NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan malam keluarga

Maara menjalani hari-harinya seperti biasa

Meski statusnya berubah, namun pada kenyataannya tetap sama.

Dia tetap sendiri.

Dia tetap dengan dunianya yang sepi sendiri.

Motor Maara berhenti di lampu merah.

Jalanan sore ini cukup padat.

Lampu merah yang 2 menit itu serasa berjam-jam lamanya.

Mata Maara tertumbuk pada sepasang penumpang sepeda motor berjarak 2 motor dari posisi Maara.

Gadis itu menatap sendu pasangan yang sedang bercengkrama riang satu sama lainnya.

Maara ikut tersenyum kala dirinya tak sengaja mendengar jokes yang sebenarnya tidak lucu tapi si perempuan tetap tertawa bahagia.

Tanpa terasa air bening jatuh di pipi Maara.

"Apa yang kamu pikirkan Maara?" batin Maara bermonolog.

Tiinnn....

Klakson dari pengendara lain mengejutkannya.

Maara menekan gas motornya dan meninggalkan lampu merah yang padat.

Hingga motor maticnya memasuki kawasan cluster perumahan yang telah Maara tempati hampir dua bulan ini.

Di area parkir, mobil Revan juga terparkir sempurna.

Pria itu keluar dengan ponsel menempel disisi telinga.

Matanya menatap sinis kearah Maara.

Susah payah Maara menelan ludahnya.

Revan menyimpan ponselnya dan melipat kedua tangannya menghadap pada perempuan yang telah sah menjadi isterinya.

Mata Revan menatap tajam kearah gadis itu.

Tanpa sadar, Maara menekan kuat stang motornya.

Ludahnya terasa serat kala melewati tenggorokannya

Lagi, Revan memandang remeh kearahnya.

"Besok malam luangkan waktumu... Mama mengundang kita makan malam!" ujarnya yang terdengar memerintah bukan sebuah permintaan.

Tanpa mendengar jawaban Maara, Revan telah lebih dulu masuk kedalam rumah.

Maara menghembus nafas pelan bahkan sangat pelan agar Revan tak mendengarnya.

...----------------...

Suasana rumah kediaman orangtua Revan cukup ramai.

Ada beberapa sepupu serta para orangtua yang hadir.

Makan malam ini adalah sebuah perayaan ulangtahun pernikahan kedua paruh baya orangtua dari Revan.

Maara membawa baki berisi minumam.

Setiap mata memandangnya remeh dan sinis.

"Tante punya pembantu baru? Kok Amel nggak pernah lihat?" celetuk gadis bernama Amel, salah seorang sepupu Revan dari pihak ibunya.

"Dia bukan pembantu tapi menantu rumah ini. Ini Maara, isterinya Revan!" tegas Rendra Adiyasa, papa dari Revan Adiyasa yang bahkan hanya diam saja ketika istrinya dihina.

"What??!!!"

Serentak semua orang terkejut.

Mira, ibu Revan memeluk bahu Maara dan menuntunnya kearah semua saudara yang berkumpul.

"Ceritanya panjang tapi satu hal yang harus kalian tahu jika Maara adalah menantu kami. Istri sah dari Revan... Jadi tante minta, kalian jaga lisan kalau bicara padanya!" tegas Mira memandang satu-persatu keponakannya.

Semua mata lalu berpaling kepada Revan dan menunggu reaksi pria itu yang masih asik meneguk air soda dari kalengnya.

Revan meletakkan kaleng soda miliknya di meja.

"Kalian mau dengar apa dariku? Bukankah mama sudah kasih tahu hal yang mau diumumkan?" tutur Revan dingin.

"How can? Lalu bagaimana dengan Laura? Kalian putus? Kamu hamilin ini perempuan?" ujar Denis, sepupu Revan asal nyerocos.

"Mulut mu Den!" seru Gian menoyor kepala Denis karena asal bicara.

"Sorry Maara... Denis memang mulutnya kayak petasan. Dia kalau ngomong emang nggak ada saringannya... Btw, aku Gian, sepupu Revan atau lebih tepatnya keponakan om Rendra..." ujar lelaki berlesung pipi mengulurkan tangan untuk menyalami Maara.

"Maara..." Maara hanya menyatukan tangannya dan mengangguk sebagai sapaan darinya.

"It's Oke... Aku paham kalau kamu nggak berjabat tangan dengan yang bukan muhrim..." seru Gian tersenyum canggung.

Makan malam tetap berjalan seperti biasanya bagi keluarga Adiyasa meskipun mereka telah mendapat tambahan anggota baru yang sejujurnya kurang mereka sukai karena jauh dari kesan modis seperti teman-teman yang selama ini berada disekitaran mereka.

Setidaknya itulah yang Maara tangkap dari setiap orang yang menatapnya.

...----------------...

"Kok bisa? Lalu Laura gimana? Kamu mendua?" cerca Denis melontarkan segala macam pertanyaan kepada Revan.

Mereka kini sedang berkumpul di teras belakang dengan pemandangan kolam ikan koi.

"Aku akan tetap nikahi Laura begitu dia selesai dengan studinya..." ujar Revan acuh seperti ciri khasnya selama ini.

"Sint*ng ini orang! Kamu mau poligami? Emang kamu bisa adil sama keduanya?" lagi Denis kaget akan jawaban Revan.

"Aku nikahin perempuan itu terpaksa. Nggak ada cinta dan bagi ku, perempuan yang akan jadi ibu dari anak-anakku hanya Laura bukan yang lain!" tegas Revan.

