Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.
Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.
Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.
Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.
Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Keheningan malam di kamar utama kediaman Vale-Knight perlahan kembali menangkup ruang.
Tangis histeris Lara yang semula memecah malam kini telah surut, menyisakan isak kecil yang perlahan mereda di dada bidang Darion.
Selama lebih dari satu jam, Darion tidak bergeser sedikit pun. Pria itu tetap menopang tubuh Lara, membiarkan jemari tangannya terus mengusap punggung wanita itu dengan irama yang tenang dan konsisten.
Suhu udara kamar terasa sejuk, namun kehangatan yang terpancar dari dekapan Darion membentengi Lara dari gigilan dingin akibat ketakutan alam bawah sadarnya.
"Sudah lebih tenang, sweetheart?" bisik Darion lembut di dekat telinga Lara. Suaranya sehalus beludru, penuh ketelitian agar tidak mengejutkan saraf Lara yang baru saja pulih dari serangan PTSD.
Lara mengangguk pelan di dalam ceruk leher Darion. Senandung napasnya mulai teratur. Perlahan, wanita itu mengurai pelukannya, mendongakkan kepala untuk menatap wajah pria yang setia menunggunya di dalam kegelapan.
Sisa-sisa air mata masih menggenang di sudut mata Lara, membiaskan cahaya temaram dari lampu tidur.
Darion tersenyum sangat tipis—sebuah senyuman yang teramat romantis, sarat akan perhatian murni tanpa sedikit pun tuntutan.
Dengan ibu jarinya yang hangat, Darion mengusap jejak air mata di pipi mulus Lara secara perlahan, menyalin rasa aman langsung ke kulit wanita itu.
"Tunggu sebentar," gumam Darion.
Pria itu berdiri sejenak, melangkah menuju meja samping dan mengambil segelas air hangat yang selalu ia siapkan.
Darion kembali berlutut di tepi ranjang, membantu Lara duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk, lalu menyodorkan gelas tersebut ke bibir Lara.
Pria itu memegang dasar gelas dengan telaten, memastikan Lara minum tanpa tersedak.
Setelah Lara menghabiskan setengah isi gelas, Darion meletakkannya kembali. Namun, bukannya kembali ke sofa panjang di sudut ruangan, Darion justru duduk di tepi kasur, tepat di samping Lara.
Pria itu meraih kedua tangan Lara, menggenggam jemari yang masih agak dingin itu di antara kedua telapak tangannya yang hangat.
Darion menatap lurus ke dalam manik mata Lara. Pandangannya tidak lagi hanya memancarkan aura seorang pengacara tangguh atau pelindung yang siap bertarung, melainkan pandangan seorang pria dewasa yang menyerahkan seluruh jiwanya.
"Lara," panggil Darion, suaranya dalam dan bergetar oleh kesungguhan yang teramat pekat. "Bisakah kita mulai melihat ke masa depan?"
Lara terpaku. Tatapannya terkunci pada manik mata cokelat gelap Darion.
"Aku tahu kau baru saja melewati neraka yang paling mengerikan," lanjut Darion seraya meremas lembut jemari Lara. "Aku tahu bekas luka di dalam hatimu butuh waktu untuk benar-benar sembuh. Tapi aku tidak ingin lagi berdiri di sampingmu hanya sebagai pengacara, atau sekadar pria yang menunggumu di sudut ruangan saat kau bermimpi buruk."
Darion menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan saat mengucapkan kalimat yang membuat detak jantung Lara melompat:
"Mari kita menikah, Lara. Aku ingin memiliki hak penuh secara legal dan moral untuk bebas melindungimu, memelukmu setiap kali kau takut, dan membangun kembali hidup yang sempat terenggut darimu."
Kata 'menikah' bergema di dalam benak Lara bagaikan gema bel di ruang hampa. Sebuah gelombang kehangatan sekaligus ketakutan yang hebat bertabrakan di dalam dadanya. Lara menarik tangannya pelan dari genggaman Darion, menundukkan kepala. Raut wajahnya mendadak berubah muram dan berkecil hati.
"Darion... jangan," bisik Lara parau. Tangannya terjalin erat di atas pangkuannya, menunjukkan kerapuhan jiwa yang masih pekat. "Kau tidak tahu apa yang kau minta..."
"Lara—"
"Tidak, Darion, dengarkan aku," potong Lara, matanya kembali berkaca-kaca saat rasa minder dan trauma menguasai pikirannya. "Aku ini wanita yang sudah rusak. Aku adalah wanita yang membawa nasib sial dan skandal besar. Nama baik keluarga Vale-Knight yang terhormat bisa tercemar jika kau menikahi bekas istri dari seorang penjahat seperti Billy. Kau seorang pengacara hebat dengan masa depan yang tanpa batas... Kenapa kau harus mengikat dirimu pada wanita trauma yang bahkan jerit histerisnya memecah malammu seperti tadi?"
Lara menggelengkan kepalanya dengan getir. "Setiap orang yang dekat denganku selalu berakhir terluka atau terseret dalam masalahku. Aku tidak ingin menjadi kesialan dalam hidupmu, Darion."
Mendengar ucapan Lara yang begitu merendahkan dirinya sendiri, dada Darion terasa nyeri. Namun, bukannya marah atau frustrasi, wajah Darion justru memancarkan kelembutan yang kian mendalam.
Tanpa meragu sedikit pun, Darion mencondongkan tubuhnya ke depan.
Kedua tangannya merangkum kedua pipi Lara dengan lembut namun tegas, memaksa wanita itu untuk mendongak dan menatap matanya.
Lalu, Darion memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Lara.
