Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Mertua dari Neraka
Pagi pertamaku sebagai istri Reynard Wijaya resmi berubah menjadi sidang.
Veronica Hartono Wijaya masuk ke PIK villa seperti ia pemilik udara di dalamnya.
Gaunnya warna champagne, tasnya kecil, sepatunya tidak bersuara di lantai marmer, tapi seluruh staf langsung menunduk seolah baru mendengar sirene kebakaran. Bibi Susi berdiri paling tegak di belakangku, wajahnya sudah kembali menjadi topeng pelayan setia.
"Reynard," sapa Veronica.
Reynard tidak berdiri. Ia hanya meletakkan cangkir kopi. "Veronica."
Udara di ruang makan langsung turun beberapa derajat.
Aku hampir tersedak bubur.
Dia memanggil ibu tirinya dengan nama langsung? Wah. Hubungan keluarga ini bukan dingin lagi, ini sudah freezer industri.
Jari Reynard bergerak sangat pelan di sisi cangkir. Matanya tidak berpindah dariku, tapi aku merasa ia menangkap setiap kata di kepalaku.
Tidak. Jangan paranoid.
Veronica menoleh padaku.
Senyumnya halus. Matanya tidak.
"Keira." Ia menatap wajahku yang bersih tanpa riasan tebal. "Pagi pertama sebagai menantu Wijaya, kau sudah tampil... berani."
Berani.
Artinya, menurut kamus mertua neraka: kurang ajar.
Aku berdiri. "Selamat pagi, Tante Veronica."
Senyum Veronica berhenti setengah detik.
Bibi Susi menunduk lebih dalam. Sari, yang sedang berdiri dekat meja, tampak menahan napas.
"Tante?" Veronica mengulang lembut. "Kau sudah menjadi istri Reynard. Di depan keluarga, kau bisa memanggilku Mama."
Oh, tentu. Mama yang belum lima menit masuk sudah ingin mengganti napasku dengan aturan keluarga.
Aku menunduk sedikit. "Baik, Mama."
Kata itu terasa asing di lidahku. Tubuh Keira seperti menolak, tapi aku memaksanya keluar karena ini bukan medan perang yang harus dimenangkan dengan teriakan. Kadang, senyum adalah pisau yang lebih rapi.
Veronica mendekat, memperhatikan wajahku dari jarak yang terlalu dekat untuk sopan.
"Monica bilang kau biasanya lebih suka riasan lengkap."
"Semalam cukup melelahkan," jawabku. "Pagi ini saya ingin wajah saya bernapas."
Reynard mengangkat cangkirnya.
Di balik Topeng Perak, matanya turun sedikit.
Ia mendengarnya lagi.
Wajah saya bernapas. Perempuan ini bahkan bisa membuat kritik terdengar seperti skincare routine.
Veronica tertawa pelan. "Bagus kalau begitu. Istri Reynard harus tahu cara membawa diri. Jangan terlalu mencolok. Orang akan bicara."
Orang sudah bicara sejak aku buka mata di altar, Tante. Bedanya, hari ini aku punya kopi.
"Saya akan belajar," ucapku.
Veronica memalingkan wajah ke Reynard. "Papa-mu menunggu di Menteng. Pengantin baru harus memberi hormat pada keluarga besar."
Reynard diam beberapa detik. "Aku ada pekerjaan."
"Pekerjaan bisa menunggu." Suara Veronica tetap lembut. "Keluarga tidak."
Kalimat itu manis sekali sampai gulanya terasa beracun.
Akhirnya Reynard berdiri. "Sepuluh menit."
Veronica menang.
Atau setidaknya ia merasa begitu.
Sepuluh menit kemudian, aku duduk di mobil bersama Reynard. Anto mengemudi, wajahnya tidak berubah sedikit pun walau suasana di kabin lebih tegang dari grup WhatsApp keluarga menjelang pembagian warisan.
Veronica datang dengan mobil sendiri di depan. Bibi Susi tidak ikut, tapi sebelum kami pergi, aku melihat ia mengetik cepat di ponsel.
[Bibi Susi mengirim laporan.]
[Penerima: Veronica Hartono Wijaya.]
[Isi singkat: wajah asli Nyonya Muda berbeda jauh, sikap berubah, perlu diawasi.]
Aku memandang keluar jendela.
Mantap. Baru mandi sudah masuk daftar pantau.
"Jangan bicara terlalu banyak di Menteng," kata Reynard tiba-tiba.
Aku menoleh. "Kenapa?"
"Karena setiap kalimat di sana punya harga."
Jawaban itu tidak panjang, tapi cukup membuat tengkukku dingin.
PIK villa sudah seperti sarang mata-mata. Menteng mungkin versi premium, lengkap dengan keluarga besar dan racun psikologis.
Rumah besar Wijaya di Menteng berdiri di balik pagar tinggi, halaman luas, dan pohon-pohon tua yang dipangkas sempurna. Rumahnya bukan sekadar mewah. Ia punya aura tempat di mana keputusan orang kaya bisa mengubah nasib ratusan keluarga tanpa berkeringat.
Di ruang tamu utama, Hendra Wijaya menunggu.
Usianya lebih tua dari yang kubayangkan, tapi tubuhnya masih tegap. Rambutnya sudah memutih di pelipis, wajahnya keras, matanya tajam seperti orang yang terbiasa semua orang mendengarkan sebelum ia bicara.
Di sisi lain sofa duduk seorang pria muda bertubuh besar.
Brandon Wijaya.
Aku tahu namanya sebelum ada yang memperkenalkan, karena Si Kepo langsung bersemangat seperti menemukan skandal diskon besar.
[Brandon Wijaya.]
[Status legal: putra sulung Hendra Wijaya.]
