Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Operasi Jatuhkan Hadiprana
Hadiprana masih berpesta ketika lantainya mulai retak.
Pagi setelah Jessica tertidur di rumah, Hendry tidak lagi memberi peringatan.
Ia memberi perintah.
Di kantor Adrian Chandra, empat dokumen akuisisi sudah tersusun di atas meja. Nama PT Surya Abadi Group tidak muncul besar-besar. Semuanya lewat perusahaan kendaraan, konsultan hukum, dan perwakilan pemegang saham minoritas.
Adrian menatap daftar anggota dewan PT Megah Sentosa.
Tujuh nama.
Tiga setia pada Herman Hadiprana.
Dua ragu.
Dua punya masalah utang pribadi.
Adrian mengetuk nama pertama dengan pena.
"Orang yang ragu tidak perlu diyakinkan dengan janji besar," katanya kepada tim legalnya. "Cukup beri mereka jalan keluar yang aman."
Seorang staf bertanya, "Kita tawarkan posisi setelah akuisisi?"
"Posisi, perlindungan hukum, dan keuntungan yang masih bisa mereka simpan. Tapi ingat, tidak ada ancaman tertulis."
Adrian tersenyum tipis.
"Biarkan mereka merasa ini pilihan paling masuk akal."
Siang hari, direktur independen pertama menerima telepon.
Sore hari, pemegang saham kecil kedua meminta bertemu diam-diam.
Malam hari, dua anggota dewan yang selama ini hanya mengangguk pada Herman mulai bertanya, "Kalau nanti ada perubahan pemegang saham, apakah posisi kami tetap aman?"
Adrian tahu.
Dinding pertama sudah retak.
Di ruang operasinya, Cynthia Wulandari tidak mengangkat kepala dari layar.
Harga saham PT Megah Sentosa pagi itu dibuka di Rp 2.800.
Stabil.
Terlalu stabil.
"Mulai fase dua," kata Cynthia.
Timnya bergerak.
Order jual muncul kecil-kecil.
Tidak panik.
Tidak kasar.
Seperti tetesan air.
Lalu rumor pertama masuk ke beberapa grup investor.
`Ada masalah pajak di Megah Sentosa.`
`Herman Hadiprana dipanggil diam-diam?`
`Hati-hati, ada audit internal.`
Tidak ada yang tahu sumbernya.
Tapi pasar tidak perlu tahu sumber untuk mulai takut.
Pada penutupan hari pertama, saham PT Megah Sentosa turun ke Rp 2.430.
Herman Hadiprana berdiri di ruang rapat direksi dengan wajah gelap.
"Siapa yang menjual?" bentaknya.
Direktur keuangan menunduk.
"Volume tidak terlalu besar, Pak. Tapi sentimen pasar buruk."
"Sentimen bisa dibeli!"
Tidak ada yang menjawab.
Vincent duduk di sisi meja, bibirnya masih sedikit bengkak dari pukulan Kevin. Ia memakai kacamata hitam tipis di dalam ruangan, seolah itu bisa menutupi rasa malu.
"Ini pasti Hendry," geram Vincent.
Herman menampar meja.
"Jangan bawa nama menantu miskin itu ke ruang ini! Kamu sendiri yang membuat masalah di Hotel Marquis."
Vincent menggertakkan gigi.
"Kevin ikut campur."
"Karena kamu bodoh."
Ruangan membeku.
Herman jarang memarahi Vincent di depan orang.
Hari itu, semua orang melihatnya.
Hari kedua, Dimas melepaskan paket pertama.
Sebagian masih bertahan.
Hanya cukup untuk membuat pintu terbuka.
Beberapa media finansial menerima dokumen pembayaran vendor fiktif. Ada invoice, rekening penerima, dan tanda tangan persetujuan dari salah satu manajer PT Megah Sentosa.
Satu portal berita menulis:
`Transaksi Aneh di Megah Sentosa, OJK Diminta Memeriksa.`
Dua jam kemudian, lima akun finansial besar membahasnya.
Dimas duduk di depan monitor, menyeruput kopi dingin.
"Paket satu termakan," katanya lewat panggilan.
Hendry berdiri di samping jendela rumah, melihat Daun berangkat sekolah dengan Bagus dari kejauhan. Jessica masih beristirahat di kamar. Sejak malam itu, ia belum mau bertemu Mama Ayu.
"Lanjutkan sesuai irama."
"Paket dua?"
"Tunggu Herman membantah."
Dimas tersenyum.
"Ah, klasik. Biarkan dia bilang bohong dulu, baru kita kasih bukti yang lebih sakit."
Siang itu, Herman benar-benar menggelar konferensi pers kecil.
Ia berdiri dengan jas gelap, wajahnya tegang tetapi suaranya keras.
"Semua tuduhan terhadap PT Megah Sentosa tidak berdasar. Perusahaan kami selalu patuh pada hukum dan tata kelola."
Cynthia melihat siaran itu di layar.
"Terima kasih, Pak Herman," katanya datar. "Anda membuka pintu sendiri."
Harga saham turun lagi.
Rp 2.100.
Rp 1.980.
Rp 1.800.
Herman memanggil rapat dewan darurat.
"Kita harus umumkan buyback saham," katanya.
Salah satu direktur independen mengangkat tangan.
"Dengan kondisi likuiditas sekarang, buyback bisa dianggap manuver panik. Bank mungkin membaca itu sebagai sinyal buruk."
Herman menatapnya tajam.
"Sejak kapan kamu peduli cara bank membaca?"
Direktur itu menunduk, tetapi tidak mencabut pendapatnya.
Direktur lain berkata pelan, "Mungkin kita perlu tunggu audit internal selesai."
