NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Malam terasa semakin larut saat Rizky duduk santai di kursi penumpang sebuah taksi online.

Layar ponsel pintarnya menampilkan rekaman kamera pengawas tersembunyi dari ruangan laboratorium Klinik Bintang Abadi.

Di layar kecil itu, terlihat sosok Maya yang masih memakai seragam kerjanya sedang mengendap-endap mendekati meja Indah.

"Kau benar-benar tidak sabaran ya Nona Maya, baru hari pertama bekerja sudah langsung beraksi," gumam Rizky sambil tersenyum tipis.

Taksi yang ditumpanginya melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi menuju daerah pelabuhan utara.

Di layar ponsel, Maya terlihat memakai sarung tangan karet dan mulai memutar tuas brankas besi kecil di sudut ruangan.

KLEK.

Pintu brankas itu terbuka dengan sangat mudah karena memang sengaja tidak dikunci rapat oleh Indah sore tadi.

Maya terlihat mengambil map merah dari dalam brankas dan memotret lembaran kertas di dalamnya menggunakan kamera ponselnya.

Setelah memastikan posisi map itu kembali seperti semula, wanita itu menutup brankas dan bergegas keluar ruangan dengan cepat.

"Sempurna, umpan resep palsunya sudah ditelan mentah-mentah tanpa sisa," batin Rizky tertawa puas di dalam taksi.

Ia segera menekan tombol panggil di ponselnya untuk menghubungi Indah yang sedang bersantai di rumah.

TUT TUT.

"Halo Rizky, apakah tikus kecil kita sudah masuk ke dalam perangkap malam ini?" sapa Indah dari seberang telepon dengan nada bersemangat.

"Tikusnya baru saja selesai memotret resep palsu buatanmu dan sekarang sedang berlari keluar dari area klinik Nona Indah."

"Bagus sekali, biarkan saja dia mengirimkan foto itu secepatnya ke meja direktur Medika Raya."

Indah tertawa renyah membayangkan kerugian produksi yang akan dialami oleh pesaing raksasa mereka sebentar lagi.

"Tugasmu sekarang adalah berpura-pura tidak tahu apa-apa besok pagi saat Maya kembali bekerja seperti biasa," pesan Rizky dengan nada tenang.

"Tenang saja, akting adalah nama tengahku yang paling kubanggakan, lalu kau sendiri sedang dalam perjalanan ke mana malam-malam begini?" tanya Indah mulai penasaran.

"Aku sedang menuju ke kawasan pelabuhan utara untuk mencari sebuah lahan kosong yang khusus."

"Lahan kosong untuk apa lagi Rizky? Bukankah kebun spiritualmu di area bukit masih sangat luas dan sepi?"

"Ini untuk proyek tanaman rahasia yang sangat berbeda Nona Indah, aku butuh tempat yang sangat kotor dan penuh limbah," jawab Rizky penuh teka-teki.

"Terserah kau saja Tuan Jenius, hati-hati di daerah pelabuhan malam hari, di sana banyak preman kasar yang berbahaya," pesan Indah sebelum akhirnya menutup telepon.

KLIK.

Rizky memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dan mengalihkan pandangannya menatap jalanan gelap di luar jendela.

Taksi mulai memasuki kawasan industri pelabuhan yang dipenuhi deretan kontainer raksasa dan jalanan aspal berlubang.

"Kita sudah sampai di depan gang pasar malam pelabuhan Mas, saya tidak berani masuk lebih ke dalam lagi," kata sopir taksi itu dengan nada ragu.

"Tidak apa-apa Pak, berhenti di sini saja sudah cukup, terima kasih," jawab Rizky menyerahkan selembar uang seratus ribuan.

Ia turun dari mobil taksi dan langsung disambut oleh udara malam yang berbau amis laut bercampur asap knalpot tebal.

Di depannya terbentang sebuah gang sempit memanjang yang diterangi lampu-lampu remang berwarna merah dan kuning.

Ini adalah Pasar Gelap Pelabuhan, tempat kumuh di mana informasi ilegal dan barang selundupan diperjualbelikan dengan bebas tanpa hukum.

Rizky berjalan santai menyusuri gang becek itu dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya.

Otaknya yang super jenius langsung memindai dengan cepat setiap wajah dan gerak-gerik orang yang dilewatinya.

Ada pedagang senjata tajam selundupan, penjual obat kuat ilegal, hingga calo informasi yang duduk diam di sudut-sudut warung tenda.

Tujuan utama Rizky malam ini adalah mencari seorang calo tanah gelap yang tahu persis letak pembuangan limbah beracun rahasia di kota ini.