[Catatan tersembunyi: data biologis tidak sesuai.]
Panel itu berkedip, lalu kalimat berikutnya muncul.
[Peringatan konten: kekerasan terhadap pasangan, kecenderungan sadistik, disfungsi seksual berat.]
Aku hampir batuk.
Disfungsi apa?
Brandon menatapku dari kepala sampai kaki.
Tatapannya membuat kulitku ingin mandi lagi.
"Jadi ini istri Reynard," katanya, bibirnya melengkung. "Ternyata rumor soal wajahmu tidak akurat."
Ya Tuhan. Ini dia. Masalah berjalan dengan jas mahal.
Reynard berdiri setengah langkah di depanku.
Gerakan kecil, tapi cukup untuk memotong garis pandang Brandon.
Hendra melihat itu. Matanya menyipit tipis, lalu kembali padaku.
"Keira."
Aku menunduk sopan. "Om Hendra."
Veronica yang baru masuk langsung tersenyum. "Keira masih belajar. Setelah menikah, tentu ia akan lebih nyaman memanggil Papa Hendra."
Aku ingin menggigit udara.
Belum selesai satu panggilan, sudah ada revisi.
Hendra mengangkat tangan sedikit. "Om Hendra cukup untuk sekarang."
Untuk pertama kalinya sejak pagi, aku merasa seseorang di keluarga ini masih memiliki sedikit akal sehat.
"Duduk," kata Hendra.
Kami duduk. Reynard di sampingku, Veronica di seberang, Brandon tidak berhenti menatap. Percakapan dimulai dengan pertanyaan standar. Kesehatan. Rumah. Rencana bulan madu yang jelas tidak ada. Semua terdengar sopan, tapi tiap kalimat punya kail.
"Keira," kata Veronica sambil menuang teh, "kau terbiasa mengurus rumah sebesar PIK villa?"
"Belum," jawabku jujur. "Tapi saya bisa belajar cepat."
"Belajar saja tidak cukup. Rumah keluarga besar punya aturan."
Iya, aturan pertama: jangan percaya siapa pun yang menuang teh sambil tersenyum.
Reynard menutup bibirnya dengan cangkir.
Brandon tiba-tiba tertawa kecil. "Santai saja, Ma. Kalau Keira kesulitan, aku bisa bantu mengajarinya. Aku sering ke PIK juga, kan?"
Nada suaranya membuat kata mengajari terdengar kotor.
Perutku mual.
[Fakta tambahan: Brandon memiliki riwayat kekerasan terhadap Celine Liem.]
[Fakta tambahan: hubungan seksual tidak berhasil berulang kali, memicu agresi.]
[Kesimpulan gosip: pria ini kompensasi berjalan.]
Aku nyaris menggigit lidah.
Kompensasi berjalan.
Jangan ketawa. Jangan ketawa. Ini rumah musuh. Jangan mati karena menahan tawa.
Reynard meletakkan cangkirnya agak keras.
Ting.
Semua orang menoleh.
Wajahnya tetap tenang, tapi matanya dingin ke arah Brandon. "Kau tidak perlu datang ke PIK."
Brandon tersenyum malas. "Kenapa? Takut istrimu lebih nyaman denganku?"
Anjir. Percaya diri pria ini luasnya mengalahkan jalan tol.
Reynard menatapnya.
"Tidak," katanya. "Aku hanya tidak suka barang kotor masuk rumah."
Ruangan hening.
Brandon bangkit setengah, wajahnya memerah. "Apa maksudmu?"
"Duduk," kata Hendra.
Satu kata itu cukup membuat Brandon menahan diri, walau rahangnya mengeras.
Veronica meletakkan cangkir. "Reynard, kau baru menikah. Jangan membuat suasana buruk."
"Aku tidak memulai," jawab Reynard.
Aku duduk di sampingnya, mendadak sadar tanganku berkeringat. Dia kasar? Ya. Dingin? Jelas. Tapi barusan ia berdiri di depanku tanpa perlu pidato panjang.
Si Kepo berkedip.
[Tingkat perlindungan target terhadap Host: meningkat.]
[Catatan: pria dingin tidak selalu tidak peduli.]
Aku menatap profil Reynard.
Topeng Perak menutupi separuh wajahnya, tapi untuk pertama kalinya aku merasa topeng itu bukan bagian paling sulit dibaca darinya.
Kunjungan itu berakhir tanpa ledakan, tapi rasanya seperti berjalan di atas kaca. Hendra tidak banyak bicara. Veronica terus menguji. Brandon terus mencari celah. Aku tersenyum sampai rahangku pegal.
Saat kami kembali ke mobil, napasku baru terasa lagi.
Anto menutup pintu. Mobil meluncur meninggalkan rumah besar di Menteng.
Aku menyandarkan kepala ke jok.
"Keluargamu..." Aku berhenti, mencari kata yang tidak membuatku terdengar seperti menantu durhaka pada hari kedua.
"Berbahaya," kata Reynard.
Aku menoleh.
Ia menatap jalan di depan, suara datar seperti sedang membahas cuaca.
"Setelah ini, kurangi datang ke Menteng."
Aku menelan ludah. "Kenapa?"
Reynard menoleh sedikit. Mata gelapnya bertemu mataku.
"Karena tempat itu tidak aman untukmu."
Panel Si Kepo menyala.
[Misi baru aktif.]
[Cari tahu rahasia keluarga Wijaya.]
[Peringatan: semakin dekat dengan kebenaran, semakin besar risiko.]
Aku menatap tulisan itu sampai punggungku dingin.
Di luar jendela, Menteng menjauh.
Tapi rasanya, rumah itu baru saja mulai menelan kami.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih