara.

“Komandan 3S dari keluarga Gunawan yang bukan wangsa Komandan klasik,” ujar Hendra pelan. “Dan Empu 3S dari cabang Adiwangsa.”

Ruangan menjadi sunyi.

Angin malam menghantam kaca menara. Butir pasir kecil mencicit di permukaan luar, seperti kuku halus menggaruk peti logam.

Tri mengunyah roti sampai habis sebelum bicara.

“Targetnya bukan cuma orang kuat. Kalau mau bunuh orang kuat, ada cara lebih bersih. Ini di plaza, depan publik, tepat setelah Turnamen Agni makin dekat, lalu Media Saga langsung punya narasi.”

Bara menatapnya. “Lanjut.”

“Ada dua hasil yang mereka mau. Kalau Hendra atau Rakha mati, Damokles kehilangan aset besar sebelum kompetisi. Kalau tidak mati, Damokles tetap kena tuduhan eksperimen dan kelalaian.” Tri menunjuk layar. “Jadi menang-kalah mereka tidak bergantung pada cakar Bestia. Cakarnya cuma pembuka.”

Hendra mengangguk. “Media Saga mengunci opini. Tim penyelidik menekan prosedur. Samuel mencoba mengarahkan kesimpulan. Semua terlalu cocok.”

Rakha menampilkan daftar pihak yang punya akses ke lokasi setelah kejadian. Beberapa nama petugas kota, teknisi distrik, pengawas sipil, dan jalur transfer data muncul. Sebagian sudah diberi tanda tanya.

“Bukti material dibersihkan setelah masuk prosedur,” kata Rakha. “Pembersihannya bukan panik. Mikroguratan searah, tekanan stabil, alatnya kecil. Pelaku tahu bagian mana yang harus dihilangkan.”

Bara mengetuk meja dengan buku jari. Satu kali. Dua kali.

“Itu bisa orang dalam kota.”

“Bisa,” kata Hendra. “Tapi siapa yang cukup berani menyerang plaza Damokles, menyentuh siswa 3S, melibatkan media besar, dan memanfaatkan kebencian Samuel?”

“Banyak wangsa berani kalau untungnya cukup,” ujar Bara.

Hendra tersenyum tipis. “Benar. Tapi wangsa biasanya menjaga tangan tetap wangi. Mereka membayar orang lain, bukan meninggalkan pola seperti ini.”

Tri memandang Hendra.

Ia mengenal wajah itu.

Itu wajah Hendra saat sudah menumpuk kepingan di kepala dan tinggal menunggu satu keping terakhir jatuh. Sejak kecil, Hendra bisa melihat alur barang di tumpukan sampah lebih cepat daripada anak lain. Siapa yang membuang, siapa yang mencuri, siapa yang menukar label. Bedanya sekarang tumpukan sampah itu berisi politik Federasi.

“Lo punya nama,” kata Tri.

Hendra tidak langsung menjawab.

Ia menutup beberapa jendela data, menyisakan satu halaman buku sejarah militer. Halaman itu bukan dokumen rahasia. Justru terlalu publik. Ringkasan wajib untuk siswa Komandan tahun pertama, bagian “aib Federasi modern”.

Di sana tertulis tiga kata dalam font resmi.

Laskar Merdeka.

Bara berdiri begitu cepat kursinya hampir jatuh.

“Jangan sembarang sebut.”

Hendra tidak mundur. “Saya tidak sembarang.”

Udara di ruangan berubah.

Sebelumnya tegang seperti baut dikencangkan. Sekarang tegang seperti mesin mecha menyala tanpa pendingin. Rakha menatap halaman itu dengan wajah kaku. Tri meletakkan sisa bungkus roti di meja, perlahan, agar tangannya tidak terlihat terlalu siap bergerak.

Ia pernah mendengar nama itu.

Semua siswa militer pernah.

Distrik 3. Distrik 11. Pembelotan dua puluh tahun lalu. Slogan tentang kebebasan dari kuasa militer. Nama yang ditulis buku sejarah seperti karat di lambang Federasi. Guru-guru menyebutnya dengan suara rendah. Forum menyebutnya lebih rendah lagi. Tidak ada yang benar-benar tahu wajahnya, tetapi semua orang diajari untuk takut pada bayangannya.

“Dasar dugaan,” kata Bara.

Suaranya lebih keras dari biasanya.

Hendra mengangkat satu jari. “Pertama, target. Laskar Merdeka dalam versi publik selalu menyerang struktur militer dan simbol Federasi. Damokles adalah simbol tua yang sedang lemah. Menyerangnya menghasilkan gema besar.”

Jari kedua.