"Emang stres ne orang...!" sindir Denis tapi berbeda dengan Gian.

"Lalu bagaimana dengan Maara? Gimana dengan pernikahan kalian nantinya jika kamujadi nikah sama Laura? Dan gimana perasaan Laura kalau tahu dia akan jadi istri kedua? Kamu nggak berfikiran ke arah sana?" tanya Gian.

Revan mengedikkan bahu.

Semua orang menggeleng karena jawaban Revan.

"Benar-benar sakit j*wa kamu Van!" geram Gian.

"Lagipula secara penampilan, Laura dan dia beda jauh... Laura itu ibarat wanita karir dengan bodi goal, sementara perempuan itu...ckk...." Amel mendengus "Dia kayak ibu-ibu anak 5 yang mau pengajian" sambungnya dengan nada ejekan yang disambut tawa dari para lelaki.

"Kamu kalau ngehina orang emang paling jago Mel... Mulut Lambe aja ampe kalah sama kamu...!"ujar Gian membandingkan Amel dengan salah satu akun gosip dalam hal meroasting artis.

Maara menekan dadanya kala tak sengaja mendengar percakapan para sepupu Revan saat dirinya diminta oleh Mira untuk mengantarkan cemilan.

Tanpa sadar, Maara melirik penampilannya sendiri.

Dia menggunakan baju kurung khas melayu dengan hijab segi empat yang menutup dada.

Penampilannya persis kayak anak SMA dari eskul Rohis. Kalem dan polos.

Berulang kali Maara menghirup udara agar paru-paru tidak terlalu kosong akan oksigen.

"Nggak pa-pa Maara... Penampilan ini jauh lebih membuatmu aman dari mata liar lelaki... Lagipula dari awal juga mas Revan udah bilang nggak suka kamu..... " bisik Maara dalam hati menenangkan hatinya.

Berkali-kali berusaha menetralkan detak jantungnya akhirnya Maara memutuskan muncul dari balik tembok dengan sebuah nampan ditangannya.

"Maaf mengganggu... Bu Mira minta aku buat bawain cemilan kemari.. Silahkan dinikmati" ujar Maara yang langsung berlalu dari hadapan mereka

Revan hanya melirik tak suka dengan ujung matanya.

Gian dan Denis serta Amel lagi-lagi mendadak diam.

"Dia nggak dengarkan?" ujar Gian dengan suara pelan.

"Dengar juga nggak pa-pa kali biar dia sadar diri"ujar Amel santai mengambil satu Macaron dan memakannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

...----------------...

"Sering-sering mampir kemari ya...Anggap rumah mama juga rumahmu..." ujar Mira saat pasangan Revan dan Maara pamit pulang.

"Akan Maara usahain bu.." ujar Maara.

"Kamu harus belajar panggil saya mama sama seperti Revan... "

Maara mengangguk lemah.

"Revan pamit ma...pa..." ujar Revan pada kedua orangtuanya.

Kedua pasangan itu jadi orang yang paling akhir meninggalkan rumah Mira. Sementara sepupu dan orangtua telah lebih dulu pulang sejak tadi.

Selama perjalanan pulang, tak ada percakapan dari keduanya.

Ponsel Revan berdering dan memunculkan nama kontak 'my lovely' dilayarnya

Dan hal itu tak sengaja dilihat oleh Maara karena ponsel Revan diletakkan pada stand hp di dasbor mobil.

Revan menggulir tombol hijau tanda menerima panggilan tanpa memperdulikan adanya Maara yang duduk dikursi penumpang sebelahnya.

"Yes baby...?"

"Kamu dimana? Kok ribut?"

"Lagi dimobil ,jalan mau pulang"

"Dari rumah mama ya...?"

"Hmm...."

"Salam buat mama papa... maaf aku belum sempat ucapin selamat tapi nanti kalau aku udah pulang,aku mau ajak mama makan malam... Sampaiin yang beb..."

Percakapan itu tetap berlangsung tanpa memperdulikan kehadiran Maara disana.

Maara memilih menulikan telinganya dan memandang kosong pada sisi jalan.

Jujur, hatinya sakit namun dia tidak ada hak untuk marah karena disini dialah yang sebagai orang ketiganya.

"By.... love you beb..."

"Love you too... Hati-hati..."

Percakapan itu berakhir dengan saling lempar kata-kata cinta dari keduanya.

Revan melirik Maara yang duduk dikursi penumpang sebelahnya.

"Kamu dengar sendirikan bagaimana hubungan kami yang terlalu manis bahkan Laura tak pernah menaruh curiga padaku padahal bisa saja dia menuduhku macam-macam. Tapi dia tidak melakukannya... Aku sangat mencintainya dan hanya akan selalu bersamanya hingga akhir..." tegas Revan tanpa perduli jika kalimatnya begitu menyakiti Maara.

Maara menoleh pada Revan sekilas lalu kembali ke mode awal.

Mobil Revan tiba diparkiran teras rumah.

Revan lebih dulu keluar dari mobil dan langsung masuk begitu saja bahkan untuk sekedar basa-basi.

Mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan sedang berbagi tempat tinggal.

Lagi, Maara menekan kuat tali shoulder bag miliknya.

Menatap nanar pada punggung Revan yang telah menghilang di anak tangga terakhir.

"Sabar Maara... ini ibadah dan semakin kamu sabar balasannya akan semakin besar..." batin Maara menyemangati dirinya sendiri.

bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!