Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : Fajar Pertempuran Onsidian
Barisan di Bawah Sinar Jingga
Sinar matahari pagi menembus kabut tipis Lembah Obsidian, memantulkan pendar jingga ke atas ribuan baju zirah besi yang berjejer rapi di dataran terbuka. Bau tanah basah beradu dengan aroma belerang yang samar. Di garis depan, ribuan prajurit gabungan Oakhaven dan Varencia berdiri tegak dengan panji-panji emas dan perak yang berkibar ditiup angin dingin.
Cassian berdiri di atas bukit kecil, menunggangi kuda hitam perkasa berselimut zirah pelindung. Di sampingnya, Aurelia tampil memukau dengan zirah perak berukir kelopak mawar emas, menggenggam tongkat sihir pusaka kerajaannya. Pandangan mereka tertuju pada gerbang utama Benteng Obsidian yang kini menganga lebar tanpa perlindungan Segel Merah Darah yang telah mereka hancurkan tadi malam.
"Segel pertahanan mereka memang runtuh," ujar Kaelen seraya mendekatkan kudanya ke arah Cassian. "Namun Lord Malakor bukan sosok yang mudah menyerah. Pasukan monster bayangan dan prajurit Kultus Darah Hitam telah bersiap di dalam pelataran luar benteng."
Cassian mengangguk tegas. Tangannya mencengkeram erat gagang pedang besarnya. "Kita tidak boleh memberi mereka waktu untuk memulihkan diri. Serangan harus dilancarkan sekarang juga sebelum mereka membangun pertahanan baru."
Aurelia memejamkan mata sejenak, merasakan getaran sihir yang mengalir di tanah di bawah telapak kaki kudanya. "Sihir Mawar Emas terasa membara pagi ini. Akarnya siap menopang keberanian setiap prajurit yang melangkah ke medan pertempuran."
Gempuran Pertama dan Gemuruh Garis Depan
Cassian menghunus pedangnya tinggi-tinggi ke udara. Cahaya es biru membeku meluncur dari mata pedangnya, membumbung tinggi ke langit sebagai penanda komando utama. "Seluruh Pasukan Gabungan... MAJU!" teriaknya dengan suara gemuruh yang menggetarkan lembah.
Terompet perang ditiup serentak. Suara hentakan kaki ribuan prajurit dan gemuruh derap kuda menggoncangkan tanah Obsidian. Pasukan kavaleri Varencia memimpin barisan depan, melesat bagaikan anak panah perak yang meluncur cepat menuju pintu gerbang benteng.
Dari atas dinding Benteng Obsidian, ribuan anak panah beracun dan bola api sihir hitam dihujankan oleh prajurit Kultus Darah Hitam. "Barisan perisai!" seru Panglima Kaelen. Prajurit barisan depan langsung menegakkan perisai tebal bersalut besi, membentuk dinding pelindung kokoh yang menahan dentuman anak panah dan dentuman ledakan api.
Aurelia merentangkan tangan kirinya. Gelombang sihir pelindung berwarna keemasan membentang luas di atas kepalanya dan para prajurit, menetralkan racun sihir hitam yang meluncur dari udara. "Terus maju! Jangan biarkan pertahanan mereka kembali stabil!" teriak Aurelia menatap langsung ke arah barisan musuh.
Bentrokan di Pelataran Luar
Garis depan kedua pasukan akhirnya bertabrakan di pelataran luar benteng dengan dentuman dahsyat. Suara dentangan pedang, rintihan prajurit, dan raungan monster bayangan menyatu dalam kegaduhan perang yang membara. Cassian melompat dari kudanya, mengayunkan pedang besarnya dalam putaran mematikan yang menumbangkan tiga prajurit Kultus sekaligus.
Setiap tebasan Cassian meninggalkan jejak pembekuan es pada baju zirah musuh, memecahkan pertahanan mereka dengan muatan sihir dingin yang ganas. Di sisinya, Kaelen bertarung dengan kelincahan luar biasa, tombak kembar miliknya menembus celah zirah musuh tanpa ampun.
Sementara itu, dari arah belakang barisan musuh, sesosok makhluk bayangan raksasa bermata merah membara muncul melangkahi gerbang benteng. Makhluk itu melayangkan pukulan raksasa yang menghancurkan barisan perisai Varencia.
"Aurelia, makhluk itu menyerap energi dari altar bawah tanah!" teriak Cassian seraya menahan tebasan pedang musuh yang mencoba menyerangnya dari samping.
"Biar aku yang mengikatnya!" balas Aurelia. Ia menancapkan ujung tongkat sihirnya ke tanah. Akar-akar tanaman giok keemasan yang bercahaya terang mendadak menjalar cepat keluar dari dalam tanah, merambat naik dan mengikat kaki serta tubuh makhluk bayangan raksasa tersebut.
Makhluk itu meraung kesakitan saat sihir pemurni mawar emas membakar kulit bayangannya. Dengan memanfaatkan momentum tersebut, Cassian melompat tinggi melintasi pundak prajurit musuh dan menghujamkan pedang esnya tepat ke dada makhluk raksasa itu hingga hancur menjadi debu hitam.
*•*
*•*
Maju Menuju Istana Dalam
Pertempuran di pelataran luar berlangsung sengit selama beberapa jam. Dengan kombinasi sihir pemurni Aurelia, kepemimpinan taktis Kaelen, dan keberanian Cassian di garis depan, pasukan Kultus Darah Hitam terdesak mundur masuk ke dalam benteng bagian dalam.
Sorak-sorai kemenangan bergema dari prajurit gabungan saat gerbang dalam Benteng Obsidian berhasil didobrak menggunakan kayu pemukul berkepala besi. Namun, di pelataran utama dalam benteng yang sepi dan pekat, aroma bahaya yang lebih besar sudah menanti mereka.
Panglima Kaelen menyapu pandangannya ke sekeliling lorong-lorong batu yang gelap. "Musuh menarik diri ke aula utama. Lord Malakor pasti sedang mempersiapkan ritual puncaknya di dalam sana."
Cassian mengusap peluh dan bercak darah di wajahnya, lalu menatap Aurelia yang mengangguk mantap di sampingnya. "Pertempuran luar telah kita menangkan, tetapi pertempuran sesungguhnya untuk menyelamatkan benua ini baru saja dimulai."
Dengan langkah mantap dan pedang terhunus, Cassian, Aurelia, dan sisa pasukan gabungan melangkah masuk menembus pintu aula utama.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"