"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan pertama
Bintang begitu tidak menyangka kalau Radini akan datang langsung ke ladangnya untuk membeli padi, tapi Bintang tidak pernah ingkar janji, dia sudah mengatakan akan menjual sebagian padinya pada Kusoy jadi dia tetap dengan keputusannya itu.
Radini memang kecewa tapi dia tidak bisa memperlihatkan itu di depan semua orang, dia tetap menjaga wibawanya karena dia tidak mau di anggap menggunakan nama besarnya untuk menekan orang lain di kampung itu.
"Mungkin kak Galuh belum menjual padinya, hari ini dia juga panen jadi kamu bisa bertanya padanya" ucap Bintang
"Tapi supir saya sedang mengurus pengantaran perhiasan ke toko saya" ucap Radini melirik Dirga
"Dirga, kamu antar Radini ke ladang kak Galuh, mungkin padinya belum di jual" ucap Bintang
"Padinya Galuh juga sudah di jual cah Bagus, di jual ke Jakarta, kan Galuh besannya keluarga Adiwinata, keluarga itu yang membeli semua padi Galuh" ucap Sahara
"Bagaimana? apa mas Dirga mau mengantar saya ke sana?" tanya Radini
"Maaf, tidak bisa karena saya ada urusan, mungkin kak Sigit bisa mengantar" jawab Dirga
"Sepertinya padi Om Galuh juga sudah di jual ke Jakarta" ucap Sigit dan sekarang Radini menatap dalam Sigit.
Radini tidak mengenal Sigit, tapi melihat sosoknya, Radini tidak yakin Sigit punya ilmu kanuragan ataupun ilmu putih karena Sigit sama dengan warga lainnya terlihat sederhana. Tapi Radini tidak tahu kalau kalung yang di pakai Sigit lah yang membuatnya tidak terlihat memiliki ilmu karena Badaruddin menyamarkan Keberadaannya sama seperti iblis yang di sembah Radini.
"Antar saja dulu, kasihan Radini sudah ke sini, nanti Om akan antarkan sekitar dua ratus kilo ke rumah kamu kalau kamu mau, itu dari bagian Om karena stok di lumbung masih ada" ucap Bintang
"Iya Om, Radini mau" jawabnya
"Kamu jadi terlihat seperti perempuan pada umumnya kalau bersikap biasa seperti ini, tidak seperti nyai bangsawan yang sering kamu perlihatkan" ungkap Bintang
"Saya memang seperti ini aslinya Om, kalau di depan warga itu adalah tuntutan keluarga dan ibu" jawab Radini tersenyum sopan.
Bintang mengangguk, dia melihat Radini adalah sosok yang lembut dan sopan, tutur katanya bagus dan sepertinya sudah di persiapkan untuk menjadi penerus keluarga Sukarna dengan baik oleh ibunya. Bahkan Bintang tertarik untuk menerima lamaran Radiah untuk Radini pada Dirga.
"Jadi apa bisa saya ke tempat pak Galuh?" tanya Radini
"Baiklah Om, ayo nyai bisa ikut dengan mobil kebun" ajak Sigit
"Cah Bagus! jangan tatap matanya lebih dari lima detik, sini Sahara sembur dulu!" kesal Sahara pindah ke punggung Bintang dan meniup ubun ubun Bintang karena dia terus menatap Radini.
"Dasar Kunti sialan! Berani dia menghilangkan pengaruh ku dari Bintang! akan aku buat kuntilanak itu hilang selamanya nanti" batin Radini menatap tidak suka sosok Sahara yang sedang mengusap rambut Bintang supaya tidak terus menatap Radini.
Setelah Radini pergi bersama Sigit, Dirga langsung menghampiri Bintang dan memberikan air minum untuk ayahnya itu, bahkan Bintang sempat terhuyung dan hampir pingsan jika Dirga tidak menahannya.
"Kenapa papa?" tanya Bintang kebingungan
"Papa hampir kena pengaruh ilmu hitam pa, entah dari mana datangnya" jawab Dirga
"Tapi kan lahan ini di pagari pagar gaib" ucap Bintang
"Ada yang aneh cah Bagus, ada yang aneh, sepertinya lahan cah Bagus harus di pagar oleh lima raja jin Islam baru bisa hilang dari masalah" ucap Sahara melihat sekeliling.