Ia melangkah masuk tanpa ragu ke dalam sebuah warung kopi remang-remang yang terlihat paling ramai di ujung gang tersebut.

"Permisi, saya mencari orang yang bernama Bang Codet di sini," sapa Rizky pada penjaga warung yang sedang mengelap gelas kotor.

Penjaga warung berbadan besar itu menatap Rizky dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan penampilannya yang terlalu rapi.

"Anak sekolahan sepertimu salah tempat kalau mau cari masalah di sini, mendingan pulang saja sana ke rumah," usir pria berwajah seram itu.

Rizky sama sekali tidak marah, ia malah mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja kayu yang lengket.

"Saya bukan datang untuk cari masalah, saya sedang butuh informasi lokasi lahan kosong dan saya siap membayar sangat mahal," ucap Rizky dengan nada datar.

Mata penjaga warung itu langsung berbinar serakah melihat uang kertas merah yang tergeletak pasrah di depannya.

Tangannya dengan gerakan sangat cepat menyambar uang itu dan menyembunyikannya ke dalam balik celemek kumalnya.

"Bang Codet ada di meja pojok paling belakang, pria tua yang pakai jaket kulit hitam dan topi pet itu," bisik penjaga warung sambil menunjuk ke arah sudut gelap ruangan.

"Terima kasih atas kerja samanya yang cepat," jawab Rizky tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya menuju meja yang ditunjuk.

Di meja bundar kusam itu, duduk seorang pria paruh baya kurus dengan bekas luka sayatan memanjang melintang di pipi kanannya.

Pria itu sedang sibuk menghitung tumpukan uang recehan kotor sambil menghisap sebatang rokok kretek dalam-dalam.

"Apakah Anda yang bernama Bang Codet? Saya butuh informasi akurat tentang sebuah lahan khusus malam ini juga," sapa Rizky langsung duduk santai di kursi kosong di depannya.

Pria bernama Codet itu menghentikan aktivitas menghitung uangnya dan menatap wajah Rizky dengan matanya yang menyipit tajam.

"Siapa yang mengirim anak ingusan sepertimu kemari? Tidak sembarang orang bisa tahu namaku di pasar gelap ini," tanya Codet mulai curiga.

"Tidak ada yang mengirim saya kemari, saya datang sendiri karena saya dengar Anda adalah calo informasi paling hebat di pelabuhan ini," puji Rizky sedikit berbasa-basi memancing ego.

Codet tersenyum miring dengan angkuh memamerkan giginya yang menghitam karena terlalu banyak terpapar asap rokok.

"Bicara langsung saja pada intinya sekarang, lahan seperti apa yang sedang kau cari di tempat kumuh ini?"

"Saya mencari area bekas pabrik kimia atau tempat pembuangan limbah beracun ilegal yang sudah tidak terpakai lagi," jawab Rizky menurunkan nada suaranya menjadi sangat rendah.

Codet mengerutkan dahinya yang keriput mendengar permintaan yang dirasa sangat tidak biasa dan aneh dari pemuda berpakaian rapi ini.

"Orang waras biasanya mencari tanah subur untuk membangun rumah atau pabrik baru, tapi kau malah sengaja mencari tanah beracun yang mematikan?"

"Itu bukan urusan Anda Bang Codet, saya hanya butuh lokasinya saja dan saya akan membayar informasi berharga itu dengan pantas," balas Rizky menatap tajam tanpa gentar.

Codet terkekeh pelan dengan suara seraknya dan mulai mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja kayu.

"Informasi soal letak limbah beracun itu sangat sensitif anak muda, itu menyangkut rahasia kotor persembunyian perusahaan-perusahaan besar."

"Jika aku membocorkannya sembarangan padamu, nyawaku sendiri yang akan jadi taruhannya nanti."

"Sebutkan saja harga pasti yang Anda mau Bang Codet, saya tidak suka membuang-buang waktu untuk negosiasi yang bertele-tele," potong Rizky mulai merasa tidak sabar.

"Lima puluh juta rupiah tunai harus kau bayar malam ini juga, dan aku akan memberikan alamat lengkapnya sekaligus kunci gembok gerbang utamanya."

Codet dengan sengaja menyebutkan angka tebusan yang sangat besar untuk ukuran sebuah informasi alamat tanah kosong terbengkalai.

Rizky menghela napas panjang karena ia tahu calo licik ini sedang berusaha memerasnya habis-habisan memanfatkan situasinya.

"Lima puluh juta itu terlalu mahal untuk informasi yang belum tentu akurat, sepuluh juta adalah harga yang paling masuk akal untuk kantongku," tawar Rizky mencoba tetap tenang.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!