Ciuman itu bukan ciuman yang menuntut gairah atau kepuasan fisik. Itu adalah ciuman yang lembut, dalam, dan penuh kepasrahan—sebuah penyatuan bibir yang berfungsi sebagai ikrar dan janji suci.
Darion menyalurkan seluruh ketulusan, rasa hormat, dan rasa cintanya yang tak tergoyahkan melalui tautan bibir itu, mengikis dinginnya rasa minder yang mengekang jiwa Lara.
Lara tertegun. Kelopak matanya perlahan terpejam saat kehangatan bibir Darion membakar habis sisa-sisa rasa tidak berguna di dalam dirinya.
Setelah beberapa detik yang terasa bagai keabadian yang indah, Darion melepaskan ciumannya perlahan. Dahi mereka saling menempel, napas hangat mereka berbaur di dalam jarak yang kian terkikis.
"Dengar baik-baik, Lara Giger," bisik Darion tepat di depan bibir Lara, suaranya sarat akan ketegasan yang romantis. "Aku akan siap dengan semua kesialan itu. Jika bersamamu artinya aku harus menghadapi ribuan badai dan skandal... maka aku tidak keberatan menjadi pria paling sial di dunia, asalkan aku bisa hidup bersamamu selamanya."
Lara menahan napasnya, air mata keharuan menetes perlahan melintasi pipinya, langsung diusap oleh ibu jari Darion.
"Kau bukan kesialan," tegas Darion dengan mata berbinar murni. "Kau adalah kebahagiaan yang pernah hilang dari hidupku. Dan aku tidak akan biarkan rasa takutmu merebutmu kembali dariku."
Darion kemudian menjauhkan wajahnya sedikit, menyunggingkan senyuman miring yang jenaka untuk mencairkan suasana yang terlampau emosional itu. Ia melirik ke arah sofa panjang di sudut kamar.
"Lagipula," tambah Darion seraya terkekeh pelan, "sofa kayu itu sama sekali tidak bisa menampungku. Kau tahu kan aku sangat tinggi dan aku... tubuhku terasa pegal luar biasa tidur di sana."
Lara terkekeh kecil di antara sisa air matanya—sebuah tawa merdu yang begitu dirindukan Darion. Rasa hangat menggelitik dada Lara mendengar keluhan manja dari pria bertubuh kekar itu.
"Itu salahmu sendiri," sahut Lara dengan nada menggoda yang khas, menggunakan frase kebiasaan yang dulu sering mereka ucapkan saat mereka masih bersama: "Kau yang memilih jalan yang keras, Tuan Ksatria."
Darion tertawa lepas mendengarnya. "Ya Tuhan, aku merindukan kalimat itu."
Namun, raut wajah Darion perlahan berubah menjadi agak canggung namun penuh nostalgia.
Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, teringat pada suatu kenangan masa lalu sebelum penderitaan Lara dimulai. Secara tidak sengaja, lidahnya terpeleset membahas masa lalu mereka yang jauh lebih intim.
"Maksudku... mengingat betapa lebarnya tempat tidur ini," ujar Darion pelan, matanya menatap sprei sutra di bawah mereka, "aku jadi teringat malam penuh gairah kita di vila Malibu dulu... sebelum semuanya menjadi rumit."
Seketika, rona merah merambat cepat di kedua pipi Lara. Kenangan tentang malam di Malibu—malam di mana mereka saling menyerahkan cinta secara utuh sebelum perpisahan—terbayang kembali. Namun kali ini, kenangan itu tidak membawa rasa sakit, melainkan desir hangat yang asing.
Darion yang menyadari perubahan ekspresi Lara segera membetulkan ucapannya dengan sikap yang teramat ksatria dan penuh hormat.
"Maafkan aku," pangkas Darion cepat, menatap Lara dengan ketulusan yang jujur. "Aku tidak bermaksud lancang. Aku sangat menghormatimu sekarang, Lara. Aku tahu secara hukum proses perceraianmu dan pembersihan berkas bersama Billy masih berjalan di tingkat administrasi pengadilan."
Darion menggenggam kembali tangan Lara, mengecup punggung tangan itu dengan penuh penghormatan.
"Aku tidak akan pernah memaksamu melakukan apa pun yang belum siap kau lakukan," tutur Darion dengan nada penuh respek. "Tapi jawab aku dengan jujur, Lara... bisakah kita benar-benar memulainya dari awal setelah perceraianmu selesai secara sempurna nanti?"
Lara memandangi pria di hadapannya. Pria yang telah bertaruh nyawa, reputasi, dan karirnya demi menyelamatkannya dari neraka.
Pria yang malam ini membuktikan bahwa ia siap menerima segala trauma dan kekurangan Lara tanpa syarat.
Senyuman paling indah dan tulus akhirnya terukir di bibir Lara.
"Ya, Darion," jawab Lara lembut namun pasti. "Setelah lembaran hukum itu benar-benar ditutup... aku siap memulai hidup baru bersamamu."
Mendengar jawaban itu, Darion mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Ia tidak memaksakan diri untuk tidur di atas kasur malam itu.
Dengan penuh kelembutan, Darion merebahkan tubuh Lara kembali, menyelimutinya hingga ke dada, lalu mengecup kening wanita itu dengan durasi yang lama.
"Tidurlah, my future wife," bisik Darion penuh kehangatan. "Aku akan berada di sofa itu... setidaknya sampai proses perceraianmu tuntas."
Lara tersenyum manis, memejamkan matanya dengan kedamaian yang kini utuh melingkupi jiwanya.
Malam itu, di bawah bayang-bayang janji masa depan, trauma Lara perlahan mulai kalah oleh besarnya cinta sejati yang membentenginya.
jadi gemes nih baca nya thor
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