"Maksudnya?" tanya Bintang
Belum lima menit Bintang menanyakan tentang maksud Sahara, segerombolan tikus tiba tiba saja datang dari arah kebun menuju ke lahan Bintang. Rukmini yang merasakan adanya bahaya langsung keluar dari dalam kalung Bintang dan menghadang tikus tikus itu dengan tongkat miliknya, begitupun Sahara yang menghalangi tikus tikus itu menggunakan rambutnya.
"Kenapa mereka bisa masuk, pasti ada setan yang membuka pagar kita Sahara" ucap Rukmini
"Benar nek, Sahara juga merasakan itu sejak si nyai Rudin itu masuk ke sini" jawab Sahara
"Nyai Radini" ucap Dirga
"Ah Sahara malas menghafal nama" ucap Sahara
Dirga mengambil botol air yang baru, dia membacakan sesuatu ke dalam air itu dan setelahnya dia menyiram tikus tikus itu sampai semuanya menghilang begitu saja menjadi asap.
"Tikus gaib?" tanya Bintang
"Iya pa, sepertinya tikus kiriman seseorang yang ingin lahan papa rusak" jawab Dirga
"Aakhhh!"
Terdengar teriakan dari arah sawah dan ketika di cek, ternyata ada salah seorang pekerja Bintang yang di cekik sesuatu sampai tubuhnya mengambang di udara.
"Den Bintang, Deden tiba-tiba saja seperti kerasukan dan menyakiti beberapa pekerja lain" ucap seorang pekerja menghampiri Bintang.
"Kalian mundurlah, saya akan mengurusnya" jawab Bintang
Para pekerja mundur dan Deden terlihat semakin kehabisan nafas karena tangannya mencekik lehernya sendiri, tapi sosok yang mencekik Deden sama sekali tidak terlihat oleh Bintang ataupun Dirga.
"Lepaskan dia!" bentak Bintang
"Kalian belum memberikan tumbal untukku! tahun ini aku minta lima!" jawab suara sosok itu membuat warga ketakutan dan mengira Bintang memakai pesugihan.
"Jangan memfitnahku! aku tidak pernah memberikan tumbal apapun pada mahluk apapun! siapa kamu dan siapa yang mengirim kamu!" bentak Bintang
"Aku adalah sesembahan kami Bintang Darmawan, jangan berpura pura lupa!" jawabnya
"Benarkah? kalau kamu sesembahan ku itu artinya kamu bisa mengucapkan dua kalimat syahadat, ucapkan!" tantang Bintang
"Bangsat! kamu memintaku menyembah manusia! aku tidak sudi!" bentaknya
Bintang dan Dirga lalu membaca ayat ayat pengusir jin yang mereka hafal, keduanya memejamkan mata mereka dengan khusuk dan Sahara juga Rukmini berada di belakang mereka untuk melindungi keduanya.
Angin kencang juga mulai muncul di sana dan para pekerja Bintang di minta untuk masuk ke dalam gubuk supaya mereka tidak celaka karena ulah setan yang merasuki tubuh Deden.
"Cari sosok itu Sahara" perintah Rukmini
"Sahara hanya lihat bekas hitam di leher Deden nek" jawab Sahara
"A'udzubillahiminasyaitonirojiim Kul huwallaahu Ahad.."
Dirga menutupnya dengan membaca Al ikhlas dan ayat kursi, Dirga juga menyiram tubuh Deden yang masih melayang hingga tubuh Deden terjatuh dan segera di tangkap Bintang.
Bruk.
"Aarrgghh!"
"Papa!"
"Cah Bagus!"
Dirga dan Sahara terkejut saat tubuh Bintang tiba tiba saja terlempar cukup jauh, bahkan para pekerja terlihat khawatir karena Bintang sampai membentur pematang sawah dengan cukup keras.
"Papa tidak apa apa, lanjutkan bacaan kamu dan urus makhluk apapun itu" ucap Bintang segera di peluk Sahara dengan rambutnya.
"Gandra!" panggil Sahara
"Aku di sini ratuku" jawab Gandra segera muncul
Gandra melihat Rukmini sedang membantu Dirga, dia melihat sekeliling untuk mengetahui siapa yang sudah berani masuk ke dalam lahan Bintang tapi sosok itu benar benar tidak terlihat. Gandra tidak mau tinggal diam dan segera mengeluarkan pedang miliknya untuk melindungi para pekerja Bintang dan Bintang juga Dirga.
"Ayahanda, bayangannya" ucap Argadana juga muncul setelah mendengar teriakan Sahara.