“Kedua, kemampuan. Modifikasi Bestia Bintang bukan pekerjaan geng jalanan. Butuh bahan, lab, jalur penyelundupan, dan orang yang tidak takut hukum Federasi.”

Jari ketiga.

“Ketiga, pola pesan. Mereka tidak sekadar membunuh. Mereka membuat panggung. Plaza publik, siswa 3S, media, penyelidik. Ini operasi narasi, bukan serangan liar.”

Bara menatapnya seperti ingin membelah kalimat itu satu per satu.

“Itu bisa Nandana, bisa Samuel garis keras, bisa pedagang senjata, bisa organisasi kriminal.”

“Bisa,” kata Hendra. “Karena itu saya bilang mungkin. Bukan pasti.”

Tri akhirnya bicara. “Kalau nama itu salah, kita rugi arah. Kalau benar, kita rugi nyawa.”

Rakha menoleh kepadanya.

Tri memandang proyeksi Laskar Merdeka tanpa berkedip. Ia tidak suka nama yang terlalu besar. Nama besar membuat orang berhenti melihat baut kecil. Padahal mesin selalu rusak dari baut yang dianggap sepele.

“Gue tidak peduli mereka pakai bendera apa,” kata Tri. “Yang kemarin dilepas ke plaza itu Bestia termodifikasi. Ada orang tua gue di sana. Ada anak kecil di sana. Kalau mereka mengirim cakar, gue hitung cakarnya. Kalau mereka mengirim berita, gue hitung jalur beritanya. Nama besar belakangan.”

Bara menatap Tri lama.

Kemarahan di wajahnya tidak hilang, tetapi arahnya bergeser. Bukan lagi ke Hendra sepenuhnya. Mungkin ke masa lalu. Mungkin ke sesuatu yang pernah ia lihat di Distrik 13. Tri tidak tahu.

“Kalian tidak paham beratnya tiga kata itu,” kata Bara.

Hendra menjawab pelan, “Maka jelaskan, Mayor.”

Bara tertawa pendek. Tidak ada senang di sana.

“Kalau aku jelaskan tanpa izin, karierku selesai. Kalau kalian menyebarkan dugaan ini, hidup kalian bisa selesai lebih cepat.”

Rakha menutup proyeksi buku sejarah, menyisakan peta serangan. “Maka kita tidak menyebarkan. Kita simpan sebagai cabang hipotesis.”

“Dan tetap mengejar bukti kecil,” tambah Tri. “Lapisan abu kehijauan. Jalur petugas kota. Potongan rekaman Media Saga. Reaksi Samuel. Semua yang bisa disentuh.”

Bara perlahan duduk kembali.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah instrukturnya hilang. Yang tersisa prajurit yang tahu ada ranjau di tanah dan harus melihat tiga siswa berjalan ke arahnya.

“Dengar,” katanya. “Mulai sekarang, kalian tidak bergerak sendiri dalam urusan ini. Tidak membuntuti petugas kota. Tidak menyusup ke kantor media. Tidak menantang perwakilan Samuel di lorong.”

Tri membuka mulut.

Bara menunjuknya. “Terutama kau.”

Tri menutup mulut.

Hendra berkata, “Kalau mereka bergerak dulu?”

“Laporkan.”

“Kalau terlambat?”

Bara diam.

Jawaban itu sudah cukup.

Di luar jendela, pasir bergulung melewati kaki menara. Jauh di bawah, Alun Pedang Damokles tampak tenang. Terlalu tenang. Seperti arena setelah penonton pulang, padahal darah di bawah lapisan pasir belum dicuci bersih.

Tri berdiri dan mengambil kotak peredam.

“Kalau ini catur,” katanya, “mereka baru dorong pion.”

Hendra menatap peta. “Pion yang punya cakar.”

“Pion tetap pion. Yang penting cari tangan yang memindahkannya.”

Bara mematikan seluruh proyeksi. Cahaya di ruangan meredup, menyisakan pantulan wajah mereka di kaca: seorang mayor dengan rahang terkunci, seorang Komandan muda yang terlalu cepat memahami politik, seorang Empu Adiwangsa yang diam-diam menghitung struktur, dan seorang anak dari planet sampah yang baru saja belajar bahwa beberapa tumpukan berisi sejarah busuk.

Bara berjalan ke pintu, tetapi sebelum membukanya, ia berhenti.

Tangannya menekan bahu Hendra.

Keras.

“Tiga kata itu,” katanya rendah, “kau dengar dari mana?”

Di luar, angin Pasira menabrak Menara Pandang Utara.

Dan di atas Alun Pedang Damokles yang gelap, permainan yang lebih besar dari Bengkel Hitam, lebih besar dari Turnamen Agni, akhirnya menjatuhkan bidak pertamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!