Herman baru sadar.
Ruangan yang dulu selalu patuh mulai punya suara.
Di luar gedung, Adrian menerima pesan singkat.
`Empat suara aman. Dua netral.`
Ia membalas satu kalimat.
`Jaga mereka tetap tenang.`
Hari keempat, paket kedua keluar.
Kali ini bukan vendor fiktif.
Dokumen pajak.
Kontrak tanah.
Transfer kepada pejabat daerah melalui rekening perantara.
Nama Herman Hadiprana muncul terlalu jelas untuk disebut rumor.
Media tidak lagi bertanya apakah ada masalah.
Mereka bertanya siapa yang akan diperiksa lebih dulu.
OJK mengeluarkan pernyataan singkat bahwa mereka memantau pergerakan tidak wajar dan laporan publik.
Kantor pajak ikut menyatakan akan meninjau beberapa dokumen.
Pasar panik.
Harga saham PT Megah Sentosa menembus Rp 1.300.
Di ruang operasinya, Cynthia tidak tersenyum.
"Jangan tutup posisi dulu."
Stafnya menatap layar dengan mata bersinar.
"Bu, profit sudah sangat besar."
"Belum."
Cynthia menatap angka merah.
"Orang seperti Herman tidak jatuh karena satu luka. Dia jatuh saat semua luka terbuka bersamaan."
Hari keenam, saham menyentuh Rp 790.
Lalu Rp 760.
Di titik Rp 750, Cynthia mengangkat tangan.
"Tutup sebagian besar posisi."
Order bergerak cepat.
Keuntungan terkunci.
Angkanya membuat salah satu staf menahan napas.
"Bu... ini ratusan miliar."
Cynthia hanya melepas earphone.
"Masukkan ke kolam akuisisi PT Surya Abadi."
Pada saat yang sama, Adrian mulai membeli.
Lewat pasar sekunder.
Lewat transaksi blok.
Lewat pemegang saham kecil yang ingin kabur sebelum harga lebih hancur.
Saham yang dulu terlalu mahal kini jatuh ke tangan yang salah bagi Herman.
Tangan Hendry.
Herman tidak tidur dua malam.
Vincent lebih buruk.
Ia mengamuk di ruang kerjanya, membanting gelas, memukul meja, lalu berteriak kepada asistennya.
"Siapkan pesta pertunanganku. Harus lebih besar dari rencana awal."
Asistennya pucat.
"Pak Vincent, dengan kondisi perusahaan..."
"Justru karena kondisi perusahaan!" bentak Vincent. "keluarga Permata harus melihat bahwa aku masih pewaris Hadiprana. Kalau Angelica tetap berdiri di sampingku, pasar akan percaya kami masih punya dukungan."
Ia menarik napas kasar.
"Undangan jangan dibatalkan. Tambah media."
Berita itu sampai ke Hendry malam hari.
Rizal yang mengirimkannya.
`Vincent mempertahankan pesta pertunangan. Lokasi: Grand Lotus Ballroom. Hari ke-63. Media dan keluarga Permata hadir.`
Dimas menambahkan:
`Dia ingin pakai keluarga Permata sebagai tameng reputasi.`
Cynthia mengirim grafik terbaru.
`PT Megah Sentosa di Rp 750. Posisi utama sudah ditutup. Dana siap.`
Adrian mengirim satu file.
`Dukungan dewan: mayoritas efektif. Saham terkumpul: cukup untuk tekanan kontrol.`
Hendry membaca semua laporan itu di ruang kerja.
Di meja, flashdisk dari Kevin terletak di samping map adopsi Vincent.
Hotel Marquis.
Dokumen pajak.
Transfer suap.
Catatan medis Herman.
Arsip adopsi Vincent.
Semua kartu sudah ada.
Tinggal memilih meja.
Hendry menatap undangan digital pesta pertunangan Vincent dan Angelica Permata.
Foto Vincent di undangan itu tampak percaya diri.
Terlalu percaya diri.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan.
Jessica berdiri di sana.
Wajahnya masih pucat, tetapi matanya lebih tenang daripada dua hari lalu.
"Kamu belum tidur?"
Hendry menutup sebagian layar.
"Sebentar lagi."
Jessica tidak bertanya apa yang ia kerjakan.
Ia hanya berjalan mendekat dan meletakkan secangkir teh hangat di meja.
"Jangan sampai kamu juga jatuh sakit."
Hendry menatap teh itu.
Lalu menatap Jessica.
"Aku akan menyelesaikan ini."
Jessica diam sesaat.
"Aku tahu."
Dua kata itu lebih berat daripada banyak pertanyaan.
Setelah Jessica keluar, Hendry membuka panggilan tim inti.
Cynthia.
Adrian.
Dimas.
Rizal.
Bagus.
Semua hadir.
Hendry berkata, "Vincent ingin berdiri di panggung paling terang."
Dimas tertawa pendek.
"Bagus. Lampu terang membuat noda lebih kelihatan."
Adrian berkata, "Secara legal, kita bisa hadir sebagai pihak berkepentingan dan calon investor yang punya undangan dari jalur bisnis."
Rizal menambahkan, "Keamanan ballroom bisa saya baca dalam dua hari."
Cynthia bertanya, "Paket mana yang dibuka di sana?"
Hendry menatap map adopsi.
Lalu flashdisk Hotel Marquis.
"Semua yang membuatnya tidak bisa berdiri lagi."
Ruangan virtual hening.
Hendry berkata pelan, "Biarkan dia jatuh di tempat paling ramai."
Matanya dingin.
"Dari puncak yang dia bangun sendiri."